[Double-Trouble] #11 | Tackling Down

Title: Tackling Down
Genre: romance, friendship, family
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin (SHINee), Kim Jongin (EXO-K), OCs

“Dari mana?”

Jongin menghentikan langkahnya, berbalik untuk menatap Taemin yang berdiri di tengah pintu dapur dengan air muka seolah ia sudah menunggu Jongin seperti seorang istri yang setia menunggui suaminya yang pulang larut karena lembur. Bedanya adalah bila para istri akan memasang senyum untuk menyambut suaminya, Taemin justru mengobral wajah kesal. “Urusanmu?” Jongin bergumam pelan sambil mendorong pinggang Taemin dengan sikunya, “Minggir. Aku mau minum.”

“Kau bisa menjawab pertanyaanku tanpa banyak bertanya, kan? Jawab.” Taemin kembali mengkonfrontasi, kali ini sambil menyandarkan badan bagian atasnya ke satu sisi pintu sementara kakinya tersangga pada sis satunya. “Bicaralah.”

“Ck.” Jongin menghela napas. “Kau tahu? Selama ini aku menghormati privasimu dengan tidak bertanya macam-macam bila kau pulang malam, dan sekasrang inikah balasanmu? Berhenti mencampuri urusanku.” ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Lupakan air dingin, dirinya tak lagi haus sekarang.

“Tadi eomma menelepon, menanyakan kabarmu dan menyuruhku meneleponnya lagi untuk memberi kabar bila kau sudah pulang.”

Langkah Jongin terhenti seketika. “Kalau begitu,” katanya, “Seharusnya eomma meneleponku ke ponsel langsung. Tidak perlu menitipkan apa-apa pada—“

“Sebagai anak yang baik, kau harusnya tidak lupa kalau tarif telepon lintas-negara sangat mahal, apalagi ke telepon genggam. Ah, apalagi di Jepang. Kau pasti paham maksudku.” Taemin masih saja bertahan di posisinya. “Jadi?”

“Pergi menonton pertunjukan teater.” Jongin menjawab cepat. Taemin menatap Jongin dengan tatapan tertarik, “Dengan tiket dari samcheon? Bukannya ada dua? Kau pergi dengan siapa?”

‘Astaga. Bukan urusanmu!” teriak Jongin sambil membanting pintu kamarnya hingga rapat. Taemin hanya diam, masih memasang ekspresi curiga sambil memikirkan kalimat-kalimat Jongin, berusaha menarik sebuah kesimpulan dari penjelasannya yang singkat dan tidak jelas. Bukan, bukannya ia tak rela Jongin pergi tanpa mengajaknya, ia hanya khawatir kalau-kalau saja Jongin sudah mencuri start untuk mendekati Raena –tidak boleh, itu, kan, curang, Taemin membela diri dalam hati. Dan Taemin tentu saja masihlah seseorang yang bertindak berdasar ego dan melupakan bahwa Jongin pun memiliki haknya sendiri untuk bertindak, serta tidak pernah ada kesepakatan di antara mereka berdua untuk memperlombakan acara mendekati seorang Kim Raena ini. Ke manakah akal sehat Taemin pergi? Tak ada yang tahu. Mungkin habis termakan piranha yang bersarang di dalam otaknya.

—–

Halo?

Jongin terkesiap. Lidahnya kaku seketika, tidak bisa digerakkan sama sekali untuk bicara. Sembilan dari sepuluh bagian otaknya masih terkena guncangan psikis karena Raena bicara dengannya di telepon, yang berarti Raena menjawab teleponnya, yang berarti ia berhasil mengumpulkan tekad dan keberaniannya untuk memulai panggilan, yang berarti ia… semakin maju. Jauh meninggalkan Taemin yang menurutnya sama sekali belum melakukan apa-apa. Posisinya aman, kalau begitu.

Jongin? Halo? Tersambung, kan?

“A, ne, hehehe. Raena, kan?”

Dan Jongin merasa bodoh seketika.

Raena terkekeh pelan dari seberang telepon, suaranya yang persis di telinga Jongin membuat laki-laki itu makin gugup. “Menurutmu? Ah, aku kira kau lupa akan meneleponku, jadi aku sudah hampir tidur tadi~

Apa dia menunggu? Jongin kembali berspekulasi. Hatinya berharap benar Raena menunggu dirinya menghubungi sehingga hipotesisnya benar-benar terbukti. Ayolah, ayolah, bukankah tak ada salahnya menggantungkan impian di langit selama dia siap jatuh dan merasa sakit setelah itu? “Kau… menunggu teleponku, ya?”

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik sebelum suara tawa riang Raena terdengar lagi. “Semacam itu, mungkin? Kau sedang apa?

Kadang sebuah obrolan basa-basi bisa mengalir menjadi pembicaraan ekstra-panjang bila diarahkan dengan benar dan terjadi antara orang-orang yang benar pula. Lalu, pembicaraan itu akan dibumbui efek time-warping yang membuat guliran detik jam tak terasa lagi –tiba-tiba saja sudah hampir tengah malam. Bila direka-ulang, Jongin mulai menelepon Raena dari pukul setengah sebelas malam, hitung saja sendiri perkiraan berapa lama mereka sudah menghabiskan waktu dengan obrolan panjang. Pun tebak saja sudah sepanas apa telinga dan permukaan ponsel Jongin saat ini.

“Sudah malam, kau tidak mau tidur?” Jongin bertanya setelah sekian menit Raena mengoceh soal obsesinya pada kisah-kisah dengan ending ‘Hidup bahagia selama-lamanya, tamat.’. Gadis itu berhenti bicara, balas bertanya, “Ah, apa kau sudah mengantuk? Apa aku perlu menutup telepon? Kau tidak—“

“Tidak-tidak-tidak, aku… belum mengantuk, kok, hehe. Kau?” Jongin melirik jam dinding yang menempel di dinding seberang tempat tidurnya, sedikit memicingkan mata agar bisa membaca waktu yang tertera dengan benar. “Sudah hampir jam duabelas, setahuku sekarang waktu regenerasi kulit yang paling bagus, kan?”

Suara tawa Raena terdengar dari seberang sambungan, “Aku tidak tahu kalau kau tahu masalah seperti itu, maksudku, itu, kan, lebih banyak dipedulikan oleh perempuan, bukannya— a! Tapi bukan berarti kau tidak boleh tahu soal yang seperti itu!” gadis itu tertawa lagi sebelum melanjutkan kata-katanya, “Aigo, sepertinya aku mulai melantur, ne? Kurasa kau benar, sudah waktunya aku tidur, hehehe~

Jongin sama sekali tidak merasa aneh ketika ujung-ujung bibirnya tertarik ke atas setelah Raena selesai bicara. “Mm, tidur saja, bisa kita lanjutkan besok, kan?“

Ng~” Raena menguap pelan, kali ini entah bagaimana caranya Jongin bisa membayangkan Raena yang sedang mengusap-usap matanya sambil menguap. Manis, pikirnya. Mungkin sedikit lucu, entah dari sisi mananya dan dari sudut pandang siapa. “Kututup sekarang?”

“Ne… selamat malam, Jongin~” kemudian sambungan telepon terputus. Jongin masih diam dengan posisi badan setengah miring di atas kasur, disangga sebuah guling, ditemani ucapan selamat malam Raena yang terngiang di rongga telinganya lama sekali hingga menjadi serenade nina-bobo-nya untuk malam ini.

—–

Taemin merasa tingkah Jongin makin hari makin aneh. Baiklah, dia tetap kembarannya yang mudah dibully, tetap Jongin yang pasrah bila Taemin bersikap seenak perutnya, tetap Jongin yang kadang menguliahinya jika laki-laki itu tak keburu kesal dan memilih diam karena tingkah Taemin. Tapi… entahlah, Taemin sendiri tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana perihal hipotesis mengenai keanehan tingkah Jongin di matanya. Yang membuatnya mengambil kesimpulan ini, bila dibuat dalam sebuah diagram alir, mungkin diawali saat mereka sadar mereka sama-sama menyukai satu gadis yang sama. Atau mungkin lebih mundur lagi, ketika Jongin mengaku padanya bahwa ia menyukai seseorang yang masih anonim saat itu. Entahlah, Taemin tidak tahu dan tidak mau tahu soal itu.

Laki-laki itu menyandarkan badannya di daun pintu kamar Jongin, menempelkan telinganya sambil berusaha mencuri dengar apapun yang bisa ia tangkap dari balik pintu. Dia tahu kalau mencuri dengar atau menguping atau eavesdropping atau apapun istilahnya itu tidak baik, tapi Taemin sudah sejak lama menghapus semua label tidak baik dari apa yang ia lakukan –meski masih dalam taraf yang tidak terlalu kelewat batas- jadi menurutnya wajar jika ia bersikap seenaknya begitu.

“A, ne, hehehe. Raena, kan?”

Samar terdengar suara Jongin dari dalam kamar dan radar penangkap di telinga Taemin segera waspada ketika mendengar adiknya itu menyebutkan nama Raena. Rae-na. Jongin sedang menelepon Raena, dan ini berarti bahaya. Besar kemungkinan Jongin tadi pergi dengan Raena tanpa dia ketahui, sudah mencuri start untuk mendekati gadis itu lebih dulu tanpa teringat bahwa ia sendiri yang mencuri start sebelumnya.

Ia menyadari alarm bahaya mulai menyalak dalam benaknya, tapi ia memutuskan tetap bertahan demi mendengarkan lebih banyak. Mungkin… bisa sekaligus menyusun rencana lain, yang lebih bagus dan lebih mematikan dari rencana Jongin.

—–

“Hai?”

Raena mendongakkan kepalanya, menatap dingin pada Taemin yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah mejanya. Anak itu bahkan bukan bagian dari kelasnya, untuk apa dia ada di sini? “Ya? Ada apa?” gadis itu balik bertanya, ketus. Tidak suka dengan gerak-gerik Taemin yang menurutnya terlalu… entah, flamboyan, mungkin. Tebar pesona sana-sini.

“Kau sudah makan siang? Mau makan denganku?” dan dengan seenaknya Taemin duduk di kursi kosong di depan Raena yang entah harusnya diduduki siapa. “Bagaimana?”

“Tidak berminat.” Raena menjawab cepat, berlagak sibuk dengan buku-buku yang masih tersebar di atas permukaan mejanya, tidak mempedulikan tatapan tertarik Taemin sama sekali sementara laki-laki itu mengetukkan telunjuknya di atas meja.

“Kau sedang diet?” tanya Taemin kemudian. Tidak ada jawaban. “Hei? Kau mendengarku, kan? Raena? Kim Rae–”

“Sungraaaaaaaaaaaaa!”

Taemin berhenti bicara. Rahangnya hampir saja menganga ketika Raena serta-merta bangkit dari bangkunya dan berlari ke arah pintu, menghampiri seseorang, yang ia kenali sebagai Lee Sungra, yang berdiri di sana. Sekilas ia melihat Jongin datang menghampiri Sungra dan Raena, dan ia juga melihat bagaimana Jongin dan Raena terlihat sangat akrab ketika mengobrol. Dan… tunggu, tunggu, Taemin sepertinya mengenali tatapan Sungra, yang lebih banyak diam, ke Jongin yang sepertinya tak sadar. Ah, ia tahu makna sorot mata itu.

Bohlam pijar seolah bersinar terang di atas kepala Taemin, yang baru menyadari bahwa mungkin caranya mendekati Raena sedikit salah, meski itu biasa ia lakukan ketika mendekati gadis-gadis lain. Ah, Raena, kan, kasus spesial. Mungkin memang ia harus mendekati Raena dari orang-orang yang berada di dalam lingkaran pertemanan gadis itu, Sungra contohnya. Tinggal mengaitkan mata rantai dengannya dan pasti ia akan terseret masuk dala lingkaran itu. Perkara selanjutnya pasti jadi lebih mudah. Lagipula, sepertinya ia memegang kunci yang tepat untuk memaksa Sungra memperbolehkannya membuka ikatan dan mengaitkan dirinya di salah satu mata rantai yang kosong.

to be continued

Advertisements

8 thoughts on “[Double-Trouble] #11 | Tackling Down”

  1. AHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAH akhirnya, semoga menjadi titik terang bagi taemin dan sungra o:) *salah fokus* yah, kalau gini sih yaaa bau-baunya kisah cinta akan kembali ke bias pertama dan tokoh selanjutnya akan berlanjut ke tokoh sisa *hayohlo* eon, aku laper, kalau ada korean festival aku diajak ya 😉 *gaknyambung *kemudian lenyap*

    1. oopsie. maybe, sih, tapi kan tep saya dalangnya dan alur yang sudah dirapikan dari awal bisa tiba-tiba berantakan lagiiii xD
      sampai sekarang masih bingung hubungannya laper sama korday-_-

    1. COUNT ME ON YOUR SIDE PLEASE!
      iyaaaaa~ berantem tapi nggak berantem(?), anyway i still ship their bromance(?) more than any other bro/sis-pairing, even from jung sisters :B

  2. Ok taemin, anda telat, super duper telat -_-
    Trus, trus aku ngakak pas bagian awal-awal, waktu taemin nungguin kai dirumah hahaha. Kebayang itu orang muka keselnya gimana. Ok ok, kenapa nasib sungra disini miris sih aduuh *pukpuk sungra* trus, kayaknya taemin tau ya, sungra suka sama jongin, heaaaaa….. Makin ribet sudaaah.
    Ditunggu fa, next chapter hehe. Fightiiiiing

    1. biar tau rasa si tetem, HA! *eh
      ckckckckck, sumpah, pasti suntuk mampus hahaha. cinicini pukpuk *pukpuk taeee
      tau kok, tau :3 *eh *spoiler
      yoooow~ gomawo lagiiihhh ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s