[Double-Trouble] #12 | Chain Reaction

Title: Chain Reaction
Genre: friendship, angst
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin (SHINee), Kim Jongin (EXO-K), OCs
Length: 952 words

Ketika Taemin mencegat Sungra di depan pintu kelas, serta-merta gadis itu mengalihkan tatapannya sejauh mungkin dari Taemin yang berusaha mengintimidasi dengan tinggi badan dan matanya. Sungra sedang berada dalam mode defensif antisosial dan anti-laki-laki-nya, jadi bisa dibilang sikapnya itu bukan sepenuhnya salah gadis itu.

“Ck, ayolah, bisakah kau bersikap kooperatif sesekali?” Taemin mendesak. Sungra mendengus pelan tanda tak suka lalu mengangkat wajahnya, “Kenapa? Kau tidak sekelompok denganku dalam tugas apapun kalau kau mau ‘meminta ijin’ untuk tidak ikut mengerjakan tugas sama sekali, omong-omong.” ia berkata tajam, mengingatkan Taemin pada kali terakhir ia berpasangan dengan gadis itu untuk membuat slide presentasi yang berakhir dengan hanya Sungra yang mengerjakan. Dia toh tetap tutup mulut dan hanya mengangguk ketika guru mata pelajaran yang bersangkutan memuji hasil pekerjaannya. Pun tak protes ketika mereka mendapat nilai A, meski Taemin sama sekali tak ambil bagian dalam pengerjaan tugas, hanya berbicara dan menjelaskan sedikit isi presentasi itu.

Sial, sekarang Taemin baru sadar bahwa bisa jadi Sungra sedikit-banyak membencinya.

“Oke, oke, maafkan aku soal itu, ne?” Taemin memelankan nada bicaranya. “Sekarang, bisa kita bicara sebentar?”

Sungra menggeleng. “Aku sibuk. Permisi.” ujarnya sembari melangkahkan kakinya menuju pintu kelas yang masih terbuka.

Please? Ini soal Jongin dan Raena. Tolonglah.”

Gadis itu diam, bulu kuduknya meremang ketika ia perlahan berbalik untuk menatap Taemin dengan matanya yang membulat. “Apa katamu?”

—–

Sungra selalu mengira ia bisa menyembunyikan isi pikirannya dengan sempurna dari orang lain. Maka dari itu, ia sama sekali tidak mengira Taemin akan mengungkit topik itu dalam pembicaraan yang menurut laki-laki itu penting, sore ini.

“Bantu aku mendekati Raena.” Taemin membuka kalimatnya. Sungra menghela napas, baru kemarin Jongin mengatakan hal yang sama padanya, dan sekarang ada anak ini? Memangnya anak kembar harus sebegitu terikat hingga menyukai gadis yang sama, seperti mereka berdua?

“Apa yang akan kau lakukan kalau aku menolak?” gadis itu berkata tanpa menatap Taemin, berusaha menjaga jarak dalam batas yang otaknya ijinkan. “Kau tidak berhak memaksa–”

“Aku mendapatkan Raena dan kau bisa mulai berusaha mendekati Jongin. Kubantu. Bagaimana? Aku rasa itu cukup sepadan, menurutku.” potong Taemin.

Sungra hampir tidak bisa menahan dirinya supaya tidak tersedak udara atau air liurnya sendiri.

M, mwo? Jongin? Kenapa… Jongin?” Sungra tertawa canggung. Usaha gadis itu dalam menutupi rasa salah tingkahnya gagal total, ia tahu, dan Taemin jelas tak bisa dibeli keyakinannya dengan cara semacam itu.

“Jangan pura-pura tidak sadar kalau kau menyukai Jongin, bodoh.”

­­—–

“Biar kujelaskan.” kata Taemin setelah ia berhasil menahan Sungra yang berusaha kabur dari kelas dan meyakinkannya untuk bicara sebentar. “Begini, aku tahu Jongin sudah meminta bantuanmu sebelumnya. Aku juga tahu kalau Jongin sudah mendekati Raena. Dan aku tahu kalau kau menyukai saudara kembarku itu, jadi… bisa kita buat kesepakatan untuk saling membantu?”

Sungra menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu ada kesepakatan apa-apa. Sudahlah.” putusnya, kembali berusaha beranjak dari kursi dan hampir saja berhasil bila Taemin tak menarik lengan gadis itu keras, membuatnya hampir menabrak meja.

“Dengarkan. Kau membantuku dengan cara menjauhkan kedua orang itu, kemudian biarkan aku mendekati Raena, setelah aku mendapatkan Raena, kau mendapat Jongin. Semacam reaksi berantai. Dan bukankah itu impas?” Taemin memainkan anak rambutnya yang menjulur melewati telinga. “Apa menurutmu Raena cocok dengan namja seperti Jongin? Tidak, kan?”

“Tapi Raena kelihatan nyaman dengan–”

“Omong kosong.” laki-laki itu menyepak kursi di depannya keras. “Kau, berhenti berpura-pura kau rela mereka dekat. Bersikap sok pahlawan dengan mengorbankan diri, hmm? Munafik, kan?”

Taemin pintar bersilat lidah. Ia pandai merangkai kata untuk merayu dan membujuk, maupun menusuk. Sungra, di lain pihak, rentan terhadap hal seperti itu. “Tapi…”

“Katakan ‘ya’ dan semuanya selesai. Cepatlah.”

“Aku… tidak mau. Berhenti memaksaku.” Sungra berkata lemah ketika kelebatan wajah Jongin saat memohon agar Sungra mau membantunya terlintas dalam benak. Ia masih mengingat dengan jelas binar mata semangat lelaki itu ketika menceritakan apa yang ia alami di pertunjukan teater dan setelahnya. Tidak, Sungra tak akan tega mengganggu mereka berdua.

“Kau gadis paling bodoh yang pernah kutemui di dunia ini!” umpat Taemin sebelum meninggalkannya sendirian di dalam kelas. “Dan bersiaplah untuk kuganggu setiap hari, Nona. Salahkan keputusan bodohmu itu.”

Harus bagaimana lagi bila Sungra sudah memutuskan untuk menyerahkan lehernya agar dipenggal, dan sama sekali tak ingin mengubah keputusannya?

—–

Taemin benar-benar tidak main-main soal akan mengganggu Sungra.

Dalam perjalanan tiga puluh menit dengan bus menuju rumah, sudah ada belasan missed call dan pesan singkat yang menghiasi layar ponsel Sungra atas nama laki-laki itu. Aksi teror dari seorang psikopat gila.

Tunggu, psikopat memang mengidap kelainan jiwa, kan?

Gadis itu memilih opsi mematikan ponselnya semalaman. Toh tidak akan ada yang mencarinya jika ia tiba-tiba menghilang dari peradaban.

Ia menenggelamkan wajahnya di bantal selepas mandi dan berganti pakaian. Benaknya kalut, kalut sekali, seolah diliputi awan-awan hitam beracun yang mematikan. Di sisi lain ia merasa dirinya kosong seperti korban-korban Dementor. Kata-kata Taemin soal sistematika rencana rancangannya terus-menerus bergaung di telinganya, tak kunjung habis. Laki-laki itu benar-benar berhasil menerornya dari segala sisi, membuatnya ingin mati saja saat itu juga.

Dering telepon rumah mengusik dialog-dialog batin yang bermunculan dalam tempurung kepalanya. Sungra mengeluh pelan, tak suka bila dipaksa bangun dari kasur, sebelum kemudian berlari turun untuk mengambil gagang wireless telepon rumahnya. Salah satu sisi buruk tidak ada orang di rumah adalah tidak ada orang lain yang bisa dipaksa untuk mengangkat telepon, seperti saat ini.

Yeoboseyo?”

Telinga Sungra tidak siap untuk menerima gelombang frekuensi tinggi yang datang dari mulut Kim Raena di ujung telepon. “Sungraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!” teriak gadis itu, membuat Sungra terpaksa menjauhkan gagang telepon dari telinganya yang mendadak berdenging. “Kau! Kau kenapa tidak bisa dihubungi? Babo!”

“Sekarang kau sedang bicara denganku, kan?”

“Iya, tapi… ck, sudahlah, ada sesuatu yang harus aku bicarakan denganmu!

Sungra mendengus pelan, menyuruh Raena memulai ceritanya. Berkata seperti itu berarti akan ada sesuatu yang oh-sungguh-sangat-penting-sekali-kau-harus-mendengarkan-dengan-baik yang akan keluar dari mulut Raena.

“Jongin… mengajakku pergi, dan aku gugup. Sangat. Menurutmu… ada apa?”

Skakmat.

to be continued.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #12 | Chain Reaction”

  1. …………………………..ah kamu eon. Selalu membuatku merasa ngambang setiap part berakhir. Rasanya tuh ngambang yang ngambang banget(?) Begitulah. Lupakan-_- Haduh, bagaimana taemin memutuskan untuk mengganggu si sungra tiap hari itu secara nggak langsung membuat alur hidupnya seperti drama korea yang ganggu-taksir, dan bikin panassssssss *kipasan* Disaat galau double trouble rasanya aku butuh baek seungjo, banget._. *abaikan* -__-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s