[Double-Trouble] #13 | Scattered Pieces of a Broken Feather (I)

Title: Scattered Pieces of a Broken Feather (I)
Genre: angst, family, friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s) (although the two main chars aren’t used(?) here)
Length: ~1350 words

“Aku pulang~”

Suara Raena yang ceria dan dibuat-buat bergaung di rumah yang kosong. Tidak ada yang menyambutnya, seperti biasa. Ia melepas sepatunya satu persatu, meletakkannya di lemari sepatu yang tidak bisa dibilang berisi dan melangkah masuk ke dalam rumah. Langkah-langkahnya ringan menuju kamar yang tertutup tanpa menyempatkan diri untuk mengecek isi rumah. Dirinya sudah hapal dengan kesunyian rumahnya.

Matanya sekilas menangkap pigura foto besar yang dipasang di dekat tangga ketika ia melintas. Otot-otot  tungkainya terhenti, terpaksa berhenti lebih tepatnya, karena telapak kakinya tiba-tiba terasa berat. Ia mengamati potret yang berisi tiga orang; dirinya di belakang ayah dan ibunya yang duduk di atas sofa panjang dari beludru hitam. Coretan marker putih tampak di pojok bawah pigura; Seoul, enam tahun lalu, ketika umurnya dua belas tahun. Baru enam tahun, tapi bagi Raena foto itu diambil berabad-abad silam.

Raena menunggu air matanya merebak, atau setidaknya matanya memanas. Nihil. Entah karena bagian hatinya terlanjur beku atau kantung air matanya telah rusak setelah melalui tahun-tahun kelamnya yang penuh air mata, dulu.

—–

“S-Sungra…” suara isakan Raena memenuhi kamar Sungra yang tak bisa dibilang besar maupun sempit. Sang pemilik kamar hanya diam dengan lengan melingkar di sekeliling badan Raena, memastikan gadis itu merasa nyaman ketika ia berusaha menenangkannya semampunya.

“Aku… tidak mau pulang~ tidak mau~” rengek Raena lagi. Sungra mengangguk pelan, menggumamkan kata-kata seperti‘Kau tidak perlu pulang’, ‘Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau, tidak akan ada yang keberatan’, dan sebagainya. Terus begitu, rentetan kejadian yang sama, rengekan Raena yang ditimpali oleh bisikan kalimat-kalimat bernada menenangkan dari Sungra, berulang terus menerus hingga Raena lelah dan terlelap dengan sendirinya. Gadis itu masih terisak dalam tidurnya dan Sungra terpaksa menunggu beberapa menit sebelum beranjak keluar dari kamar. Raena datang ketika keluarga Lee baru saja akan malam, dalam keadaan menyedihkan –menangis dengan raut wajah lelah dan baju seragam melekat, padahal sekolah sudah lewat beberapa jam yang lalu. Untung kedua orangtua Sungra yang mengenal Raena dengan baik mengizinkan anak mereka makan belakangan agar ia bisa bicara dengan Raena sejenak.

Sekarang yang Sungra perlukan hanya mengambil jatah kompensasi pengisi perut, sekaligus untuk menjinakkan makian lambungnya yang sejak tadi meminta makanan untuk dicerna.

Dapur yang lengang hanya terisi oleh ibu Sungra, masih duduk di kursi makan lengkap dengan majalah wanita edisi terbaru di depannya. Makanan Sungra yang belum sempat tersentuh masih utuh, belum dibereskan, hanya sup kimchinya sudah agak dingin. Lima belas menit lebih Raena bercerita hingga tertidur di kamarnya, ia baru teringat.

“Bagaimana?”

Sungra mengangkat kepalanya, menatap ibunya bingung sebelum balas bertanya, “Apanya yang bagaimana?”

“Raena, tentu saja. Dia… kenapa? Datang dalam keadaan seperti itu,” wanita itu memberi penekanan dengan imbuhan kutip lewat kedua tangan, “pasti ada alasannya. Masalah yang rumit. Tapi… kalau Raena tidak ingin masalahnya diketahui banyak orang, tidak diceritakan juga tidak apa. Eomma hanya ingin membantu, kalau eomma bisa.”

Sungra memainkan kimchi di mangkuknya dengan sumpit. Bukannya Raena melarangnya bercerita –gadis itu toh tidak bilang apa-apa soal itu– tapi dirinya bingung hendak memulai dari mana. Mengawali kerumitan yang baru saja diurai Raena dengan air mata di kamarnya, yang membuat seorang Kim Raena yang ceria menangis tersedu hingga masalahnya terbawa mimpi. Sungra bahkan merasa yakin sempat melihat Raena bergerak-gerak gelisah sebelum ia menutup pintu kamar. Tidak, ini terlalu sulit untuk dideskripsikan. Akan lebih baik bila Raena yang bercerita langsung, menurutnya.

“Sungra?”

“A, ah, ne?” tatapan Sungra bertemu dengan tatapan khawatir bercampur menyelidik dari ibunya. “Oh, Raena? Ng… dia…” gadis itu menggigiti bibirnya kemudian menyuapkan sedikit nasi dalam mulutnya, berusaha mengulur waktu, tapi ia tahu tekniknya akan gagal di depan ibunya yang hobi mengejar dan menuntut hingga mendapatkan apa yang diinginkan. Jadi, ketika nasi di rongga mulutnya habis tertelan, ia mulai membuka mulut dan menceritakan ulang semua yang ia dengar dari Raena. Dimulai dengan prolog ‘ada masalah dengan orangtuanya’, yang dilanjutkan dengan deskripsi-deskripsi soal apa yang terjadi di rumah keluarga Kim petang tadi.

Ayah dan ibu Raena bertengkar, awalnya hanya masalah bisnis dan pekerjaan, tapi lama-kelamaan merambat ke masalah lain. Raena yang sudah sering menghadapi situasi serupa memilih mendekam di kamar hingga ketegangan mencair, bersikap seolah tak peduli padahal sejatinya menyimak. Ia mendengar dengan jelas apa saja yang disebutkan orangtuanya, mulai dari makian hingga teriakan bernada marah tentang berpisah. Bercerai, tentu saja. Saking seringnya topik itu terdengar, telinga dan otak Raena lama-kelamaan kebal. Hanya gertak sambal saja, tidak perlu dirisaukan. Paling-paling besok pagi sudah terlupakan, lusa paling lama. Raena tak tahu kenapa kedua orangtuanya begitu inkosisten –sering bertengkar, cepat berbaikan, tanpa alasan yang jelas. Oke, mungkin ada alasan untuk yang pertama, tapi yang kedua? Mungkin saja alasannya hanya agar Raena tak terkena imbas pertengkaran-pertengkaran itu, makanya mereka sepakat berkompromi. Tapi, tidak ada acara berkaca dari pengalaman sama sekali.

“Kalau kau mau menggugat cerai, lakukan saja! Sudah tidak ada gunanya lagi, semua ini, semua yang ada di sini, semuanya sudah tidak berguna lagi! Termasuk anak itu! Dia yang membuatku harus terjebak dengan manusia sepertimu, di tempat busuk ini!”

Tunggu, tunggu, apa ayahnya barusan menyebut dirinya sebagai lakon dalam perdebatan mereka?

“Begitu-begitu dia anakmu sendiri! Darah dagingmu! Jangan bicara begitu!”

“Sekarang kau bicara seolah kau menginginkannya. Seolah kau tidak pernah mengeluhkan keberadaanya. Seolah kau tidak pernah berkata kau tidak menginginkannya hidup. Kalau saja dulu kau mau aborsi, kita tidak perlu terpaksa menikah dan membuat drama kecil dengan lakon keluarga bahagia di depannya. Hidupku tidak akan seburuk ini.”

Orang itu. Orang yang dulu mengajarinya berjalan, menemaninya belajar membaca, mengajarinya berenang, membawanya ke taman tiap hari Minggu pagi untuk berjalan-jalan santai, yang rajin mengantarnya ke sekolah sebelum kesibukan menyeretnya pergi. Orang yang ia lepas setiap pagi dengan senyuman dan kalimat ‘Hati-hati di jalan, appa, saranghae~’, yang selalu menatapnya bangga ketika Raena menunjukkan piala-piala prestasinya. Orang yang sama yang menyebutnya sebagai anak yang tak pernah diharapkan siapapun, baru saja. Dan dunia Raena seperti runtuh saat itu juga.

Ia mengingat. Menggali memori-memori lamanya perlahan, menelusurinya satu persatu. Ada satu tatapan yang kadang dilayangkan ayahnya padanya, jenis tatapan yang tidak bisa ia artikan dan karena itu ia hapalkan. Kali ini Raena menyesal karena baru mengerti sekarang, memahami bahwa tatapan itu adalah campuran dari menyalahkan, marah, dan menyesal. Mungkin memang Tuhan menghendaki Raena memahami ketika dia sudah sedikit dewasa.

Suara bentakan selanjutnya hanya sekilas terdengar di telinga Raena yang mendadak tuli. Ia diam, tangannya perlahan meraih foto keluarga ukuran 5R yang terpajang dalam pigura dari kawat logam yang membentuk pola uliran-uliran kecil dari nakas di sebelah kasurnya. Memandanginya dalam diam. Kedua orang tuanya terlihat bahagia di sini, jadi tidak mungkin mereka saling membenci seperti itu. Tidak mungkin. Tidak mungkin.

Satu bagian otaknya memaksakan diri untuk mensugesti bahwa omongan ayahnya tadi tidak benar, bahwa ia tidak mendengar itu, dan telinganya hanya salah dengar. Ketika ia sadar bahwa ia memang mendengarnya, tidak bisa dipungkiri sama sekali, maka ia ganti berkata ucapan ayahnya hanyalah gurauan semata. Tipe lelucon yang menyakitkan untuk ditertawai, tapi lebih membuat lega daripada bila omongan itu berupa kenyataan.

Tidak, logikanya sudah berjalan sempurna dan ia tidak bisa ditipu lagi.

“Raena?”

Ibunya menyapa dari luar, melongokkan kepala lewat pintu yang setengah terbuka. Raena berusaha mengulas senyum spesial-untuk-eomma-nya, tapi tidak bisa. Hanya segurat tipis tarikan bibir yang mampu ia tunjukkan hari ini. Tidak setelah apa yang ia dengar barusan.

Eomma akan pergi sebentar, tidak apa-apa, kan?”

Tenggorokannya kering. Raena hanya bisa mengangguk. Tidak perlu bertanya karena telah terbaca dari air muka ibunya, ayahnya telah lebih dulu meninggalkan rumah. Entah kedua orang itu akan pergi ke mana, mengurusi perusahaan di cabang mana, dia tak mau tahu. Sama sekali tidak mau.

Sungra menutup ceritanya dengan meminum segelas susu dingin yang ia tuang sendiri dari kartonnya. “Jadi… begitulah. Sudah. Begitu. Menurut eomma bagaimana?”

Wanita itu hanya diam, tampak sedang berpikir. Masalah Raena terlalu berat untuk ukuran anak berumur tiga belas tahun, belum lagi ia anak tunggal yang tak punya teman untuk berbagi cerita selain Sungra. “Di mana dia sekarang?” tanyanya sembari bangkit lalu membereskan piring-piring lauk yang tersisa di atas meja makan. Sungra menunjuk ke atas, isyarat untuk kamarnya.

“Bangunkan, suruh dia makan, dan… kau tidak keberatan berbagi kasur dengannya malam ini, kan?” Sungra menggeleng, sedikit tak mengerti karena ibunya tiba-tiba saja menyuruh Raena menginap. Belum sempat ia membuka mulut untuk bertanya, ibunya kembali bicara, “Eomma rasa lebih baik kalau Raena menginap dulu malam ini, benar?”

to be continued

Advertisements

7 thoughts on “[Double-Trouble] #13 | Scattered Pieces of a Broken Feather (I)”

  1. raenaaaa~~~ sedih banget ternyata… aku masih janggal yang pas ibunya raena bilang mau pergi sebentar, itu maksudnya ortunya mau pindah tempat buat berantem biar raena ga liat apa mau makan nasi goreng diluar-_- #abaikan #efekujian

    wawawaaa, ini masih ada lanjutannya tentang kisah raena kan fa? ditungg yow hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s