[Double-Trouble] #14 | Scattered Pieces of a Broken Feather (II)

Title: Scattered Pieces of a Broken Feather (II)
Genre: angst, friendship, family
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: ~1000 words

Raena bukan tipe orang yang suka meluangkan waktu untuk mengenang masa lalu. Lebih-lebih setelah kejadian yang membuatnya merasa ingin menyumpahi semua orang di sekitarnya, yang membuat rumah keluarga Kim selalu sepi karena hanya Raena yang bertahan di sana, itu pun lebih karena ia tak punya tempat singgah lain selain rumahnya sendiri yang sudah tak terasa seperti rumah lagi. Hanya bangunan kosong tak bernyawa yang menaunginya di malam hari dan hari libur. Seperti cangkang kelomang yang ditinggalkan begitu saja di sudut-sudut taman.

Baik ayah maupun ibunya jarang muncul di rumah. Meski begitu, mereka rutin mengirimkan uang ke rekening bank Raena, mungkin sebagai bentuk perwujudan tanggung jawab. Berlebih, malah. Bisa jadi mereka sengaja menambahkan nominal uang bulanan Raena sebagai ajang penebusan dosa, jika mereka masih bisa merasa bersalah.

Raena sendiri perlahan merasa lebih ingin rumah kosong tanpa penghuni selain dirinya. Berharap agar orangtuanya tak pernah berpikir untuk pulang. Toh dirinya sudah terlupakan, selain fakta bahwa mereka masih menyokong dirinya secara finansial, tak ada petunjuk lain kalau mereka masih menganggap dirinya anak. Ah, ada pula telepon dengan frekuensi komunikasi yang makin lama makin pendek dan makin tidak rutin. Dari setiap hari menjadi tiga kali seminggu, lalu seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali, dan akhirnya jarang sekali. Sibuk dengan pekerjaan, begitu alasannya. Klise karena Raena sudah tahu alasan sejatinya: ia dibuang. Dianggap tidak ada.

Ia, Kim Raena, adalah anak yang tak diinginkan semua orang, kan? Memang sudah nasibnya menerima perlakuan seperti itu, di mana tidak ada satupun dari kedua orangtuanya yang memiliki gelagat akan memperbaiki hubungan dengan anak mereka sendiri. Mungkin mereka sadar bahwa Raena mendengar apa saja yang mereka ucapkan dalam pertengkaran terakhir itu, dan sama-sama memutuskan untuk perlahan menjauh dari Raena, entah apa alasannya. Bisa jadi karena mereka belum siap menjelaskan semuanya ketika pada suatu hari Raena menuntut penjelasan. Atau mungkin karena, secara simpel, tidak ada alasan lagi untuk berakting sebagai orangtua yang baik di depan Raena karena gadis itu sudah tahu segalanya sekarang. Tidak ada gunanya menjaga perasaan Raena dengan menutupi perselisihan mereka rapat-rapat, jauh dari jangkauan pemahaman Raena seperti yang dulu biasa mereka lakukan. Mungkin, karena Raena sendiri tak tahu pasti apa orangtuanya sudah sering bertengkar ketika ia masih kecil.

Suasana dingin di rumah perlahan merembeti Raena. Ia mulai menutup diri dari lingkungan, menjauh, mengasingkan diri, berusaha menciptakan dinding pemisah yang membuatnya transparan. Menjadi serigala penyendiri di tengah kerumunan. Satu-satunya orang yang bisa berada di dekat Raena hanya Sungra yang merangkap status sebagai satu-satunya teman dekat gadis itu, tempat Raena biasa ‘membuang’ cerita dan isi benaknya.

“Aku rindu rumah.” cetus Raena pada suatu hari ketika mereka sedang bersantai di kamar Raena yang luas. Sungra, yang kebingungan, hanya bisa menatap Raena heran. “Bukannya kau sedang berada di rumah sekarang?”

“Ini bukan rumah. Berbeda dengan rumahmu; itu baru rumah.” Raena menggumam makin pelan dengan mata terpejam. Tak sampai semenit kemudian, gadis itu telah terlelap, meninggalkan Sungra yang masih berusaha mencerna maksud kalimat Raena.

Di lain waktu, Raena berkata pada Sungra, “Aku ingin mencari rumah untukku, rumah yang sesungguhnya, tempat di mana aku bisa pulang dan nyaman di dalamnya. Rumah yang hangat dan melindungi, bukan yang kosong dan dingin tak bernyawa.”

Baru saat itu Sungra memahami apa yang Raena katakan. Meski begitu, tak ada yang bisa ia lakukan selain kembali berusaha menebak isi pikiran Raena yang tengah melamun sambil memandangi awan dari rooftop sekolah mereka.

—–

Setelah laptop tertutup dan mesinnya berhenti menimbulkan suara dengung halus, Raena baru merasakan sepi yang sedikit menyakitkan. Sepi karena sendirian dan sepi karena merasa diasingkan yang dicampur menjadi satu. Ia menajamkan telinga, berharap bisa mendengar tanda-tanda kehidupan di bawah sana meski tahu hanya kenihilan yang akan ia dapatkan.

Raena terbiasa dengan hening. Dengan sunyi yang seolah menyelimutinya seperti gelap ketika listrik mati. Lebih baik sepi begini daripada ramai oleh suara bentakan orang yang sedang bertengkar, begitu hemat pikirnya. Tapi kadang ia benci saat-saat seperti ini, saat ia diam-diam merasa ditinggalkan dan saat-saat homesick menyerangnya. Homesick dalam konteks ia rindu pulang ke rumah yang sebenarnya, menurut definisi seorang Kim Raena.

Ada waktu di mana Raena merasa ia benar-benar pulang ke rumah.

Pertama adalah rumah mendiang neneknya di luar kota. Selepas pertengkaran terakhir orangtuanya, neneknya sering tiba-tiba berkunjung ke rumah untuk menemaninya. Keberadaan nenek sudah cukup untuk membuat rumah terasa sedikit bernyawa, lebih-lebih jika Raena ganti berkunjung ke kediaman neneknya ketika liburan tiba. Tidak pernah ada perubahan sikap pada neneknya, bahkan setelah Raena berkata ia tahu ayah-ibunya menikah karena terpaksa, dan itu yang membuat Raena merasa sangat aman bila berada dalam dekapan neneknya. Wanita tua itu merangkap banyak sosok bagi Raena; sebagai nenek, sebagai ibu, dan sebagai ayah, sekaligus dalam satu paket. Maka tidak sepenuhnya salah bila Raena menjadi orang yang paling terpukul ketika neneknya meninggal, karena itu berarti ia terpaksa kehilangan figur dan landasan tempatnya selama ini berpegang.

Kedua, bila ia berkunjung ke rumah Sungra. Ibu Sungra sangat perhatian padanya dan menganggap Raena anak sendiri, mungkin karena Sungra anak tunggal dan beliau terobsesi ingin punya dua anak perempuan. Maka, jadilah Raena kakak perempuan Sungra yang hanya terpaut tiga bulan. Selain ibu Sungra yang lebih terasa sebagai ibu baginya, masih ada ayah Sungra yang jarang berada di rumah. Pada pria itu pun Raena menemukan sosok ayah yang sering ia cari. Punya orangtua perhatian dan rumah yang menyenangkan adalah salah satu faktor mengapa Raena sering merasa iri pada Sungra, meski  orang-orang berkata harusnya Sungra yang iri pada Raena mengingat lebarnya jurang perbedaan di antara mereka, yang selama ini selalu tidak diacuhkan karena Raena dan Sungra sudah sepakat untuk tidak mempermasalahkan perbedaan sudut pandang mereka masing-masing.

Sungra sendiri tak pernah keberatan ‘berbagi’ orangtua dengan Raena selama Raena tidak memaksanya memanggil ‘eonni’. Oleh karena itu, Raena sangat sering singgah di rumah keluarga Lee entah itu sekadar untuk belajar dengan Sungra atau menginap beberapa hari, saking kerasannya ia dengan tempat itu.

Ketiga… Raena terhenyak ketika menyadari ia sepertinya sudah menemukan rumah ketiganya, padahal ia mengira hanya akan berhenti di angka dua. Tapi… tiga? Tak pernah terpikir dalam benaknya bahwa ia akan menemukan orang atau tempat lain yang membuatnya nyaman dan kerasan selain dua yang  sudah disebutkan tadi.

Nyatanya ada.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #14 | Scattered Pieces of a Broken Feather (II)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s