[Double-Trouble] #15 | Fix Your Gaze upon Me

Title: Fix Your Gaze upon Me
Genre: romance, friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: ~1300 words

Jongin memainkan ponsel dalam genggaman tangannya. Kembali ia dihujani rasa ragu dari segala sisi ketika retina matanya merekam deret angka yang tertera di layar beserta nama pemilik nomor telepon itu, juga sebaris pesan singkat yang belum sempat ia kirimkan. Suara Raena yang berkata ia bersedia pergi dengan Jongin lagi-lagi terngiang di telinganya, bergaung terus-menerus seolah tak akan hilang. Lama-kelamaan dia akan gila, pasti.

Sudah entah berapa menit Jongin melamun di hadapan layar ponselnya. Entah berapa kali pula ia mengetik teks di sana, membaca, menghapus beberapa kata, mengetik lagi, membaca lagi, menghapus semuanya, mulai lagi dari awal, dan seterusnya sampai dirinya bosan tapi tetap saja tak tercipta pesan yang sempurna menurutnya. Kalimat yang terlalu panjang kesannya bertele-tele sedangkan yang pendek sungguh tak sopan.

“Apa mengajak seorang yeoja pergi makan malam harus sesulit ini?” gerutunya setelah percobaan menulis yang keenambelas. Segala macam format telah ia coba, mulai dari ‘Hei, aku Jongin, kau masih ingat denganku, kan? Mau pergi makan malam?’ hingga yang sangat singkat, ‘Makan malam? –Jongin.’. Yang pertama seolah makin menegaskan bahwa keberadaan Jongin mungkin hampir setara dengan debu bagi Raena sedangkan yang kedua… tidak, itu agak kasar dan tidak sopan. Jongin tidak pernah mengizinkan dirinya berbuat tidak sopan pada orang lain kecuali bila ia memang menginginkannya. Jadi, mana mungkin ia berlaku kasar pada Raena?

Jongin mengerang sekali lagi sebelum memutuskan untuk memejamkan mata dan membiarkan jemarinya saja yang mengetik. Mungkin saat ini syaraf-syaraf di tangannya akan berpikir lebih baik daripada pusat kontrol otaknya.

—–

Suara dering ponsel memecah keheningan di kamar kosong itu. Raena baru saja melangkah masuk kamarnya ketika layar ponselnya berkedip beberapa kali. Dengan rambut yang masih setengah basah dan handuk melingkar di leher, gadis itu meraih ponselnya yang tergeletak begitu saja di antara selimut dan bantal yang berserakan di atas kasur.

“Jong… in?” gumamnya pelan. Satu detik kemudian gadis itu merasa wajahnya memanas tanpa alasan yang jelas –ada apa ini? Bukan sekali ini Raena mendapat pesan dari laki-laki di sekolah, jenis pesan yang biasanya langsung ia hapus tanpa dibaca karena ia sudah hapal isinya; entah itu basa-basi, ajakan pergi, hingga rayuan menjijikkan yang membuatnya ingin menampar siapapun yang mengirim pesan tersebut saat itu juga. Mereka pikir pesan seperti itu tidak membuat orang yang membacanya merinding jijik?

Meski tak semua berisi seragam –ada juga yang benar-benar manis– tapi tetap saja dari sekian banyak pesan singkat itu tidak ada yang berhasil membuat pipi Raena merona merah seperti sekarang.

Fr: Jongin

Halo. Malam ini kosong? Mau pergi makan malam denganku?

— Jongin, kalau-kalau kau belum menyimpan kontakku.

Padahal isi pesan Jongin hanya ajakan makan malam, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perasaan dan pikiran Raena terjungkir-balikkan hingga berantakan. Kacau tak karuan. Dalam diamnya Raena menarik kesimpulan bahwa pesan singkat Jongin jauh lebih manjur daripada pujian manapun, terbukti dari degup jantungnya yang tak kunjung normal.

—–

“Jongin… mengajakku pergi, dan aku gugup. Sangat. Menurutmu… ada apa?”

Raena mengigiti ujung kukunya dengan gugup sambil menunggu sahutan Sungra dari ujung telepon.  Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, biasanya ia akan langsung menolak tanpa perlu berpikir terlalu panjang bila ada yang mengajaknya pergi. Kasus Jongin sedikit berbeda –ia tak bisa menolak, tapi ragu mengiyakan. Oleh karena itu ia langsung menelepon Sungra karena, menurut hemat pikirnya, hanya Sungra yang akan bisa membantunya dalam kondisi seperti ini. Yah, meski biasanya nasihat Sungra tak jauh-jauh dari suruhan untuk menolak ajakan, tapi biasanya temannya itu tahu apa yang paling ia butuhkan dalam kondisi tertentu.

“Sungra? Halo, Sungra?”

“Ah, ne? Maaf, aku sedang mengerjakan tugas, jadi tidak fokus, hehehe…” terdengar kekehan Sungra dari ujung telepon. “Bagaimana tadi? Jongin mengajakmu pergi?”

“Ng, iya~ jadi… aku harus bagaimana? Ada apa dengannya, maksudku, ajakannya? Menurutmu, apa dia punya motif tertentu? Apa aku harus menolak, atau mengiyakan?”

Raena terpaksa menunggu lagi karena Sungra tak kunjung menjawab. Terlebih ia baru sadar kalau pertanyaannya sangat banyak, sehingga ia membiarkan Sungra berpikir sementara benaknya kembali mengelana, mencoba mengira-ngira apa yang sebenarnya telah terjadi.

“Ya… kau sendiri bagaimana?” Sungra akhirnya kembali bicara. “Kalau aku jadi kau, mungkin… kuiyakan? Tapi terserah kau juga, sih. Soal motif… aku kira mungkin tidak ada. Sudah, iyakan saja~ kau juga sedang tidak ada kerjaan, kan?”

Raena, yang masih berjibaku dengan semestanya, mengiyakan dengan lirih sembari berucap sedikit basa-basi penutup telepon. Ketika sambungan terputus, ia menghela napas panjang sebelum mengirim pesan ke Jongin; benaknya tetap kalut.

Di tempat lain, Jongin melakukan selebratori fist-pump sebelum melompat ke arah lemari dan asal mengambil satu stel pakaian yang bisa ia jangkau paling cepat.

—–

Kembali pada semesta Sungra yang tengah menatap ponsel di pangkuannya dengan tatapan tak terdeskripsikan. Campuran kesal, marah, takut, dan kecewa yang dilebur menjadi satu, ditambahi sedih dan sedikit patah hati. Dalam hati ia menyumpahi diri  karena menyuruh Raena menerima ajakan makan malam Jongin, yang berarti sama saja dengan tindakan melompat ke jurang secara sukarela.

Tapi… harus bagaimana? Jongin menyukai Raena, dan Raena mungkin menyukai Jongin. Lalu, bila benar Raena menyukai Jongin, maka semuanya sudah jelas; mereka berdua akan hidup bahagia di bawah sorotan spotlight kehidupan sebagai pasangan paling serasi di sekolah, sedangkan dirinya hanya akan menjadi figuran yang dilupakan di pojok ruangan. Ucapkan terima kasih pada sisi -sok- heroik dan semi-masokis Sungra yang rela mengalah dan sakit hati berulang kali.

Sungra sudah tidak tahan bila harus merasa seperti itu lagi.

Selepas sesi telepon yang meremukkan moodnya, Sungra telah membulatkan niat dan tekad untuk bicara dengan Raena, entah bagaimana hasilnya nanti. Bukannya ia ingin menyuruh Raena untuk berhenti berada dekat-dekat dengan Jongin –itu toh bukan haknya–, ia hanya ingin berbagi. Itu saja.

Pertanyaannya hanyalah apa masih ada kesempatan bagi Sungra untuk mengajak Raena bicara setelah ini.

—–

Raena menyantap blackpepper tenderloin-nya dengan beringas, sedikit berbeda dengan Jongin yang sedari tadi hanya melahap satu-dua potong; waktunya lebih banyak ia habiskan dengan mengamati Raena yang kelihatan sangat menikmati makanannya.

“Enak?” celetuk Jongin tiba-tiba. Raena serta-merta mengangkat wajahnya yang hampir menyentuh piring –sesaat kemudian wajahnya telah merona malu. “Aku… terlihat sangat kelaparan, ya? Aduh, pasti memalukan sekali, maafkan aku–” ia serta merta berceloteh panjang, salah satu indikasi bahwa seorang Kim Raena sedang dilanda salah tingkah. Jongin menahan tawanya sambil menggeleng cepat, “Tidak, tidak separah itu, kok. Caramu makan itu… seperti mengatakan kalau makanan yang sedang kau santap rasanya sangat enak, hehehe.” laki-laki itu meletakkan kedua alat makannya di atas piring yang tiba-tiba saja sudah licin. Perlahan ia menopangkan siku di tepi meja dan menumpukan dagu di atas telapak tangannya. Matanya mengamati Raena yang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Manis, begitu pikirnya.

Sedetik kemudian, Jongin langsung menutupi mulutnya ketika menyadari bahwa ia baru saja mengucapkan kata itu terang-terangan. Terbukti dari Raena yang langsung menegakkan kepala dan menatap dirinya dengan mata membulat –sial.

“Kau… bilang apa barusan?” Raena menggumam setelah beberapa saat menatap Jongin dengan tatapan yang tak bias laki-laki itu baca. Yang ditanya menggelengkan kepala keras-keras, “Bukan, bukan apa-apa. Sudah, habiskan makananmu saja…”

Raena tetap terlihat bingung meski tak urung mengangguk. Jongin, yang sedang merutuk dalam hati, berpura-pura mengecek ponselnya. Berharap tingkah sok sibuknya bias membuat Raena lupa kalau ia mendengar Jongin menyebutnya manis barusan. Mustahil memang, tapi taka da salahnya berharap, bukan?

Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara sendok-garpu yang berdenting dan ketukan jari Jongin di meja. Tidak ada yang memulai pembicaraan –Jongin tak tahu harus berkata apa dan Raena, gadis itu bukan penganut makan sambil bicara. Lagipula, Jongin toh lebih menikmati menatap Raena dalam diam tanpa diketahui gadis itu, sambil membayangkan apa yang akan terjadi bila gadis itu menjadi kekasihnya.

Mengungkapkan perasaan saja sudah sulit, tapi benak Jongin sudah berani berkelana ke mana-mana. Kadang ia merasa ingin memarahi otaknya saat itu juga, tapi bagaimana bias?

Ketika suatu ide mendadak melintas di benaknya, Jongin hampir melonjak kegirangan –beruntung ia masih ingat posisinya di restoran yang sedang ramai ini. Harga diri, pernah mendengar kata harga diri? Nah, Jongin masih memilikinya dan ingin mempertahankannya dengan baik, apalagi di depan Raena.

“Hei, kau tahu cara mengerjakan soal dari Park ssaem kemarin? Sungra tidak mau membantuku, jadi kupikir kau mau menolongku–”

Jongin berdeham pelan, mengusapkan tangannya yang berkeringat ke tangan sambil menatap Raena yang telah menutup mulutnya. Setelah menelan ludah berkali-kali, ia berhasil memaksakan rahangnya bergerak,

“Bagaimana kalau… kita pergi lagi setelah ini? Keberatan?”

Raena serta-merta membalas tatapannya. “Ne? Ke mana?” tanya gadis itu cepat. Jongin hanya tersenyum,menggelengkan kepala –kode tunggu-dan-lihat-saja-nanti. Meski demikian, tatapannya begitu mengena; perlahan menusuk, merasuk, kemudian seolah memberi pesan pada Raena, memberi gadis itu isyarat untuk melihatnya. Hanya dirinya.

Advertisements

8 thoughts on “[Double-Trouble] #15 | Fix Your Gaze upon Me”

    1. entahlah, saya belum merencanakan, mungkin sebuah tempat yang tidak perlu disebutkan namanya(?)

      ahahahahahaha XD aku nggak begitu ngapalin tingkahnya tae sih, tapi mungkin memang sudah takdir mereka… mirip gini~

  1. he itu yang terakhir apa faa artinyaaa? jongin mau nyatain perasaannya kah? waaaa tebar confetti deh XD

    fa, sungra miris ah, ga kuat baca bagian dia. kayaknya kok gimana ya. mau ngalah tapi pasti sakitnya banget-banget, mau egois juga, raena itu sahabat sehidup-sematinya T-T
    aaaa be tough sungraa~

    1. *ikut tebar konfeti *authornya pun bahagia

      uhuk, emang, saya lagi tega sih sama sungra hehehehe *digampar sungra*
      she’ll be~~ tenang, nggak bakal nyampe kepikiran mau bunuh diri kok :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s