[Bubble Tea] #1: Where it All Begins

Title: Where it All Begins
Genre: friendship
Rating: PG-13
Character: Oh Sehun, Kim Jongin, Byun Baekhyun, Park Chanyeol OC(s)

Sehun merasa cukup puas dengan berada dalam zona-teman-laki-laki-yang-cukup-dekat Sungra, yang meski tak hanya diisi olehnya –ada Jongin dan Baekhyun, jangan lupa–, tapi cukup bisa menjadi kedok yang menyelubunginya sebagai alasan tiap kali ia mendekati gadis itu. Mendekati, secara harfiah, yang berarti entah itu duduk di sebelahnya, makan siang bersama, apapun yang membuatnya bisa berada di dekat Sungra yang terlalu tak peduli untuk memahami adanya sesuatu yang berbeda yang dirasakan Sehun pada gadis itu.

Tapi semua berubah saat negara api menyerang; saat Baekhyun tiba-tiba saja memutarbalikkan keadaan dan mengubah kedudukannya, tak lagi hanya sebatas teman bagi gadis itu. Singkat cerita –atau bila segalanya perlu diringkas–, intinya adalah Baekhyun mengungkapkan perasaannya ke Sungra dan setelah itu semua berjalan dengan baik. Semesta menginginkan mereka bersatu, selesai masalah.

Dan bukannya dirinya tak tahu bahwa Baekhyun juga menyukai Sungra. Dia tahu malah, sangat tahu. Juga paham. Bukanlah kesalahan Baekhyun jika perasaan melindungi dan menganggap seseorang sebagai adik yang menahun lama-kelamaan berkembang menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Kisah manis semacam itu, rasanya kurang pantas jika ia menjadi pengganggu. Maka Sehun memutuskan untuk mundur teratur, membiarkan Sungra mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan.

Tapi bukan berarti Sehun berhenti menyukai Sungra. Itu terlalu sulit untuk dilakukan.

Ia tak pernah mempedulikan tatapan mencela Jongin ke arahnya tiap kali ia mendekati Sungra. Selalu diam tiap Jongin berseloroh bahwa, bila Sehun tak berhati-hati, ia bisa saja merusak hubungan orang lain.

Yang tak akan terjadi, mengingat Sehun cukup segan dengan Baekhyun dan ia tentu saja tak ingin merusak senyum cerah yang muncul di wajah Sungra sejak… yah, katakan saja sejak Sehun patah hati.

Salahkan Sungra juga yang masih tetap hobi bergaul dengannya dan Jongin meski sudah ada Baekhyun di sampingnya.

“Ng? Untuk apa dia marah?” Sungra balik bertanya ketika suatu hari Jongin menanyakan perihal apakah Baekhyun tidak keberatan atau marah atau cemburu bila melihat kekasihnya dekat dengan laki-laki lain. “Baekhyun bukan tipe namja seperti itu, kok. Lagipula, dia percaya kalau kalian tidak akan macam-macam padaku, haha.”

Satu poin lagi, gumam Sehun, berlagak tak melihat lirikan penuh arti dari Jongin ke arahnya.

—–

Ada saat di mana Sehun benar-benar ingin menendang Jongin keras-keras.

Contoh, tiap laki-laki itu mengeluarkan gestur menyebalkan bila Sehun bicara dengan Sungra, atau berada di dekatnya –intinya berinteraksi dengan gadis itu–, dulu, saat Jongin baru mengetahui soal apa yang ia pendam dalam-dalam. Atau

Yang paling baru adalah ketika Jongin bercerita dengan sangat menggebu-gebu soal bagaimana ia berhasil mendapatkan seorang gadis dengan cepat, padahal sesungguhnya Sehun tahu bahwa Jongin memaksa gadis itu. Belum lagi ia juga menyebutkan masalah move on dan menyuruh Sehun mengikuti jejaknya –cari pacar, maksudnya–, semakin meninggikan keinginan Sehun untuk menghabisi Jongin saat itu juga.

“Oh, oh, lihat, tatapan itu lagi.” Jongin berkata dengan cengiran oh-aku-melihat-apa-yang-kau-lakukan terpampang di bibir. “Bila tatapan bisa membunuh, Sungra pasti sudah mati dari dulu.”

Sehun diam saja, mengembalikan sorot matanya ke buku teks matematika yang ada di depannya. “Diamlah.” desisnya pelan tapi tentu saja tak membuahkan hasil karena Jongin makin menikmati kegiatannya mengganggu Sehun sekarang.

“Bagaimana kalau kencan ganda kapan-kapan? Aku bisa meminta Raegiya-ku untuk mengajak salah satu temannya pergi, dipasangkan denganmu. Kau tahu, kan, kalau dia bersekolah di sekolah khusus yeoja yang…”

“Banyak yeoja cantiknya. Ne, aku tahu. Sekarang tutup mulutmu dan urus urusanmu sendiri, tuan Kim.” Sehun menendang kaki Jongin dari bawah meja, membuat laki-laki itu merintih sakit dan mengakibatkan mata seisi kelas tertuju ke arah mereka. Sehun, tentu saja, memasang wajah datar sambil menyalin tulisan di papan tulis sementara Jongin masih menggerutu seolah tak menyadari situasi dan kondisi yang mengelilinginya.

“Kim Jongin. Pulang sekolah, ruang detensi.” guru matematika yang legendaris karena kegalakannya berkata, tak rela pelajarannya diinterupsi oleh seorang anak pemalas yang tak tahu aturan. Perlu diketahui bahwa guru yang bersangkutan sudah lama menimbun sentimen terhadap Jongin, sehingga Jongin hanya bisa mengangguk patuh dan melemparkan tatapan membunuh ke Sehun yang tetap bersikap tak peduli tanpa beban.

“Sial, kau.”

—–

“Aaaaaaaah bagaimana ini~”

Sungra menoleh bingung ke arah Sehun yang tengah merebahkan setengah badannya di atas meja dan meregangkan tangannya. “Apanya yang bagaimana?” tanyanya kemudian, ikut merebahkan kepala di atas meja dan menghadap Sehun, membuat wajah mereka menjadi hampir sangat dekat dan membuat Sehun hampir tidak bisa menahan diri untuk lantas mencondongkan badan sedikit untuk mencium Sungra, entah di bagian wajah yang mana. Pun ia hampir tak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang menyeruak tanpa permisi ketika matanya menatap sosok Sungra tepat di depannya.

“Hei? Kenapa? Apanya yang bagaimana? Kau sedang sakit? Wajahmu merah, lho.” Sungra hampir saja mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Sehun, hanya refleks laki-laki itu merespon lebih cepat. Ditepisnya tangan Sungra, mulut gadis itu menganga bingung sementara Sehun memaki tindakannya dalam hati.

“A, aku tidak apa-apa, tidak sakit, hanya…” Sehun mengalihkan pandangannya ke arah lain, “Itu, soal tugas kelompok kita, kapan dikerjakan? Sebentar lagi harus dikumpulkan, kan?”

Sehun menghembuskan napas lega ketika perhatian Sungra berhasil ia alihkan sepenuhnya dari topik Oh-Sehun-wajahmu-memerah-kau-kenapa. Ia membiarkan Sungra membicarakan proyek penelitian ilmiah wajib kelompok mereka sementara pikirannya sudah terbang ke mana-mana; antara mengamati gadis di sebelahnya, memikirkan apa yang harus ia lakukan, dan sedikit membayangkan apa yang akan terjadi bila gadis itu menjadi kekasihnya.

Sayangnya, tidak ada keseimbangan antara impian dengan realita yang ada, dan Sehun hanya bisa meratapi segalanya dalam diam. Fakta jelas lebih kejam daripada pikiran, apalagi dengan adanya Baekhyun dan sebagainya.

“Kupikir lebih baik kalau kita mulai menyusun proposalnya besok, atau nanti siang, kapan waktumu luang?” selentingan pelan jari Sungra di dahinya membuat Sehun dihempaskan kembali ke alam nyata. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mengalami disorientasi sementara dan hampir memanggil Sungra dengan ‘chagiya’ bila tidak teirngat ada di dimensi apa dirinya berada sekarang. “Ya? Oh, besok? Nanti? Waktu luang? Nanti sepertinya bisa. Jadi—“

“Perpustakaan?” potong Sungra cepat. “Jadi kita bisa lebih mudah mengumpulkan referensi. Nah, makin cepat tugas ini selesai makin baik, belum melakukan apa-apa saja aku sudah bosan setengah mati. Hei, apa kau keberatan kalau kita banyak bekerja di awal-awal?”

Setengah diri Sehun mengerang tak suka begitu mendengar kalimat Sungra. Tugas selesai lebih cepat sama dengan tidak ada alasan untuk bertemu Sungra secara privat sama dengan berkurangnya kesempatan untuk mendekati Sungra sama dengan tidak ada kemajuan dari teman-sekelas-yang-mungkin-cukup-dekat. Logika sederhana. Sementara itu, sisi lain Sehun mendukung gagasan Sungra berhubung dirinya juga sama sekali tak tertarik dengan tugas ini. Penelitian bukan bidangnya, memang. Setidaknya ada sesuatu –seseorang– yang bisa ia jadikan moodboster untuk mengerjakannya.

“Baiklah~ jadi, sepulang sekolah di perpustakaan, kan?” dan Sehun mengangguk singkat. Sungra tersenyum lebar, tangannya merogoh saku jasnya yang terkancing rapi. Sehun mengira Sungra akan kembali merepet –gadis itu cerewet meski hanya ke orang-orang tertentu–, tapi ternyata tebakannya salah. Gadis itu malah sibuk sendiri dengan ponselnya. Beberapa saat kemudian, gadis itu menyimpan ponselnya kembali. “Kau tidak kembali ke sebelah Jongin? Sebentar lagi pelajaran fisika dimulai, biasanya kan—“

“Aku ingin di sini sebentar, ara?” Sehun memotong. “Brainstorming,” lanjutnya sembari menunjukkan cengiran lebar. Sungra mengangkat bahu seolah tak peduli dengan Sehun yang kembali merebahkan kepala di atas meja.

to be continued

Advertisements

8 thoughts on “[Bubble Tea] #1: Where it All Begins”

    1. untung berhasil menguatkan niat untuk publish-_-

      boleh~ bakal dikasih banyak, kok 😀
      chanyeol? belum muncul, tapi ntar kemunculannya menyulut api(?), jadi mungkin lumayan nyambung :B

  1. *syuuuu *terbang pakai burungnya Kris*._. huah niatnya jadi mood-booster sebelum ulangan geografi kok aku malah broken-heart gini sih </3 sehun sehun~ ada aku disini 😉 *fade~

  2. Tapi semua berubah saat negara api menyerang; <— fa, kamu tau efek kalimat ini-_- masalahnya ini kalimat candaan pas aku ospek, waktu senior tiba-tiba dateng terus ngegertak, and vice versa. hahaha.

    ini kok jongin nyebelin ya-_- pantes sehun kesel setengah mati. dan kalimat guru matematika detensi pulang sekolah, itu telak betuuul haha.
    dilanjut, dilanjuuut~ XD

    1. huahahahaahahahahahaha XD jadi itu yang disebut ‘saat negara api menyerang’? bagian dimarahin senior? XD

      emang nyebelin, semacem bawel yang tipe minta ditampar sepatu gitu-_- sehun bisa sabar ngadepin jongin, alhamdulillah~ *eh
      okeeeee~~ gak janji yaaa *eh *menghilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s