[Double-Trouble] #16 | Home is Where You Are

Title: Home is Where You Are
Genre: fluff, romance
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: ~600 words

Dua siluet gelap berjalan di tengah kerumunan manusia yang memadati jalanan. Yang satu sibuk mengamati berbagai hal yang ada di pasar malam ini; stand yang menjual macam-macam barang, makanan, hingga permainan yang ramai oleh anak-anak. Yang satunya lagi jauh lebih sibuk mengamati wajah orang di sebelahnya, sesekali ikut tersenyum ketika orang yang ia amati menarik kedua sudut bibirnya ke atas.

Tangan Jongin menangkap pergelangan tangan Raena, sedikit menariknya ke tepi ketika gadis itu hampir ditabrak serombongan anak kecil yang berlari-lari liar di tengah ramainya orang. “Hati-hati,” pesannya singkat ketika Raena menatapnya bingung, “Tidak lucu kalau salah satu dari anak-anak itu terjatuh karena menabrakmu lalu kau yang disalahkan, iya, kan?”

Raena tertawa sambil mengangguk, tatapannya kembali ke stand yang menjual apel karamel yang berhasil menarik perhatiannya beberapa saat yang lalu. “Jongin, kau pernah makan itu? Enak tidak?” tanyanya kemudian sambil menunjuk ke barisan apel yang dibaluri karamel dan ditusuk dengan potongan bambu bersih seukuran sumpit. “Aku hanya pernah melihatnya di komik, jadi penasaran, hehe~”

“Kau mau?” Jongin balik bertanya. “Aku juga belum pernah makan, sih. Ikut penasaran juga karena ucapanmu.” dan tanpa bicara apa-apa lagi Jongin langsung menyeret Raena ke arah stand yang sedikit ramai, memesan satu porsi pada bibi penjaga stand yang tampak kerepotan melayani pengunjungnya sendirian. Raena, sedikit kaget karena tindakan Jongin, mulai kembali kesadarannya dan ia langsung menyenggol lengan Jongin pelan, “Aku bilang begitu bukan berarti aku minta dibelikan, Jongin!” bisiknya panik. Jongin menoleh, menyunggingkan senyumnya sekilas sebelum kembali berucap, “Memangnya aku membelikannya untukmu? Aku beli untukku sendiri, tapi kau boleh minta kalau kau mau~”

Raena menginjak kaki Jongin dan laki-laki itu hanya tertawa sambil membayar apel karamelnya.

“Makan, lalu beritahu aku rasanya.” perintah Jongin setelah mereka berhasil duduk di bangku tak terpakai. Raena menggerutu tapi tetap mengambil permen yang disodorkan Jongin –tidak mau rugi–, lalu menggigit sedikit tepi apelnya. “Ng… manis, a! Apelnya asam!”

“Benarkah?”

“Coba saja sendiri kalau tidak percaya, aigo~ bagaimana kalau aku tidak bisa menghabiskannya? A, tapi ini kan punyamu, jadi harusnya kau yang menghabiskannya—“ ucapan Raena terputus ketika Jongin membekap mulut gadis itu dengan telapak tangannya. Sekarang atau tidak sama sekali, Jongin.

“J, Jong… in?” Raena berkata dengan suara sengau karena hidung dan mulutnya tertutup. Jongin menghela napas, menunduk sejenak, kemudian mendongak kembali untuk menatap Raena sementara gadis itu tergugu, diam ketika mendapati dirinya menemukan rumah yang lain ketika menatap mata Jongin, rumah yang selama ini ia cari. Persinggahannya yang lain.

Dan begitu saja semuanya terjadi –di tengah keramaian pasar malam yang sedikit sayup, Jongin malu-malu berkata ia menyukai Raena, Raena membalas dengan senyum manis meski wajahnya merona luarbiasa, dan Jongin tertawa ketika melihat sedikit karamel berbekas di pipi Raena karena ia menyenggol apel dalam genggaman tangan gadis itu. Ia menyeka bekas lengket karamel dengan tisu sebelum mencubit pipi Raena hingga lebar, “Aku menyukaimu, sangat, terima kasih.”

“Terima kasih untuk?”

Senyum Jongin sedikit hilang. “Kau… senyummu tadi… bukan jawaban?”

“Memangnya tadi kau bertanya?” Raena tertawa. “Itu pernyataan, Jongin~ dan bukankah pernyataan tidak butuh jawaban?”

Sial, keluh Jongin. “Kalau begitu… apakah, apakah kau…” tapi belum sempat Jongin menyelesaikan kalimatnya, Raena terlanjur menyumpal mulutnya dengan apel yang masih tersisa banyak. “Habiskan ini, baru kau boleh bertanya. Kutunggu.”

Raena tertawa keras-keras ketika Jongin susah-payah menghabiskan apel yang asam, hampir tersedak karena terburu-buru, dan segera menepuk punggung laki-laki itu ketika ia betul-betul tersedak. “Aku sudah bilang akan menunggu, kan? Pelan-pelan.” gadis itu berkata. Jongin menatapnya dengan tatapan ini-semua-salahmu-kau-harus-bertanggungjawab. Raena mengangkat bahu tak peduli.

Jongin selesai dengan apel keparat itu sepuluh menit kemudian dan Raena masih menunggu di sana, sakit perut karena terlalu banyak tertawa.

“Kau menyukaiku. Benar atau salah?”

“Apa yang terjadi kalau aku menjawab benar?”

“Umm… kau kuantar sampai ke rumah?”

“Kalau jawabannya salah?”

“Kuantar sampai halte bus.”

Ya!”

Malam itu, seorang fotografer yang sedang berburu foto di pasar malam mendapat gambar siluet dua orang yang tengah berpelukan di sebuah bangku taman.

to be continued

Advertisements

7 thoughts on “[Double-Trouble] #16 | Home is Where You Are”

  1. fa, itu raena nerima kan, nerima kaaann????
    aaah tapi ga bisa bayangin perasaan sungra nanti, kasian sungranyaaa. itu lucu deh yang pertanyaan benar salah nya hahaha.
    ditunggu part selanjutnyaaaa XD

  2. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa *give you a lot of ‘a’s
    not that i like jongin, but i can’t really hate him.. *abaikan
    jadi inget ‘nyata atau tidak nyata’-nya peeta di mockingjay. aaaaaaaaaaa

    1. aku tahu kamu stress matek dan fisika, tapi…
      aku jugaaaaaa aaaa semacam kudu piye ;_; *eh
      kenapa kita memikirkan hal yang sama? aku terinspirasi(?) dari situ, awalnya mau pakai ‘nyata-tidak nyata’-nya peeta, tapi takut kena gampar yang udah baca mockingjay hehehehe *eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s