[Ficlet] Attracted Attention

Title: Attracted Attention

Author: leesungra

Genre: romance, school life, friendship

Rating: PG-13

Cast: Do Kyungsoo (EXO-K), Jang Kyorin (OC)

Length: ficlet (~1998 words)

Sebulan sejak pertemuan pertama mereka di taman bermain kompleks perumahan, Do Kyungsoo mulai merasa detak jantungnya menjadi berkali-kali lipat lebih cepat dan perasaannya tak karuan bila melihat gadis kecil itu, bahkan meski hanya sekilas. Rasanya seperti ada dentum bass drum yang sering ia mainkan saat pawai marching band di dalam rongga dadanya, menghentak keras-keras pada tulang rusuknya dan sesekali turut membuat kepalanya pening.

Namanya Jang Kyorin. Setahun lebih muda darinya. Meski rumah mereka berbeda satu blok, Kyungsoo sering tak sengaja melihatnya di taman kompleks ketika Kyorin sedang bermain dengan teman-temannnya dan dirinya… biasanya mencari tempat yang nyaman untuk membaca buku cerita tanpa diganggu kakak-kakaknya. Karena berbeda intensi itulah mereka jarang berinteraksi satu sama lain, tapi toh Kyungsoo dengan polosnya sudah merasa senang bila melihat Kyorin dari kejauhan. Meski tak mengerti, Kyungsoo tak suka memikirkan sesuatu hingga berlarut. Ia lebih suka membiarkan segalanya berjalan mengikuti arus, membiarkan tubuh dan pikirannya terbawa dan diubah oleh perubahan-perubahan yang terjadi di sekelilingnya.

—–

“Matamu besar sekali!”

Kyungsoo masih ingat kalimat itu adalah hal pertama yang Kyorin katakan padanya, tepat sebelum mereka berkenalan. Saat itu, Kyorin tengah menunggu teman-teman bermainnya datang di ayunan yang biasa dijadikan Kyungsoo tempat menyepi. Tatapan polos anak perempuan itu membuat Kyungsoo tak tega mengusir Kyorin dari tempat sakralnya, dan di lain pihak justru membiarkan Kyorin tetap duduk sementara dirinya berdiri di sebelah ayunan dengan buku cerita terbaru tergenggam di tangannya.

“Namaku Jang Kyorin, kau?” Kyorin mengulurkan tangannya, mengajak Kyungsoo bersalaman. Laki-laki kecil itu ragu sejenak sebelum menyambut telapak tangan mungil gadis itu. “Kyung… Kyungsoo. Do Kyungsoo.”

“Kyungsoo… boleh kupanggil Kyungie? Apa kau lebih tua dariku? Umurku enam tahun, apa aku perlu memanggilmu oppa?”

Gadis kecil itu memiliki sepasang lesung pipit, giginya gingsul seperti kelinci, dan ia seolah tak pernah lelah bicara. Ketika ia tersenyum sambil menyebutkan namanya, tak hanya gingsul dan lesung pipitnya yang tampak, tapi juga kerutan manis di ujung-ujung matanya yang menunjukkan bahwa gadis itu tulus dalam senyumnya.

Dan Kyungsoo kecil yang tak paham hanya bisa kebingungan ketika mendapati dirinya tertarik dengan senyuman gadis itu.

—–

Ajumma! Apa Kyungie ada?”

Demi mendengar suara Kyorin, Kyungsoo terburu menuruni tangga rumahnya. Sempat dilihatnya Kyorin yang sedang duduk di ruang tamu dengan ibunya, tampak riang sekali. Ada sesuatu di genggaman tangan Kyorin, tak begitu jelas terlihat dari atas sini.

“Kyungie!” Kyorin berseru senang ketika melihat Kyungsoo di mulut tangga. “Kyungie, lihat ini! Besok aku sekolah di sekolah yang sama denganmu! Bagaimana kalau kita berangkat bersama mulai besok? Pasti saaaaaaaaaangat menyenangkan!” gadis itu berkata sambil menunjukkan topi seragam sekolah barunya, sekaligus tempat Kyungsoo menjadi siswa sekolah dasar tingkat kedua. Kyungsoo terdiam, tidak tahu harus merespon seperti apa. “Oh, um… baiklah, kedengarannya menyenangkan.” ia bergumam pelan, menghindari kilau semangat di manik mata Kyorin. Terlalu menyilaukan.

Kyorin memekik gembira, serta-merta memeluk Kyungsoo yang sedikit lebih tinggi darinya sambil berbicara soal betapa ia sangat tertarik dengan kegiatan sekolahnya dan ia ingin Kyungsoo membantunya di sana nanti. Kyungsoo tercekat, sedikit ketakutan ketika merasakan perasaan aneh di perutnya. Juga detak jantungnya yang melonjak drastis, mengerikan.

“Kyungie tidak apa-apa?” suara Kyorin membuyarkan lamunannya. “Kyungie sakit? Wajahmu pucat, ajummaaaaaaaaaa— ng!” teriakan gadis kecil itu tertahan oleh Kyungsoo yang sigap membekap mulutnya, menyuruhnya diam. Dengan matanya yang tak tertutup tangan kecil Kyungsoo gadis itu menatap penuh tanya, sedikit kekhawatiran muncul di sana.

“Dengar, Kyorin-a, aku tidak apa-apa. Seratus persen.” Kyungsoo menandaskan setelah ia melepaskan telapak tangannya dari mulut Kyorin yang sekarang ganti menatapnya heran. “Seratus persen itu apa?”

“Artinya…” Kyungsoo memutar otak. Ia hanya asal mencomot kata-kata itu dari tayangan yang sering ia tonton di televisi, entah apa artinya. “Artinya, aku benar-benar tidak apa-apa. Ng… mau membaca buku? Eomma membelikanku buku cerita baru kemarin.”

“Tapi aku belum lancar membaca, Kyungie~”

“Kubantu, ne? Nah, ayo!”

—–

Hari pertamanya di sekolah dasar, Jang Kyorin dengan bersemangat menarik tangan Do Kyungsoo yang berjalan malas-malasan. Tentu saja, tidak ada yang rela kehilangan libur panjang dan terpaksa kembali ke rutinitas membosankan untuk berbulan-bulan ke depan.

“Kyungie! Kyuuuungie~ cepatlah, nanti kita terlambat!” Kyorin memekik untuk kesekian kalinya. Kyungsoo mengeluh pelan, matanya melirik jam tangan hadiah kenaikan kelas yang melingkar di pergelangan tangannya. “Masih pagi, kita toh tidak akan terlambat, Kyorin-a.”

“Tapi kau kemarin janji akan mengantarku berkeliling sekolah, kan?”

Dan dengan demikian, Kyorin sukses memaksa Kyungsoo sampai di sekolah satu jam sebelum bel masuk berbunyi. Dengan cara itu pula Kyorin berhasil membujuk Kyungsoo melakukan hal-hal gila dengannya yang berujung dengan nasihat panjang dari orangtua masing-masing. Kyungsoo, toh, tidak menyesal sudah menyetujuinya dengan Kyorin.

Tahun-tahun berlalu dan tiba-tiba saja Kyungsoo sudah berada di tingkat kelima sekolah dasar. Ia tetap dekat dengan Kyorin yang semakin lama makin manja padanya, mungkin karena ia menemukan sosok kakak laki-laki yang bisa melindunginya dalam diri Kyungsoo. Akan tetapi, kedekatan Kyungsoo dengan Kyorin sering dijadikan bahan untuk mengganggunya, terutama oleh para anak laki-laki bandel di kelas. Seperti hari ini, ketika duet Chanyeol-Baekhyun mengejeknya setelah Kyorin, yang mengantarkan bekal titipan ibu Kyungsoo, beranjak dari kelas Kyungsoo.

“Kyungsoo suka Kyorin! Kyungsoo pacaran dengan Kyorin!” Chanyeol memulai pertikaian. Baekhyun menyambut dari belakang, “Hei, Kyungsoo! Mana pacarmu tersayang itu? Ah, tadi mengantar bekal, ya?” teriak anak laki-laki kecil itu, lengkap dengan wajah mengejek. Kyungsoo yang merasakan wajahnya memanas dengan cepat membantah, “Aniya! Aku tidak suka Kyorin!”

“Tapi kau selalu berada di dekat Kyorin, mana mungkin itu berarti kau tidak suka dia?”

Kyungsoo berdiri dari bangkunya. “Dia yang menggangguku! Aku tidak menyukainya! Aku… aku…” ia menatap Baekhyun dan Chanyeol yang masih memasang wajah mengejek. “Aku benci Kyorin!” teriak Kyungsoo akhirnya, napasnya tak beraturan karena emosi.

Air muka Chanyeol dan Baekhyun tiba-tiba berubah. “Ups. Ada… yang dengar, sepertinya.” telunjuk Chanyeol mengarah ke pintu kelas, tempat Kyorin berdiri diam, sedih memenuhi sorot matanya yang mulai berkaca-kaca. Ketika tatapan Kyungsoo bertemu dengannya, Kyorin serta-merta berbalik, berjalan menjauh tanpa menoleh walau Kyungsoo memanggilnya berkali-kali.

—–

Kyungsoo menemukan Kyorin di taman belakang sekolah, duduk sambil memeluk lutut dan menangis di dekat gudang. Kyungsoo perlahan duduk di sebelah Kyorin, mengguncangkan bahunya pelan dengan rasa bersalah yang tetap menghantuinya. “Kyorin-a, jangan menangis…”

“Kyungie… tidak suka Kyorin, kan? Kyungie tidak suka kalau ada Kyorin di dekat Kyungie, kan?” gadis kecil itu terisak, membuat Kyungsoo marah pada dirinya sendiri. Marah karena membuat Kyorin menangis seperti ini.

“Aku… aku tidak tidak suka Kyorin, tadi itu aku bohong, sungguh.” Kyungsoo berkata pelan. “Seratus persen.”

“Kyungie suka Kyorin? Seratus persen?” Kyorin kembali bertanya di sela isakannya. Kyungsoo mengangguk, “Ne, aku saaaaaaaangat suka dan sayang Kyorin, karena Kyorin adikku, iya, kan?” ia tersenyum sambil mengusap rambut gadis yang tengah menghapus jejak air mata di pipi. Kyorin balas tersenyum lalu membenamkan wajahnya dalam pelukan Kyungsoo, dan Kyungsoo lebih memilih membiarkan kemeja seragamnya kotor karena dijadikan saputangan dadakan oleh Kyorin.

Ketika ia tumbuh sedikit lebih besar, Kyungsoo mulai memahami bahwa mungkin dirinya menyukai Kyorin lebih dari sekedar teman maupun kakak ke adiknya. Laki-laki itu memutuskan untuk memendamnya sendirian, sedalam mungkin, tanpa perlu diketahui oleh siapapun.

—–

Kyungsoo sudah tidak tahan lagi.

Ia muak dicela dan dijadikan bahan ejekan karena dirinya terkesan menarik diri dari lingkungan, dari para gadis lebih tepatnya. Ketika teman-temannya mulai berpacaran, Kyungsoo lebih memilih mengasingkan diri tanpa berusaha mendekati satu orang pun, padahal banyak gadis yang mendekatinya –begitu-begitu juga dia termasuk siswa populer di sekolahnya.

Bukan sepenuhnya salahnya jika ia memang tidak tertarik, kan?

Semua ini masalah yang disebabkan manipulasi hormon dan pergaulan, serta perubahan stase kehidupan dari anak-anak ke remaja tanggung. Tak hanya jerawat dan perubahan fisik lainnya, tapi juga psikologis. Setahun atau dua tahun yang lalu semua anak laki-laki menganggap anak-anak perempuan musuh, dan lihatlah keadaan saat ini, di sekolah menengah pertama; mereka mengejar gadis-gadis itu. Tiba-tiba saja mereka pandai merayu. Sementara lingkungan berubah drastis dengan cepat, Kyungsoo tetaplah Kyungsoo yang lebih suka diam di tempat tanpa melakukan apa-apa. Ia lebih suka menyebut keadaannya sebagai ‘menyerap dan menyeleksi perubahan secara perlahan sebelum menerapkan’, tapi tetap saja ia dicap terlambat.

Tahun kedua di sekolah menengah pertama dan Kyungsoo masih bertahan dengan label single-nya. Teman-temannya, sesama siswa populer, masih sering meledeknya meski tak lagi separah dulu. Kyungsoo toh tak peduli akan hal itu, karena…

“Kyungie!” Kyorin tiba-tiba muncul dari balik pintu kelas Kyungsoo yang terbuka lebar. Ah, apa Kyungsoo belum menyebutkan bahwa Kyorin, sekali lagi, satu sekolah dengannya?

“Hei, panggil aku oppa, atau sunbae. Aku lebih tua darimu, tahu.”

“Malas~” Kyorin memainkan pena yang berserakan di atas meja Kyungsoo sementara lelaki itu mencubit keras pipinya. “Bandel!”

Bagi Kyungsoo, Kyorin tetaplah Kyorin kecil yang sudah ia kenal sejak lama. Tetap Kyorin yang menolak memanggilnya oppa, Kyorin yang rutin berkunjung ke rumahnya sekadar untuk mengantar kue-kue buatan ibunya atau meminta Kyungsoo menjadi guru privatnya, dan tetap Kyorin yang dekat dengan Kyungsoo. Karena itulah Kyungsoo dianggap tidak bisa memanfaatkan kesempatan oleh teman-temannya, terutama oleh Kim Jongin yang suka menyebut dirinya sendiri laki-laki yang bisa memanfaatkan kesempatan –kalau berganti pacar sebulan sekali bisa disebut demikian.

Ini bahkan lebih pelik daripada persoalan integral parsial, Jongin saja yang tak paham dan suka sok tahu. Ah, mungkin juga terlalu pintar membaca pikiran orang, karena Kyungsoo tak pernah bercerita soal Kyorin pada siapapun dan tiba-tiba saja Jongin mengangkat topik itu.

“Sudahlah, coba saja!” kata Jongin pada suatu hari. “Kau tidak akan tahu hasilnya jika tidak pernah mencoba, kan? Dari mana kau akan tahu Kyorin juga menyukaimu atau tidak?”

“Kalau menyatakan perasaan semudah membalik halaman buku, pasti itu sudah kulakukan dari dulu, Jongin sayang.” tolak Kyungsoo acuh. Jongin berdecak, “Lebih baik cepat kau lakukan sebelum terlambat, aku lihat banyak namja yang mengejar Kyorin. Dia manis, sih, sayang bukan tipeku.”

Kalimat terakhir Jongin terasa begitu menohok. Sekarang, tekadnya sudah bulat, sebulat mata besarnya yang di atas ukuran rata-rata mata orang Korea pada umumnya. Dan mungkin saat ini saat yang tepat baginya, ketika tak ada orang lain yang akan menguping pembicaraan mereka, atau menjadi saksi kejadian memalukan bila Kyungsoo ditolak.

“Nah, jadi, bagaimana kalau akhir minggu ini kita memasak bersama lagi? Kau kemarin berjanji akan mengajari membuat chiffon cake, kan?” suara Kyorin kembali merasuk dalam telinganya. Entah apa saja yang sudah dikatakan gadis itu dan tak terdengar oleh Kyungsoo selama ia melamun tadi. “Atau kita coba yang lain? Cheese cake? Tapi aku juga ingin—“

“Kyo-Kyorin-a,” Kyungsoo memotong. Ia menelan ludahnya, gugup ketika Kyorin menatapnya dengan tatapan polos bawaan gadis itu sejak kecil. “Ne, Kyungie?” tanya gadis itu, bingung sendiri. Kyungsoo berusaha mengumpul-ngumpulkan keberaniannya, mencoba menyampaikan kalimat yang sudah terbersit dalam pikirannya sejak lama, tapi kata-kata sialan itu terhenti di pangkal lidah.

“Kyung–”

“Jang Kyorin-a, a… aku… menyukaimu. Sangat.” Kyungsoo memaksakan diri untuk menatap Kyorin, berharap gadis itu tidak memperhatikan berkas merah yang muncul di pipinya sambil mengantisipasi tindakan gadis itu selanjutnya. Apakah Kyorin akan menampar Kyungsoo, atau tertawa begitu saja, atau berkata ‘maaf-Kyungie-aku-sudah-punya-pacar-garis miring-ada-orang-lain-yang-kusukai-jadi-aku-tidak-bisa-membalas-perasaanmu-bagaimana-kalau-kita-berteman-saja’? Yang mana pun yang akan terjadi, Kyungsoo tetap belum siap mati karenanya.

“Kyungie… menyukaiku? Aku?” Kyorin menunjuk dirinya sendiri dengan raut tak percaya. Kyungsoo menelan ludah lagi, tapi tenggorokannya tetap terasa kering. “N-ne. Ta-tapi lebih dari perasaan seorang kakak ke adiknya… bagaimana? Maksudku… ah, maaf, lupakan sa–”

“Tidak apa-apa, Kyungie. Tidak perlu minta maaf.” potong Kyorin sambil tersenyum kecil.

Tapi bukan itu jawaban yang dicari Kyungsoo.

Frasa ‘tidak apa-apa’ tidak menjelaskan apapun kecuali Kyorin tak keberatan… atau pura-pura tidak keberatan. Mungkin setelahini Kyorin tidak akan mau berada dekat-dekat dengan Kyungsoo lagi lalu memulai gerakan anti-Kyungsoo dengan caranya sendiri. Bagus, Do Kyungsoo. Bagus sekali. Pulang nanti mungkin ia akan meratap sendirian di kamar karena kegagalan dalam menyatakan perasaan.

“B-baiklah, bagaimana kalau… kita pulang sekarang?” Kyungsoo mengusulkan, berpura-pura sibuk membenahi tasnya, kemudian berjalan mendahului Kyorin yang entah sedang melakukan apa. Mungkin sedang mengarang kalimat untuk menolak Kyungsoo?

Tidak terdengar jawaban apa-apa dari Kyorin, hanya ada suara gesekan meja dengan lantai dan Kyorin akhirnya berada di sebelahnya. Jemari Kyorin tiba-tiba bertaut dengan jemari Kyungsoo, membuat Kyungsoo kaget dan refleks melepaskan tangan Kyorin.

“Kyungie tidak suka kalau aku begitu?” protes Kyorin, bibirnya maju beberapa sentimeter dari ukuran aslinya tanda tak suka. Kyungsoo menggeleng, panik ketika berusaha menjelaskan pada Kyorin yang merajuk, “Bu-bukan begitu, tapi…”

Do Kyungsoo terpaksa menelan lagi kata-katanya ketika Jang Kyorin berjinjit sedikit untuk mencium pipinya cepat.

end.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s