[Double-Trouble] #17 | Scars, with Additional Salt-water

Title: Scars, with Additional Salt-water
Genre: angst, friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: ~1100 words

Gadis itu mencari-cari ponselnya di kasur yang sangat berantakan. Buku di sini, selimut di sana, kabel di situ. “Ck, di mana, sih?!” gerutunya pelan ketika benda kecil itu tak kunjung ketemu.

Tangannya meraba sesuatu yang keras di bawah bantal, masih berbunyi –untung dia memilih ringtone yang agak panjang meski hanya untuk notifikasi pesan singkat baru. Gadis itu menarik ponselnya dari tumpukan bantal, tindakan yang tak ayal membuat kasurnya makin berantakan, tapi ia tak peduli karena nama yang muncul di layar ponselnya jauh lebih menarik minat daripada kerapian kasurnya. “Ck, awas saja kalau Taemin sialan itu yang— oh. Jongin. Apa lagi yang dia mau… eh?”

Terima kasih sangat-sangat-banyak! Aku harus mentraktirmu besok. Makan siang di kantin? Kosong, kan?

Telinganya mendengar suara virtual dari benda yang terbanting dan hancur sewaktu ia mematikan ponselnya.

—–

Tidak butuh tingkat intelegensia yang cukup tinggi untuk memahami konspirasi apa yang sedang terjadi tanpa ia mengetahui. Semakin dijelaskan ketika ia melangkah masuk kelas, ketika Jongin menyambutnya dengan senyum lebar yang ia balas dengan ucapan ‘chukkae’ pelan. Oh, selamat juga untukmu, Sungra sayang, karena kau sudah berhasil menjodohkan mereka. Kemajuan yang sangat pesat. Sekarang, selamat menikmati patah hati sendirian. Semoga kau bisa bertahan.

Seseorang mengetukkan jarinya di permukaan meja dan Sungra refleks mendongak, tatapannya bertemu Jongin yang tahu-tahu sudah duduk di depannya. “Pagi.” Jongin menyapa singkat. Sungra membalas sekenanya, lalu kembali diam, tidak tahu topik apa yang harus diangkat untuk menyemarakkan obrolan pagi ini.

“Jadi… nanti siang… bisa?” Jongin bertanya pada akhirnya. “Mungkin Raena juga akan ikut. Bagaimana?”

Sungra pura-pura menampilkan wajah sangsi, “Aku…”

“Apa aku ketinggalan sesuatu?”

Jongin dan Sungra menoleh bersamaan. Taemin, berdiri di sebelah meja Sungra, menatap kedua orang itu dengan tatapan penuh tanya. “Setahuku kalian tidak sedekat ini. Atau hari ini ada tugas?”

“Pedulimu, Taemin.” sergah Jongin sambil mendorong pinggang kembarannya dengan telunjuk. “Tidak perlu mengurus apa yang tidak perlu kau urus.”

“Aku hanya penasaran kenapa kembaranku tersayang tiba-tiba mau berteman dengan orang lain~” Taemin berkilah. “Lagipula, aku kan bertanya, apa itu salah?”

“Tidak salah, hanya—“

“Raena. Jongin. Mereka sepaket sekarang.” Sungra memotong. Ditatapnya Taemin yang terlihat tak percaya dan Jongin dengan ekspresi mata yang sulit dibaca. Sungra bahkan merasakan bibirnya menggurat senyum seolah ia rela dan turut senang. Topeng.

“Oh… oh. Benarkah? Selamat… haha. Selamat, Jongin.” raut wajah Taemin sedikit berubah ketika ia memaksakan senyumnya. Laki-laki itu mengangkat bahu bersikap seolah tak peduli, lalu beranjak ke salah satu bangku yang belum diduduki siapapun. Sungra sempat merasa bersalah, meski hanya sesaat, tapi ia segera menghalau pikiran-pikiran lain yang terus bermunculan di benaknya. Ia berdeham sambil melirik Jongin, “Kau tahu kalau dia—“

“Juga menyukai Raena? Hmm. Cukup tahu.” Jongin bergumam pelan. “Tapi sudahlah, yang penting lihat apa yang ada sekarang, kan?” ia tersenyum lebar, kelihatan puas sekali. Sungra, yang tak berminat membuka mulut, lebih suka menatap lembar berisi soal fisika paling sulit di dunia daripada wajah Jongin yang tampak terang baginya. Laki-laki itu begitu bersemangat, berbeda fase phi radian dengan Sungra yang bernafsu menyuruh Jongin tutup mulut saat itu juga.

—–

Saat makan siang, Sungra berhasil berkelit dari ajakan Jongin dengan menyebut tugas ekstrakurikuler sebagai tamengnya. Hari ini ia bisa sedikit berbangga dengan kemampuannya menghindari seorang Jongin, meski hanya sementara.

“Kau harusnya ingat soal perjanjian kita, nona Lee.”

Sungra mendongakkan kepalanya, merasa nama Lee yang dimaksud adalah dirinya. “Aku tidak ingat soal perjanjian apapun, Taemin-ssi.” gadis itu menggumam setelah mendapati Taemin tepat di depannya. Kelas kosong –hampir, hanya ada mereka berdua–, rupanya Taemin telah berniat menjadikan pembicaraan ini pribadi dan rahasia.

“Jangan berpura-pura begitu.” Taemin melengos pelan. “Oke, aku tahu kalau sekarang Raena dan Jongin… apa katamu tadi?”

“Sepaket.”

“Nah, itu.” laki-laki itu mendudukkan badan sekenanya di kursi Jongin yang kosong. “Meski begitu, aku tetap akan mendekati Raena, dan kau harus tetap membantuku… seperti perjanjian.”

Sungra menghela napas, tidak mengira Taemin masih berpikir untuk mendekati Raena. “Lebih baik kau melupakan idemu dan berhenti mengejar Raena. Tunggu, kau tetap boleh melakukannya kalau kau mau, tapi jangan bawa-bawa aku, oke? Aku tidak mau berurusan dengan… hal semacam ini lagi.”

Tenggorokannya terasa serak, lidahnya sedikit pahit. Ralat, kalimatnya barusan yang terasa pahit seperti obat-obatan menjijikkan yang terpaksa ia konsumsi ketika sakit.

Taemin menyipitkan mata ke arah Sungra yang sedang mengubur dalam-dalam luapan perasaannya. “Baiklah, kalau kau tidak mau. Aku toh akan tetap mendekati Raena, entah bagaimana caranya, juga merebutnya dari Jongin. Terserah kalau kau tidak mau berurusan dengan mereka lagi, tapi kalau kau berubah pikiran, kau bisa mengatakannya padaku kapan saja.” ia berdiri dengan kasar hingga menyebabkan kursi Jongin sedikit terhempas ke samping. “Aku tetap akan mengganggumu, tapi tenang saja, tidak akan terlalu banyak. Hanya beberapa pertanyaan soal Raena. Won’t hurt, no?”

Sungra selalu membenci drama dan cerita romantis picisan. Ia benci dengan konflik rebut-merebut semacam ini, sudah sejak lama, mungkin sejak ia paham jenis-jenis roman. Kali ini, ia merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang yang munafik ketika batinnya perlahan mengiyakan ucapan Taemin barusan.

—–

“Sungra.” Raena menyapa dengan nada datar. Sungra berhenti berjalan, sejenak menyiapkan raut wajah biasa, lalu berbalik menghadap Raena yang berdiri dengan kedua tangan bertumpu di pinggang. “Ya?”

“Kau menghindariku hari ini?” gadis itu bertanya. “Jongin bilang, kau mengerjakan tugas klub di kelas. Kau bohong, kan? Deadline klub jurnalistik sudah lewat seminggu yang lalu dan aku yang menemanimu mengumpulkan artikel ke ruang klub.”

Sungra kadang lupa kalau Raena suka menghapalkan tanggal-tanggal penting. Ia hampir menepuk keningnya kuat-kuat jika tak teringat bahwa ada Raena yang sedang mengkonfrontasinya sekarang. “Itu… aku tidak bermaksud berbohong, tapi…”

“Kau marah padaku? Atau kau tidak suka ada Jongin saat kita makan siang?” potong Raena. “Kalau memang begitu, aku bisa memintanya untuk tidak ikut denganmu, asal kau tidak bohong begitu—“

“Bukan! Maksudku, tidak apa-apa kalau Jongin mau ikut makan siang dengan kita, hanya… tadi… kurasa kau sedang butuh waktu berdua dengannya, hehe.” Sungra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Jongin bilang harusnya ia mentraktirmu hari ini.” Raena mengerucutkan bibir. Sungra memaksakan tawa sambil mencubit kedua pipi Raena pelan. “Lain kali, oke? Tolong sampaikan padanya~”

Raena menggumamkan sesuatu soal bagaimana Sungra bisa memberitahu Jongin sendiri, tapi Sungra tetap memaksa Raena yang mengatakannya ke Jongin. Bukan apa-apa, rasanya ia hanya belum mampu berkomunikasi dengan laki-laki itu lagi, meski hanya berupa kontak mata sekalipun. Seharian ini saja ia harus berusaha menahan emosinya yang menumpuk hingga tinggi sekali meski Jongin tak melakukan apa-apa, hanya duduk di depannya saja. Sungra selalu mengalami kesulitan ketika berusaha mengacuhkan imaji laki-laki itu yang suka muncul tanpa pemberitahuan lebih dulu. Lagipula, ia tak’kan keberatan bila imaji yang muncul bukan citraan wajah gembira Jongin saat bercerita padanya soal kronologi kencan kecilnya di pasar malam.

Raena masih berbicara, tapi telinga Sungra sudah tuli karena dipenuhi arus pikiran yang menghanyutkan gadis itu jauh dari tempat asalnya.

—–

Dulu, ketika orang berkata patah hati bisa disembuhkan, Sungra serta-merta percaya.

Ketika ia telah mengalaminya sendiri, rasanya sulit percaya ada orang yang selamat dari rengkuhan rasa sedih yang mematikan ini. Rasanya sesakit luka terbuka yang tersiram air garam, atau asam pekat.

Advertisements

4 thoughts on “[Double-Trouble] #17 | Scars, with Additional Salt-water”

  1. waaa baru komen sekarang ;_;
    ng, ng yang narik perhatian dan bikin penasaran adalah… reaksi taemin di chapter depan 😄
    btw, sungra kenapa makin miris disini? aaaa sabar lee sungra-ssi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s