[Double-Trouble] #18 | The Traitor

Title: The Traitor
Genre: friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OCs
Length: ~800 words

“Senyummu membutakan, Rae.” Sungra berkata pada suatu hari ketika mendapati Raena tak berhenti menarik kedua ujung bibirnya hingga mengguratkan lengkungan yang menampakkan barisan gigi rapi nan putih. “Oh-tidak-ada-yang-sedang-bahagia-sekarang-awas-hati-hati-nanti-kau-mual-karena-sinyal-bahagianya, benar?”

Raena memukul bahu Sungra main-main, tapi tak ayal tersipu, malu ketika mereka ulang kejadian di pasar malam tempo hari. Makin merona ketika Jongin menghampiri meja mereka, sama sekali tidak menyadari aura negatif yang perlahan menyeruak dari tubuh seorang Lee Sungra di sebelahnya.

Lalu semua terjadi seperti biasanya, setidaknya sejak seminggu terakhir telah menjadi rutinitas. Jongin menyapa mereka berdua dengan tatapan yang secara auto-focus tertuju ke Raena, Raena balas menyapa sementara Sungra hanya mengangguk kaku, lalu Jongin akan duduk di depan Raena. Biasanya, Sungra akan mempercepat makannya lalu pergi ke kelas lebih dulu, atau bila ia sanggup bertahan agak lama, menemani mereka makan, tapi sekarang rasanya menelan minuman saja sulit sekali.

“Ugh, aku mual. Dasar lovebirds. Kalau ini komik, pasti kalian sudah saling menatap dengan gambar hati ekstra-besar di mata masing-masing. Mayday, mayday.” gadis itu memaksakan tawa sambil membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot. Ia membiarkan Jongin melengos kesal. Ah, Sungra tak peduli lagi dengan imejnya di depan Jongin.

Raena menyepak pelan kakinya dari bawah sebelum Sungra bangkit berdiri dan merapikan seragam, “Aku rasa lebih baik aku meninggalkan kalian di sini, benar?”

Lagi-lagi semua berjalan seperti biasa. Raena akan mengeluh meski ia tersenyum, sedangkan Jongin mengangguk sekenanya. Sungra tahu persis bahwa setelah ia menghilang di balik dinding kantin Jongin akan pindah duduk di sebelah Raena. Membayangkannya saja sudah membuat isi perutnya serasa naik ke pangkal kerongkongan, mendesak tenggorokannya; menyesal rasanya sudah makan sandwich ekstra-pedas buatan ibu kantin, sayang kalau makanan enak itu berakhir di toilet sekolah dalam bentuk muntahan.

Maka, Sungra memutar langkahnya menjauhi kantin yang mulai dipadati siswa. Sedikit menunduk ketika melewati gerombolan yang biasa mencelanya karena menganggap ia penjilat yang mendekati Raena hanya agar terkatrol popularitasnya. Ia sudah belajar tak peduli dan menganggap segala perbandingan antara dirinya dengan Raena angin lalu, tapi hari ini kalimat-kalimat pedas yang menusuk itu benar-benar terekam jelas oleh lobuslobus di otaknya.

Sialnya lagi, benaknya memilih mengubah kalimat itu menjadi seribu kali lebih menyakitkan dari semula.

“Semua ini salahmu karena membantu Jongin.

Kalau kau tidak membantunya, semua tidak akan berakhir seperti ini, kan?

Kalau kau bisa sedikit egois dan memaksa Jongin berhenti mengejar Raena, kau bisa mendapatkannya. Seharusnya.

Kau tahu Raena cantik. Menarik. Semua laki-laki di sekolah bisa saja tergila-gila padanya. Jongin, yang awalnya mungkin hanya sedikit tertarik, bisa jadi seperti itu karena kau memberinya jalan. Oh, betapa bodohnya. Berlagak jadi pahlawan dan mengorbankan diri, hmm? Lihat siapa yang sakit sendirian sekarang.”

Bukan sepenuhnya salah Sungra bila ia memilih berkhianat sedikit dan mengkhianati intuisinya yang selalu menyalakkan alarm bahaya tiap ia berkata pada dirinya sendiri untuk mengikuti saran Taemin tempo hari.

—–

“Aku menyerah.” ia menggumam pelan. Laki-laki di depannya tersenyum puas. Sejurus kemudian, pembagian tugas selesai dilaksanakan.

Bahkan ia belum sepenuhnya yakin setelah merenung hampir satu jam di halte bus yang sepi.

—–

‘Raena pergi dengan Jongin. Makan malam, sepertinya.’

‘Kau tidak tahu mereka pergi ke mana?’

‘Kau pikir aku babysitter Raena?’

‘Ck. Baiklah. Ada info lain?’

‘Tidak.’

‘Kalau begitu, lanjutkan sesi data pribadi Kim Raena saja. Sampai mana kita kemarin?’

‘Makanan kesukaan. Yakiniku dan Teriyaki. Kau sudah tahu tanggal ulang tahunnya?’

’15 Desember. Pertanyaan mudah.’

‘Warna favorit?’

‘Biru.’

‘Lalu?’

‘Mengidap asma, alergi udang, maniak takoyaki. Sepertinya kau pernah bilang juga kalau dia tidak terlalu suka dirayu, benar?’

‘Benar. Jadi, apa lagi yang ingin kau tanyakan? Kurasa kau sudah tahu seluruh seluk-beluk seorang Kim Raena.’

‘Ukuran badan—‘

‘Mesum. Mana kutahu?’

—–

Sungra sama sekali tak menyesal telah beralih kubu –mungkin semua orang harus mengetahuinya sekarang.

—–

“Kita jarang bertemu akhir-akhir ini.”

Konfrontasi yang lain.

Raena menatap Sungra lekat, menunggu jawaban dari terdakwa yang dikonfrontasi mendadak. Sungra balas menatap Raena, bersikap santai sejenak sebelum membuka mulut. “Aku sibuk akhir-akhir ini. Lagipula, bukannya ada Jongin? Dia… biasa berada di dekatmu, kan? Kupikir kau tidak akan merasa terlalu kehilangan selama… selama aku sibuk begini. Hehehe.” ia menambahkan sedikit tawa yang dipaksa ketika sadar Raena tak sepenuhnya percaya padanya.

“Baiklah, tapi… tunggu, apa kau merasa… ck, aku tidak membuatmu merasa ditinggalkan, kan?” Raena bertanya lagi. Respon Sungra yang berupa gelengan sudah lebih dari cukup untuk membuat gadis itu menghela napas lega serta mengembalikan senyum yang sempat menghilang dari wajahnya. “Baguslah. Tapi… kalau kau mau, yah, kau tahu, kau bisa menghubungiku kapan saja. Ng… bagaimana kalau kita pergi akhir pekan ini? Jalan-jalan seperti biasa?”

“Tidak ada kencan dengan Jongin memangnya?” Sungra bertanya, dan Raena menjawab dengan tawa lepas. “Nope. Kupikir lebih baik jangan sering-sering bertemu dengannya; maksudku, bukannya ada apa-apa, tapi… agar tidak bosan saja, mungkin?”

“Kita lihat nanti saja.” Sungra berucap. Raena tertawa senang sambil memeluk gadis itu erat.

—–

Belum ada sehari tapi Sungra telah kembali goyah. Sebut dirinya labil –gadis itu hanya kesulitan memilih antara hubungannya dengan Raena dan melindungi perasaannya sendiri yang telah merapuh diam-diam.

Tawa gembira Raena ketika Sungra bersedia pergi dengannya akhir minggu nanti berhasil meruntuhkan dinding pembatas tak kasat mata yang mulai ia bangun, juga pondasi niat awalnya menjadi pengkhianat kecil. Habis, hancur, merata dengan tanah.

—–

‘Raena pergi denganku, mungkin kau bisa bergabung.’

‘Oke. Di mana?’

‘Pusat perbelanjaan di dekat sekolah. Kukira kau tahu tempat itu.’

‘Kebetulan aku sedang di sana –eh, di sini. Kalian di mana?’

‘Toko buku. Berlagak kau tidak tahu kami di sini, mengerti?’

Roger.’

—–

Tapi bukankah mengobati perasaan sendiri lebih penting dari apapun?

Advertisements

7 thoughts on “[Double-Trouble] #18 | The Traitor”

  1. noooooooooooo sungra please nooooooooo don’t get lost you girl don’t loose yourself please noooooooo go back to straight-angelic-yet-painful-way don’t listen to demonic-taem whispers please i beeeg youuu *abaikan

  2. No, no sungra, for god’s sake control yourself aaaaa, jangan dengerin taem jangaaaaan ;_; ini serasa taemin jadi devil, terus raena jadi angel, dua-duanya muter-muter gitu di kepala sungra, trus sungra nya bingung mau milih jadi baik apa jahat ._. #abaikan
    Ini cinta segi-banyak yang bikin bingung fa, bener deh…hahah

    1. *pukpuk* saya jadi merasa bersalah sama yang pada baca .___.
      *kemudian imagining taemin pakai bando setan sama bawa trisula(?)* anyway, di pihak angel ada dua orang, jongin sama rae~ *eh…
      semoga nggak membuat ruwet, deh, hehehe ._.v
      makasih~ ^^

  3. i’m not going to kill eonni this time T_T but, but……. berada di dalam pengaruh dua hati dan pilihan itu emang asdfghjkl kok, rey sayang sungra. yang tabah ya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s