[Double-Trouble] #19 | Later, the Fallen Surrender

Title: Then Later, the Fallen Surrender
Genre: friendship, angst (y)
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OCs
Length: ~1200 words

“Pagi, kembaran. Pagi, Sungra.” Taemin menyapa pada suatu pagi. Sungra mengangguk, Jongin menatap Taemin sekilas sebelum kembali ke soal-soal kinematika yang belum selesai ia kerjakan, dan Taemin mengambil tempat di depan Sungra setelah sebelumnya mengusir siapapun itu yang lebih dulu meletakkan tasnya di sana.

“Rencana apa hari ini, partner?” Taemin merendahkan suaranya setelah memastikan Jongin tak memperhatikan. “Makan siang lagi?”

“Kurasa hanya itu cara yang bagus untuk sementara ini, Taemin-ssi.” gumam Sungra tanpa melepaskan tatapannya dari novel yang sedang ia baca. “Omong-omong, kau menanyakan apa tadi malam? Merk pakaian favorit Raena, benar?”

Begitu saja semuanya berjalan. Baik Jongin maupun Raena tidak mencurigai dan mengendus adanya aliran data rahasia antara Sungra dan Taemin di belakang mereka. Tidak ada yang sadar; Raena tak terlalu mempedulikan gerak-gerik Taemin yang sering tiba-tiba menambahi jumlah kelompok makan siang bersama mereka dengan duduk di sebelah Jongin dan ikut masuk dalam obrolan seperti dirinya memang termasuk dalam kelompok itu, bukannya seseorang yang memaksa masuk. Jongin sendiri tidak menyadari sikap-sikap mencurigakan Taemin –salah satunya soal bagaimana kakaknya itu dengan begitu tiba-tiba dekat dengan Sungra dan bertingkah seolah mereka telah berteman sejak lama. Mungkin sikap awkward Sungra yang tetap melekat bisa dijadikan penawar keanehan Taemin yang terlalu mendadak. Juga perkara Taemin tak pernah lagi menyinggung masalah rebut-merebut Raena di depannya –Jongin menganggap itu pertanda bagus, sebuah kemajuan bagi kelancaran hubungannya dengan Raena, dan ia bisa sedikit bernapas lega sekarang. Sedikit, karena sama sekali bukan karakter Taemin untuk melepaskan incarannya begitu saja, tapi siapa tahu dia sudah berubah sekarang.

Sungra, yang terpapar aura kejahatan dari Taemin, perlahan menyerap energi negatif itu layaknya sesuatu yang diberi radiasi radioaktif. Tapi, bukannya menjadi sel kanker atau tumor, diri Sungra berubah menjadi sedikit lebih kejam. Sedikit, hanya sepersekian bagian saja, tapi sekarang ia mulai tega berbohong pada Raena. Tega membantu Taemin menjauhkan temannya itu dari kekasihnya tercinta. Tega membocorkan sedikit demi sedikit detil-detil seorang Kim Raena, menceritakannya dengan deskripsi yang begitu teliti pada Taemin –intinya, ia telah menjadi partner atau sidekick atau apapun itu dari seorang Lee Taemin. Dan semua orang tahu bahwa menjadi rekan Taemin sama saja seperti menjual jiwa pada iblis, kau akan tertular sisi negatif Taemin yang akan mengubahmu entah sejauh apa.

Salah satu tandanya adalah ia mulai berani menghardik Taemin ketika laki-laki itu dengan kurang ajarnya menelepon di tengah malam hanya karena dia punya pertanyaan soal Raena yang belum sempat ditanyakan, atau saat Taemin menerornya dengan pesan singkat karena Sungra tak kunjung membalas, padahal gadis itu sedang mandi atau makan. Mana dia tahu kalau ada pesan?

Mungkin tertular kejahatan Taemin tak sepenuhnya salah, di satu sisi.

—–

Di suatu waktu, Sungra sadar ia telah mencapai titik stasioner kejahatannya.

Tengah malam ia terbangun tiba-tiba. Napasnya tersengal. Mimpinya sulit dideskripsikan, buruk tentu saja karena telah berhasil memaksanya keluar dari fase tidur yang tenang.

Sungra mencoba mengatur napas, memijat pelan pelipisnya sembari merunut ulang kilasan-kilasan mimpi yang bisa ia ingat. Ada Raena. Ada Jongin. Dirinya. Taemin. Hanya itu yang bisa ia ingat dengan jelas. Ada juga perasaan tak nyaman yang mendadak menyerangnya. Kepalanya terasa berputar, tiba-tiba saja ia mual. Gadis itu merinding, tubuhnya seolah dicekam sesuatu yang dingin dan menyakitkan –tidak, ia tidak sanggup lagi menjalani permainan mata-mata pengkhianat ini. Tidak bisa. Tidak setelah Taemin menuntut terlalu banyak. Beban batinnya terlalu berat dan ia masih ingin hidup waras untuk beberapa lama lagi.

Ia menghela napas kuat, menyebabkan napasnya yang mulai tenang kembali terengah. Tangannya mencengkeram badannya sendiri yang terasa lemah. Ia rapuh, kecil sekali, labil sekali. Sulit memutuskan hal apa yang harus dilakukan di saat seperti ini.

Matanya terpejam. Ia membayangkan segalanya; senyum Raena. Bagaimana bibir temannya merekah ketika tertawa. Bagaimana mata gadis itu berkilat riang tiap menceritakan sesuatu yang membuatnya senang. Dan Jongin membuatnya senang. Sejahat apapun Sungra saat ini, ia masih tidak tega menghapus ekspresi-ekspresi itu dari mata Raena. Ia tahu duka-duka Raena yang sempat menghapus jejak senyum itu, dan dirinya ingat pernah berjanji tak’kan menyebabkan Raena kehilangan kemampuan tersenyumnya lagi.

Dan Jongin… Jongin. Bila Jongin tahu Sungra membantu Taemin, pasti laki-laki itu tidak akan pernah memaafkannya. Kehilangan sedikit bagian Jongin karena harus mengalah pada Raena sudah cukup menyiksa. Bagaimana jika Jongin menggelincir lepas dari genggamannya, bersama Raena, dan membencinya? Sanggupkah ia menanggung beban itu sendirian? Memangnya Taemin akan bertanggung jawab bila hal itu terjadi padanya? Mengenal selapis tipis seorang Lee Taemin sudah lebih dari cukup baginya untuk paham bahwa Taemin tidak mungkin mau menanggung resiko yang tidak berimbas pada dirinya sendiri. Mana mungkin ia punya rasa bersalah jika bisa mengganggu hidup Sungra tanpa beban?

Sepertinya telah tiba waktu bagi Sungra untuk mohon diri dari semesta pengagum rahasia Jongin. Sudah masanya menyerah pada kenyataan, karena tak ada gunanya memaksa berperang bila pedangmu jelas telah lama menumpul. Bila ia memaksakan diri, bisa-bisa dirinya yang akan terbunuh; kehilangan Raena dan Jongin di satu waktu sama dengan mati, bagi Sungra tentu saja. Kedua orang itu terlalu berharga untuk menguap hilang dari lingkaran kecilnya, dan sialnya merekalah sumber awal dari segala bencana mental yang mendera Sungra tanpa ampun.

—–

Sungra memeluk Raena erat ketika hanya ada mereka berdua di kelas. Raena, yang kebingungan, hanya bisa menepuk-nepuk kepala Sungra pelan sambil bertanya-tanya dalam hati. Ketika pertanyaan itu ia suarakan, jawaban yang ia dapat sama sekali tidak memuaskan –hanya senyum dan gelengan. Pun ketika Jongin menatapnya heran setelah Sungra menepuk kepala laki-laki itu ringan. Sungra sedang tidak ingin menjelaskan apa-apa, yang penting ia senang hatinya telah melega.

—–

Taemin menghubunginya lagi malam itu ketika ia sudah hampir terlelap.

Malas-malasan tangannya meraih di tengah gelap kamar, bersiap melancarkan sumpah-serapah pada siapapun yang berani mengacaukan hasil usaha memejamkan matanya sedari tadi –bila orang itu memang pantas dimaki. Sudah sulit-sulit membuat mata mengantuk begini, bagaimana bisa ada orang yang tega berbuat begitu padanya?

“Halo?” gadis itu menyapa diimbuhi kuap. Matanya saja tak sempat membaca nama orang yang menelepon, saking berat kelopak matanya terasa.

“Sudah tidur? Maaf, hehe.” suara di seberang mengimbuhi dan Sungra segera saja mengeluh dalam hati. Anak itu, untuk apa menghubunginya jam segini? Memangnya tidak ada waktu yang lebih wajar untuk meneleponnya selain sekarang?

“Hmm.”

“Oke, oke, maaf. Um… begini. Aku ada rencana menyangkut Raena, dan kau harus membantuku, seperti perjanjian sebelumnya.”

Sungra menghela napas, lupa dirinya belum menyatakan pengunduran diri ke Taemin terkait permainan mata-mata kecil mereka. “Taemin-ssi, aku—“

“Tidak ada alasan apapun untuk menolak.” Taemin menukas. “Aku sudah terlanjur membeli tiketnya! Kau pikir aku semurah hati apa sampai mau membelikan tiket untuk Jongin segala?”

“Sayang sekali, kalau begitu. I’m out.” Sungra menguap sekali lagi. Ia bisa mendengar dengan jelas decak lidah Taemin di seberang. “Tidak boleh! Kau harus ikut! Perjanjian!”

“Mengundurkan diri. Batalkan saja. Aku tidak tertarik lagi.” meski demikian, Sungra tetap sedikit tertarik –mungkin lebih tepat penasaran– dengan ‘rencana’ yang telah disusun Taemin. Tumben anak itu tidak menyuruhnya menyusun siasat seperti biasanya.

“Ayolah, hanya menonton film, beberapa jam duduk dan menatap layar toh tidak akan membunuhmu, kan? Kita buat seperti double-date, makanya kau harus ikut. Jongin tidak akan mau mengajak Raena kalau aku hanya sendirian, bodoh.”

Ada tawa yang dipaksakan yang keluar dari mulut Sungra. Apa? Double-date? begitu pikirnya. Enak saja. Dia pikir aku mau disangka kekasihnya?

“Bagaimana? Iya? Oke! Kita pergi akhir pekan ini, pukul tujuh. Kau kujemput. Jangan pakai kacamata, berdandan yang sedikit benar. Tidak ada tapi. Aku tidak mau dikira menggandeng manusia antah-berantah nanti, pasaranku bisa turun.” begitu saja Taemin mengakhiri telepon, meninggalkan Sungra yang masih berusaha mencerna kata-katanya dalam diam.

Ketika isi pikirannya telah tersambung sempurna, Sungra hanya bisa menyumpahi tumpukan bantalnya yang tidak bersalah. Permainan bodoh ini seharusnya sudah selesai sejak lama.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #19 | Later, the Fallen Surrender”

  1. mengenai kembalinya sungra ke jalan yang suci(?) : peluk aufaa atau sungra atau siapa pun dirimu karena tiba-tiba saya ingin memeluk seseorang.

    mengenai taetaem : the hell with that guy, really.

  2. seems that sungra finally surrounded by angels, right? haaaa… akhirnya jiwa putih nan inosenmu kembali, lee sungra hahaha…
    well, aku harap taemin juga segera kembali pada jalan yang lurus dan benar. aamiin…. 😛

  3. just get there today nih, berasa very-very telat *bahasa inggris ala lala* entah disini, aku merasa bhawa taemin menemukan kesadaran penuhnya -seperti yang terjadi pada sungra- dan kembali ke jalan yang benar. Atau, dia sadar dia telah jatuh pada sungra? 모른데~~ we will see, kan? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s