[Double-Trouble] #21 | Tendencies

Title: Tendencies
Genre: friendship
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OC(s)
Length: ~1100 words

Bila diganggu Taemin setiap malam bisa disebut rutinitas, maka bisa dibilang Sungra telah cukup beradaptasi dengan rutinitas barunya.

Ia mulai hapal kapan kira-kira Taemin akan mengganggunya, mulai bisa meraba pola pembicaraan Taemin di telepon tiap malam. Mulai berusaha mengacuhkan gangguan yang sebenarnya tengah berusaha ia hindari karena rencananya mengurangi kontak dengan laki-laki itu jelas gagal total. Bagaimana bisa ia melakukannya jika Taemin terus-menerus menerornya? Mungkin hipotesis soal probabilitas Taemin sebagai seorang psikopat benar adanya.

—–

“Halo?”

“Hmm.”

“Oh, kukira kau sudah tidur, hehe.”

“Ck. Kau tidak ada kerjaan lain selain menerorku atau bagaimana? Memangnya kau sudah mengerjakan tugas?”

“Ada tugas?”

“Ada, bodoh. Matematika dan kesenian. Kerjakan, sana.”

“Malas~ lebih baik konsultasi soal Raena~”

“Kau sudah menanyakan semua hal yang bisa kujawab, jadi seharusnya sesi konsultasimu sudah selesai. Berhenti menggangguku.”

“Aku bosan~”

“Kalau begitu kerjakan tugasmu!”

Shireo, lagipula mengganggumu lebih menyenangkan daripada mengerjakan tugas. A, boleh aku pinjam pekerjaanmu besok?”

—–

Sungra tidak tahu kapan ia mulai muak tiap Taemin menyebutkan Raena, Raena, dan Raena terus-menerus baik langsung di depannya, di telepon, maupun di pesan singkat. Juga tidak ingat lagi kapan ia merasa ingin membungkam laki-laki itu agar berhenti mengoceh tak karuan soal sahabatnya. Menyebalkan, memang, tapi sepertinya ada alasan lain yang lebih besar dari itu. Bila menganggap Taemin menyebalkan sudah muncul sejak awal laki-laki itu mengganggu ketenangan hidupnya, alasan yang lainnya ini masih tak bisa ia jabarkan. Sungra sendiri tak paham kenapa.

—–

Raena berhasil memaksanya memakai perlengkapan-cantik-nya sebelum mereka pergi jalan-jalan berdua hari ini. Sungra membalasnya dengan memaksa memisahkan diri dengan Raena di pusat perbelanjaan, sehingga ia tak perlu berbosan-bosan di butik sambil menunggui Raena mencoba beragam baju yang Sungra saja tak paham apa namanya, berhubung baginya semua jenis pakaian sama saja.

Sudah ada tiga jilid komik yang ia baca secara ilegal di toko buku, sementara sebuah tas yang menggelantung di sikunya terisi dua novel yang masing-masing setebal batu bata dan lima komik yang masuk dalam daftar koleksinya. Dengan mata setengah gatal karena masih tidak terbiasa dengan lensa kontak, gadis itu meneruskan membaca di salah satu bangku yang disediakan demi membunuh waktu selama Raena hinggap dari toko satu ke toko lainnya.

Jilid ketiga habis. Sungra mengeluh, sedikit tidak rela karena itu berarti ia harus kembali berjalan ke rak dan berjuang membuka segel buku dengan satu tangan lagi. Bagaimana kalau tempat duduknya ditempati orang lain nanti?

Gerutuan-dalam-hati-nya makin bertambah ketika seseorang menyenggol tas yang ia bawa, menjatuhkan salah satu novel dan dua buah komik dengan suara yang cukup keras, positif sampulnya sudah rusak sekarang. Sekarang Sungra terpaksa harus mencari pengganti yang lebih layak-beli, seolah itu tidak merepotkan saja.

“Maaf,” kata orang itu sambil menyodorkan ketiga buku tadi ke arah Sungra. “Aku tidak sengaja, maaf—ah, Sungra?”

Ia mendongak, berniat mengenali siapa yang sedang bicara dengannya –dan bertanya kenapa orang itu bisa mengenalnya– ketika mendapati wajah Taemin yang satu kepala lebih tinggi darinya. Bocah ini lagi, ia melengos sambil menggumamkan terima kasih sekilas kemudian berbalik pergi.

“Tunggu! Kau mau ke mana?” Taemin tiba-tiba saja sudah menahan bahunya. Sungra memutar bola matanya kesal, kembali memutar badan demi menatap Taemin, “Ke bagian novel. Sampul yang ini rusak.” gadis itu berkata, tangannya mengacungkan buku tepat di depan wajah Taemin.

Laki-laki itu memicingkan mata, mengamati buku yang diacungkan Sungra kemudian memasang wajah bingung. “Tidak ada yang rusak, segelnya juga masih utuh,” ia merebut buku itu dari tangan Sungra, membalik-balik beberapa kali dan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan ekspresi paham. Sungra menggeram pelan, “Kau mana paham soal yang seperti itu. Sudah, sini kembalikan, biar buku ini kukembalikan ke sana.”

“Aku ikut!” Taemin memasang cengiran tanpa dosa. “Aku sendirian, tidak ada kerjaan, hehe. Kau juga sendirian, kan?”

Ada sesuatu yang menahan lidah Sungra ketika ia akan menyebutkan nama Raena, jadi ia menelan kembali kalimat itu bulat-bulat dan membiarkan Taemin mengekorinya ke bagian novel yang sama sepinya dengan bagian komik. Tidak jadi sepi karena Taemin banyak berceloteh di belakangnya bahkan meski Sungra tak merespon sama sekali. Seperti,

“Tebal semua, isinya hanya teks, pula. Membosankan.”

“Aku heran kenapa kau dan Jongin bisa tahan membaca sesuatu yang seperti ini.”

“Bukankah membaca komik lebih menyenangkan dan santai?”

“Bahasanya berat sekali. Aku pusing.”

“Ck, pantas saja kacamatamu tebal, bacaanmu seperti ini, sih. Omong-omong, mana kacamatamu?”

Sungra melirik Taemin sinis, merasa sangat terganggu. “Di rumah. Sekarang, bisa kau diam sebentar?”

“Pakai lensa kontak?” tatapan Taemin yang seolah menilai wajahnya membuat Sungra merasa makin terganggu. Ia mengangguk cepat, sekali lagi memelototi Taemin lengkap dengan ekspresi sudah-sana-urusi-urusanmu-sendiri-jangan-ganggu-aku-lagi, lalu kembali menekuri dua buku yang tengah ia bandingkan satu sama lain.

Rasa gatal itu kembali menyerangnya. Iritasi ringan yang wajar untuk pemakai baru, kata Raena. Alasan itu yang membuatnya malas memakai lensa kontak, selain karena rasa aneh di bola matanya. Harusnya ia tidak lupa membawa obat tetes mata tadi, pikirnya, tangan refleks bergerak untuk mengusap mata yang mulai berair.

“Jangan digaruk!” Taemin menepis tangan Sungra yang sudah setengah jalan menuju mata, membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget. “Kau baru pakai? Masih gatal?”

Sungra mengangguk cepat, mengerjapkan mata beberapa kali demi mengusir gatal yang mengganggu. “Tidak apa-apa, sudahlah.”

“Aku tahu rasanya, dulu aku juga begitu waktu pertama kali mencoba lensa kontak. Kau bawa obat tetes mata?”

Aniyo.”

“Payah. Sudah, sini, buka matamu.”

“Memangnya kenap–” kicauan Sungra terhenti ketika Taemin menangkupkan kedua tangannya di pipi gadis itu, memaksa Sungra menghadap ke arahnya, sebelum kemudian mendekat dan meniup pelan mata Sungra yang memerah.

Sekarang sepertinya tidak hanya mata Sungra yang merah.

“Nah, sudah. Harusnya sudah lebih enak sekarang.” laki-laki itu tersenyum puas akan hasil kerjanya. Ia kembali mengamati Sungra dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum terkekeh pelan, “Kau lumayan manis ternyata, haha.”

Gadis itu berpura-pura sibuk membaca komik yang telah berhasil ia buka ketika menyembunyikan wajahnya yang makin memanas sambil berusaha menenangkan diri.

“… tapi tetap lebih manis Raena, sih.”

—–

Belum pernah Sungra merasa serendah diri ini ketika dibandingkan dengan Raena.

Selama perjalanan pulang, ia lebih banyak melirik Raena yang menyandarkan kepala dengan mata terpejam di kaca jendela bus. Mulai membanding-bandingkan fitur tubuhnya dengan Raena –wajah, badan, hingga ke jari-jari tangan dan ukuran sepatu.

Pipi Raena tirus, pipinya sedikit tembam. Mata Raena agak lebih besar dari orang Korea pada umumnya, pengaruh genetik, sepertinya, sementara mata Sungra, meski tidak bisa disebut sangat sipit, tetap saja sipit. Hidung… Raena sedikit lebih mancung. Rambut Raena panjang dengan ikal alami yang terurai begitu saja di ujungnya. Rambut Sungra lurus, kalau ikal pun akibat diikat terlalu lama. Sungra juga tahu metabolisme tubuh Raena membiarkan gadis itu makan sesukanya dengan tetap mempertahankan bentuk tubuhnya, tidak tahu bagaimana caranya.

Ia sadar, salah kalau ia membandingkan diri dengan Raena karena… karena memang pada dasarnya mereka berbeda. Tidak perlu diberitahu juga Sungra tahu kalau make-over sesempurna apapun tidak akan membuatnya bisa menyaingi Raena. Sebenarnya bukan itu yang ia harapkan, hanya terkadang ia ingin keberadaannya disadari orang, entah itu Jongin, atau Taemin, atau orang lain. Kadang, ia ingin disebut manis tanpa perlu dibandingkan dengan Raena, menuruti naluri alamiahnya sebagai gadis remaja yang sedang mencari aktualisasi diri. Sesederhana itu, tapi kenapa sulit sekali?

Bayangan memang seharusnya tidak nekat menantang matahari.

Ah, tunggu, kenapa Taemin terselip di benaknya tadi?

to be continued

P.S. maru-san, it is a pure coincidence that i finished this thing today. anyway, happy birthday ^^ anggap ini kado, tapi, sekali lagi, co-in-ci-dence.

Advertisements

2 thoughts on “[Double-Trouble] #21 | Tendencies”

  1. akhirnya aku bisa blog-walking jugaaaa >,<
    demi apa sungra kepikir taemin, demi apa, demi apaaaa -_- waaaa ekspektasi terburuk jangan kejadian doong huhu, sungra sama jongin ajaa nanti #digatak
    btw ini raena parah juga ya, temennya sendiri dipaksa pake lensa kontak, udah menderita gitu ckck, sabar ya sungra-ssi~ hahaha…
    ditunggu lanjutannyaaa~ oiya, sama semangat ujiannya, dan…..happy birthday! tapi sepertinya telat ya u,u tadi abis ngubek-ngubek blognya marcha hahaha… wish you all the best aufaaa…^_^

    1. huyeeeeeeee~ *ikut seneng
      yah… itu antara dia move on yang jadi lebih baik(?) atau menyerahkan diri ke mulut buaya, sih *eh* eeeeeeh jongin kan udah sama rae~ gaboyeh *eh
      makasiiiih~ -buat yang ujian- daaaaaaaaannnn… makasih lagiiiiii!!! 😄 marcha juga sih sebenernya u,u /eh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s