[Double-Trouble] #22 | Will You Protect Me from the Gushing Wind?

Title: Will You Protect Me from the Gushing Wind?
Genre: angst? maybe ._.
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin
Length: ~1500 words
warning: excessive use of question mark, not to forget jerky Taemin.

“Jadi, sebenarnya, ada apa antara kau dan Taemin?”

Sungra menatap malas Jongin yang tiba-tiba saja sudah duduk di depannya, menatapnya dengan tatapan ingin tahu bercampur curiga. Sama sekali tak jadi masalah bagi Sungra kalau Jongin tiba-tiba saja tahu ada konspirasi kecil di belakangnya. Urusan Taemin, bukan urusannya. “Tidak ada apa-apa. Memangnya kau pikir apa?”

“Kukira kalian… ya, begitu, mungkin dekat yang lebih dari sekedar teman?”

“Selamat, kau sepikiran dengan bocah-bocah yang kemarin mengomeliku di depan kelas.” ada sesuatu yang membuat Sungra tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, jadi ia tergelak, meninggalkan Jongin yang tak paham kenapa Sungra tiba-tiba tertawa tanpa alasan. Kalau Jongin bertanya, Sungra sendiri juga sepertinya tak bisa menjelaskan.

“Siapa?” Jongin kembali angkat bicara ketika tawa Sungra telah mereda, sedikit melontarkan tatapan heran ke gadis yang masih mengatur napasnya. “Ng? Banyak, kok. Ada anak kelas satu segala. Tidak tahu sopan santun sekali.”

Kali ini ganti Jongin yang tertawa. “Raena tahu?”

“Tidak. Untuk apa?”

“Bukannya dia biasanya yang paling cerewet kalau ada yang mem-bully­-mu?”

“Oh,” Sungra memasang mimik kesal. “Dia, kan, tak punya waktu untuk peduli padaku setelah kau memonopolinya. Lagipula aku sudah terlalu terbiasa dikonfrontasi begitu, bukan masalah besar.”

“Yah, bukan salahku, kalau begitu.”

“Tentu saja, Tuan.” Sungra menatap Jongin sedikit mengejek. Jongin membalas dengan seringai kecil yang, kalau saja Sungra masih menyukainya, bisa membuat gadis itu salah tingkah setengah mati.

Hening sejenak ketika Sungra kembali menekuri game di ponselnya dan Jongin menatap ke luar jendela, ke halaman sekolah yang mulai dipenuhi murid-murid lain. “Ah, tunggu, bagaimana kau bisa selamat? Setahuku para ‘fans’ Taemin galaknya bukan main. Yang hanya pergi kencan sekali dengan Taemin saja bisa dikerjai habis-habisan, kupikir harusnya kau—”

“Um, kemarin Taemin tiba-tiba datang lalu mengusir bocah-bocah itu begitu saja, tapi tetap saja mereka memelototiku. Malah ada yang kelihatan seperti singa betina yang sedang mengincar mangsanya. Ck, seperti aku akan takut pada mereka saja.”

“Apa?”

“Taemin tiba-tiba datang lalu—”

“Intinya, Taemin menolongmu, kan?” dan Jongin terbahak. Panjang, lama, dan sangat keras, dengan suaranya yang dalam meski tak sedalam Park Chanyeol si sub-kapten tim basket sekolah. “Yakinkan aku sekali lagi kalau kau bukan kekasihnya atau apa. Jangan berbohong, Lee Sungra.”

“Sama sekali bukan, Jongin.” Sungra merengut. “Dan tidak ada yang lucu! Ck, tawamu sudah bergema ke seluruh sekolah sekarang!”

“Tapi dia ‘melindungi’mu begitu, mana mungkin dia mau melakukannya tanpa alasan yang jelas. Aku mengenal Taemin lebih dari kau mengenalnya, Nona Lee.” Jongin tersenyum setengah meledek. Ekspresinya baru terganti ketika Sungra menendang tulang keringnya dengan ujung sneakers keras-keras.

“Cerewet.”

Jongin ‘kan tidak tahu kalau Taemin membantunya karena ia ingin mendekati Raena, bukan karena…

Ah.

Jongin, yang terlalu sibuk mengeluh soal kakinya yang akan pincang untuk beberapa hari ke depan, sama sekali tidak melihat pipi Sungra merona dengan alasan yang, lagi-lagi, gadis itu sendiri tidak ketahui.

Sungra tidak menyebutkan kalau Taemin juga mengantarnya pulang, tapi ia yakin itu bukan hal yang bagus untuk dikatakan ke Jongin. Setidaknya di kondisi seperti ini.

—–

Ketika Sungra beranjak keluar kelas dan mendapati satu, dua, tiga, empat, lima, ah, entahlah, mungkin sepuluh, gadis yang berkacak pinggang maupun menyilangkan tangan di depan dada tepat di pintu kelasnya dan menatapnya sinis, ia langsung paham sedang berada dalam kondisi apa dirinya sekarang. Bisa juga disebut insting yang, ironisnya, terasah karena ia sering diperlakukan seperti itu.

Bahkan Sungra sudah bisa menebak plotnya dengan tepat.

Pertama, bocah-bocah sok galak itu akan menyudutkannya entah di mana. Kali ini di dekat pintu, di mana ia terpojok di antara dinding dan mereka yang membuat formasi melingkar di depannya tanpa ada celah untuk kabur.

Kedua, akan ada satu orang yang menyemburkan kemarahan padanya. Sungra mengenalinya sebagai Sohyun, leader cheerleader sekolah. Tipikal murid populer.

“Sepertinya kau sudah sedikit lebih sadar mode.” Sohyun membuka pembicaraan, matanya mengamati Sungra dari ujung kepala hingga kaki. “Cukup bagus.”

Seolah aku seperti ini untuk minta dinilai saja, Sungra membalas dalam hati, tapi tetap membiarkan mulutnya terkatup. Ia sedang tidak ingin terlibat masalah, terima kasih banyak.

“Yah, tapi memangnya kau pikir kau bisa mendekati Taemin hanya karena sudah mengubah penampilan?” yang lain menyela. Sungra tidak mengenali wajahnya, entah itu anak kelas satu atau kelas tiga. Toh tak ada gunanya kalau ia bisa mengenali anak itu, kecuali ia lantas bisa mengontrol pikiran mereka hanya dengan menggunakan nama.

Ketiga, intimidasi fisik. Biasanya tak terlalu parah, jadi Sungra memilih diam dan memasang ekspresi datar. Sedikit tarikan rambut atau terbentur tembok tidak akan membuatnya gegar otak atau cedera parah.

“Kenapa diam?” Sohyun menyalak lagi. “Kau takut? Menunggu Raena datang menyelamatkanmu? Ck, dia tidak akan datang, Lee Sungra sayang. Lain kali, jangan terlalu bergantung padanya.”

Bocah-bocah itu tertawa menyebalkan. Sungra mengatupkan rahang, menahan diri agar tidak lantas membuka mulut dan meluncurkan kalimat-kalimat sinis pada mereka –meski sepertinya itu cukup menghibur nantinya.

“Ck, dia hanya diam. Tidak seru, Sohyun-a,” salah satu yang lain berkata. “Bagaimana kalau kita—”

“Hei, ini sudah sore, kalian tidak pulang?”

Beberapa anak menoleh ke sumber suara. Dari sela-sela kepala dan rambut yang menghalangi pandangannya, Sungra bisa melihat sosok Taemin yang bersandar di jajaran lemari loker dengan tangan tersilang. Jangan lupakan juga senyum-yang-katanya-bisa-membuatmu-kehabisan-napas-dan-kehabisan-kata-kata. Mungkin memang benar, mengingat ada satu atau dua orang yang hanya terdiam dan menatap Taemin dengan mata membulat. Ya ampun, Sungra tertawa –dalam hati, tentu saja–, melihat tingkah tak jelas gadis-gadis itu.

“Apa yang kalian lakukan?” laki-laki itu lanjut bertanya. Tidak ada yang menjawab, malah ada kejadian saling sikut yang membuat Sungra terlupakan.

Oppa,” Sohyun kemudian berkata dengan suara yang dibuat sok manis, “Kami hanya… ada urusan dengan Sungra, sedikit urusan.”

Bocah-bocah lainnya tertawa. Sungra menaikkan sebelah alis, menunggu lanjutan kata-kata Sohyun.

“Urusan? Lebih kelihatan seperti kalian sedang mengeroyoknya. Atau memang begitu?”

“Um,” Sohyun membuka dan menutup mulutnya berulang kali hingga wajahnya terlihat seperti ikan yang kehabisan napas di darat. “Um, bukan begitu, oppa, tapi—”

“Sudah sore, di luar sudah gelap malah, tidak baik kalau kalian masih berkeliaran di luar rumah.” dan Sungra hanya diam ketika Taemin meraih ujung kardigan yang dipakainya dan menariknya keluar dari kurungan gadis-gadis yang melongo, benar-benar kehabisan kata-kata. “Nah, sekarang, lebih baik kalian cepat pulang. Bisa bahaya kalau kalian pulang terlalu malam, kan? Tidak pernah dengar soal pelecehan seksual yang korbannya gadis-gadis SMA?”

Lagi-lagi tidak ada yang menjawab. Taemin, yang masih menggenggam ujung kardigan Sungra, melempar senyum kecil pada mereka sebelum menarik gadis itu agar mengikutinya berjalan. Sungra menurut, tersaruk-saruk sedikit di belakang Taemin karena langkah-langkah panjangnya sama sekali tidak sebanding dengan tungkai Sungra.

“Kau harusnya tidak usah ikut campur.” Sungra menggumam setelah mereka sudah cukup jauh dari kelas. Taemin menoleh, “Kenapa? Kau lebih suka kalau mereka kasar padamu?”

“Kalau begini… urusannya jadi makin parah, bodoh.” gadis itu mendengus pelan. “Mereka, kan, gerombolan ‘fans’mu. Setelah ini pasti mereka akan jadi makin ganas padaku. Kau ini memang menyusahkan. Sudahlah, jangan dekat-dekat denganku lagi.”

“Kalau aku tidak dekat-dekat denganmu, mana mungkin aku bisa mendekati Raena?”

Sungra tak menjawab. Tidak mau, lebih tepatnya. Lebih-lebih ketika lagi-lagi ada Raena yang dikaitkan dengannya. Tapi, bukannya sejak awal ia sudah tahu motif Taemin? Kenapa ia masih kesal tiap Taemin mengulanginya?

“Ayolah, aku mohon, ini demi masa depanku~ ya?”

“Masa depanku di sekolah ini juga dipertaruhkan, tahu. Keselamatanku, terutama.”

“Tapi ada aku, kan? Mereka tidak akan berani menyakitimu kalau aku bilang begitu. Kau bisa mengandalkanku, yah, anggap saja sebagai semacam bodyguard meski aku tidak mau disebut begitu. Kita impas. Bagaimana?”

Sungra tidak yakin itu ide yang bagus, tapi ia tetap tutup mulut, bahkan hingga Taemin memakaikan helm di kepalanya dan mengantarnya pulang.

“Mau mampir?” basa-basi, Sungra berucap dalam hati, ketika mereka sudah sampai di depan rumahnya. Mengulangnya berkali-kali sambil meyakinkan diri kalau tidak ada maksud lain di balik ucapannya, hanya basa-basi. Ia hanya akan menyajikan teh, mungkin juga sedikit kue, sebagai ucapan terima kasih karena Taemin telah mengantarnya sampai rumah. Nah.

“Tidak usah. Ada acara.” Taemin menjawab singkat, kembali memakai helmnya. “Masuk, sana. Sudah malam begini, lagipula memangnya tidak ada orang di rumah?”

“Oh. Oke. Hati-hati di jalan.” Sungra menelan ludah, tangan mencengkeram erat tali ransel di bahunya. Ada yang tersangkut, lagi, dan ia tetap tak bisa mengucapkannya hingga Taemin telah menghilang dari cakupan pandang matanya.

Kenapa kau memperlakukanku seperti ini?

—–

Taemin pernah mengomentari iris mata Sungra yang hitam pekat, lalu berkata lensa kontak cokelat gelap akan cocok dengan warna mata Sungra.

(Ia mencobanya. Bagus, kata Raena. Hanya saja, Sungra belum cukup percaya diri untuk memakainya di sekolah, terima kasih banyak.)

Taemin kadang memuji pakaiannya, atau aksesoris yang kadang ia pakai yang membuatnya kelihatan lebih manis. Sungra tidak tahu dan tidak mau tahu apa itu hanya basa-basi, saking terbiasanya Taemin merayu orang, atau memang laki-laki itu mengatakan yang sebenarnya.

(Tapi tetap saja Sungra salah tingkah bila dikomentari seperti itu.)

Sungra merasa belum siap jatuh lagi. Belum. Tidak sekarang. Jangan sekarang, sewaktu sakit hatinya masih sedikit bersisa. Lebih-lebih ketika ia tahu persis Taemin tidak akan pernah melihatnya sama seperti laki-laki itu melihat Raena.

—–

Sepanjang hari ini, ketika menatap ke depan, Sungra akan menemukan bahu Taemin dan rambut acak-acakannya yang sekarang berwarna cokelat muda. Sepanjang hari ini juga ia menahan lidahnya agar tidak bertanya ke Taemin tentang banyak hal. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, terutama, karena Sungra sendiri tak paham. Bagaimana ia bisa paham kalau sikap Taemin seenaknya begitu?

Will you do the same if I didn’t help you before, or if you don’t need me for something you want? Will you still protect me from the gushing wind? Or will you walk away, strutting like you’ve never met me before?

Bagus, sekarang hidupnya terasa seperti narasi sebuah opera sabun.

to be continued.

P.S. ujian sudah selesai, kakaaaak (y) anyway the title is taken from EXO-K’s Angel, under some changes.

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #22 | Will You Protect Me from the Gushing Wind?”

  1. Please tell me that Sungra didn’t fall into someone else~ Entah kenapa, pengaharapan dan rasa sakit hati itu berbanding lurus. Semacam massa sama massa jenis. Semakin tinggi pengharapan tuh jatuh sakit hatinya lebih tinggi levelnya. Oke, curhat

    1. sadly, she does. slowly, if i could say.
      soalnya, semakin tinggi kita terbang, gravitasi makin berkurang. makanya susah balik lagi ke bumi. tapi sekalinya bisa turun, nanti percepatan gravitasi yang ‘biasa’ bakal bikin kita meluncur secepat meteor. pesan moral: kalau terbang, jangan tinggi-tinggi. jatuhnya sakit. *eh

  2. told you my heart was aching. and re-reading it makes the ache get worse. T.T awalnya aku setuju dengan membiarkan jerky-taem sendirian selamanya tapi tapi… kasihan faa.. taera juga bisa jadi faa.. atau atau ah entahlah biarkan aku meratapi nasib.

    1. /gives you some antidotes/
      atau mungkin mereka bisa sama-sama nggak end up with someone? the possibility of the alter-endings will be infinity hehe.

  3. don’t. know. what. to. say.
    seriously lee taemin ._. tiap taemin ngomong yang ada kaitannya sama raena, atau tiap sungranya ada perang batin sama diri sendiri itu kenapa rasanya nyelekit banget ya, hm.. kasian sungra-nya faaa~ huhu..
    semoga nanti endingnya ngga bikin lebih angst lagi deh.. semangat deh buat sungra. hati-hati sama sikapnya taemin! hahahah~
    p.s.: selamat yang ujiannya udah selesaaai ^^

    1. sungra is destined to suffer here :3
      um… ending… um… saya galau sih. mungkin mau dibikin angst aja deh~ /kemudian digampar/
      thankseu, eonniiiii~~~~ XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s