[Double-Trouble] #23 | Messing Up

Title: Messing Up
Genre: romance
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin
Length: ~1100 words

Menemukan paket-paket kecil yang dihiasi pita-pita manis dan surat-surat tanpa nama jelas pengirim di lokernya sama sekali bukan hal baru bagi Raena. Lucu, karena ia mengira setelah orang-orang tahu Jongin kekasihnya dan ia kekasih Jongin, tidak akan ada lagi yang memberinya hadiah-hadiah gelap semacam ini.

“Pagi,” Jongin tiba-tiba menyapa, lengan merangkul bahu Raena. “Bagaimana? Banyak yang memberimu hadiah, seperti biasa?”

Raena membiarkan Jongin memainkan anak rambutnya selama ia menyingkirkan surat-surat yang membuat lokernya berantakan. Lalu berjengit geli ketika Jongin meniup sisi-sisi lehernya keras-keras. Tangannya refleks mencubit lengan laki-laki itu hingga tawa keduanya pecah dan bergaung di koridor sekolah.

“Jalan-jalan?” tawar Jongin setelah tawa mereka mereda. Raena menaikkan sebelah alis, “Kita akan pergi kencan?”

“Kalau kau berpikir ini kencan, silahkan. Aku menganggapnya jalan-jalan biasa,” dan Jongin kembali tergelak ketika Raena memukuli punggungnya sambil berceloteh soal betapa Jongin tidak romantis dan soal mereka belum pernah berkencan setelah menjadi pasangan. Pasangan, Raena mengulang dalam hati, menahan tawa geli karena ada sesuatu yang membuat perutnya terasa aneh tiap mengucapkannya.

Ketika Raena memeluk lengan Jongin saat mereka berjalan menuju kelas Raena, Jongin seperti kehilangan kemampuan bernapasnya. Raena tertawa tak habis-habis dan menceritakannya berulang kali ke Sungra yang kemudian akan menatapnya dengan tatapan melecehkan. Jongin hanya bisa mencibir –kadang ia merasa seperti menghadapi dua orang yang berbeda seratus delapan puluh derajat dalam satu sosok mungil Kim Raena, dan ia selalu heran bagaimana ia bisa bertahan hidup hingga saat ini.

—–

“Jongin, kau bisa menjemputku sekarang?”

Jongin mengerutkan kening. Ia masih harus mengerjakan tugas kelompok dengan teman-temannya dan mereka baru saja akan mulai. “Sekarang?” tanyanya balik tanpa mempedulikan celaan teman kelompoknya. Jongdae bahkan sudah mulai menyanyi-nyanyi tak jelas –“Kim Jongdae, tidak ada yang menikah!” Jongin berteriak-setengah-berbisik sambil menutupi mikrofon ponselnya ketika nyanyian Jongdae makin melengking.

“Sekarang, Jongin~ ya? Ya? Ya? Kau bisa, kan?” Raena lalu menyebutkan nama sebuah pusat perbelanjaan, membuat Jongin melenguh kesal karena jaraknya jauh sekali dari rumah. Tidak. Positif tidak bisa. “Ayolah, Jongin~ aku sendirian, Sungra tidak mau ikut waktu kuajak tadi, jadi—”

“Aku tidak bisa, maaf,” Jongin memotong ucapan Raena cepat-cepat sebelum ia kehilangan kendali diri dan mengiyakan semua permintaan gadis itu. “Ada tugas yang harus dikumpulkan besok. Lagipula, mobilku sedang dipinjam Taemin. Hari ini… kau pulang sendiri dulu, ya? Tidak apa-apa, kan?”

“Jongiiiiiin~” laki-laki itu menjauhkan speaker ponselnya dari telinga begitu Raena merajuk. Ia sudah memutuskan tidak akan menuruti keinginan gadis itu kali ini. “Raena, aku, tidak, bisa, menjemputmu, hari, ini. Maaf. Bagaimana kalau nanti malam kita pergi— sial.” umpat Jongin ketika Raena memutuskan sambungan telepon. Jongdae berhenti berteriak-campur-bernyanyi begitu Minseok menyikutnya, dan Kyungsoo memberi Jongin tatapan iba sambil menepuk-nepuk pundaknya. Jongin mengangkat bahu, “Sudahlah, berhenti menatapku seperti itu. Ada hal penting lain yang harus kita selesaikan.”

—–

Air sudah terlanjur menggenang di jalanan saat Raena melongok keluar dari pintu lobi dengan tangan menenteng beberapa shopping bag. Ia mengerucutkan bibir, teringat pembicaraannya dengan Jongin di telepon. Bagaimana bisa Jongin tega membiarkannya pulang sendirian, hujan-hujan begini? Apa Jongin tidak tahu kalau taksi sebenarnya lintah yang menghisap uang dari dompet perlahan-lahan? Bisa-bisa uangnya yang tersisa tidak cukup untuk membayar ongkos perjalanan ke rumah. Dan memangnya Jongin tidak bisa mengira kalau Raena akan membawa banyak belanjaan, sehingga otomatis tidak bisa pulang dengan bus kota? Ia harusnya bisa membayangkan bagaimana repotnya membawa kantung-kantung belanja yang ukurannya terlalu besar bila dibandingkan dengan isinya di bus kota yang penuh sesak. Jangan lupakan juga fakta bahwa sekarang sedang hujan –semua transportasi umum pasti dipadati penumpang. Stasiun kereta bawah tanah terlalu jauh dari sini –tetap saja dia basah kuyup ketika mencapai tempat itu.

Raena menghembuskan napas keras-keras hingga menimbulkan suara dengusan. Gadis itu tak peduli akan tatapan orang yang menganggap ia tak pantas berbuat demikian. Yang penting baginya sekarang hanya bagaimana ia bisa pulang dengan selamat, bukan harga diri. Toh ia juga tidak akan bertemu dengan orang-orang itu.

Ia refleks menoleh ketika seseorang menepuk bahunya –Taemin. Laki-laki itu mengulas senyum lebar hingga bulan sabit terbentuk di matanya. “Sendirian?” tanya Taemin kemudian, setelah beberapa saat dihabiskan dengan Raena yang terdiam karena tak tahu harus bersikap seperti apa. Raena mengusap tengkuknya canggung, “Bisa dibilang begitu. Kau? Baru selesai kencan?”

Taemin terkekeh, tangannya tiba-tiba saja sudah mengambil alih sebagian belanjaan Raena yang –sekali lagi– terlalu kaget untuk bereaksi. “Kata siapa?” kekehannya belum hilang, “Aku baru saja ke toko buku, sendirian, bukannya pergi berkencan atau apa. Kutebak kau sudah akan pulang, benar?” tanyanya, sekali ini memutar langkah masuk kembali ke gedung pusat perbelanjaan, membuat Raena mengekor tanpa sadar. Baru ketika mereka mencapai tempat parkir basement Raena tersadar, “Kau akan membawaku ke mana?”

“Mengantarmu pulang, tentu saja.” Taemin memutar bola matanya, tangannya merogoh saku jaket hingga ia menemukan kunci kontak mobil. “Kebetulan aku ke sini dengan mobil Jongin, jadi kau tidak akan kehujanan. Bagaimana? Kau akan menolak diantar pulang setelah ini?”

Raena menggeleng –memangnya ia punya pilihan lain? Ia membiarkan Taemin membukakan pintu untuknya, juga meletakkan barang-barang belanjaannya di bagasi. Kabin mobil yang biasanya berbau parfum Jongin sedikit berbeda, mungkin karena Taemin memakai parfum yang tak sama dengan kembarannya. Ketika di tengah perjalanan Raena mengulurkan sebelah tangan untuk memberi Jongin cubitan di pipi yang biasa ia lakukan secara random, Taemin ganti menjadi korbannya –yang kemudian menampakkan cengiran gembira saat Raena berkali-kali meminta maaf akan kebiasaannya.

—–

“Kau apa?” Jongin mengulang pertanyaannya setelah ia berhasil mengatur napas yang sempat tersengal karena tersedak jus apel. Raena menepuk punggung Jongin pelan, “Kemarin aku pulang dengan Taemin, Jongin –jangan tersedak lagi!” pekik gadis itu histeris ketika melihat wajah Jongin kembali memerah. Laki-laki itu menggelengkan kepala seolah berusaha meyakinkan Raena kalau ia baik-baik saja, tapi batuk-batuk anarkisnya sama sekali tidak menyatakan demikian.

“Kenapa kau pulang dengannya?” Jongin kembali bertanya setelah ia berhasil meredakan batuknya. “Tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan kemarin, katanya dia baru saja pergi ke toko buku, lalu dia menawariku pulang. Dengan mobilmu. Memangnya kenapa?” Raena menjawab ringan, tangannya tak henti mengambil potongan kentang goreng yang tinggal tersisa setengah piring. Jongin menatap Raena, berusaha menyiratkan kau-bercanda-apa-kau-tidak-tahu-kalau-itu-masalah-besar, tapi sinar polos mata Raena yang menjelaskan kalau gadis itu tak paham membuat Jongin terpaksa menahan kesabarannya lagi. “Kenapa, kau, harus, pulang, dengan, Taemin?” ulangnya. Raena mengedipkan mata bingung, “Memangnya tidak boleh?”

“Tapi dia—sudahlah.” Jongin menggelengkan kepala, perlahan mengulurkan tangan dan merangkul Raena sekaligus menarik gadis itu mendekat padanya. Raena tersenyum lebar, ganti menyuapkan potongan kentang goreng pada Jongin yang masih mengerutkan kening, entah memikirkan apa.

“Tunggu, tunggu,” laki-laki itu menahan tangan Raena,  “Jangan bilang kau mencubit pipinya seperti yang biasa kau lakukan padaku.” dan demi melihat Raena tersenyum bersalah sambil membentuk huruf ‘V’ dengan tangan kanannya, Jongin kembali mengurut pelipisnya, tak mengerti harus bersikap seperti apa pada Raena. Bukan salah kekasihnya, ia tahu. Apa mungkin ia harus menghabisi Taemin sesampainya di rumah nanti?

Advertisements

6 thoughts on “[Double-Trouble] #23 | Messing Up”

    1. all thanks to office antics, the image of Jongdae as a member of trolling troop is something i couldn’t get out of my mind~
      jangan lupa kalau kita berniat mencampurkan sianida. eh, mungkin untuk episode selanjutnya?

  1. kim jongdae trolling everywhere bener dah~
    oke, oke cukstaw raena kalo udah ngerajuk gimana, haha, dan itu taem kayanya lagi lucky pas minjem mobil jongin ketemu raena, atau emang udah direncanain :s hahaha..
    there you go, boy, habisin sana kakak kembaranmu >:)

    1. he is. X3
      raena ngerajuknya ngalah-ngalahin tao kalau udah bbuing-bbuing ke kris. serius.
      dia lagi beruntung aja pas itu, yah… beruntung. iya, beruntung. /puk-puk jongin
      and i’ll be watching from afar! wanna join me? :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s