[Double-Trouble] #24 | The So-Called Coincidence(s)

Title: The So-Called Coincidence(s)
Genre: I don’t know, okay.
Rating: PG-13
Character: Lee Taemin, Kim Jongin, OCs
Length: ~1000 words

Hujan deras turun ketika seluruh kegiatan klub selesai. Belum sempat Raena menyumpahi payungnya yang tertinggal, Taemin sudah menyodorkan payung lain ketika laki-laki itu melintas depannya, lengkap dengan ulasan senyum yang, kalau saja ada gadis-gadis lain di sekitar Raena, akan membuat mereka memekik histeris sekaligus menyumpahi Raena dalam hati karena ‘anak itu beruntung karena Taemin oppa meminjamkan payung dan tersenyum padanya.’.

Raena mendaftar kelas tutorial matematika yang disediakan sekolah. Keesokan harinya, ia bertemu Taemin yang menampakkan cengiran lebar di seberang meja perpustakaan tempat ia duduk, dan Jongin yang mengawasi mereka dari meja sebelah dengan mata setajam serigala –atau mungkin elang?– sedang mengincar mangsa, sembilan puluh persen melupakan partner tutorial yang ia biarkan kebingungan dengan tumpukan soal.

Jongin sibuk dengan klub matematika yang akan mengikuti olimpiade dalam waktu dekat. Sungra sibuk oleh alasan yang sama. Tidak ada yang bisa menemaninya menonton film-film terbaru, tapi kemudian Taemin muncul di depan rumahnya dengan berlembar-lembar tiket bioskop untuk berbagai judul film dan ajakan menonton.

—–

Jongin bukannya sibuk dengan klub matematika hingga menolak ajakan Raena menonton. Oke, memang mereka akan menghadapi olimpiade, tapi tidak sesibuk itu sampai seolah-olah anggota klub tak punya waktu luang (lagipula si ketua klub, Baekhyun –Baekhyun sunbae, begitu anak-anak angkatan Jongin dan Sungra memanggilnya–, justru menyuruh anak buahnya banyak-banyak melakukan refreshing sebelum perlombaan). Hanya saja ia sudah terlanjur mengendus gelagat mencurigakan Taemin dan sedang menjalankan misi penyelidikan dengan Sungra sebagai Dr. Watson versinya.

“Apa masalah utamanya, kalau benar ada?” tanya Sungra setelah kuapan kesekian selama Jongin bercerita panjang soal dugaan Taemin memaksa orang yang mengatur jadwal tutorial supaya bisa berpasangan dengan Raena. Jongin sangat yakin karena pasangan-pasangan ditentukan lewat urutan nama tutor dan urutan pendaftaran peserta. Ia tahu persis Raena seharusnya berpasangan dengannya –bahkan Jongin yang memaksanya mendaftar saat itu. Jongin juga tak ingat kalau Taemin pernah mengajukan diri sebagai tutor. Jadi, “Ada konspirasi di balik semua ini dan aku akan membongkarnya.” katanya, dengan nada yang bisa disebut kelewat bersemangat.

“Ya Tuhan, Jongin, ini hanya masalah tutorial.” Sungra memotong sambil menyandarkan punggung di kursi dan menghela napas. Jongin menanggapinya seolah-olah ini masalah yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Kudeta, misalnya. Atau Jongin adalah Batman yang akan menyelamatkan Gotham City dari Joker, dan sekarang sedang mendiskusikan strategi dengan Alfred. Tapi Sungra tak mau disamakan dengan kakek-kakek butler­ yang jago berkelahi –sudahlah.

“Tidak! Masih ada masalah lain!” laki-laki itu memukulkan telapak tangannya ke permukaan meja –hal yang ia sesali kemudian. Sambil meringis, Jongin kembali buka mulut, “Taemin meminjami Raena payung beberapa hari yang lalu –jangan tertawa! Hei!”

Jangan salahkan Sungra kalau tawanya meledak, “Memangnya apa yang salah dengan Taemin meminjami Raena payung? Aku bisa saja melakukan hal yang sama padamu dan kupikir Raena tak akan sampai securiga ini,” katanya di sela-sela tawa. Wajah Jongin makin berkerut, “Karena Taemin yang meminjamkannya, makanya ini menjadi masalah!”

“Ini menggelikan. Kau berlebihan.” Sungra menukas. Jongin mendengus, “Apa kemarin Raena mengajakmu pergi menonton film?”

Sungra mengangguk, tak paham hubungan kata-kata Jongin sebelumnya dengan fakta Raena mengajaknya pergi ke bioskop. “Memangnya ada apa?”

“Kau menolak ajakannya, kan? Aku juga. Dan, kau tahu? Semalam Taemin mengajak Raena pergi menonton film dengannya. Tiga judul sekaligus. Kalau sudah begitu, apa aku masih berlebihan?”

Jongin menarik ujung-ujung bibirnya hingga membentuk senyum sinis ketika rahang bawah Sungra terbuka ke bawah seperti hampir lepas engsel-engselnya. “Yah, mengagetkan, aku tahu,” laki-laki itu berujar pelan, kata-katanya seperti dibalut getir.

—–

Setidaknya ada satu hal yang bisa Sungra dapatkan dari cerita-cerita Jongin. Taemin sudah bergerak dengan caranya sendiri, yang berarti ia tak perlu memusingkan perihal bagaimana-mendekatkan-Taemin-dengan-Raena atau semacamnya. Dan ia bisa mengurangi frekuensi berbicara dengan Taemin, sekaligus menghindari harus mendengarkan ceracauan laki-laki itu tentang Raena. Ketika ia awalnya berpikir akan bisa terhindar dari sakit hati berkepanjangan, nyatanya tidak –cerita Jongin yang mendetail kadang membuatnya merasa mengalaminya sendiri, melihatnya dengan mata kepala sendiri. Aneh membayangkan dirinya yang tak punya hubungan apa-apa merasa sakit hati, karena seharusnya Jongin yang merasa demikian. Seharusnya Jongin yang ingin membunuh Taemin, bukannya Sungra yang ingin menguliti Raena hidup-hidup. Sungra tahu itu bukan salah Raena –tapi tetap saja, kenapa Raena tidak berusaha menolak ketika Taemin mengajaknya pergi?

—–

“Jongin?”

“Ya? Ada apa?”

“Kau ingat café yang kemarin kita lewati? Café itu hari ini buka, ada diskon khusus juga, bagaimana kalau kita pergi ke sana?”

“Um… bagaimana kalau besok? Hari ini aku harus pergi hampir seharian penuh, Rae. Kau ingat, kan, kalau hari ini ada olimpiade?”

“…oh. Oh, ya. Maaf, aku lupa, haha. Sungra juga ikut, kan? Semoga berhasil, kalian berdua.”

“Kalau aku menang, aku akan membelikan apapun yang kau inginkan di café itu, oke?”

Raena menutup telepon tanpa menjawab perkataan Jongin, menoleh pada Taemin yang melontarkan tatapan lihat-kubilang-juga-apa padanya. Kemudian, di tengah perjalanan menuju café, Taemin berceloteh panjang-lebar soal bagaimana Jongin begitu sibuk hingga tak sempat meluangkan waktu untuk Raena, sementara Raena menendangi kerikil di trotoar tanpa berkata apa-apa.

—–

“Dia pergi dengan Taemin lagi.”

“Lalu?”

“Aku harus ke sana sekarang.”

“Jangan bercanda. Acaranya saja belum dimulai.”

“Tapi aku harus menyelamatkan Raena dari Taemin!”

“Ada beberapa hal yang akan segera mengembalikan akal sehatmu. Pertama, Taemin tidak akan mencelakai Raena. Kedua, kalau kau kabur sekarang, Baekhyun sunbae akan menghabisimu nanti. Ketiga, begitu kau sampai di café itu, mungkin mereka sudah pulang. Sekarang, tolong kembali duduk diam dan tenang.” Sungra mengetukkan punggung bukunya ke dahi Jongin. “Selain itu, memangnya kau tahu dari mana kalau Raena pergi ke sana dengan Taemin?”

“Dari Lu Han sunbae. Dia, kan, bekerja part-time di café itu.” Jongin melambaikan ponsel dengan pesan singkat dari Lu Han yang terpampang di layarnya. Sungra menatapnya dengan tatapan sinis, “Ternyata kau lebih menyeramkan dari yang kukira.”

—–

Sambil berbaring di tempat tidurnya, Raena memutar ulang kejadian-kejadian yang terjadi padanya hari ini. Ulangan kimia yang sangat sulit, pelajaran Bahasa Inggris kosong, tutorial matematika dengan Taemin, singgah ke ruang klub matematika untuk menyemangati Jongin dan Sungra, berjalan kaki dengan Taemin ke café, makan di café –Raena harus mengingat kalau chocolate cake yang ia makan tadi sangat enak–, Taemin yang mengantarnya pulang, Taemin yang mencium pipinya di depan pintu rumah…

Tunggu, harusnya wajah Raena tidak menghangat karena itu. Harusnya ia tidak merasa salah tingkah. Harusnya ia tidak ingat dan tidak memikirkannya malam-malam begini. Harusnya itu tidak membuat Raena berguling-gulingan tak karuan hingga tak bisa tidur hampir semalaman… iya, kan?

Advertisements

4 thoughts on “[Double-Trouble] #24 | The So-Called Coincidence(s)”

  1. okay, it’s getting too complicated.. emang jongin harus secepetnya ngulitin taemin *kompor* hahaha.. dan ternyata jongin mengerahkan seluruh pasukan demi mata-matain rae heaaaa, ini orang lebih bahaya rupanya haha….
    oke, oke ini bagian pipi-rae-menghangat-karena-inget-taemin ini, mmm, mmmm.. sudahlah, semoga rae nggak salah jalan aja haha.. kasian itu jonginnya ;D

  2. “….mata setajam serigala.” oh YES! dan imaji jongin mukul meja membuat saya ngakak karena kemudian saya teringat hal lain *abaikan
    siapkan sianida anda karena kita bergerak ke tahap 2 dalam operasi murdering a boy named taemin.

    1. yeah! wolf! tunggu, apa ini ada hubungannya dengan kata-kata Demi Tuhan? *eh
      i’ll fetch the banana milk from the supermarket~ and maybe convincing jjong to give the poisoned milk to taemin. 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s