[Ficlet] Canines

Title: Canines
Genre: supernatural (yay), friendship
Rating: PG-13
Character: Oh Sehun, Lu Han
Length: 1070 words

Darah. Darah segar.

Sehun menarik napas. Wangi darah dan daging segar segera memenuhi rongga hidungnya, menggelitik ujung-ujung perasa di sana. Taringnya meruncing, iris matanya memancarkan binar semerah darah sementara ia nyalang menatap ke sekeliling seperti serigala yang sedang mengintai mangsa tak beruntung. Geraman peringatan mulai terdengar dari pangkal tenggorokannya ketika ia melihat seorang gadis muda berjalan sendirian di seberang jalan. Rasa daging gadis-gadis muda memang enak; lembut, aromanya menyenangkan, dan mereka tak banyak melawan ketika diserang. Sama sekali tidak merepotkan seperti laki-laki dewasa. Sehun lapar sekali, dan ia harus mendapatkan mangsanya—

“Sehun, berhenti.” sentak suara lembut tapi tegas dari pria yang berdiri di sebelahnya. Meski kelihatan jauh lebih mungil dan lemah, jemari pria itu gesit melingkari pergelangan tangan Sehun dalam sebuah genggaman kuat. “Kita sudah membicarakan ini, kan? Tidak ada daging manusia lagi.”

Geraman pelan Sehun terdengar seperti rengekan ketika ia berusaha melepaskan tangannya dari si pria kecil. “Tapi, Lu Han—“

Lu Han menyentuhkan telapak tangannya yang bebas di lengan terbuka Sehun, mengusapnya pelan dengan gerakan menenangkan. “Bagaimana kalau kita pulang dan makan di rumah? Kemarin aku membeli daging untukmu. Kau ingin makan daging matang atau daging merah segar?” katanya kemudian, kata-kata yang meluncur dari mulutnya membujuk seperti dibaluri madu dan gula palem. Ia mendesah lega ketika melihat manik mata Sehun kembali ke warna asalnya, cokelat seperti kacang hazelnut.

“Ada daging? Di rumah?” Lu Han hampir-hampir tak bisa menahan tawa ketika Sehun bertanya dengan mimik wajah seperti anak kecil yang berhasil dibujuk oleh iming-iming mainan. Bila Sehun benar-benar memiliki telinga dan ekor berbulu seperti serigala, atau anjing, dia pasti sudah mengibaskan ekor dan menggerak-gerakkan telinganya penuh semangat. Tapi Sehun berpenampilan senormal manusia pada umumnya –bocah remaja umur belasan akhir dengan tinggi sedikit di atas rata-rata, raut wajah dingin dengan garis-garis muka yang tajam, rambut keperakan, dan kulit putih pucat, bahkan lebih putih dari Lu Han yang sering disebut vampir oleh teman-temannya di sekolah.

Lu Han pun nyaris tertipu ketika ia pertama kali menemukan Sehun di dekat bak sampah tempat pemotongan daging, mengais sisa-sisa bangkai hewan ternak yang mulai membusuk seperti gelandangan mencari makanan di dekat restoran. Hanya saja, Sehun memakan bangkai ayam yang ia temukan mentah-mentah, dan sama sekali tak merasa jijik karenanya; dijelaskan oleh jejak merah di sekeliling mulutnya ketika ia berbalik untuk menghadap Lu Han yang memanggilnya karena penasaran. Pun Sehun masih sempat menerkam Lu Han –Lu Han sendiri tak paham kenapa Sehun tiba-tiba tak jadi memangsanya, padahal ia sudah terpojok di dekat bak sampah dan tak mungkin melarikan diri lagi. Ia hanya menawarkan akan memberi Sehun daging kambing yang baru saja ia beli bila Sehun mau melepaskannya, kemudian melongo tak percaya ketika Sehun mundur lalu ganti mengendus daging di kantung plastik dalam genggaman tangan Lu Han.

Langit sudah gelap ketika Sehun menelan potongan daging terakhir di kantung plastik. Lu Han menatapnya heran, “Kau siapa?” tanyanya kemudian, terkejut ketika tidak mendapati ketakutan dalam suaranya. Bukan hal yang wajar kalau kau hampir dimakan oleh –oh, makhluk apa sebenarnya bocah itu? Lu Han tak bisa menebak. Yang ia tahu hanya ia hampir dimakan dan diselamatkan oleh daging yang sejatinya akan ia panggang di rumah. Selamat tinggal, makan malam dengan daging panggang saus barbeque.

“Aku Sehun,” bocah itu –Sehun, menjawab ragu. “Anthró̱lýkos.” tandasnya kemudian. Lu Han mengerutkan kening, belum pernah mendengar kata itu sebelumnya. “Anthro… apa?”

Kemudian Sehun menjelaskan arti kata itu. Anthró̱lýkos, kurang-lebih berarti manusia serigala. Meski begitu, Sehun menolak disamakan dengan werewolf karena ia tak akan berubah menjadi makhluk berbulu ketika bulan purnama tiba. “Ras kami lebih tinggi dari mereka,” jelasnya dengan wajah berkerut, jelas-jelas tersinggung karena Lu Han menyamakannya dengan werewolf. Lu Han meminta maaf, Sehun masih merengut, lalu entah kenapa Lu Han menawari Sehun tinggal sementara di apartemennya sebagai permohonan maaf –ya Tuhan, permohonan maaf macam apa itu. Sampai sekarang pun Lu Han masih tak tahu mengapa ia melakukannya, padahal jelas-jelas saat itu Sehun baru saja berusaha memangsanya. Mungkin ia kasihan karena Sehun sepertinya seumuran dengan Jongin, adik kelas kesayangan Lu Han di sekolah, dan Sehun kelihatannya tak punya siapa-siapa yang akan menampungnya.

“Aku bisa saja membunuhmu karena kelaparan.” Sehun berkata, perlahan meringkuk di dekat dinding hingga ia terlihat kecil dalam balutan kaus kumal dan celana jeans yang sepertinya sudah berbulan-bulan tak dicuci, matanya menatap Lu Han seolah mengujinya lewat pandangan mata. “Dan apa kau tidak takut padaku? Aku bukan manusia biasa sepertimu. Orang-orang yang tahu identitasku akan berteriak histeris, menyumpahi, mencoba membunuhku –aku tak punya pilihan lain selain membunuh mereka. Itu bisa disebut membela diri, kan?” suara laki-laki itu makin mengecil, sekarang lebih serupa gumaman. “Kau tidak tahu tentang kasus-kasus pembunuhan yang tidak bisa diungkap polisi, karena mereka lebih terlihat seperti korban serangan hewan liar? Itu hasil pembelaan diri anthró̱lýkos, kalau kau mau tahu.”

Lu Han menelan ludah, teringat berita-berita yang ia tonton ketika sarapan sambil menonton televisi di rumah. Tapi instingnya berkata Sehun tak sebegitu berbahayanya. “Aku hanya—“

“Tak perlu merasa kasihan padaku.” Sehun menukas. “Harga diri kaumku terlalu tinggi untuk dikasihani. Sudahlah. Lebih baik kau pulang saja, Tuan…”

“Lu Han.” Lu Han berkata, tangan terulur di depan wajah Sehun. “Namaku Lu Han, dan penawaranku masih berlaku. Ada kamar kosong di apartemenku dan bukankah sia-sia kalau kita tidak memanfaatkan tempat dengan semestinya?”

Sehun menatap Lu Han skeptis, “Lu Han. Rusa. Kau tahu kalau serigala gemar memangsa rusa?”

“Kau toh tidak akan memangsaku,” balas Lu Han, “kalau ya, semestinya kau sudah melakukannya dari awal tanpa mempedulikan daging kambingku.”

Sehun tak bisa menjawab. Lu Han menariknya hingga berdiri, menyeretnya ke kompleks apartemen tempatnya tinggal, kemudian menyuruh Sehun membersihkan diri sementara ia mencarikan pakaian yang kira-kira pas di tubuh Sehun. Beruntung Sehun tahu cara memakai sabun dan sikat gigi, juga toilet duduk.

Lu Han tidak bisa tidak merasa lega ketika Sehun bercerita ia jarang memangsa manusia. Hanya kadang-kadang saja –tapi kemudian Sehun berkata itu karena ia kesulitan berburu di kota yang terlalu ramai. Lu Han mendengus, “Kalau begitu, mulai hari ini kau sama sekali tak boleh makan daging manusia.”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa membayangkan manusia sepertiku kau habisi dengan cakar dan taring.”

“Tapi makanan utamaku daging!”

“Tidak harus daging manusia, kalau begitu. Aku akan membelikanmu daging yang lain,” Lu Han mengerutkan kening, mulai berpikir ketidak-warasannya menawari Sehun tinggal bersamanya akan berdampak pada nyawa sekaligus neraca keuangannya. “Dan kau harus makan sayuran sesekali. Kudengar terlalu banyak daging menyebabkan konstipasi.”

Sehun tertawa mengejek sambil mencela sistem pencernaan manusia biasa yang lemah bila dibandingkan dengan serigala maupun segala jenis manusia serigala. Lu Han menyumpal mulutnya dengan sebutir apel.

end.

what is ending. who am i to write a good ending. okay, this sucks, i suck, everything sucks and i’m going to die because wtf SM, what did you do with EXO’s album’s price?!

about anthró̱lýkos: i made this term myself, from the Greek word ανθρώπινος (anthró̱pinos), means human, and λύκος (lýkos), means wolf. literally it’s human-wolf? i dunno okay Greek is out of my language range. all of this is thanks to Google Translate.

Advertisements

17 thoughts on “[Ficlet] Canines”

  1. hey, dude. 😀
    anthro– how to even pronounce that..
    waaaai~ kereen
    tapi sejujurnya aku gilo mbayangin ayam mentah dan daging segar dan sehun makan hal-hal itu dengan bekas merah di sekitar mulutnya. hiii

    1. hello to you too, dude~
      dunno too, i just google-translate it. comes from two greek terms. hehe. (actually it’s because lupus in latin doesn’t sound that cool…)
      no. don’t say that.
      aku juga. huah. bau amis ayam mentah aja kadang aku mual-_-

  2. wtf sehun tapi ngga makan daging ayam mentah juga kali -_-
    dan aufaaa baca kalimat ini –> Beruntung Sehun tahu cara memakai sabun dan sikat gigi, juga toilet duduk. untunglah dia ngerti. kalo engga mungkin orang itu udah main-mainan sabun sama pasta gigi dikamar mandi ckck..
    dan anthro something itu wuaaaah baru denger >< haha..
    nice one! all hail sehun-wolf XD

    1. iya, nggilani sehun–”
      makan sabun, atau makan pasta gigi? ya seenggaknya dia ngerti deh xD
      anthro-blabla itu… yah, hasil ngarang yang beneran ngarang u,u
      aaaaaa thankseuuu TwT all hail sehun-wolf (and his mickey mouse earrings)!

  3. Aku -secara tidak langsung- tahu kalo kamu cinta sama aku :* Makanya pas aku bilang hunhan langsung bikin hunhan~~~~~~~ uuuuuuuu :* that anthrolykos thing just so yuck ya tapi kalo anthrolykos seganteng Sehun sih mungkin nggak ada yang nyadar. Mungkin. Still waiting for another otp’s fic :3

  4. Idk but seems like i will read all of your friendship ffs. . “Dan kau harus makan sayuran sesekali. Kudengar terlalu banyak daging menyebabkan konstipasi.” Okay, i was laughing so hard bcs of this. Hehe good ff!

    1. OMG THANK YOU I’M SO HAPPY THERE’S SOMEONE WHO’D LIKE TO READ MY SHITS ;___;
      i’m glad you enjoyed this nonsenseeeee T____T

      thanks for reading and leaving comment, how kind of you^^

  5. Hey you!
    I like your fic..
    Ficlet, brotherhood, and a little angsty [maybe?]
    Am I greedy if I say that I want sequel? 😀
    Aww.. Sehun is so cute.. *out of topic*
    Overall, I like Hunhan’s brotherhood fic! ><

  6. Sehun tertawa mengejek sambil mencela sistem pencernaan manusia biasa yang lemah bila dibandingkan dengan serigala maupun segala jenis manusia serigala. Lu Han menyumpal mulutnya dengan sebutir apel.

    tolong, konstipasi. ga kebayang manusia serigala bisa konstipasi bakal gimana. dan gamau bayangin sih sebenernya. tapi masuk akal juga ya, kenapa manusia serigala ga konstipasi kaya manusia sih? mereka kan juga masih golongan manusia. tapi ga kebayang beneran sih kalo mereka susah bab HAHAHAHA.

    1. makanya, kalau konstipasi kan bahaya orang karnivora gitu, jarang (atau nggak pernah?) makan sayur sama buah. mungkin wujudnya manusia tapi ususnya usus serigala jadi kuat gitu deh /eh/ TERUS GIMANA DONG KALAU SUSAH BAB NANTI BUNCIT. MAKANYA MINUM LAX*NG /eh

      makasih kak udah baca yuhuyyyy~~

  7. eeeeum Hi,,, new reader here 🙂 Dewi, 97L mampir kesini karena PERSONAL FAVORITE LIST nya ka put yang keren banget itu 🙂
    daaan yeaaah aku suka cerita kamu dan anthro blablabla yang kamu ciptain itu menarik 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s