[Double-Trouble] #26 | Ego (1/2)

Title: Ego (1/2)
Genre: unidentified as usual. really, what do you expect from me anyway?
Rating: PG-13
Character: Kim Jongin, Lee Taemin, OCs
Length: ~800 words
note: i dare you to sing SHINee’s Evil and replace ‘evil’ with ego!

Sungra hampir bisa melihat egonya menari-nari dengan bujuk rayu berkekuatan penuh di beberapa waktu, seperti ketika ia sedang mengobrol dengan Raena kemudian Taemin datang dan setengah menarik Raena pergi bahkan tanpa meliriknya barang sekilas. Keinginan untuk ganti menarik lengan Taemin dan mengajaknya bicara empat mata kadang terlalu tinggi dan mengerikan bagi Sungra –mengerikan karena keinginan itu begitu kuat dan hampir tak bisa dihalangi oleh akal sehat Sungra yang masih bertahan.

Memperhatikan figur keduanya yang berlalu setelah Raena menoleh dan mengucapkan maaf tanpa suara, Sungra memutar langkah kembali ke kelas. Nafsu makannya hilang entah ke mana. Kemudian tatapannya bertemu Jongin yang terburu mengalihkan sorot mata dari pintu. Sungra tahu bahwa Jongin tahu, jadi ia memilih diam dan duduk di kursinya sambil menunggu salah seorang dari mereka muak dengan keheningan dan mulai bicara.

“Tidak jadi pergi dengan Raena?” Sungra hampir-hampir mentertawakan pertanyaan retoris Jongin, tapi ia tetap menggeleng. Jongin mengisyaratkan padanya untuk duduk, Sungra menurut, dan jadilah ia duduk di kursi di depan meja Jongin sambil memainkan keliman di ujung lengan kemejanya, tak tahu harus melakukan apa.

“Kau tidak ingin melakukan sesuatu pada Taemin?”

Sungra memiringkan kepala, berlagak tak paham. Sedikit, karena Jongin langsung menyasar topik itu begitu ia buka mulut –bukannya Sungra tak paham, sih. “Bukannya kau yang harusnya ingin melakukan sesuatu?”

“Yah…” Jongin tak melanjutkan, tapi Sungra bisa mengira-ngira kelanjutannya –apa yang ingin Jongin lakukan pada kakak kembarnya. Menghabisi Taemin termasuk salah satunya. Sedangkan Sungra benar-benar ingin menguasai teknik hipnotis untuk mencuci otak laki-laki itu dari segala hal yang berkaitan dengan Raena. Ha. Kedengaran seperti rencana yang sangat bagus.

Kemudian Sungra teringat sesuatu.

“Jongin?”

“Hmm?” gumaman malas Jongin menjawab panggilan Sungra. Gadis itu diam, berpikir sejenak sebelum menyuarakan pikirannya,

“Lalu bagaimana dengan Raena?”

Sungra tidak bermaksud menyulut pertengkaran. Sama sekali tidak. Tapi dari bagaimana rahang Jongin mengeras, ia merasa ada sesuatu yang sebenarnya ingin Jongin lakukan pada Raena, hanya laki-laki itu kelihatannya tak sampai hati. Jadi ia menyambung perkataannya dengan nada lebih pelan, “Kau sudah… mengajaknya bicara, atau semacam itu? Maksudku… oke, bukannya aku ingin kalian bertengkar atau apa, tapi dia sadar, kan, sewaktu pergi dengan Taemin?”

Jongin menggumamkan sesuatu yang tidak bisa dimengerti Sungra. “Apa?” tanya gadis itu dengan wajah bodoh. Jongin menghela napas, “Bagaimana kalau aku menghukumnya? Hukuman apa yang cocok untuknya?”

“Entah.”

“Tidak membantu.” Jongin mendengus sementara Sungra meringis, “Kau mengharapkanku membantu menghukum Raena? Salah orang, Tuan.”

Padahal sebenarnya Sungra ingin menikam Raena dengan katopris, jika ia bisa. Tapi mungkin nasibnya hanya akan jadi seperti Helen dari Troya, jadi rasanya punya sebilah belati pun tak bakal berguna bagi Sungra… seandainya ia tetap ingin menghabisi Raena.

—–

Soal bagaimana Jongin bisa menahan mulutnya hingga ia tidak bicara apa-apa dengan Raena mengenai hei-aku-tahu-kemarin-kau-pergi-dengan-kembaranku-bagaimana-kalau-kau-mengaku-sekarang, Jongin sendiri juga tak tahu kenapa. Padahal benaknya sudah tergelitik, didesak oleh ribuan pertanyaan dengan awalan mengapa, bagaimana, sejak kapan, serta mengapa harus Taemin dan mengapa kau mau pergi dengannya.

Setelah Sungra beranjak –ada urusan di ruang klub matematika, gadis itu berkilah sebelum meninggalkannya sendirian di kelas–, Jongin menghabiskan waktu istirahat makan siang dengan memain-mainkan pena dalam genggamannya, kalimat Sungra jelas di telinga. Raena sadar, sedikit-banyak menanggung kesalahan, tapi Jongin terlalu takut menghadapi fakta itu. What if –bagaimana bila, bagaimana bila Raena sebenarnya sama sekali tak keberatan dengan ajakan pergi-setengah-kencan Taemin? Bagaimana bila Taemin berhasil mempengaruhi Raena? Bagaimana bila ternyata Raena tak sepolos yang ia kira dan ia salah menilainya dari awal?

Jongin bukan pembaca keadaan yang ulung, juga bukan penebak sifat seseorang. Itu pekerjaan Sungra yang biasa menajamkan mata dan telinga bila sedang diam. Tapi tak butuh intuisi yang tajam-tajam amat demi sekedar menerka apa yang terjadi di sekelilingnya, meski akhirnya benak Jongin hanya bisa berkutat di sekitar praduga-praduga yang kosong oleh fakta.

Ketika Sungra kembali dengan beban ekstra dua buku tebal –satu untuknya dan satu untuk Jongin, dari Baekhyun untuk latihan sebelum olimpiade yang akan datang, begitu kata Sungra sambil menirukan mimik muka sang senior ketika memerintahnya ini-itu (Jongin bersumpah  ingin melihat Sungra disuruh-suruh oleh presiden klub mereka)– dan telah meletakkannya kasar di meja Jongin, menimbulkan bunyi debum nyaring, juga setelah gadis itu menghempaskan tubuh di kursi sambil mengeluhkan otot-otot lengannya  yang pegal, Jongin bicara,

“Aku ingin menangkap mereka berdua. Membekuk? Semacam itu.” katanya. Sungra menaikkan sebelah alis, “Red-handed?” tebak gadis di depannya sambil lalu.

Jongin mengangguk dan Sungra mengulang khutbahnya soal betapa otak Jongin telah dimiringkan oleh soal-soal biadab yang mereka kerjakan.

—–

Ceramah panjang yang tak perlu itu sebenarnya ada hanya untuk menutupi kekhawatiran Sungra sendiri. Menangkap basah Taemin dan Raena melakukan apa? Bila prasangka Sungra benar, pasti bukan sesuatu yang ingin ia lihat dengan matanya.

—–

Sungra benar, Jongin membatin. Kabel-kabel tertentu di otaknya pasti konslet, atau terbelit, atau malah sudah putus karena ia justru ingin memergoki Taemin dan Raena berdua dalam keadaan yang akan membuktikan tebakannya benar atau salah. Selain itu, gagasan ini tiba-tiba terasa lucu karena ia membuat semua ini terdengar seperti perselingkuhan –tunggu, bukannya memang benar?

.

so terribly sorry for the super-late update for a short part like this. i’ll blame it on EXO’s comeback because it caused me to have so many works to do (romanizing, color-coding, fixing mistakes, etc. nobody asked me to do so though). BUT HAVE YOU LISTEN TO BABY DON’T CRY BECAUSE IT’S FLOODED WITH CREYYYSSSS AND FEELLLLSSSSS every time i listen to that song, haha. i’ll also blame it to registration steps because whoever made that should die a fiery death.

but really, the main reason is i had too many ideas. it suffocates, really.

Advertisements

4 thoughts on “[Double-Trouble] #26 | Ego (1/2)”

  1. wuaaaah…. dan akhirnya aku berharap jongin bakalan team-up sama sungra buat mergokin taemin sama rae pas lagi berdua.. nah kan, sungra sekarang malah yang ngerasa gimana-gimana ke taemin kaaan… aaaaah cinta segibanyak ini lama-lama complicated.. hahaha…
    lanjutkan faaa, dan semangaaat ^^/

    1. THIS IS A PROPHECY /slapped/ jadi kayaknya aku nggak perlu ngasih spoiler karena Anda sudah berhasil menebak……….. *eh
      they’re destined to be like this :B *abaikan saja*
      siaaaap~ thankseu untuk semangat(?)nya dan komennya dan buang waktu bacanya~ 😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s