[Ficlet] Of Silver Bands and Forlorn Scars

Of Silver Bands and Forlorn Scars
Zhang Yixing (EXO), Sola (OC); romance, fantasy, angst (maybe?); PG-15; 1950 words
i read too many novels during this so-called holiday, then this happened. background taken from Night Circus by Erin Morgenstern, under some changes.

Two entities,
tied in a fierce competition,
tangled in a cursed mess of romance they were,
the crackling fire burns, burns, burns.

.

Wanita itu membungkuk dalam sebelum berbalik lalu menghilang tanpa jejak, meninggalkan penonton yang beranjak keluar dari ruangan melalui pintu yang tiba-tiba mewujud di dinding padat, angan terbalut bayangan ilusi yang terasa bagaikan sihir. Mantel hitam yang berubah menjadi sekawanan gagak, gelas pecah yang tersusun utuh kembali, latar yang berganti-ganti –langit malam, bukit hijau, pantai dan laut–, ilusionis yang hilang dan muncul tanpa suara dari satu sudut ke sudut yang lain. Tidak ada yang bicara, semua masih merasakan sedikit bagian dari jiwa mereka tertinggal di kursi-kursi panjang, atau tertahan di jemari lentik sang ilusionis. Kepala mereka berkabut, seolah-olah yang nyata telah melebur dengan yang tidak nyata hingga sulit membedakan keduanya.

Orang-orang yang baru saja keluar dari ruangan si ilusionis akan bertemu sebatang pohon, hitam seperti baru saja dibakar oleh api, tapi terasa hidup. Melakat di dahan-dahannya, di ujung-ujung rantingnya, ratusan tempat lilin dengan nyala-nyala api oranye kecil yang tiba-tiba berkedip-kedip seperti ditiup angin. Seorang pria mendekat, mengambil sebatang lilin, lalu menyulutnya sebelum meletakkan lilin itu di pangkal batang, mulut menggumamkan sebaris kalimat tanpa suara.

Ia berbalik, menjentikkan jari, dan sebutir apel karamel yang melayang di udara karena terlempar dari tangan seorang anak perlahan jatuh ke tanah.

Seperti wanita tadi, pria itu juga menghilang tanpa bekas.

Keramaian yang semula terhenti kembali mengalir, seolah tidak ada yang sadar seseorang baru saja menghentikan waktu mereka.

—–

Bekas luka berbentuk cincin tipis di pangkal jari manis Sola tidak pernah bisa ia hilangkan kendati ia telah mencoba sekuat tenaga, tak peduli sekeras apapun usahanya memusatkan pikiran untuk menyuruh jaringan-jaringan kulitnya membentuk selubung baru. Kulit merah seperti hasil terbakar matahari itu lebih keras kepala dari Sola dan keinginannya, berbeda dengan sayatan-sayatan pisau yang ia sengaja di bagian lain tubuhnya atau mekanisme rumit sebuah mesin berkarat yang ditelantarkan di dekat gudang, bahkan merpati-merpati yang terbakar api biru langit hingga menjadi sekelam jelaga.

Sola bisa memperbaiki semuanya, menghidupkan kembali semuanya –belasan merpati itu sekarang bertengger tenang di sangkar besi besar, sesekali berkuak-kuak pelan setiap salah satu dari mereka mengepakkan sayap kemudian mengganggu yang lain. Mesin aneh itu ternyata sebuah kotak musik yang harganya pasti mahal sekali, sayang pemilik lamanya tak tahu cara merawat benda itu dan membuangnya tanpa berpikir panjang. Sedangkan luka-luka di tubuh Sola selalu menghilang tanpa bekas dalam hitungan menit, kembali utuh seolah tak pernah ada yang menggores kulit porselen pembungkus raga mungil gadis itu. Pengecualian ada pada lingkaran tipis di pangkal jari manis tangan kanannya.

Bagi Sola, memperbaiki benda-benda yang telah hancur hingga menjadi debu jauh lebih mudah daripada mengobati si luka kecil sialan. Bukannya bekas itu mengganggu –Sola, toh, bisa menyembunyikannya dengan cincin atau sarung tangan–, tapi ia mengingatkannya pada sesuatu yang benar-benar tidak ingin Sola ingat, sekaligus pada sesuatu yang ingin gadis itu kenang selamanya.

—–

Bekas serupa tercetak jelas di jari manis Yixing, diliputi manipulasi yang dilakukan laki-laki itu untuk mempengaruhi orang lain agar tak bisa melihatnya.

Sola hanya tersenyum tipis saat Yixing menghapus ilusi yang menutupi jejak kemerahan itu demi menunjukkannya pada Sola, sementara laki-laki itu mengawasi ekspresi gadis di depannya dengan saksama. “Jadi?” cetusnya kemudian, dan langsung menyesal telah bertanya karena Sola tak menjawab apa-apa selain, “Aku tidak pernah menyangka aku harus melawanmu.”, bahkan tanpa tanda-tanda kekagetan di suaranya. Gadis itu justru menarik ujung-ujung bibirnya, mengulas senyum yang telah dilatih untuk melenakan orang lain –dan terbukti berhasil, karena Yixing kehilangan kendali diri sejenak dan tidak bisa bergerak hingga gadis itu menghilang dalam satu kelepak ekor gaun, menyisakan kilasan imaji gurat bibir yang diukir paksa pada benaknya.

Bagaikan ilusi. Yixing mentertawakan ironi pekat yang menjebaknya saat sadar senyum Sola membekas terlalu dalam di kepalanya, mustahil dihilangkan.

—–

Seharusnya respons Sola tidak setenang itu.

Kali ini Yixing bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang diuntungkan setelah Sola mengetahui siapa lawannya. Secara teori,  ia berada di posisi yang lebih baik karena jauh lebih dulu mengetahui siapa yang telah terikat padanya dan permainan sialan ini. Melihat reaksi Sola yang biasa saja, sepertinya gadis yang berada di atas angin, berbeda dengan Yixing yang tiba-tiba seolah limbung tanpa alasan yang jelas.

Menyadari mereka telah saling menguak identitas masing-masing membuat kompetisi ini makin sulit sekaligus mudah; setidaknya bagi Yixing. Sulit, sebab jalinan jaring-jaring pamer-kemampuan Sola semakin rumit, mudah lantaran Yixing merasa lebih mampu membuat rancang bangun trik-triknya bila garis bibir Sola terbayang di benaknya. Senyum singkatnya menyenangkan seperti air es yang mengaliri tenggorokan kering, tapi juga seberbahaya racun yang mematikan–toh Yixing tak keberatan dibunuh oleh senyum Sola. Setidaknya itu cara menuju ajal yang cukup menyenangkan.

Ketika mereka berpapasan di lorong, Yixing tahu semestinya ia memikirkan cara mengalahkan Sola, bukannya berpikir untuk menculik gadis itu dan menghabiskan waktu berdua dengannya, atau mencuri satu kecupan dari bibir yang seringai manisnya diam-diam telah menguasai alam bawah sadar Yixing tanpa pria itu bisa melawan.

—–

“Kau tahu,” Sola memulai pembicaraan suatu malam, setelah mereka menyelinap keluar dari tempat pertunjukan untuk bertemu di kafe terdekat. Rendezvous, Yixing sempat berkelakar di kali ketiga mereka kabur seperti anak-anak sekolah berasrama yang pergi setelah lewat jam malam, tapi Sola menanggapinya dengan kibasan tangan seolah omongan Yixing hanya angin lalu.

Sebelah alis Yixing terangkat, gestur khasnya tiap ia ingin tahu lanjutan pembicaraan seseorang, sekaligus meminta yang bersangkutan melanjutkan omongan. Maka Sola kembali membuka mulut, “Aku sudah tahu bagaimana permainan ini akan berakhir. Ralat, apa yang harus terjadi agar permainan ini berakhir.”

—–

“Kau tidak boleh melakukan ini. Kalian bahkan harusnya tidak saling mengenal.” mentornya sudah berkali-kali mengoceh tentang hal yang sama ke Yixing.

Yixing menolak mendengarkan. Ia lebih suka merancang trik berikutnya, sesuatu yang bisa mengalahkan ilusi-ilusi Sola. Atau sesuatu yang bisa membentuk sinergi dengan karya terbaru gadis itu –Ruang Kenangan yang bisa menelisik memori seseorang hingga ke detil terkecil yang bisa jadi sudah dilupakan dan menayangkannya kembali dengan lengkap. Mungkin Yixing bisa menambahkan sedikit rangsang spasial agar semuanya terasa lebih nyata?

“Jangan katakan padaku kau akan berkolaborasi dengannya.” kata mentornya lagi. “Dan ingat, kau tidak bisa memanipulasi pikiranku seperti yang kau lakukan pada orang lain.”

Yixing menggumamkan sesuatu tentang angin dan tiba-tiba pintu flat kecilnya terbuka dengan suara bantingan keras, diikuti deru angin sekuat badai yang mendorong pria bersetelan itu keluar dari ruangan Yixing, dari suaka kecilnya, dan menutup pintu itu lagi dalam satu sentakan tepat ketika Yixing menyelesaikan sketsanya.

—–

“Aku bertemu dengan peserta sebelumnya. Peserta sebelum kita,” gadis itu menjeda bicaranya dengan menyesap kopi dari cangkir. “Pertarungan mereka berlangsung hampir sembilan puluh tahun.”

Yixing tak terkejut. Miliknya dan Sola sendiri sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun dan masih belum ada tanda-tanda akan selesai, belum ada pernyataan siapa yang menjadi pemenang. Dia tak akan heran bila ternyata setelah lewat setengah abad pun titik akhir permainan ini belum terlihat. “Kemudian? Tidak mungkin, kan, kalau kau hanya mengobrol soal durasi–”

“Kami membicarakan banyak hal, termasuk bagaimana mereka akhirnya menyelesaikan duel itu.”

Ini yang telah Yixing tunggu sejak ia diikat paksa oleh cincin aneh yang membakar sebuah tanda di jemarinya. Ia telah mendapatkan sendiri jawaban pertanyaan-pertanyaan yang mentornya menolak menjelaskan –mekanisme permainan, identitas lawannya, arena pertarungan–, tapi tidak dengan yang satu ini. “Lalu, bagaimana akhirnya? Apa yang harus kita lakukan agar semua ini berakhir dan aku bisa memilikimu?”

Buku-buku jari Sola memutih seiring genggaman tangannya pada pegangan cangkir mengencang. Ketika darah seolah mengalir keluar dari wajah Sola, barulah Yixing merasakan sesuatu yang tak beres, entah di mana. Mungkin di kata-kata yang tertahan di pangkal tenggorokan Sola, atau tercampur dalam udara di sekitar mereka. Yang manapun itu, Yixing yakin ia tak akan menyukainya.

—–

“Dia lawanmu.”

“Aku tahu.” Sola bergumam tanpa mengangkat wajah dari kertas-kertas yang sedang ia tekuri. Cetak biru rancangan-rancangan yang dipinjamkan Yixing padanya, termasuk Pohon Harapan yang tiba-tiba muncul di depan ruangannya. Sola menyukainya, mengagumi ide Yixing untuk melibatkan pikiran orang-orang di sekitar mereka. Laki-laki itu berkata, “Harapan orang-orang bisa membantu, menjadi semacam tenaga tambahan. Mungkin belum cukup untuk mengalahkanmu, tapi setidaknya kita imbang sekarang.”

Yixing mengatakannya dengan santai, seolah-olah membongkar rahasia taktikmu pada lawan adalah hal biasa. Memang sulit menganggapnya lawan ketika Yixing menatapnya dari balik manik mata cokelat tua yang mengingatkan Sola akan kopi pahit, serta lesung pipit kecil yang menyelinap ke pipi pria itu ketika ia tersenyum.

“Sola,” bayangan di sudut ruangan berdenyar ketika ia mendekat ke sumber cahaya, menampilkan sosok transparan dari seorang laki-laki bertopi tinggi dan berjanggut panjang lancip. “Sola, Sola. Kau telah salah melangkah.”

“Apa yang salah? Aku sudah melakukan semua yang kau perintahkan. Mengikuti permainan ini. Mengerjakan trik-trik sesuai petunjuk. Aku–”

“–harusnya tidak berpikir untuk bekerja sama dengannya.” kata bayangan itu. Sola mendengus, mengibaskan tangan dan api lilin seketika padam. Tidak ada cahaya, tidak ada bayangan, dan meski ia tak bisa bekerja, setidaknya Sola bisa lepas dari gangguan bayangan menyebalkan instrukturnya.

“Hei, nak, jangan kira kau bisa mengusirku dengan hanya memadamkan api.”

Sola menggeram pelan ketika cahaya lilin kembali menerangi ruangan. Sosok pria tadi masih mewujud di sebelahnya, melayang-layang seperti hantu, tetapi bukan hantu. Matanya yang setengah transparan menatap Sola tajam, “Dan ada satu lagi yang tidak semestinya kau lakukan, nona.”

—–

“Katanya, ini bukan adu teknik. Bukan adu siapa yang lebih pintar mengolah keadaan–tunggu, itu salah satunya. Tapi, garis besar kompetisi tak masuk akal ini hanya satu,” Sola berhenti bicara, seperti sedang berusaha memberi efek ketegangan dalam kata-katanya, “Tujuannya, membuktikan cara siapa yang mampu membuat pemain mereka bertahan lebih lama. Teknik apa yang efektif karena bisa melampaui teknik yang lain, tetapi juga tidak membuat orang yang memakai teknik itu kehabisan tenaga, atau frustasi karena jenuh maupun terjebak jerat perasaan yang seharusnya tidak muncul antara dua kompetitor.”

—–

“Sekali lagi kutekankan, dia lawanmu. Dan kau… kau jatuh cinta padanya.” bayangan itu berdecak, “Ini dilarang, nona muda, dan aku tahu kau paham akan hal itu.”

Sola tidak menjawab. Lagipula, bagaimana ia bisa menjawab jika ucapan selamat malam Yixing terus-menerus terngiang di telinganya?

—–

Yixing terhenyak. Dari segala kemungkinan yang pernah ia pikirkan–”Jadi… salah satu dari kita…”

Sola mengangguk, senyum pahit menggantikan gurat ceria yang biasa ia tampilkan. “Salah satu dari kita harus mati, baru permainan ini berakhir.”

—–

Seorang ilusionis bertaruh dengan muridnya yang membangkang, menciptakan teknik baru untuk melawan gurunya sendiri. Mereka menciptakan sebuah permainan di mana murid-murid yang telah dilatih oleh mereka akan bertarung, melampaui kehebatan satu trik dengan trik lain. Pertarungan akan terus berlangsung hingga salah satu dari keduanya mati, tak peduli karena lengah lalu terbunuh maupun kelelahan atau frustasi. Bila satu kompetisi telah berakhir, mereka akan mencari petarung lain, melatihnya, mengulangi siklus yang sama hingga salah satu dari kedua orang itu menyerah.

—–

Baru kali ini Yixing melihat Sola menangis.

Gadis itu terasa rapuh dalam dekapannya, wajah terbenam di bahu Yixing lengkap dengan isakan yang sesekali terdengar. Mereka beranjak dari kafe segera setelah Sola mulai menangis dan Yixing harus menuntunnya keluar karena Sola yang sedang menangis sama sekali tidak bisa mengendalikan langkah kaki.

Laki-laki itu membiarkan pikirannya kembali ke kejadian beberapa hari sebelumnya, ketika mereka bersama-sama berjanji untuk menyudahi permainan dan menghabiskan sisa waktu berdua. Yixing ingat ia dengan sangat optimis berkata akan meminta instrukturnya menyelesaikan semua omong-kosong ini dan mengumumkan siapa pemenangnya, toh Yixing sudah tak peduli lagi ia akan menang atau kalah. Hanya Sola, Sola, Sola, dan Sola yang bisa ia ingat, dan gagasan-gagasan soal apa yang akan mereka lakukan kelak, setelah terbebas dari ikatan sialan ini.

Yang sayangnya tak akan pernah terjadi.

—–

Dua pemain terakhir mengakhiri permainan dengan cara yang berbeda. Tidak ada yang menang, tidak ada yang kalah. Salah satu dari dua penggagas pertarungan tak berwujud manusia lagi. Kompetisi berhenti. Tidak ada lagi yang bisa diteruskan, tidak ada gunanya.

Pion-pion permainan bukanlah benda tanpa perasaan. Saling melawan terlalu lama bisa menimbulkan ikatan emosi yang terlalu kuat, melemahkan hasil tempaan bertahun-tahun hingga menjadi serapuh bulu–harusnya kedua penggagas permainan bisa memahaminya.

—–

“Tidak ada yang menjelaskan pada kita apa yang akan terjadi bila kedua pihak mati… benar?”

end.

 

end note: i sincerely apologize.
Sola is Celia Bowen and Yixing is Marco Alisdair. enough said.

Advertisements

9 thoughts on “[Ficlet] Of Silver Bands and Forlorn Scars”

  1. er, wait.. jadi menurut kata-kata terakhir itu, bener ga kalo aku bilang akhirnya sola dan yixing memutuskan buat mengakhiri permainannya dengan mereka berdua mati? aahhh maaan >< you know, i expect a happy ending, but somehow, some things are better left hanging. entah mau salah satu mati, atau memang dua-duanya mati.. aakkk yang pasti i fall in love with this one :3
    *sends you flowers* xD

    1. i honestly can’t decide between those alternatives, so i think might as well just leave the ending like that. (lagipula keburu bosan lihat ini nganggur kelamaan di draft hahahaha). dan satu lagi: i really can’t write something with character death. guess i’m not that psycho (brave?) enough. 🙂
      /receives the flower /throws hateu at you/ hateu~ thanks 😄

  2. author aku datang berkunjung. hihi aku baca itu novel dann errr ini keren kok. tapi endingnya emang kurang mengerti di novel. marco jadi pohon dan celia hidup? tapi sekarang aku ngerti gara gara ff ini. huaaaa kren kok. /brb baca ulang night circus/

    1. waaaaaiiiii another reveur~
      ini ending dalam penafsiran yang udah kuubah-ubah sedikit, kok. ending sebenarnya… tunggu, kok lupa, udah lama gak baca-_- haha payah nih. seingetku both jadi kayak ayahnya celia, nggak, sih? sama-sama entity yang nggak benar-benar mewujud, cuma jadi bayangan. mungkin. endingnya, kan, sirkusnya diwariskan :B
      jadi pengen baca ulang night circus lagi. T_T
      anyway, thanks for reading~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s