[Drabble] Under the Pitchforking Rain (The Blue Umbrella’s Tip)

Under the Pitchforking Rain (The Blue Umbrella’s Tip)
606 words; no pairing; fluff. kind of.; G
warning:
lapslock. was randomly done. if you seek plot, you’ll find none.

I See Your Smile | The Blue Umbrella’s Tip

jika kau berteduh di bawah kanopi halte bus (dan masih tetap kehujanan), pemandangan apa yang bisa kau harapkan selain orang-orang yang lalu-lalang dengan payung dalam genggaman, yang sekaligus mengingatkanmu pada kebodohan karena tidak mengacuhkan ramalan cuaca dan memilih meninggalkan payung lipat di rumah gara-gara malas membawa beban ekstra?

menurutku begitu–setidaknya, jika itu bisa mendeskripsikan keadaanku sekarang. berdiri di tepian halte karena kehabisan kursi tunggu dan basah kuyup hingga ke lapisan terdalam pakaian, efek nekat berlari-lari menembus hujan deras demi mencapai halte terdekat supaya bisa pulang secepatnya. harusnya aku berlama-lama di perpustakaan karena paling tidak sistem penghangat ruangan mereka bekerja dengan baik meski tidak ada secangkir cokelat panas atau kopi yang bisa membantu menghangatkan badan. ya ampun, godaan dari satu kardus produk cokelat yang baru saja kubeli ternyata mampu membuyarkan akal sehatku hingga rela hujan-hujanan begini.

bus kelima terhitung dari saat aku mulai menunggu di sini datang; masih bukan bus jurusan menuju rumah. seolah tidak ada yang lebih buruk saja dari kedinginan saat menunggu angkutan yang tak jelas kapan datangnya. pun sepertinya hujan belum berniat berhenti, malah awan hitam kelihatan makin menumpuk di atas sana. mungkin sebentar lagi akan ada badai. mungkin aku akan terbawa badai, bila anginnya kencang sekali seperti yang terjadi beberapa pekan lalu. atau mungkin aku akan mati kedinginan di sini dan menjadi headline koran esok pagi. kelihatannya menjadi korban badai jauh lebih keren daripada mati konyol kedinginan. astaga, yang benar saja.

lewat setengah jam dan rutinitas yang sama telah berlangsung setidaknya enam kali; bus datang, lalu pergi. penumpang naik dan turun, sedangkan aku masih berdiam di pojok halte, meratapi nasib dengan kepala tertunduk demi menghindari tetesan air yang memedihkan mata. kaki lelah setengah mati dan mulai mati rasa, tapi tenaga untuk sekadar melangkah ke tempat bangku yang sempat kosong tiba-tiba menghilang bersama dengan niat mengistirahatkan tungkai sejenak. toh cepat jalanku tak sebanding dengan jangkahan terburu-buru orang-orang yang baru turun dari bus dan baru saja menjangkau tempat ini; mereka yang sama-sama berebut kursi yang jumlahnya tak sebanding dengan kapasitas halte.

tiga puluh lima menit. hujan makin deras. sosok yang berganti-ganti. rasanya seperti berada di dimensi yang berbeda linimasa dan jarum jamnya berbeda kelajuan mendetikkan waktu melihat dinamika di sekelilingku bila dibandingkan dengan stagnansi yang mengisolasiku sendirian.

empat puluh menit.

tetes hujan berhenti.

aku mendongak, mengira akan menemukan langit biru cerah atau awan putih yang menggantikan mendung, tapi justru bertatap muka dengan plastik biru gelap yang tersambung ke gagang besi hitam dan berlanjut ke gagang putih yang berada dalam genggaman… seorang pemuda tinggi berambut gelap?

pemuda itu membalas tatapanku. oh, iris cokelat tua. kemudian ia kembali memalingkan wajah, menatap jalanan yang tetap saja sesak meski deraan hujan deras begini. kontur wajahnya dingin tanpa ekspresi, dan kukira ia akan beranjak ketika halte sedikit kosong–nyatanya tidak. ia tetap berdiri di sebelahku, memayungi (apa aku terlalu percaya diri?) seolah itu bukan hal besar untuk dilakukan ke orang asing, dan–ini sedikit mengejutkan– turut meniti tangga bus nomor sebelas di belakangku ketika bus jalur keparat itu akhirnya datang.

semua kursi penuh; tidak mengherankan. sementara tanganku berusaha meraih pegangan di langit-langit bus, sudut mataku menangkap sosok pemuda tadi yang juga tak mendapat tempat. ketika ia kembali menemukan mataku, spontan aku berceletuk, “terima kasih,”

sudut bibirnya tertarik dalam sudut yang sangat, sangat kecil, hampir tak terlihat. sama-sama, begitu katanya, sebelum melanjutkan, penampilanmu membuat orang lain iba, tapi entah kenapa tidak ada yang menawarimu berteduh atau apa.

baru kali ini ada seseorang yang membuatku ingin menghajarnya sekaligus tertawa di satu waktu.

turun dari bus, tak banyak hal yang kudapatkan hari ini. hanya namanya –dari tag yang menggelantung di gagang payungnya–, sedikit rekam jejak wajahnya, dan…

tunggu, kapan ia memasukkan carikan kertas berisi angka-angka cakar ayam ini ke saku jaketku?

end.

end note: i don’t even know.

Advertisements

3 thoughts on “[Drabble] Under the Pitchforking Rain (The Blue Umbrella’s Tip)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s