[Ficlet] That Recondite Person (Or So He Says)

That Recondite Person (Or So He Says)
no pairing; fluff, slight angst (if you squint your eyes); G; 1443 words
because i miss this cliched plot and can’t find the right fic to fulfill my need. 😦 help me by recommending one or two please? oh and also this thing might trigger cavities, so.

we’ve known each other for so long,
what do you expect me not to know of you?

—–

“Kalau kau kedinginan, pakai saja jaketku,”

Tanpa basa-basi, tanganku menyambar jaket yang ia sampirkan di bahu dan memakainya. Mulutnya seketika menganga, “Hei! Kau tega padaku? Dingin begini!” gerutunya.

“Kau yang tadi bilang aku boleh mengenakan jaketmu,” apa anak ini terkena amnesia parsial atau semacamnya? Sesuatu yang lebih parah dari Anterograde Amnesia, mungkin semacam Alzheimer? Mana ada orang yang melupakan ucapan yang baru saja ia lontarkan beberapa detik yang lalu–kecuali ia menderita penyakit terminal yang mempengaruhi memori otaknya. Mungkin hantaman bola voli saat pelajaran olahraga tadi pagi telah merusak sel-sel otaknya.

“Sini, kembalikan jaketku. Apa kau tidak pernah mendengar soal basa-basi? Yang barusan itu cuma penawaran demi alasan kesopanan saja, jangan percaya diri begitu,” tangannya mulai meraih jaket yang sudah terlanjur kupakai dan aku cepat-cepat berkelit, “Udaranya dingin, bodoh. Kau tega membiarkanku menggigil sampai mati?”

“Kalau begitu, itu salah kekasihmu yang membuatmu menunggu di tengah hujan deras begini, sendirian, di kelas.” ia mengalihkan tatapan ke arah jendela, sepertinya sibuk melihat titik-titik air yang mulai terbentuk akibat tampias air hujan. “Coba kalau aku tidak lewat di lorong ini dan tidak melihatmu di dalam kelas, pasti kau akan sendirian sampai sekarang. Sudah dua jam lewat dari waktu yang kalian sepakati tapi batang hidungnya saja belum tampak. Tidak ada kabar sama sekali. Payah.”

Tentu saja ia benar.

Bersikap seolah tak mendengar ocehan bocah itu, aku berpura-pura mengecek waktu di layar ponsel sekaligus berharap ada pesan baru atau apapun itu yang menginfokan soal keberadaanya. Nihil.

Ia bangkit berdiri, kursi yang terdorong ke belakang menimbulkan derit keras disusul suara tapak-tapak kaki hingga ia kembali duduk di kursi di sebelahku. “I’ll give you fifteen more minutes, then we’ll head home if nothing happens. Understand?”

Dua puluh menit, dan aku membiarkannya menyeretku keluar dari kelas tanpa perlawanan. Bagaimana bisa melawan kalau pikiranku saja sudah tidak bisa fokus karena kedinginan, rencana kencan yang gagal, dan sama sekali tak ada kabar dari orang yang berjanji lebih dulu?

Ia tak mengusik masalah jaket hingga kami sampai di rumahku. Juga membiarkanku menghabiskan setengah bucket besar es krim oreo yang ia bawa ketika menginap akhir minggu lalu, bahkan tanpa melontarkan komentar soal betapa asupan es krim dalam jumlah tak wajar hanya akan menambah berat badan.

Menangis? Tak perlu. Sudah ada hujan di luar sana.

—–

if it was me, i won’t let you wait alone.
if it was me, i’ll be the one who waits.

—–

Lovebirds,” celanya ketika aku kembali duduk di sebelahnya, kotak kecil yang ditempeli selembar post-it biru tergeletak di pangkuan. “Apa ini? Caranya menyuapmu soal janji yang batal tempo hari?”

“Bukan menyuap, permintaan maaf.” koreksiku cepat. Ia menarik post-it hingga terlepas dari permukaan kotak dan membaca isinya, “Ah, ya. Dia minta maaf. Dan… ugh, apa dia harus menyelipkan rayuan di sini?”

Mengedikkan bahu, aku beralih membuka kotak yang masih tergeletak di pangkuan. Benar tebakanku–beberapa butir cokelat warna-warni. Semua kutawarkan padanya yang langsung melahap tiga butir sekaligus.

But you don’t even like chocolates and cheesy lines,” ucapnya di sela-sela kunyahan dan kesibukan memilih cokelat mana yang akan ia makan setelah ini.

“Tak masalah. It’s from him, anyway.” aku tertawa. Ia memutar bola matanya dengan ekspresi jijik. “Gross. Tapi… apa dia tak tahu kau benci cokelat dan hal-hal semacam ini?”

Aku menggeleng. Ia berdecak, “Jadi kekasihmu terus-menerus memberimu benda-benda yang tidak kau sukai, begitu? Gosh. You deserve better. That cheeseball doesn’t care much about you.”

“Seenaknya. He does care about me. And he’s the best thing in my life, dude.

Better than me?

Exactly.

Meanie.”

—–

i will never give you romantic letters nor chocolates,
because you’re a different romanticist who prefers oreo ice creams and caring texts,
rather than a shining silver knight atop his white horse.

—–

Bukan salahku hari ini hujan deras. Bukan salahku kalau hari ini aku enggan pulang ke rumah. Soal aku tak mau bicara dengan orang lain? Juga bukan salahku. Salah orang-orang yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan seseorang yang sedang kehilangan setengah nyawanya dan nekat menembus hujan saat orang-orang lebih memilih berteduh di dalam ruangan atau menunda pergi ke tempat tujuan hingga tumpahan air keparat ini reda. Tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan pada orang gila yang seolah tidak sadar udara di sekitarnya sangat dingin dan terus berjalan dengan wajah datar, terlihat seperti hanya berputar-putar tanpa tujuan.

Berbeda dengannya–dia selalu tahu apa yang harus dilakukan. Selalu begitu. Atau bisa dibilang paham lebih dulu tanpa aku harus bercerita lengkap. Jadi, ketika aku berdiri di depan pintu apartemennya dengan wajah kusut dan badan basah kuyup terkena hujan badai di luar sana sambil terus-menerus menekan bel hingga dipelototi tetangga sebelahnya yang luarbiasa galak, ia hanya menarikku masuk dan melingkarkan lengannya dalam satu pelukan erat, tak peduli pakaiannya yang lantas ikut basah.

“Kau mau membuat jarimu patah sekaligus terkena amukan monster sebelah atau bagaimana?” katanya, melemparkan handuk kecil ke atas kepalaku setelah aku meminjam (paksa) pakaiannya dan berganti baju. Jejak-jejak basah akibat pelukan sewaktu aku datang masih tersisa di bagian depan kemejanya saat ia ikut duduk di sofa, tanpa bicara meletakkan mug penuh cokelat panas di depanku. Uap tipis menguar dari permukaannya yang pekat dan aroma cokelat segera saja tercium. “Ada apa lagi kali ini? Dia tidak menepati janji lalu kau kehujanan karena menunggunya? Kalian bertengkar?”

We broke up.”

Daripada memasang ekspresi kaget, ia justru mengulas senyum tipis. “It’s about time, right? Dia toh tidak memperlakukanmu seperti kekasihnya. Setengah-setengah.”

Aku mengerucutkan bibir kesal–bukannya aku tidak mengapresiasi cokelat panas darinya, tapi mana ada orang yang justru tersenyum ketika temannya sedang sedih tanpa menghibur yang bersangkutan? “Kau tidak menawarkan simpati atau semacamnya padaku? Tidak ada kata-kata penghiburan?”

“Memangnya aku harus menghibur dengan cara apa?” ia balik bertanya, “Wait, why did you guys decided to end it up?”

He cheated,” aku memulai, masih berusaha mengeringkan rambut dengan handuk yang mulai lembab. Alisnya terangkat sebelah, “And who’s the other girl?”

I’m the other girl.” dengan leher tersandar dan kepala menengadah, aku meletakkan handuk hingga menutupi wajahku dari pandangan orang lain–tak ingin ekspresi wajahku ketahuan oleh orang lain. “I’m the mistress. His -supposedly- secret. Dan aku baru mengetahui itu darinya tadi. His real girlfriend doesn’t know, after all.

“Tapi kau yang mengakhirinya, kan?”

Nope. He did. He picked her over me and… blamed this problem, in which he can’t choose anyone over the other for a long time, to me, as if I’m the wrong one when actually he was the one who asked me out.”

Matanya membulat sempurna, “Wait, so he was the one in fault and you’re being blamed? Absolute jerk.”

“Hei!”

“Jangan membelanya lagi,” ia mencibir, “Predikat itu cocok untuknya. Salahnya sudah bersikap kurang ajar padamu.”

He’s not that bad!”

He is,” handuk yang menempel di wajahku tiba-tiba sudah ia ambil begitu saja dan tetap tidak ia kembalikan meski aku sudah menggapai-gapai kesal. “Dia membuatmu menunggu sesuatu yang tidak pasti, membatalkan janji seenaknya tanpa memberi kabar, tidak mau repot-repot mencari tahu apa yang kau sukai dan apa yang kau benci, menyalahkanmu untuk sesuatu yang sama sekali bukan salahmu, memperlakukanmu seperti kau tak berharga baginya. What did he do to you to make you this whipped?”

I’m not whipped,” rajukku. Ia melengos, Attached, then.” katanya tanpa emosi,

Listen, I just need to be comforted. Bukan dikuliahi semacam ini.” lalu ia kembali menarikku dalam pelukan, sebelah tangan menepuk-nepuk punggungku dalam ritme menenangkan.

A good girl like you will find someone better soon,” gumamnya.

I hope so,”

—–

rather than letting you down,
comforting you through hugs is way better.

—–

Di sela-sela credits film yang ditayangkan di televisi, ia mencondongkan badan hingga ia bisa berbisik ke telingaku tanpa terdengar orang lain–meski aku tidak mengerti mengapa ia harus melakukan itu, berhubung tak ada siapa-siapa di ruang tengah selain kami. “Hei, dengar,” begitu katanya, nada suara dibuat sok misterius agar aku tertarik mendengarkan.

“Hm?”

“Dengarkan, kecil.”

“Aku mendengarkan,” gumamku setengah tak sadar, lantaran sebelah pikiran sibuk memilih film yang akan kami tonton setelah ini. Romcom, atau mungkin thriller? Yang benar saja, nanti—

Be with me.
I’ll treat you better than any other man in this world.
Will you?

Ia seolah kehabisan napas ketika aku berbalik untuk menatapnya–wajahnya merah padam, tatapannya sebentar-sebentar beralih dari wajahku, dinding ruangan, wajahku, televisi yang berpendar biru menusuk mata, wajahku, remote televisi, dan seterusnya. “Ah, lupakan saja, tadi aku hanya meracau, benar, hanya meracau, haha–oh! Film ini bagus!”

But isn’t the answer obvious already?”

Ia menghentikan ceracau tak karuannya. Aku memalingkan wajah, ganti tak bisa menatapnya lebih lama, tapi membiarkannya menyandarkan kepalaku di bahunya dan memilih film thriller untuk ditonton setelah ini.

—–

may i jump through the barrier between us?

—–

Wait, wait, wait. What does this ‘BF’ stands for? Boyfriend? Bestfriend?

Both.

end.

end note: this mostly happened thanks to turning-BFF-into-lovers plot and not-so-subtle confessions. kind of obsessed with them, i think._.

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] That Recondite Person (Or So He Says)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s