[Indonesian-Translated] Anterograde Tomorrow (Part One: Lost and Stuck)

Title: Anterograde Tomorrow (Part One: Lost and Stuck)
Author: changdictator
Translator: leesungra
Pairing: kaisoo, broken!lukai
Rating: R
Genre: Romance, Tragedy, slight!angst
Length: three-shot (1/3)
Summary: Kyungsoo tertahan dalam jam sementara Jongin terus-menerus memohon agar detik-detik waktu tak lekas berlalu, karena waktu terhenti bagi mereka yang tak bisa mengingat dan melarikan diri dari mereka yang tak bisa tertinggal kereta terakhir menuju rumah.

translator’s note: i don’t even know.

.

Scrapbook Kyungsoo terisi wajah-wajah dan angka-angka yang membentuk tanggal, terdiri atas kolase polaroid dengan kalimat-kalimat pendek tertulis di bawahnya. Ini Zitao, pelayan baru dari China yang bekerja di hari Rabu, shift malam (6 Juni 2010); Yifan, model yang memesan Rhapsody in Blue dengan dry whiskey setiap hari Minggu (19 Desember 2009); Baekhyun di sana, tapi ia sudah pindah (6 Juli 2008). Scrapbook tersebut adalah sinopsis hidup seorang Do Kyungsoo dan orang-orang di sekitarnya: tetangga, kenalan, teman lama, orang yang baru ia kenal, disajikan dengan presisi bak sistem ketentaraan.

Mendekati halaman akhir, ada snapshot figur seseorang yang tengah membungkuk, bersandar di tembok bata, dengan satu kaki tertekuk dan lainnya menyangga beban tubuhnya. Sebatang rokok dijepit di antara jari-jari panjang nan kurus, wajah tirusnya diselimuti warna abu-abu monokromatis. Asap putih menguar dari sudut bibirnya, terdifusikan di antara rambut dan gerimis hujan menjadi kesendirian yang tak biasa.

Dua kata digoreskan di bawahnya. Tetangga, merokok.

Tercantum jelas dalam huruf kapital yang dicetak tebal di koran hari ini; 12 Juli 2012. Tapi daripada keyakinan Kyungsoo bahwa kemarin masih tanggal 24 November 2008, ada sesuatu yang lebih menarik perhatiannya–pakaian yang memenuhi seperempat bagian foto di halaman utama. Yang ia kenali sebagai kemeja favoritnya. Yang ia pakai ketika ia diberi gelar ‘pegawai minggu ini’, dengan logo Pororo yang dijahit dengan tangan dan sedikit miring, terpampang di berita utama pagi ini.

Mengabaikan isi artikel dan hanya sempat membaca judul berita sekilas–kekacauan besar di pusat kota Seoul karena hujan uang–, Kyungsoo memfokuskan perhatiannya ke foto itu. Ia yakin kemejanya-lah yang terpajang di sana, yang saat ini tengah ia pakai dari sebelum tidur hingga beranjak dari kasur dua puluh menit yang lalu. Lebih persisnya lagi, kemeja yang ia tak ingat pernah mengenakan ketika mengunjungi penthouse mewah, tempat di mana foto membingungkan itu diambil.

Menurut artikel itu, “Penulis terkenal Kim Jongin baru saja keluar dari tahanan. Ia ditahan karena melanggar peraturan publik, setelah –secara harfiah– menciptakan hujan lembaran uang senilai total ratusan ribu won dari jendela penthouse-nya di Seoul dengan motivasi yang tidak diketahui. Menyebutnya sebagaibillion-won confetti display’, ia telah menimbulkan kemacetan terparah sepanjang sejarah Kota Seoul, dengan efektif memblokir jalanan sejauh dua kilometer karena warga kota berlomba mengumpulkan uang yang ia sebarkan.”

Tapi menurut Kyungsoo, begitu ia menyurukkan koran itu pada Minseok, “Sepertinya Koran Nasional sedang rutin mengguraukan yang tidak-tidak–tapi di mana mereka menemukan kemejaku?”

Minseok memberengutkan wajah–ke artikel itu, ke Kyungsoo (dengan rengutan yang berkali-kali lipat lebih parah), kemudian ke ujung meja bar. Kyungsoo terlalu sibuk membaca ulang artikel dan mengecek foto kemejanya untuk memperhatikan reaksi Minseok, atau melihat orang berpakaian rapi yang menjadi sasaran tatapan menyalahkan Minseok, seseorang yang menyembunyikan senyum terhibur di balik gelas wiski.

Mereka pertama kali bertemu, menurut Kyungsoo, di elevator apartemen. Jumat pagi, 13 Juli, di waktu di mana dunia ini digerakkan oleh nyala lampu yang ragu-ragu, lolongan orang-orang mabuk, dan -sesekali- suara tawa keras. Hanya ada mereka berdua saat itu, ditemani sunyi yang begitu menonjol.

Baru saja kembali dari bar tempatnya bekerja, Kyungsoo berusaha menghilangkan campuran asap dan bau alkohol kuat dari rambutnya. Nada-nada sayup saxophone bersarang di antara jemarinya dan ketukan cinquillo tertinggal di bawah permukaan kulitnya, tapi tidak cukup untuk mengisi jurang antara dirinya dan si orang asing.

Orang asing itu, dengan rokok yang belum disulut di antara giginya, berbalik terlebih dahulu. Penerangan elevator yang suram meliputinya dengan warna kuning yang tidak menyenangkan dan selubung tebal rasa lesu. Kyungsoo menduga-duga, dengan ritme cinquillo masih berdentum di pembuluh darahnya, apakah kulit laki-laki itu terasa bagai plastik seperti yang ia perkirakan.

“Panas. Cuacanya. Cuacanya panas,” laki-laki itu berkata, mengulurkan tangan yang Kyungsoo raih dengan ragu-ragu. Genggamannya–cukup mengejutkan– terasa dingin. Kyungsoo berusaha tak mengamati tangan itu, tapi rasa penasaran rupanya mengalahkan determinasi diri; jari-jari panjang dan kuku dipotong pendek dan tajam, kulit kasar yang teregang kencang di buku-buku jari yang kurus.

“Um,” Kyungsoo terbata begitu ia mendapati si orang asing menatapnya dengan intensitas yang mengerikan. Jabat tangan itu tiba-tiba lebih terasa seperti penilaian terhadap dirinya daripada sebuah perkenalan mendadak. Lebih menakutkan dari ketegangan, dan lebih buruk dari kecanggungan.

Di antara derakan lantai elevator dan muntahan cahaya dari bola lampu fluorescent, suara dari mulut Kyungsoo berubah menjadi cicitan yang lebih tinggi dua oktaf dari seharusnya. “Ya. Malam ini sedikit hangat.”

Orang asing itu tak membalas ucapan Kyungsoo, justru bersandar di dinding elevator dan menatapnya, matanya bergerak naik-turun di sepanjang sosok Kyungsoo. Jenis tatapan yang membuat Kyungsoo berusaha bersembunyi di balik jaketnya, meski lapisan tipis khasmir tidak bisa berbuat banyak untuk menyamarkannya dari tatapan tajam laki-laki itu. Waktu berjalan sangat lama hingga pintu terbuka dan Kyungsoo menghembuskan napas yang ia sendiri bahkan tak sadar telah menahannya sedari tadi.

Barulah ketika Kyungsoo melangkah di koridor apartemen hingga mencapai pintunya dan menyadari bahwa si orang asing mengikutinya, ia tersadar bahwa mungkin ini bukan kali pertama mereka bertemu.

“Apa aku pernah mengenalmu?” ia akhirnya bertanya, suara bergema tak nyaman di lorong yang sepi. Si orang asing berhenti di pintu di sebelahnya, telunjuk memainkan gantungan kunci kecil. Selarik cahaya bulan menembus celah-celah susuran tangga dan memantulkan sesuatu di pakaiannya. Kyungsoo mednapati sepasang kancing manset di pergelangan tangan kemeja pria itu, berkilauan dan terlihat mahal, terlalu berkelas untuk dimiliki oleh seseorang yang tinggal di tempat seperti ini.

“Apa kau mengenalku?” orang itu balik bertanya, bibirnya perlahan mengulas seringai tipis.

Kyungsoo menarik-narik kain bagian dalam sakunya. Ia tidak ingat pernah melihat wajah orang asing itu di scrapbooknya ketika ia membacanya tadi pagi. Tapi mungkin ia telah melewatkan satu halaman–yah, itu pernah terjadi sebelumnya. Terburu-buru ia meraih tasnya dan dihentikan oleh suara tawa keras, “Jadi kau sama sekali tak bercanda soal amnesia itu.”

“Apa?”

“Menarik. Sungguh. Apa hal terakhir yang kau ingat sedang kau lakukan?” si orang asing memotong, tampak santai ketika ia menyandarkan tubuh di pintunya sambil mengamati Kyungsoo yang tengah bergumul dengan kunci apartemen.

Bahkan dalam kegelapan, sinar terhibur–selera humornya cukup sadis, sepertinya–dari cengiran laki-laki itu tampak jelas, membuatnya tampak lebih tua dari sesungguhnya–hampir bisa dibilang menyedihkan.

Kyungsoo berpikir keras, terlalu keras hingga ia melupakan jawabannya. Begitu ia berbalik untuk menatap orang asing tadi, pria itu telah lenyap.

Mereka kembali bertemu untuk pertama kalinya di tangga. Matahari Senin pagi baru saja terbit, nuansa musim panas menggantikan cahaya bulan. Kyungsoo tengah turun, langkahnya tergesa menuju pabrik tempatnya bekerja, dan laki-laki dengan sebatang rokok yang belum dinyalakan sedang meniti anak tangga ke atas. Tatapan mereka bertabrakan, dan mungkin bahu mereka saling bersentuhan, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Kyungsoo terdiam di tengah jalan.

Tapi pria itu tidak sempat menyadari Kyungsoo tengah ternganga dan menatapnya heran. Ia tetap berjalan naik, napas tersengal dan berbunyi seperti pengidap asma, wajahnya pucat dan dipenuhi bulir keringat. Kyungsoo mengamati sepasang kaki yang gemetar dan sedikit goyah tiap pria itu melangkah, seolah mereka tidak lagi bisa menahan beban berat tak kasat mata di bahu laki-laki itu. Seolah ia akan tumbang dan jatuh hanya karena tiupan kecil angin. Bagaimana punggungnya terlihat seperti akan remuk hampir-hampir membuat Kyungsoo kehabisan napas karena takjub, pakaiannya menonjolkan tulang-tulang di raga itu, sudut-sudut yang tajam dan garis tubuh kurus.

Bagi Kyungsoo, musim panas di pinggiran kota Seoul terdiri dari suara mezzo yang terdengar hingga larut malam, kotak-kotak karton dari mainan tak laku terseret di atas sabuk konveyor karet, slush kacang merah dan koran kusut ketika senja melemparkan ciuman hangat. Isi scrapbook-nya telah bertambah. Hidupnya dibuat kasar oleh catatan-catatan hitam; Zitao dan Yifan bukan lagi sekadar teman, Minseok telah menemukan nada barunya; ada orang asing yang tinggal di apartemen kosong di sebelah kirinya, dan kelihatannya mereka telah bicara sebelum ini.

Mereka terakhir kali bertemu untuk pertama kalinya ketika Kyungsoo membuka pintu rumahnya dan menemukan wajah seseorang dengan pupil mata besar yang melebar.

“Hei,” pria itu menampakkan cengiran, sebatang rokok terayun lemah dari sudut mulutnya. “Namaku Jongin. Penulis. Novelis. Aku pindah ke unit di sebelahmu minggu lalu, demi inspirasi, seni, merasakan sendiri hidup dalam kemiskinan, menghindari tekanan media massa di tempat asalku, dan sebagainya. Poin dari pembicaraan ini adalah: kita pernah bicara sebelumnya. Dua kali.”

“Oh,” jawaban-otomatis yang sudah ia lontarkan berkali-kali kembali Kyungsoo ucapkan, “Maaf–aku mengidap anterograde amnesia, oleh karena itu–”

“Kau tidak mengingatku. Aku tahu. Kau melupakan semuanya di penghujung hari, maka kau tidak akan mengingatku besok.”

Jongin mengambil langkah ke belakang, menyulut ujung rokoknya dengan sebuah zippo, menghisap rokok itu dalam satu tarikan napas panjang dan membiarkan berkas asap putih menelusup sela-sela giginya. “Omong-omong. Dengarkan. Aku harus menyerahkan draft tulisanku ke editorku–Oh Sehun–bila kau mengenalnya, kau akan tahu betapa menyebalkannya dia, tapi poin utamanya adalah: kalau aku tidak mendapatkan apapun bulan ini, ia akan mengomel seperti wanita tulen yang paling cerewet–dan, jujur, aku kehabisan ide. Tapi tidak juga. Aku punya sebuah ide menarik. Dan gagasan itu melibatkan…”

Baru ketika Kyungsoo terbatuk karena asap ia sadar ia telah berhenti bernapas selama beberapa saat, “Um, baiklah, melibatkan apa?”

“Kau,” Jongin tersenyum.

Yang mengusik dari senyuman Jongin adalah hanya mulutnya yang tertarik ke atas, sehingga yang Kyungsoo lihat adalah imaji kemeja putih mahal yang dikanji kaku dan bibir yang membentuk senyum sengsara. Penderitaan yang tak terhitung diam-diam terdapat dalam gigi yang terekspos dan mata terpicing. Adjektiva tercantik untuk mendeskripsikan jiwa yang tertelantarkan, julukan terhalus untuk hati yang tertutup

Kyungsoo menuliskannya di Polaroid sosok Jongin yang ia ambil malam itu. Dia Jongin, tetangga baru, novelis, senyum sedih (17 Juli 2012). Kami akan melakukan wawancara. Dia ingin menulis buku tentangku.

Sewaktu makan malam di hari Rabu, Kyungsoo memutuskan bahwa meski kebiasaan sehari-harinya sangat sederhana dan terus berulang, ia tak akan mengubahnya. Ingatannya tidak bisa bertahan cukup lama untuk perubahan jangka panjang dan ia toh tak akan merasa bosan gara-gara melakukan sesuatu yang ia tak ingat pernah melakukannya.

“Jadi, apa pekerjaanmu?” Jongin memotong, sebatang pena terselip di belakang telinga dan satu lagi di antara jemarinya.

Kyungsoo memulai ceritanya–ia bekerja di sebuah pabrik mainan di dekat tempat tinggalnya dari pukul sembilan pagi hingga lima sore, menempelkan mata imitasi ke boneka tokoh-tokoh kartun. Sedikit napas kepalsuan untuk mewarnai hidup. Pekerjaan itu ia lakukan demi memenuhi kebutuhan finansial, meski Kyungsoo berpikir mungkin ia sudah terbiasa dengan rekan sesama pekerja, kain halus, dan senyum ceria abadi, sehingga ia praktis akan merasa kehilangan jika tidak melakukannya. Uang yang ia dapat tidak banyak dan hanya cukup untuk membayar sewa apartemen serta kebutuhan sehari-hari. Tak apa baginya karena pukul tujuh malam akan memperbaiki semuanya. Setiap pukul tujuh, ia pergi ke bar untuk menuangkan melodi temporer langsung dari dalam jiwanya. Secara teknis, menyanyi di bar berarti dengan malu-malu mengumpulkan recehan di antara kekacauan para pemabuk, tapi bagi Kyungsoo, itu berarti membentuk kata-kata dari udara, berkas-berkas asap dan dentuman musik, mata yang tertutup dan desahan pelan yang membalut crop circle dari serbuk gergaji di permukaan karpet. Itu tentang renungan yang meluncur dari jemari lalu meliuk-liuk di sekitar kakinya. Pukul tujuh adalah sebuah gairah, sebuah hasrat. Sebuah mimpi.

Kyungsoo membiarkan dua ratus enam tulang tubuhnya rileks ketika ia menghembuskan napas, “Itu bisa dibilang tak bersemangat, mungkin. Tapi sulit merasa tak bersemangat bila kau tidak pernah benar-benar merasakan semangat itu sendiri. Merasa hidup, maksudku.”

“Oh, kau seperti mayat hidup?”

“Lebih seperti fosil hidup.”

Minseok, teman masa kecil dan rekan penyanyinya di bar, selalu bercanda tentang waktu yang telah terhenti bagi Kyungsoo sehingga dia pasti selalu hidup sebagai laki-laki berusia dua puluh tahun. Tapi itu bukan lelucon sungguhan, dan orang-orang telah berhenti mentertawakannya sejak lama.

“Yah, menurutku itu lucu,” Jongin berucap, membiarkan abu rokoknya berguguran ke gelas bir sebelum meneguknya. Kyungsoo berusaha tak menduga-duga seperti apa minuman itu terasa sekarang, nikotin dan tembakau yang tenggelam dalam gandum bersoda. Ia lebih memilih menilik isi buku catatan Jongin dan guratan tinta hitam tak terbaca yang tersebar di tepinya. Jongin menjelaskan bahwa itu data untuk buku yang sedang ia tulis. Sebuah roman tentang seorang pria yang menghapus keberadaannya di penghujung hari. Kyungsoo mempertanyakan bagian romantis dalam cerita itu. Jongin berkata tak perlu khawatir, para penulis adalah penipu ulung; bunuhlah seseorang dan bagian akhirnya akan romantis.

Mereka bertemu untuk kedua kalinya dua puluh menit yang lalu, ketika Jongin menggedor pintu rumah Kyungsoo dengan sebungkus Hite dan seruas jari menyeruak keluar di antara jemari yang berjauhan satu sama lain, “Hai, aku Jongin, tetangga barumu. Kita pernah bertemu sebelumnya–” yang membuat Kyungsoo terburu-buru mengambil bukunya dan Jongin melayangkan komentar, “Aku ada di halaman terakhir, sepertinya. Laki-laki yang mengenakan setelan.”

Kyungsoo memperhatikan foto itu, lalu mengembalikan tatapannya pada rupa Jongin, dan inilah mereka dua puluh menit kemudian: duduk di tangga darurat, memperdengarkan obrolan soal filosofi yang berat dan roman-roman sub-ideal yang tidak Kyungsoo pahami dengan baik. Buku jari dan bahu mereka sering saling terantuk, sedikit membuat Kyungsoo tak nyaman, terlebih karena Jongin kelihatan tak peduli. Faktanya, Jongin tak terlihat seperti seseorang yang peduli tentang apapun.

“Apa maksudmu? Itu… lucu?”

“Yang lebih penting, bagaimana rasanya terus-menerus hidup sebagai pria berusia dua puluh tahun?”

Kyungsoo merenung sejenak, “Baik, bagiku.”

“Bukankah itu mengerikan? Kau terperangkap dalam waktu, tapi waktu sendiri terus berjalan. Kau tidak bisa mengingat orang-orang yang datang dan pergi. Dunia di sekelilingmu menciut sementara kau tertahan di tengahnya. Teman-teman lamamu pergi, atau mungkin mati, dan kau tidak bisa memiliki teman baru. Kau tidak bisa mencintai. Sebaliknya, kau juga tidak bisa membenci.”

“Dan kenapa menurutmu itu lucu?”

“Itu sedih–terlalu sedih, hingga jadi menggelikan,” Jongin mengedikkan bahu, “Orang-orang biasanya iba pada jiwa rapuh nan menyedihkan sepertimu. Membawa beban yang jauh-lebih-besar dari hidup dengan ambisi yang jauh-lebih-kecil dari hidup. Seperti melihat seekor semut mati dengan bantuan kaca pembesar dan berteriak kegirangan di atas kesedihan karena menyaksikan semut itu mati. Ini–semua ini sangat menggelikan. Oke, maksudku, aku hidup dari mengeksploitasi kisah-kisah semacam itu, tapi itu tetap saja menggelikan.”

Jongin membalik rokoknya dan mereka menyaksikan sekumpulan abu melayang turun dari ujung rokok melalui tiga set tangga hingga mencapai lantai dasar. Angin berhembus pelan. Jongin menghisap musim panas, menghembuskan racun. Kyungsoo memainkan jemarinya di antara jari kaki dan jejak-jejak karat di tangga besi sebelum berkata, dengan penuh perhitungan, sesuatu yang ia tak yakin ingin ia katakan, “Kau kedengaran menyedihkan.”

“Semua novelis seperti itu.”

“Karena itu kau lantas menjadi perokok berat?”

Jongin menulis ‘Samaritan yang taat dan karenanya penuh rasa ingin tahu yang menyebalkan’ di bawah kolom Karakter Tokoh. Berpura-pura tak melihat, Kyungsoo menusuk-nusukkan telunjuk ke sisi tubuh Jongin hingga laki-laki itu menjawab dengan seringai timpang, “Kau tidak perlu tahu. Sekarang bagaimana kalau kita membicarakan tentang caramu supaya tetap–”

“Tidak,” Kyungsoo memotong dengan tegas. “Tidak, aku ingin tahu.”

“Dengar, buku itu tentangmu–”

“Percakapan ini tentang kita.”

Menundukkan kepalanya, Jongin menggumamkan sesuatu tentang pengganggu cerewet sebelum menyentakkan wajahnya ke atas dengan senyum kosong yang membekukan rongga perut Kyungsoo, “Oke. Tentang kita.”

“Toh besok aku tidak akan ingat apa-apa,” Kyungsoo mengingatkannya.

Mencekungkan pipinya tepat di tulang pipi hingga bias-bias oranye dari sinar matahari sore mengilang, Jongin membiarkan kata-kata membanjir darinya dengan berapi-api, “Aku akan memberitahumu apa yang membuatku jadi seseorang yang menyedihkan,” Jongin mengarahkan pandangannya ke entah apa nun di sana, dan saat itulah semuanya tiba-tiba runtuh, “Aku mengidap Idiopathic Pulmonary Fibrosis. Paru-paruku akan terisi penuh oleh lendir hingga tidak ada lagi ruang untuk udara. Aku sekarat. Itu yang membuat keadaanku menyedihkan, kau mengerti?”

Kebisingan dari pedagang di pinggir jalan dan kemacetan dan anak-anak yang tengah bermain tiba-tiba terasa sangat jauh. Kyungsoo menatap genggaman tangannya dan merasakan darah mengalir keluar dari wajahnya, “Aku–aku minta maaf–aku tidak tahu kau–”

“Dengan kata lain, Tuhan tengah mencekikku perlahan-lahan. Tiga tahun ke depan jantungku akan bengkak sebelah karena berusaha keras memompa oksigen ke seluruh tubuh. Organ-organ tubuhku akan gagal bekerja. Aku tidak akan bisa makan karena bagaimana kau bisa makan bila kau harus bernapas dengan selang? Dan kenapa aku merokok, kau bertanya? Why do I smoke. Why.”

Kyungsoo menatap buku-buku jarinya yang memucat. Ia ingin ini berakhir. Ia merasa bersalah. Ia merasa bersalah dan ia tak mengerti–tapi Jongin tidak ingin ia mengerti.

“Aku merokok supaya bisa mati lebih cepat. Aku merokok supaya ketika aku dibius di meja operasi, aku akan pergi secepatnya, bukannya perlahan-lahan.” Jongin mengangguk, membicarakan kesengsaraan dalam wujud abu-abu yang tidak berkesinambungan. “Tapi ini tidak lucu, kau tahu. Ini, secara simpel, hanyalah sesuatu yang sedih. Aku adalah bajingan paling kesusahan di planet ini. Menyedihkan, bukan?” dan jeritan tawa kering untuk menandai kemarahan monokromatisnya, “Tidak, aku hanya mengerjaimu. Itu menggelikan. Menggelikan karena hidupku dipenuhi dengan ini: kau berpikir kau tengah melarikan diri hingga kau kembali menabrak dirimu sendiri. Dua puluh tiga tahun kemudian, ternyata rute terjauh adalah jalan tercepat menuju rumah, dan aku telah berlari dalam lingkaran sejak meniup peluit start untuk diriku sendiri. Merepotkan, huh?”

Tidak ada yang tertawa, meski Jongin mendengus saat Kyungsoo menutup pembicaraan dengan gumaman, “Besok, aku akan melupakannya.”

Wawancara mereka memakan waktu hingga pukul tujuh malam. Kyungsoo tampil malam ini, seperti malam-malam lainnya, tapi kata-kata dan nada yang meluncur darinya hanya terwujud dari mulut, bukan dari hati. Yang dapat ia ingat hanyalah asap. Kepedihan bagai cairan yang merembes dari permukaan tubuh Jongin.

Ia pulang ke rumah setengah jam selepas tengah malam dan melekatkan selembar catatan di dinding, kuning cerah di tengah yang lain agar ia tak melupakannya besok: “Ambil satu mainan dari pabrik. Tinggalkan di depan pintu apartemen sebelah.”

Kyungsoo pulang dari bar dua hari kemudian dan menemukan boneka Pororo di depan pintunya. Itu mainan yang sama yang ia jahit di pabrik, dan bila ia melihat dengan lebih seksama maka ia hampir yakin bahwa ialah yang melekatkan mata boneka itu karena hanya Kyungsoo yang memakai superglue sedemikian rupa. Ada selembar kartu ucapan terima kasih di bawah Pororo yang berkata, dalam tinta hitam penuh kemarahan, “Rasa iba terasa amat mahal bila datang dari seseorang yang tak bisa peduli.”

Dia sama sekali tak tahu apa maksud kalimat itu, tapi rasa ngilu yang tiba-tiba mengenai hatinya tidak bisa tak dihiraukan. Tiba-tiba seluruh melodi dan ritme melebur menjadi kesunyian luar biasa. Lebih suram dari kekecewaan, lebih pahit dari kesendirian. Malam ini, apartemen sebelah berdengung oleh tawa ganjil yang melengking dan lebih terdengar seperti tangisan. Gabungan dari suara dan percakapan, teriakan ‘Luhan Jongin Sehun’ samar-samar di tengah dengungan pelan botol-botol scotch dan vodka yang tak kunjung habis. Sementara ia melintas untuk membuang sampah, Kyungsoo melihat bayangan tiga wajah indah di balik tirai, bias tajam sinar chandelier, bau tajam alkohol dan cologne dan kemewahan.

Apartemennya sendiri terasing di waktu seperti ini. Keremangan melahap seluruh dinding dan sudut ruangan. Ia menulis ulang semua sticky note-nya dalam tinta hijau, bukannya biru, dan hari Jumat berlalu dengan bunyi klik bisu dari gel pen pada kertas berwarna mencolok.

Meski secara teknis Kyungsoo tidak bisa mengingat apa ia pernah bertemu dengan penulis yang tengah menghisap batang rokok yang sudah pasti kali kelimapuluhnya dalam satu jam terakhir, kartu di tangannya berkata bahwa mereka telah dijadwalkan untuk melakukan wawancara berkala. Lebih dari kartu itu, ia tahu mereka telah bertemu sebelumnya. Dan pikiran itu tidak mengejutkan–sama sekali tidak–mungkin karena kabut yang tercipta oleh asap rokok telah membuat Kyungsoo kehilangan fokusnya terhadap segala hal: cangkir-cangkir kopi, jendela berembun, tepian bernoda dan compang-camping dari buku catatan si penulis; kabut itu memelankan segalanya, mengaburkan semua sinar menjadi binar dan semua sudut menjadi kurva.

Penulis itu merokok dengan terburu-buru dan Kyungsoo merasakan sensasi kekosongan yang aneh menghantuinya. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang pecah perlahan, dalam-dalam, dan tidak bisa diputar-balikkan.

Kedai kopi pada 21 Juli malam berupa kegaduhan dari cangkir-cangkir porselen yang saling beradu, dengung keluhan tak berakhir dari murid-murid sekolah yang kelelahan, krim kocok bergumam pada cappuccino. Hasil suara-suara yang bercampur itu tidak nyaring, tapi kegaduhan tersebut termasuk jenis yang bisa menyedot seseorang seperti pasir apung. Perlahan menenggelamkan mereka dan tak meninggalkan apapun kecuali ujung jari yang menggapai udara kosong dan gelembung udara di permukaan.

Kyungsoo bertanya-tanya apakah semua penulis terlihat seperti ini, dengan lingkaran hitam mengelilingi matanya dan wajah seolah terbentuk dari campuran warna putih dan kuning dengan alis yang sesekali berkedut. Pertanyaan itu seketika runtuh ketika si penulis meregangkan badan dan menangkap tatapan Kyungsoo. Durasi panjang mereka habiskan untuk saling menatap satu sama lain.

“Kau tak apa?” si penulis, yang mengenalkan dirinya sebagai Jongin, bertanya dengan dingin.

Jongin terlihat seperti seseorang yang tidak punya cukup waktu dan kesabaran untuk menerima jawaban lain, jadi Kyungsoo hanya mengangguk, “Ya. Aku baik-baik saja.”

“Ceritakan padaku soal kecelakaan empat tahun lalu. Atau, yah, kemarin, seperti yang kau ingat,” Jongin mendorong. Ada jejak kegelisahan dalam suaranya. Kyungsoo tak bisa menahan diri untuk tidak memperhatikan plester luka yang tersebar dengan konfigurasi buruk rupa di jemari Jongin. Corengan ungu dan hijau di sekitar pergelangan tangannya. Dan tiba-tiba ia bertanya-tanya apakah itu memang biasa terjadi pada seorang penulis, mata penuh kemarahan dan jemari berdarah-darah dan sentakan di salah satu anggota tubuh yang tidak disadari.

“Itu hanya kecelakaan tipikal,” kata Kyungsoo. Meski ia tidak bisa mengingat hari-hari yang telah berlalu sejak malam itu, entah bagaimana goncangan itu tidak lagi ia rasakan, “Aku sedang dalam perjalanan pulang dari pabrik–tempatku bekerja sekarang– dan tertabrak oleh truk pengangkut buah. Truk itu mengangkut buah apel. Yang merah.”

“Kau sudah sejak lama bekerja di pabrik itu?”

“Sejak usiaku delapan belas. Aku bekerja segera setelah lulus sekolah menengah. Ibuku sudah meninggal dan ayahku sakit, jadi aku harus menggantikan–”

“Ya, baiklah,” Jongin memotong. Kyungsoo dapat melihat kegusaran di wajahnya dan ia ingin mendebat karena tidak, ini bukanlah sebuah cerita sedih biasa tentang seorang anak yang menjadi pahlawan. Ini adalah cerita tentang keluarga dan kehangatan dan biskuit-biskuit di nakas yang dengan susah-payah didapatkan dan menghitung tetes-tetes infus dan berdoa pada tokoh-tokoh kartun demi kebahagiaan.

Tapi mood Jongin tidak bisa berkompromi dengan klarifikasi lebih lanjut, “Maka bila kau tidak harus bertanggung jawab terhadap kehidupan keluargamu, kau akan menjadi penyanyi?”

“Sepertinya begitu.”

“Kemudian kau tertabrak truk. Sungguh keberuntungan yang hebat.” Jongin menyindir dan menuliskan sesuatu di buku catatannya. Mati-matian.

Kyungsoo menggigiti bibir bawahnya–kebiasaan buruk. “Apa… kau marah?”

“Tidak,” Jongin menyentak, sedikit terlalu cepat. Kyungsoo kembali diam ketika Jongin membaca pertanyaan selanjutnya, hampir tidak mengalihkan tatapan dari penanya, “Bagaimana caramu bisa hidup seperti biasanya? Seluruh detilnya.”

“Biasanya, aku mengambil gambar orang-orang yang baru kutemui, menaruhnya di sebuah buku catatan dan menuliskan apa yang kuketahui tentang mereka. Aku membaca ulang buku itu setiap pagi dan memperbaruinya menjelang tidur. Hal-hal lain, aku menuliskan mereka di dinding dan agenda. Hal-hal sementara kutuliskan di sticky note dan kutempelkan di mana saja. Biasanya di dinding.” Kyungsoo melirik kopinya, dan kembali menatap Jongin ketika tidak ada balasan kecuali suara bising pena yang beradu dengan kertas.

“Apa kau harus mempelajari ulang segela sesuatu? Seperti bila kau mengetahui rute ke kedai kopi ini hari ini, besok kau akan kembali melupakan rutenya?”

“Yah, tidak. Aku bisa mengingat jawaban, hanya tidak bisa mengingat dari mana aku mempelajarinya. Besok aku tidak akan ingat pernah berjalan denganmu ke sini. Aku hanya tahu di mana tempat ini berada.”

“Tidak merepotkan.”

“Apa kau benar-benar tidak marah?”

“Tidak.”

“Sama sekali?”

“Dengar. Aku sedang menulis tentangmu. Novel tentangmu. Tidak perlu membicarakanku, mengerti?”

“Kenapa kau marah?”

Bahu Jongin melorot dan ia menjatuhkan buku catatan, pena, semuanya dengan suara berisik. Mengusapkan tangan yang kasar ke wajah cemberutnya, ia menatap Kyungsoo dengan kegusaran yang telah usang. Mungkin ia menguarkan sedikit kesombongan bercampur rasa bersalah ketika ia menggumamkan, “Masalah. Oke? Orang-orang dengan memori sungguhan memiliki masalah.”

Kyungsoo tidak menyukai cara Jongin mengetuk-ngetuk dengan tak sabaran, “Bila kau membutuhkan seseorang untuk membicarakan tentang masalahmu, kau tahu aku–”

“Kau adalah orang yang paling tepat sebagai tempat membuang semuanya, tentu saja, karena tidak ada yang akan membebanimu karena kau tidak akan pernah mengingatnya sampai kapanpun, benar?”

Ada perasaan samar di perut Kyungsoo yang berkata mungkin ia telah terlalu sering mengatakan kalimat itu. Mungkin mereka pernah berada dalam situasi ini sebelumnya; Jongin yang frustrasi dan compang-camping di gerbang antara seni dan kenyataan, Kyungsoo yang bingung dan khawatir, berusaha membantu Jongin dengan cara yang tidak ia ketahui barang setitikpun.

“Maaf,” katanya, akhirnya, ketika Jongin telah berhenti terengah-engah demi menghela oksigen ke dalam tubuhnya. Ia tidak mengalihkan tatapan dari bagaimana jari Jongin gemetaran, “Kau benar. Maaf bila aku pernah menanyakan ini sebelumnya dan mengingatkanmu pada sesuatu yang tak menyenangkan, aku sama sekali tak bermaksud—”

“Tentang tangan,” Jongin tiba-tiba memutuskan. Butuh waktu cukup lama bagi Kyungsoo untuk mengenali suara Jongin karena yang terdengar olehnya adalah suara yang rendah, monoton, dan sangat diam. Sama sekali tidak seperti biasanya dan menguap di udara seperti eter.

“Dengarkan. Hidupku bisa dihubungkan dengan tangan. Seperti mencekik leherku–yang berlumur kemarahan– dengan tangan bercincin berlian. Mencabik-cabik nyawaku dengan sepasang sarung tangan mahal milikmu. Ini semua tentang tangan. Kuku menggoreskan darah berbentuk bulan sabit. Bekas-bekas sidik jari bernoda hitam di paha. Jemari menghancurkan pantulan di balik lapisan tipis cat dan kaca. Tangan, tangan, tangan.”

Satu tegukan kopi dan Kyungsoo menampakkan senyum bersalah, “Aku masih belum…”

“Aku sedang sekarat, oke?”

Kyungsoo merasa hatinya telah jatuh terjermbab saat Jongin melanjutkan, dengan keacuhan pria yang telah mengatakan hal yang sama ribuan kali, “Aku akan mati dalam tiga tahun ke depan, mungkin dua. Kurang, bisa jadi. Tapi kau tahu, orang-orang tidak akan mencintaiku ketika aku mati. Itu fakta. Orang-orang mungkin akan merasa kasihan padaku. Mengelu-elukan. Berkata bahwa aku seorang jenius, bersenang-senang di atas seni pertunjukan hebat yang tak lain adalah hidupku. Dan apa yang bisa kulakukan dengan semua itu? Apa aku bisa menjualnya? Apa aku bisa memiliki masa depan dan rumah berdinding putih dan mendebatkan tanaman yang akan kutanam di halaman depan dari belas kasih mereka?”

Mata Jongin memerah. Bibirnya putih pucat. Keheningan yang menyelimuti mereka sekelam jelaga.

“Kau tahu apa yang kupikirkan,” Kyungsoo sendiri tak paham apa yang ia katakan, hanya berfirasat bahwa mungkin ia seharusnya tak mengatakannya–tapi kalimat itu meluncur dengan sendirinya, “Kupikir kau hanya takut.”

Jongin tak membalas selama beberapa lama, dan ketika ia melakukannya, ia sama sekali tak mendongak dari buku catatannya, “Jadi bila kau bisa mempertahankan ingatan soal bagaimana kau melakukan sesuatu, apa hal yang sama juga terjadi pada perasaan? Bila kau jatuh cinta pada seorang wanita hari ini, apa kau akan tetap mencintainya besok?”

“Aku tidak tahu,” Kyungsoo menggigiti bibir bawahnya lagi, “Tapi kukira bila aku tidak bisa mengingat apa yang sudah kulakukan dengannya, aku tidak bisa—kau tidak bisa mencintai seseorang bila kau tidak menyimpan ingatan tentangnya, benar? Bukankah cinta didasari oleh kenangan dan tindakan?”

“Benarkah.”

Kyungsoo memainkan lengan pakaiannya, “Kau masih marah.”

“Tidak.”

“Kau—aku—bukanlah temanmu—atau terapis—atau—kupikir aku bahkan tidak bisa dibilang kenalan tapi—Jongin,” Kyungsoo terbata, lagi-lagi tak yakin soal apa yang akan ia katakan, “Kau bisa bicara padaku. Aku tak akan menilai apa-apa atau menghakimi. Aku tak akan berkata aku mengerti semuanya tapi aku—hanya—bukankah kau akan merasa lebih baik bila—”

“Diam.” Jongin membentak, matanya masih terpusat dengan konsentrasi sedemikian rupa hingga ia bisa melubangi buku catatannya dengan tatapan seintens itu, “Jangan menceramahiku.”

“Tidak, Jongin, aku hanya—”

“Kau tidak punya hak untuk mengasumsikan apa yang membuatku merasa lebih baik karena kau tidak memahami rasa sakit, kau tahu? Apa yang membuatmu berpikir kau bisa menilaiku? Kau bahkan tidak bisa mencintai. Kau mengatakannya sendiri. Kau tidak bisa mencintai maka kau tidak akan tersakiti, benar? Besok kau akan bangun dan semuanya akan baik-baik saja. Semuanya sangat baik seperti biasanya dan hei, pernahkah kau berpikir bahwa kau sangat bahagia tiap harinya karena kau telah melupakan waktu-waktu di mana kau menyakiti orang lain? Pernahkah kau memikirkan itu? Bagaimana jika kau menyakiti seseorang kemarin? Setidaknya orang-orang yang normal akan merasa bersalah. Kau tidak bisa merasakan apapun, tidak bisa memahami apapun, Do Kyungsoo, karena—kau, hanya, seorang, mayat hidup.”

Ketika Kyungsoo merasa ada sesuatu yang mengumpul di matanya, Jongin telah menutup bukunya dalam sentakan keras dan beranjak keluar dari cafe.

Dan ternyata buku catatan itu tidak benar-benar terisi oleh tulisan, hanya coretan tinta berupa benang kusut dalam kertas-kertas koyak.

“Kau kelihatan tertekan,” Minseok berkomentar pada suatu hari, di sekitar akhir Juli, ketika slush kacang merah tidak bisa menangkal panasnya udara. Selama mereka menunggu para musisi membongkar peralatan dan menyetem nada, ia berbalik ke arah Kyungsoo dan menatapnya dengan alis terangkat, “Apa yang terjadi?”

Kyungsoo merengut, benak memutar ulang kejadian yang ia alami sejak bangun dari tempat tidur, kemudian menggelengkan kepala, “Tidak ada, hari ini cukup normal bagiku. Kenapa?”

“Aku tidak tahu,” Minseok mengedikkan bahunya, “Kau terlihat sedikit lebih serius dari biasanya, itu saja.”

Ketika Kyungsoo menggigiti bibirnya dan bertanya-tanya soal mengapa ia kelihatan suram sementara orang lain kelihatan baik-baik saja, Minseok mengobrol dengan Zitao tentang seorang pria penulis kayak yang berhari-hari tidak muncul di bar.

Mereka menyanyikan lagu yang biasa mereka bawakan, dengan beberapa tambahan improvisasi baru, sebelum Kyungsoo menyadari bahwa Minseok benar. Hatinya tak tertuju pada lagu mereka.

Malam membilas Kyungsoo yang tengah bergeming dengan gelombang-gelombang suara mesin motor dan percakapan manusia. Tengah malam sudah lewat berjam-jam yang lalu, dan matanya terbakar oleh rasa lelah, tapi Kyungsoo sama sekali tak bisa tidur, jadi inilah ia, menggigiti bibir dan membalik-balik halaman scrapbook.

Di titik yang tak ia sadari, ia mulai menghitung jumlah gambar lalu ke jumlah nomor yang sudah dicoret. Dan, yang menjadi bahan kekecewaannya, hampir semua teman lamanya di sekolah menengah telah pindah, dan ia belum membuat catatan baru tentang satu orang pun sejak bertahun-tahun yang lalu. Ia mencoba menghubungi nomor telepon lama Baekhyun, dan tentu saja, tidak bisa dihubungi. Mungkin tidak bisa dihubungi sejak berbulan-bulan atau bertahun-tahun yang lalu. Seberapa lama?

“Hei,” sebuah suara tiba-tiba terdengar dari keremangan. Kyungsoo terlonjak satu setengah meter ke belakang dan hampir saja berteriak.

Tapi, entah bagaimana, orang yang berdiri di balkon sebelah tidak terlihat terlalu asing. Senyumnya sedikit canggung, seolah wajahnya terasa sangat sakit bila ia harus membentuk ekspresi seperti itu, “Apa yang kau lakukan di sana?”

Kyungsoo tak tahu apa ia harus memberitahu pria itu tentang kenyataan yang ia hadapi. Akhirnya ia tetap melakukannya, “Menghitung berapa orang yang sudah tidak pernah kuhubungi.”

“Dan?”

“Banyak sekali,” dan dorongan untuk terisak terasa sangat kuat. Dengungan pertemanan dan tawa dan persahabatan yang terasa sangat jauh, hal-hal yang tak lagi ia miliki, merangsang air matanya dan ia mengembalikan tatapan ke foto-foto kumal di bukunya. Senyuman-senyuman usang yang mulai mengabur dan rasa sakit itu merembes ke setiap molekul tubuhnya. Ia tidak ingin menangis, dan ia tak tahu kenapa ia menangis, “Baru kemarin aku… aku berteman dengan mereka tapi… di sini dikatakan bahwa… mereka telah pindah? Mereka pergi? Mereka hilang? Mengapa? Apa aku benar-benar sendirian?”

Pria di balkon sebelah menghembuskan kabut dan serpih-serpih asap, menyembunyikan tawa tertahan, “Ya, kau benar-benar sendirian. Semua orang di dunia ini sendirian, kecuali kau tidak hidup cukup lama untuk menyadarinya.”

Kyungsoo menyandarkan kepala di lengan dan mulai menangis–tangisan terkeras dan paling memilukan baginya, karena ia tahu rasa sakit yang ia alami tidak akan ia lupakan hingga esok hari.

Ia tidak melihat ekspresi kosong di wajah pria itu, tidak mendengar rokoknya terjatuh dari jarinya ke permukaan tanah tiga lantai di bawah mereka.

Keesokan harinya Kyungsoo terbangun dengan mata bengkak dan rasa asam di mulut. Sebuah scrapbook tergeletak dalam pelukannya, jarinya penuh luka akibat tergores tepian kertas, dan dinding penuh catatan hijau membuatnya mual.

“Aku bukanlah orang baik. Aku belum menjadi salah satunya,” orang asing di elevator berkata ketika Kyungsoo masuk. Kyungsoo hampir-hampir menjauhkan diri, kecuali ia tak terkejut ketika mendengar suara itu. Suara yang dalam dengan retakan di setiap suku kata. Sejenis keengganan penuh dendam, kenaifan malu-malu di balik kata-katanya, “Aku telah menyakiti orang-orang yang berusaha untukku. Bahkan diriku sendiri. Aku seorang pecundang, dan aku menyalahkan orang lain karena… aku terlalu takut untuk mengakuinya.”

Kyungsoo mengangguk, dan mengamati detil-detil pria di depannya—dasi yang dilonggarkan, bayangan hitam di bawah matanya dan pipi yang cekung, punggung bungkuk, naik-turun rongga dada yang kelihatan menyakitkan dan terkungkung oleh kemeja putih kaku. Entah bagaimana, matanya bengkak laki-laki itu terasa seperti asam yang tak bisa ditawar. Hatinya seperti diperas saat ia meraih untuk menyentuh lengan laki-laki itu, “Kau akan baik-baik saja.”

“Aku Jongin.”

Bisa jadi Kyungsoo tidak mendengar suku kata terakhir, tapi tetap saja, nama itu terasa familiar ketika ia mengulanginya, “Jongin.”

“Aku seorang penulis,” Jongin berkata, dan pintu elevator terbuka seolah telah direncanakan demikan. Kyungsoo bergeming. Mereka bergeming dalam diam, suara berisik ventilator dan hembusan napas mereka yang sama ributnya. Dan ketika pintu elevator kembali tertutup, Jongin bercerita tentang seorang laki-laki yang jatuh cinta pada tarian, dan seorang penari, dan ia jatuh terlalu keras, terlalu cepat. Cerita tentang seseorang bernama Jongin yang terperangkap dalam ekspektasi dan tekanan dan akhirnya menyerah dan berhenti mencintai orang lain, dirinya, gairah, aspirasi. Bukan cerita yang panjang, dan diakhiri oleh cerita baru.

“Lalu ia menjadi penulis, dan ia menulis tentang penari yang ia cintai dan mencampakkannya. Kepolosan yang hancur di tangannya, tanpa bisa dihindari. Orang-orang berkumpul dan membayar untuk berpesta di atas rasa iba dan itu membuatnya kayak dan terkenal dan muram—seseorang menyebutnya menyedihkan, suatu kali— dan ia lebih banyak menulis tentang mimpi yang sirna dan keputusasaan dan para pungguk yang merindukan bulan, dan itu membuatnya semakin kaya, dan semakin muram, dan semakin terkenal, dan akhirnya Tuhan memutuskan untuk menciduknya keluar dari kesengsaraan. Tapi ia harus menulis satu buku lagi, karena ia telah menjadi bajingan yang hidup dari kesengsaraannya sendiri. Kecenderungan untuk bergantung pada kesakitan yang dialami orang lain.”

Pintu elevator terbuka. Kali ini Kyungsoo melangkah ke depan dan menarik Jongin bersamanya. Langkah-langkah kaki mereka membentuk sejenis ritme yang menyenangkan.

“Dan ada seseorang yang menarik yang ia temui, yang praktis meminta untuk dituliskan kisahnya. Hidupnya dipenuhi kesedihan, tapi ia sangat bahagia ketika mengejar mimpi yang tak mungkin ia raih. Ia bekerja di pabrik dan ingin menjadi seorang penyanyi—meski ia tak bisa mengingat apa-apa. Ia penderita amnesia yang dipaksa meninggalkan dirinya sendiri di penghujung hari dan menolak untuk memenuhi tuntutan itu. Seseorang yang bertarung dengan jumlah kehilangan tak lazim, untuk sebuah jalan buntu. Sedikit menggelikan, seperti menyaksikan seekor hamster berlari tanpa henti di dalam roda-putar hingga ajal merenggutnya, demi mencapai pintu keluar yang tak nyata.”

“Mereka bertemu pada suatu hari di bulan Juli. Di hari di mana si penulis mengetahui bahwa ia akan mati. Ia mengajak lelaki ini ke rumahnya, di mana mereka menyalakan kipas angin raksasa dan membiarkan lembaran uang berjatuhan dari jendela—berlembar-lembar nominal besar yang masih baru. Hari itu, si penulis merasa marah pada semua yang ada di dunia ini, dan iri, dan ia ingin memperlihatkan pada si amnesia bahwa ia tak akan pernah mencapai mimpinya. Bahwa menjadi penyanyi adalah gagasan paling bodoh di dunia ini bagi seseorang yang bahkan tak bisa hidup, tak bisa merasakan cinta atau kehilangan atau kemarahan atau kebahagiaan. Bahwa keinginannya menjadi penyanyi bagaikan robot bicara tentang lagu cinta. Absurd dan menggelikan.”

“Jongin ingin memamerkan betapa kayanya ia, betapa hidupnya begitu mengagumkan setelah ia menyerah dan kehilangan dirinya sendiri. Ia seorang yang lebih peduli cara menjaga kebanggaan kosong daripada hidupnya sendiri. Orang-orang berkata pesta-pesta ekstrabesar dan menara sampanye dan chocolate fountain membuat seseorang bahagia, jadi Jongin berulang kali melakukannya, lalu orang-orang berkata ia bahagia. Ia benar-benar bahagia dan—”

“Si amnesia tak bisa memahaminya. Inilah dia, seseorang yang bahkan tak bisa mengingat saat ia kehilangan sahabat-sahabat dan orangtuanya, orang yang hidup dari tip dan recehan, cacing tanah paling menyedihkan, dan ia tak bisa paham bahkan ketika wajahnya dihadapkan langsung pada suatu kejayaan. Kejayaan, ketenaran, kekayaan, kekuatan, status. Segala hal yang Jongin—aku—telah bekerja keras untuk mendapatkannya.”

Jongin mengacak-acak rambutnya, bergidik meski udara di sekitarnya tak bisa dibilang dingin.

“Itulah saat aku sadar bahwa itu terjadi bukan karena kau seorang yang bodoh. Itu karena aku, Kim Jongin, adalah orang bodoh yang sebenarnya. Selama ini aku hanya berusaha membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bahagia, bahwa membuang apa yang telah kuimpikan, berkubang dalam keputusasaan, menjadikan hidupku sebagai sesuatu yang bisa diamati semua orang, adalah hal yang benar. Tujuanku pindah ke apartemen buruk rupa tempatmu tinggal bukanlah demi inspirasi, tapi untuk melihatmu menderita. Untuk meyakinkan diriku bahwa kau menderita. Aku menyaksikanmu menyanyi setiap malam dan berharap kau akan merusak sesuatu atau suaramu tak selaras lalu kau disiram oleh para pengunjung bar dengan segelas besar bir. Aku berusaha menghancurkan kepompong kecil bahagiamu karena—karena—aku… aku hanya ingin seseorang menemaniku. Di pasir hisap ini. Tapi kau tak tenggelam. Aku salah. Aku salah, dan aku seorang yang sangat bodoh.”

“Tapi kau bukan orang bodoh,” Kyungsoo memotong.

Meraka bersandar di pagar balkon mungil Kyungsoo. Kyungsoo membungkuk hingga melewati logam itu, mengamati bayangan yang terbentuk di permukaan rumput di bawah mereka, dengan lengan terlipat di bawah dadanya dan kepala yang sesekali terangguk-angguk. Jongin ada di sebelahnya, menghadap ke arah sebaliknya dengan bersandar pada siku, kaki tersilang dan mata menatap bintang-bintang ketika Kyungsoo berbisik, “Kau hanya tersesat.”

Jongin menatapnya untuk pertama kalinya, sungguh, dari balik bulu matanya. Sinar bulan menyinari wajahnya, menyorot kerutan-kerutan halus dan kulit bagaikan plastik, dan Kyungsoo berpikir bahwa Jongin terlihat sangat rapuh seperti ini, sekaligus sangat cantik.

“Keberadaanku akan makin samar. Samar, samar, dan lalu,” Jongin berbisik, “Suatu hari, poof, aku akan menghilang. Aku bagi dunia bagaikan scrapbook itu bagimu. Dunia ini tidak akan merasa kehilangan.”

Suara Kyungsoo terdengar pecah seluruhnya dan kukunya mencungkili karat ketika akhirnya ia berkata, “Tidak, kau tidak boleh hilang begitu saja.”

Jongin mendengus, jenis celaan meremehkan yang menggeramkan kau hanya mengatakannya begitu saja, dan membuat Kyungsoo ingin mengguncangkan bahu laki-laki itu lalu meneriakkan bahwa ia peduli, bahwa ia benar-benar mengatakannya dari hati—Do Kyungsoo tak akan membiarkan Kim Jongin hilang begitu saja. Hanya ia tak tahu kenapa ia peduli, dan Jongin mungkin saja benar. Ia mungkin hanya mengatakannya begitu saja. Ia mungkin tak peduli. Ia tak begitu mengenal Kim Jongin ini, bagaimanapun juga, tak punya ingatan soal apa yang pernah terjadi di antara mereka berdua.

“Aku hanya ingin mengingatmu, meski hanya semenit lebih lama…”

Tapi bila mengingat Jongin memang semudah itu dilakukan, rasa sakit di dadanya tidak akan jadi separah ini.

Bahu mereka sedikit bersentuhan, tapi tak ada yang lebih dulu menjauh.

.

about Jongin’s sickness: from a small research i conduct and from what i can get from the disease’s name is that there’s something wrong with Jongin’s pulmo. paru-paru–alveolus–nya digantikan jaringan fibrosis; sebabnya sampai sekarang belum diketahui (the ‘idiopathic’ part of the name). fibrosis itself is a part (?) of chronic inflammation, hence the fluids (might be pus?) inside his lungs. alveolus nggak bisa mengembang kalau dindingnya jadi fibrosis yang kaku (aslinya dindingnya berupa jaringan elastik-retikuler, bisa terdistensi [elastik] tapi terbatas [retikuler]), menyebabkan gangguan pernapasan, terutama sesak napas, pada penderita (alveolus nggak mengembang, udara masuk sedikit, and so on.). this is the best explanation i can do, maaf bila malah membingungkan. bisa tanya, gonna explain them more (if i can).

Part Two

Advertisements

32 thoughts on “[Indonesian-Translated] Anterograde Tomorrow (Part One: Lost and Stuck)”

      1. In a good way ofc wkwkwk. Aku buka blog ini tiap hari takut ketinggalan part 2 nya hihiwww. Semangat ya raaaaaa

        1. Ehehehe, hehe /blushes/
          Just a heads-up that the second part won’t be published in the near time. Nggak selesai-selesai T___T dan lagi persiapan ospek jadi… maybe I’ll post it after 8th of August?

  1. wow, antergorade tomorrow!
    karena kemaren2 saya diminta temen2 nerjemahin tapi ini sudah ada, jadi saya baca aja punyamu~~ keep up the good work!

  2. dan… kalo mau, saya bisa jadi beta-reader-nya karena saya menemukan cerita ini masih cukup kaku. (ya, saya paham level bahasa inggris author cerita ini cukup tinggi dan sudah memiliki writing style, dan itu yang pastinya menyulitkan translator dalam merangkai kembali kalimat-kalimat)

    tapi itu kalau berkenan.

  3. well, kalau nggak dijawab saya akan mempublish versi saya sendiri di situs lain.
    saya nggak akan me-re-post/re-blog.
    bangapseumnida. 🙂

    1. Halo, maaf baru dibalas. Saya baru sibuk ospek jadi agak jarang buka wordpress.
      Jawaban saya adalah: saya mau (sekali) dibantu. Hasil terjemahan dua orang kalau digabung biasanya lebih bagus dari seorang, kan? Bantuan either as beta reader maupun co-translator itu sangat diterima :’) (dan apa penawaranmu masih available? Soalnya ini tempting sekali.)

      1. saya udah ketemu sama translator lain sayangnya,, (_ _) let’s just compare each other’s result nanti saat sudah di-post. Authornya ga melarang translation ganda untungnya, jadi siapapun bisa mencoba membuat translasi fic ini ^^
        kamu baru masuk kuliah ya? wah pasti sibuk, fighting!

    2. tunggu, amusuk eonni, ini Raein.. jadi eonni juga punya acc wordpress, ini beneran mau ngetranslate antarograde tomorrow? sendiri? mau di upload di mana eon? ‘-‘a

  4. Aku baca sampai akhir walaupun, tidak sepenuhnya mengerti dengan kalimat-kalimat ini. Baku, tapi kalimat-kalimat disini sulit dimengerti. Susah pahaminnya ,, karena gak ngerti bahasanya. Tapi, author jjang! Makasih buat translate-annya thor!~

  5. Author makasih banyak udah translate ff ini:’) nunggu banget, daaaan semangat buat translate part selanjutnya. ditunggu banget^^

  6. wow, buruan di update next chapternya aja.. dan juga bahsanya jangan terlalu kaku.. 😉 keep fighting~

  7. ummmm…
    komentarku begini :

    “apa kau telah meminta izin untuk mentranslate fic ini pada author asli ?”
    “apa kau yakin, dia benar-benar memberikan izin ?”
    “dan.. apa ia memberi izin untukmu merubah ceritanya ?”

    aku tak membaca keseluruhan translate ini, tapi summary asli berbunyi begini :

    Kyungsoo is stuck in the hours while Jongin begs the seconds, because time stops for someone who can’t remember and runs from someone who can’t miss
    the last train home.

    dan tak ada kata2 : “Jongin terus-menerus
    memohon agar detik-detik waktu tak
    lekas berlalu”
    melainkan hanya : “sementara Jongin memohon pada detik”

    aku tahu ini demi agar para pembaca lebih memahami cerita, atau terjemahanmu akan terlihat bagus

    namun tolong, jangan memberikan terlalu banyak perubahan pada cerita yang bukan milikmu.

    hanya sekedar memberi tahu.

    dan oh, kau tahu baby’s breath ? amusuk dan pentranslate lainnya tak mengubah apapun meski diterjemahkan dalam bahasa.

  8. oh-em-ji mau nangis bacanya diksi penulisnya indah banget apalagi kakak terjemahkan dengan bagus jadi makin ngena makasih banyak ya kak ;_; ditunggu kelanjutannya :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s