[Indonesian-Translated] Anterograde Tomorrow (Part Two: Invisible Walls)

Title: Anterograde Tomorrow (Part Two: Invisible Walls)
Author: changdictator
Translator: leesungra
Pairing: kaisoo, broken!lukai
Rating: R
Genre: Romance, Tragedy, slight!angst
Length: three-shot (2/3)
Summary: Kyungsoo tertahan dalam jam sementara Jongin terus-menerus memohon agar detik-detik waktu tak lekas berlalu, karena waktu terhenti bagi mereka yang tak bisa mengingat dan melarikan diri dari mereka yang tak bisa tertinggal kereta terakhir menuju rumah.

Translator’s Note: hello and sorry if this took a very-long-time to complete. i’m kind of busy nowadays, with college life and all, and some things to memorize, too. procrastinating, also. but still, i’ll finish this one as soon as i can. and also sorry (again) for the untranslated rated scene. i just. can’t bring myself to do that TAT it’s too vulgar, IMHO. but i hope you can still enjoy it~ 🙂

“Aku Jongin, dan aku datang kemari untuk—”

“Menulis.”

Rahang Jongin mengayun terbuka, rasa terkejut perlahan memenuhi sela-sela di antara kedua alisnya yang terangkat tinggi. Detik-detik datang dan pergi, bergerak dengan cepat di sekitar garis tipis keragu-raguan. Di balik jendela, rerumputan terhampar hingga kejauhan dan membaur dengan langit, menampakkan warna-warna yang mengabur menjadi spektrum-spektrum terang yang saling bertabrakan. Kyungsoo menunggu.

Sikap Jongin baru berubah santai ketika ia menemukan scrapbook yang tergeletak di meja dapur, “Oh. Jadi kau sudah membaca catatan-catatanmu?”

“Ya,” Kyungsoo mengangguk, dan ia tak begitu memperhatikan kekecewaan yang muncul sekilas dalam ekspresi Jongin.

Hari ini, percakapan mereka dilanjutkan di apartemen Jongin. Ruangannya berupa balok berdinding putih polos yang penuh oleh gumpalan-gumpalan kertas yang dibiarkan terserak di sana-sini, kaleng-kaleng bir setengah kosong, dan banyak sekali benda-benda akromatis: seprai kusut  yang tidak dipasang dengan benar, menampakkan kasur tanpa ditutupi apa-apa; tapestri menjuntai-juntai seperti bendera tanda menyerah. Puntung-puntung rokok pendek dan pil-pil kuning tersusun di atas coffee table plastik yang membentuk tulisan, “KYUNGSOC”. Semua permukaan ruangan berupa kayu lapis tipis putih rapuh, hampir tak bisa menahan atap asbes bergaya post-modern. Itu membuat Kyungsoo merasa terasing tapi mengakomodasi Jongin, menghirup habis seluruh langkah-langkah lesunya dan bulu matanya yang panjang.

Pikir Kyungsoo, Jongin dapat dijadikan simpulan dari seluruh isi ruangan itu. Dengan badan telentang di atas sofa, Jongin termasuk jenis orang yang bisa membaur dengan tempat semacam ini, sepertinya, atau jenis orang yang telah terbiasa dengan kemewahan yang dangkal. Seorang pria yang hanya merasakan kekosongan, bayangan-bayangan terjatuh di antara emosi dan responnya.

“Kau tidak menyukai tempat ini, kan?”

“Semuanya hitam dan putih. Tak terlihat seperti rumah seseo–”

“Ambil ini,” Jongin tiba-tiba berkata.

Kyungsoo hampir saja tak berbalik cukup cepat untuk menangkap sebungkus sticky note kuning yang masih tersegel rapi yang dilemparkan Jongin ke arahnya. “Apa ini?”

“Ayolah, kau harusnya tahu apa itu.”

“Bukan, maksudku, kenapa kau memberikannya padaku?”

“Kau yang berkata kamarku hanya terisi hitam dan putih,” Jongin mengangkat bahu, kembali bersandar ke sofa hingga cekungan di lehernya terlihat dan tiba-tiba saja sosok Jongin seperti terbentuk oleh sudut-sudut bergerigi dagu dan tulang rawan dan siku, jari, kuku, “Jadi, warnai saja. Kutebak kau sangat ingin melakukannya. Dan lihat, sticky note itu sewarna dengan matahari. Membuatmu merasa hidup, bukan?”

“Kau mengerikan.”

“Tatapan menasihatimu,” Jongin menampakkan cengiran lebar, “adalah favoritku.”

Jadi Kyungsoo menyerah, meski setelah ia menyuruh Jongin untuk, “Mulai sekarang kau harus memanggilku hyung. Ketidaksopananmu sungguh menggelikan.”

Jongin tergelak, berkas-berkas asap terlihat seperti awan yang berkilauan di sekitar kepalanya, mulut terbuka lebar oleh rasa senang. Menarik sebuah kursi hingga tersandar ke dinding terdekat, Kyungsoo menaikinya, sedikit limbung ketika ia membuka bungkusan pertama dan menyelipkan ibu jarinya di bawah note teratas. Mengaturnya agar benar-benar tegak lurus, Kyungsoo menekankan ibu jarinya di sepanjang tepian kertas, merapikan sudut-sudutnya. Dinding kamar Jongin hangat oleh sinar matahari dan suara Jongin berupa gumaman menenangkan yang datang dari belakang Kyungsoo, percikan kata-kata yang tak terlalu berharga untuk didengarkan terlontar dari rupa wajahnya yang terdistorsi kesedihan.

“Apa kau pernah bertanya-tanya soal ini—berapa kali pukul sepuluh pagi yang sudah kaulewati dengan melakukan hal yang persis sama, dengan lem tembak yang sama dan seember mata imitasi yang sama dan mainan yang sama seperti sehari sebelum sehari sebelum sehari sebelum kemarin? Berapa kali kau pernah duduk di depan meja makanmu yang kosong sambil mengira-ngira apakah kau akan mengingat hari ini besok?”

Seiring berjalannya waktu, Kyungsoo menyadari Jongin tak benar-benar mengajukan pertanyaan. Ia menjawabnya. Mengisi jejak-jejak kaki yang ditinggalkan Kyungsoo. Lembut dan memikat, konsonan terhenti di akhir kalimat dan huruf vokal membaur dengan udara. Tatapan yang tertuju, jauh, jauh, jauh sekali, menghilang di suatu tempat di tatapan Kyungsoo saat Kyungsoo membuat dindingnya berkilau dalam ledakan warna emas.

“Apa pernah terlintas di pikiranmu bahwa kau tak bisa mengingat karena tak ada yang perlu diingat? Bila kau melakukan hal yang persis sama setiap hari di setiap minggu, setiap minggu di setiap bulan, setiap bulan di setiap tahun, bukankah ingatan kehilangan tujuan penciptaannya? Menurutmu, apa yang akan terjadi bila kau mulai keluar dari rutinitas?”

Mereka menghabiskan malam seperti itu. Kyungsoo tidak pergi ke bar dan ia tidak menyanyi, hanya mendengarkan sepanjang bisikan-bisikan Jongin dan gemerisik kertas yang ia bawa, ritme detak jantungnya menyusup ke dalam celah-celah tak kasat mata dari sebuah ruangan putih bersih. Proses membiarkan Jongin membawanya keluar dari rutinitas hampir terasa terlalu mudah.

Di suatu titik, Kyungsoo telah selesai dengan sticky notes-nya dan Jongin dengan pertanyaan-pertanyaannya. Mereka duduk di sofa dan kursi berlengan, bermandikan matahari dini hari, ketika sebuah nada tiba-tiba bersarang di tengah mereka. Ia tumbuh, luwes dan tanpa beban, dimulai dari akhir dan berakhir di permulaan, dan menciptakan senar-senar tak terlihat dari lidah Kyungsoo ke ujung-ujung jari Jongin, mengangkat mereka seperti benang-benang yang mengikat boneka marionette.

Sebelum tidur, Kyungsoo membentuk baris-baris melodis, a-flat, b-sharp-minor, Jongin, lihatlah, tanganmu menari, Jongin, aku sangat menyukaimu; Jongin menjaga hitungan, four-four, four-three, hyung, apa kau senang?, hyung, jadikan aku fosil dalam waktumu.

Pertanyaan terakhir Jongin dilontarkan dengan lembut, dan ia menggumamkannya ketika mata Kyungsoo baru saja tertutup, “Berapa kali kau tak mempedulikan sesuatu yang penting?”

Juli adalah bulan terkejam, dan hari terakhirnya adalah hari terpahit.

“Orang-orang,” kata Kyungsoo, yang hari ini sangat kelelahan. Tulang-tulangnya terasa ngilu, tulang rusuknya seperti menusuk paru-paru dan ia tak bisa bernapas dan semuanya sakit, berputar-putar, sakit, berputar-putar. “Orang-orang itu pergi. Semuanya hilang.”

Jongin terus menatapnya. Tubuh Kyungsoo gemetaran dan ia mencengkeram erat scrapbook-nya seperti nyawanya bergantung pada benda itu, kertas mengusut di bawah kukunya meski mungkin ia sebenarnya ingin menghancurkannya saat itu juga. Mungkin sebenarnya ia tak ingin mengingat. Mungkin ia mengalami kecelakaan lain dan membuat semua ini pergi meninggalkannya, “Baekhyun, ia—aku—aku mencoba mencarinya—di sini dikatakan,” ia membuka buku itu dan menunjuk sebuah kertas yang telah kumal, wajah di foto hampir tak bisa terlihat karena permukaannya sering digosok hingga mengilap, “di sini dikatakan bahwa ia pindah. Kau lihat, nomor teleponnya sudah tak ia gunakan lagi. Tapi Baekhyun adalah teman sekolahku. Sahabat. Aku hanya—aku benar-benar ingin mengetahui kenapa ia pindah. Ke mana ia pindah. Yang ingin kulakukan adalah menelusuri ulang, kalau-kalau saja kami pernah bertengkar dan aku tak mengingatnya.”

“Jadi aku menelepon ibunya, dan yang bisa kuingat adalah bagaimana ia memelukku saat upacara kelulusan dan berkata padaku bahwa aku sudah seperti anak laki-lakinya sendiri, dan betapa aku lebih sopan daripada Baekhyun, dan bila aku membutuhkan nasihat dari seorang ibu maka aku bisa menemuinya—dan Baekhyun memukul bahuku dan semua orang mentertawakannya—tapi ketika aku menelepon hari ini, ia… itu tetap dia, tapi dia terdengar… dia terdengar sangat… lelah. Frustasi. Jongin, dia benci padaku.”

“Tidak,” Jongin memucat, “Kau tidak benar-benar bertanya soal Baekhyun, kan?”

“Dan dia berteriak padaku, melarangku meneleponnya lagi dan kemudian ia meminta maaf. Padaku. Karena ia bahkan tidak bisa menyalahkanku karena meneleponnya dan mengingatkannya bahwa Byun Baekhyun telah mati. Bahwa ia terbunuh dalam kecelakaan yang sama denganku. Bahwa aku yang selamat, bukannya Baekhyun.”

“Dengar, hyung, itu bukan salahmu—”

“Sudah berapa kali aku melakukan ini, Jongin? Berapa kali aku meneleponnya dan bertanya padanya ke mana anak lelakinya yang telah mati pergi? Jongin, apa yang telah kulakukan? Kenapa tidak ada yang… kenapa aku tidak menuliskannya? Kenapa?”

Jongin tidak menjawab. Ia bergeser, sedikit, dan bersandar pada pagar pembatas tangga.

“Apa kau tahu tentang ini?” Kyungsoo bertanya, pada akhirnya, setelah detik-detik berlalu menjadi menit-menit, dan emosinya meledak menjadi teriakan ketika Jongin tak menjawab lagi, “Kau mengetahuinya, bukan? Kenapa kau membiarkanku melakukan ini?”

Dengan helaan napas panjang, Jongin mengambil scrapbook itu dari tangan Kyungsoo, “Kau tidak akan menuliskannya, bukan, hyung? Kau marah, tapi itu tak berarti kau akan melakukannya, benar? Apa kau berpikir bahwa semua ini akan pergi begitu saja setelah kau bangun esok hari?”

Meski Kyungsoo menyuarakan protesnya, ia benar-benar tak bisa mengatakan apa-apa. Jongin mungkin saja benar. Rasa bersalah yang berat, dan mungkin sedikit kemarahan, mengembun dari rasa lembap di telapak tangannya.

“Takut. Kau takut. Lebih baik membuka luka seseorang daripada membuka milikmu sendiri, karena waktu menyembuhkan rasa pedih seperti yang terjadi pada ibu Baekhyun tapi tidak akan pernah menyembuhkan lukamu. Sementara orang lain melangkah pergi, kau akan tertahan di sini, sendirian, menangisi hal yang sama setiap hari. Kau tahu itu. Dan kau membenci dirimu sendiri karena kau mengetahuinya dan–” Jongin menggenggam pergelangan tangan Kyungsoo, merendahkan suaranya hingga tak lebih dari bisikan halus, “Itu bukan salahmu. Berusaha melindungi dirimu sendiri bukanlah tindakan yang salah.”

Kyungsoo menghela napas, tersentak-sentak, dan sebelum Jongin mulai berbicara lagi, ia menarik pergelangan tangannya dari cengkeraman Jongin dan merebut kembali scrapbook-nya. Menelan rasa sakit yang menyerang hidungnya, ia menuliskan ‘meninggal empat tahun lalu (31 Juli 2012)‘ di atas cengiran ceria Baekhyun. Tulisannya mungkin sedikit jelek, gemetaran, kabur oleh tetes-tetes kecil cairan asin. Mungkin Jongin tengah menggelengkan kepalanya. Mungkin ia akan menyesali ini di setiap pagi setelah hari ini.

Tapi setidaknya ia tak akan tertinggal di belakang.

Jongin membawa pagi pertama bulan Agustus dan dua paper bag yang dinodai lemak memasuki apartemen Kyungsoo, melemparkannya ke atas meja makan mungil di dapur Kyungsoo ketika ia berbalik untuk menjelaskan, “Kau memberiku kunci apartemen ini kemarin.”

“Aku tahu,” Kyungsoo menunjuk sebuah catatan di dinding, meski ia berpikir bisa saja ia mengetahuinya bahkan tanpa bantuan catatan itu. Segalanya tentang Jongin terasa baru tapi familier, tiba-tiba tapi hangat, entah bagaimana caranya, seperti sesuatu yang tak jelas bagi pikirannya tapi terfosilkan dalam jiwanya.

“Seberapa banyak yang kau ketahui?” Jongin bertanya, sambil mengambil setangkup roti panggang berisi telur dari kantung kertas dan berjalan-jalan di sekitar dapur seolah ia telah mengenal tempat itu dari kecil.

“Namamu Jongin, kau tetanggaku,” Kyungsoo mengikuti rute yang dibuat Jongin dari barisan rak ke ruang makan, “Dulu kau menari, tapi kau meninggalkannya untuk menjadi seorang novelis, dan kau memiliki senyum sedih dan kau selalu merokok karena… karena kau tengah se—”

Suara kertas yang dirobek paksa dari cincin-cincin yang terdengar ketika Jongin mengambil scrapbook Kyungsoo dari meja dapur, membuka halaman terakhir, dan merobeknya kasar, terasa menyakitkan di telinga. Kyungsoo terdiam, mata mengamati Jongin yang telah mengambil zippo dari sakunya untuk membakar kertas itu, “Kau tak perlu tahu. Aku hanyalah satu dari halaman-halaman yang akan kau abaikan suatu hari nanti. Bahkan halamanku bukan halaman yang bagus. Halamanku berupa darah dan air mata di atas kertas dan serat pohon dan, sejujurnya, lebih baik tak ada halaman tentangku sama sekali.”

“Tapi—”

“Lupakan saja.”

Setelah Jongin pergi, Kyungsoo diam-diam menulis ulang halaman itu, membersihkan abu yang tersisa dan menyimpannya di dalam sebuah toples. Ia melakukannya bukan karena ia ingin mengingat Jongin hari ini, tapi karena ia ingin Kyungsoo esok hari mengetahui tentang anak laki-laki di balik senyum dewasa Jongin hari ini. Ia ingin Kyungsoo esok hari untuk mengetahui bahwa di balik Jongin yang suka mempermainkan puntung-puntung rokok, yang mengkonsumsi berbagai obat bersama segelas susu, adalah Jongin yang bisa tertawa dengan seluruh wajah dan tubuhnya. Jongin yang memakai topi baseball-nya dengan terbalik dan menggembungkan pipi di saat-saat tak terduga. Ia adalah anak kecil dengan luka orang dewasa, romantis terlembut yang bersembunyi di balik lapisan tebal sinisme.

Meski kali ini Kyungsoo tak memiliki foto Jongin, ia merasa ia tak membutuhkannya. Kata-kata itu keluar dengan sendirinya, harapan di ujung-ujung tiap goresan, dan Kyungsoo berpikir bahwa mereka lebih bisa menggambarkan kilauan seperti kerlip bintang yang jarang terlihat dalam mata Jongin daripada gambar manapun. Atau bagaimana ia memanggilnya hyung. Bagaimana ia membalik topi baseball mereka dan mengaku-ngaku dirinya mirip dengan Kyungsoo.

Ia tidak menulis soal Jongin yang tengah sekarat.

Pria di halaman terakhir scrapbook Kyungsoo adalah Jongin di hari-hari tertentu, seorang penulis di hari lain, dan orang asing di dalam lift. Di hari yang baik, kulitnya secokelat buah zaitun halus; di hari-hari buruk, warna kuning tersebar di atas kulitnya bagai hukuman atas kesalahan terbesar di dunia. Kadang ia adalah anak laki-laki yang duduk di balkon sebelah, kaki bergelantungan dari tepian dan rokok di antara bibir yang kering, lengan tersembul keluar dari balik pagar pembatas berkarat. Terkadang ia adalah seorang pria yang kelelahan yang tengah bersandar di dinding, tenggelam di antara hujan dengan rambut lembap dan punggung membungkuk. Terkadang mereka berbagi detik-detik sunyi di koridor, di saat lain jam-jam tak terhitung dihabiskan dengan berbicara, mata setengah terpejam. Biasanya Kyungsoo merasa sakit ketika melihat Jongin, membuat dada Kyungsoo gemetaran oleh sesuatu yang lebih berat dari rasa iba, tapi ia lebih sering merasa kepalanya ringan dan pusing ketika ia menatap laki-laki itu.

Dan walaupun Kyungsoo tidak mencatat detil-detilnya, selalu ada sesuatu ketika mereka bertemu. Setiap kali mata mereka saling menangkap tatapan masing-masing, ketika mereka berbaring menghadap langit malam, sentuhan-sentuhan yang hampir tak terasa antara telapak tangan di tengah napas-napas pendek. Itu adalah sesuatu yang, dengan cara yang tak bisa dijelaskan, terasa hangat, ringan, menghilang dengan cepat. Sedikit mirip dengan kunang-kunang. Sesuatu yang tertinggal cukup lama di telapak tangannya dan menghilang ketika ia mulai menginginkannya. Sesuatu yang berkata padanya bahwa ini pernah terjadi, dan ketika ini terjadi lagi, mereka akan tetap pergi. Menyelip di antara celah-celah jarinya seperti ingatan yang terbang dan menghilang.

Tapi sesuatu itu bukan sesuatu yang romantis. “Aku mencintaimu,” adalah dua kata yang tak pernah diucapkan. Mereka terlalu polos, terlalu tiba-tiba tanpa ada motif, bukti yang nyata, penjelasan rasional karena di akhir hari sewaktu-waktu Jongin adalah orang asing, sewaktu-waktu Jongin adalah buku, tapi ia tak pernah lebih dari seorang teman. Waktu menciptakan jarak sejauh lengannya, pembatas yang tak kasat mata dan tak bisa ditembus.

Hari-hari datang dan pergi dan Kyungsoo menemukan sekat di antara jangan pergi dan selamat malam. Tentu saja Kyungsoo selalu ingin meraih dan menarik Jongin agar kembali. Ia berpikir mereka telah saling mengisi, meski di antara mereka tidak ada kaki-kaki yang berkaitan atau jemari tangan yang saling bertaut. Hanya ada tsunami teks-teks dan sapuan pelan musik. Dan mungkin memang itulah semua yang ada di antara mereka.

Bersama detikan jarum detik ia selalu kembali pada, “Selamat malam.”

Mungkin di antara Kyungsoo dan Jongin tak ada romansa, bukan dalam definisi biasa dari kata itu. Tapi mungkin ada sesuatu yang lain, di antara rasa nyaman dan rasa membutuhkan, di antara harapan dan kepercayaan, di antara cerukan leher Kyungsoo dan garis-garis kasar di telapak tangan Jongin.

Mereka adalah dua jiwa yang melayang di rooftop gedung Samsung Tower, tujuh puluh tiga lantai menuju gelapnya malam, hampir-hampir cukup tinggi untuk meniup bintang-bintang hingga membentuk berbagai konstelasi, tapi masih terlalu dekat dengan bumi. Kyungsoo menghitung jumlah pil yang tersisa di botol plastik oranye milik Jongin sementara Jongin memperhatikan asap yang membubung ke udara dan perlahan terurai.

“Bagaimana rasanya?”

“Apa yang bagaimana?”

“Terlupakan.”

Jongin meletakkan tangannya di bawah kepala, dan mereka memandang ke atas bersama, ke arah bulan dan bintang yang disematkan di antara awan. Ia menggerak-gerakkan rahang bawahnya selama beberapa saat sebelum menjawab, dengan suara serak, “Rasanya seperti terbunuh. Dibersihkan dan dihilangkan, sesuatu yang berbentrokan dengan keinginanmu.”

“Dan bagaimana rasanya melupakan?”

Kyungsoo menatap dalam-dalam ke arah langit, “Rasanya pun seperti mati,” dan baru kali ini ia benar-benar berharap untuk hidup sedikit lebih lama. Kedua lutut mereka bersentuhan. Kyungsoo menghirup asap yang dihembuskan Jongin. Malam ini mereka berbau seperti tinta dan hujan dan kapas dan jajanan pinggir jalan, aroma metal, dan keduanya.

“Kau tahu,” Jongin menoleh, kerlip kosong mengisi ekspresinya, “hyung, ketika dulu aku masih menari, aku menyukai asisten tutor kelas menariku. Dia berasal dari China. Lu Han. Cinta pertamaku, sepertinya. Aku menghormatinya, mengikuti jejaknya, dan dia menjagaku. Dan pada suatu hari, aku tak tahan lagi dan akhirnya pecah di bawah tekanan dan rasa sakit dan aku benar-benar membenci segalanya. Aku melampiaskan semua itu padanya. Ia mencoba memperbaikiku. Semua orang mencoba. Tapi, kau tahu, memperbaiki seseorang tak sama dengan memperbaiki mainan. Ketika kau memperbaiki seseorang, kau mengorbankan diri untuk juga menjadi rusak.”

Salah satu dari mereka menelan ludah, suaranya jauh lebih keras dari bisikan Jongin, “Dan aku menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil.”

“Editorku—Oh Sehun—dia sangat menyebalkan. Tapi dia efisien. Menyatukanku kembali meski dengan cara yang salah dan kepalaku terbalik. Tapi, yang terpenting adalah, ia menyatukan seluruh bagianku sehingga aku tak kehilangan apa-apa. Kami selalu bersama. Ia menjagaku seperti memelihara anjing liar. Kurasa, dia orang yang baik bagiku.”

“Dan, pada suatu hari dia berkata padaku, ia berkencan dengan seorang balerino. Aku berkata, baiklah, itu bagus, tapi para penari biasanya melodramatis. Dan dia berkata, tidak, orang ini sangat baik, namanya Lu Han, kalian harus bertemu, bukankah kau berkata kau dulunya juga menari?”

“Oh—”

“Jadi kami bertemu. Itu tak bisa dihindari. Tapi kau tahu? Dia masih mengingat kopi seperti apa yang biasa kuminum. Delapan tahun dan dia bahkan tak berusaha melupakanku. Ia terlihat buruk meskipun ia sekarang mencintai Sehun. Kau tahu kenapa? Semua ini gara-gara kenangan. Mereka membunuhnya. Aku tak bisa menyelamatkannya dari mereka. Pun Sehun,” Jongin mengernyit, dan tiba-tiba barisan asap tak lagi mengalir keluar tapi seperti diludahkan dari sela-sela giginya, “Tidak ada yang bisa menyelamatkan seseorang dari ingatan mereka.”

Apa yang Jongin maksud sangat jelas. Kyungsoo berusaha menebak-nebak apa kalimat yang akan ia lontarkan setelah ini, tapi–tentu saja–tak mungkin.

“Kau tak bisa mengingatku dan itu bagus bagimu, sungguh, karena dengan begini aku bisa menyelamatkanmu. Bila aku merusak segalanya, kau tidak harus mengingatnya terus-menerus. Terlupakan terasa jauh lebih baik daripada diingat. Aku bisa mengerti bila aku harus mati di setiap akhir hari, hyung. Melupakanku bukan masalah besar.”

Kyungsoo tidak mendengar kalimat, “Lagipula aku sedang sekarat,” yang diucapkan dengan keras oleh Jongin. Kalimat itu hilang, ditelan oleh ruang kosong di suatu tempat di antara bintang-bintang; ia justru mendengar gumaman, “jangan biarkan aku mati,” dari jemari yang ditautkan Jongin pada miliknya. Maka ia mendekat dan membiarkan hidung mereka bersentuhan, berbagi oksigennya dengan Jongin dan aroma tic tac di lidah, dan mengambil satu hirupan penuh sisa-sisa nikotin dan obat penghilang nyeri dan opioid pahit.

“Kau tahu kenapa kau selalu terlihat jauh lebih tua? Karena kau berpikir tak ada yang cukup berharga untuk diingat, karena tak ada yang sempurna, dan kau benar—tak ada yang sempurna. Tapi setiap momen sangat berharga untuk diingat, Jongin. Setiap kali kau merusak sesuatu maka aku akan bisa melihat sosok manusia, setiap kali kau jatuh maka aku akan menyaksikan bagaimana cinta membawamu kembali ke tepian… dan aku tak peduli bila dalam delapan tahun lagi aku akan tampak menyedihkan. Bisa jadi karena aku tak memiliki kenangan, dan aku tak bisa benar-benar dilukai, tapi—bagiku—mencintai dan melukai dan merusak diriku sendiri demi seseorang sangat—”

Jongin menangkupkan telapak tangannya di rahang Kyungsoo dan mendongakkan dagunya dan memori pertama mereka berupa seorang mengecup rasa tak nyaman itu hingga ia pergi. Dan anehnya, itu adalah sesuatu yang tak pernah bisa Kyungsoo rekam dengan baik.

“Dengarkan, dulu aku pernah bicara denganmu soal aku ingin menulis tentangnmu,” Jongin berkata. Pasir mengisi sela-sela jari kaki mereka; campuran suara ombak samar-samar membawa suaranya pergi, “Tapi, sebenarnya aku tak benar-benar ingin menulis tentangmu. Aku bahkan tak berusaha menulis sama sekali, maksudku. Menulis terikat erat dengan mengobservasi, tetapi, aku lebih banyak mempersuasi dulunya dan… kali ini, aku ingin mengobservasi. Aku ingin mengetahui segala hal tentangmu.”

Kyungsoo menunggu hingga Jongin berhenti terbatuk-batuk sebelum melontarkan responnya, “Tapi aku sudah menceritakan segalanya padamu. Setiap sore. Dan aku sudah melakukannya sejak dua bulan yang lalu, jadi aku tak yakin masih ada yang bisa—”

Kalimatnya terhenti ketika Jongin menempatkan tangannya di leher Kyungsoo. Jongin melanjutkan kalimat itu saat Kyungsoo melongo kaget. Segaris cengiran seolah menyulut wajarnya, kecil namun entah bagaimana terlihat lebar, tak ada gigi yang tampak namun lebih terang dari bulan dan bintang-bintang, saat Jongin berkata, “Tapi masih ada satu karakter yang belum pernah kau ceritakan padaku. Kau sudah bercerita tentang Kyungsoo di usia dua puluh tahun, kimchi spaghetti, lelucon-lelucon tidak lucu, makan siang bersama di atas batang pohon yang tumbang. Kyungsoo yang telah mati. Kau belum pernah memberitahuku tentang hyung, yang hidup, yang menyanyikan berbagai lagu di bar, yang menjalani setiap hari layaknya itu hari pertama dan terakhirnya.”

“Aku–” Kyungsoo memulai, dan saat itulah ia sadar ia tak punya apapun untuk dikatakan. Tangan Jongin sangat hangat dan berat dan sempurna di lehernya.

“Aku ingin mengenalmu, hyung. Bukan kau yang kemarin, atau kau di esok hari. Aku ingin mengenal kau hari ini. Aku ingin tahu apa yang kau rasakan, mengapa kau tidak pergi ke bar hari ini, apa yang kau pikirkan pertama kali ketika bangun tidur, apakah kau mudah merasa geli…”

“Ya.”

“Apa?”

“Aku mudah merasa geli,” dan Kyungsoo tak tahu mengapa ia menempatkan tangannya di atas tangan Jongin, menikmati aliran hangat menuju telapak tangannya, “Dan aku suka tanganmu, di sini. Menggelikan. Dalam arti yang bagus.”

Mungkin Jongin berniat tertawa, tapi tawanya berubah menjadi batuk-batuk yang mengagetkan keduanya. Dan selama mereka berbaring di pantai, bersebelahan, pasir terselip di antara rambut dan laut dalam jangkauan jari, Kyungsoo mengelus leher Jongin, menikmati angin yang berhembus dan menutup mata, “Aku juga ingin mengenalmu. Hari ini, aku tidak ingin melupakanmu.”

Maka Jongin membantunya mengingat, meninggalkan seluruh garis dan sudut dan masa lalu dan masa depan seorang Kim Jongin di atas kulit Kyungsoo dengan sepasang bibir dan baris-baris bulu mata. Rasa kantuk yang menjemput Kyungsoo terasa seperti lilin, polyester, styrofoam, wol, grafit, dan ia terbungkus di dalamnya sebelum ia dapat meraih ujung-ujung jari kaki dan tangan Jongin.

“Besok,” Kyungsoo berkata, terombang-ambing di antara mimpi dan kenyataan. Tangan Jongin meninggalkan sentuhan ringan di tulang bahunya, menenangkan permohonan yang berloncatan tak karuan dalam benak Kyungsoo, “Aku ingin melihatmu menari.”

“Kenapa?”

“Ketika kau membicarakannya, kau kelihatan sedikit lebih cerah… aku ingin melihatmu benar-benar tersulut. Bersinar-sinar. Sangat terang. Seperti kunang-kunang?”

Ketika Kyungsoo terbangun lagi, ada pasir di ujung jari kakinya, lautan di ujung-ujung rambutnya, dan kunang-kunang dalam kamarnya. Berlusin-lusin makhluk bercahaya kecil yang mengisi kegelapan sebelum matahari terbit, berkelap-kelip seperti bintang di dalam air, menerangi kamar tidurnya yang mungil dengan langit-langit terlalu rendah dan dinding terlalu dekat satu sama lain. Ia menatap bingung oleh kehadiran makhluk-makhluk itu, juga oleh dorongan aneh untuk kembali menghempaskan kepala di atas bantal dan tertawa.

“Aku datang kemari untuk menjemputmu,” kata pria di depan pintu. Namanya Jongin, sepertinya, tapi Kyungsoo tidak bisa mengingat dari mana ia mendengar nama itu sebelumnya. Dan ketika ia mengerutkan kening sambil memeriksa catatan-catatannya, Jongin menariknya mendekat dan mengecup bibirnya, “Ini akan lebih membantumu mengingat,”

Sebelum Kyungsoo bisa mendorong pria itu menjauh, meski ia tak yakin ia akan benar-benar mendorongnya, Jongin telah melingkarkan lengannya di leher Kyungsoo, menyeretnya keluar dari apartemen mungil itu, “Ayo, kita harus segera pergi.”

“Ke mana kita–” Kyungsoo memekik begitu Jongin, secara harfiah, melemparkannya ke kursi penumpang sebuah convertible hitam mahal melalui jendela mobil itu tanpa repot-repot membukakan pintu, “akan pergi?”

“Melihat kunang-kunang,” Jongin berkata, terbatuk di lengannya, dan barulah saat Kyungsoo telah memakai sabuk pengaman lalu mengamati Jongin dengan seksama ia tersadar bahwa bocah laki-laki itu tersenyum lebar, “Kunang-kunang sungguhan.”

“Ke mana kita akan pergi? Apa ada tanah lapang di sekitar sini?” ia bertanya, tapi Jongin tak menjawab, hanya menyalakan radio untuk mengisi kekosongan di udara dengan nada-nada lagu pop, dan mungkin untuk mengaburkan senyum senangnya.

Jongin memacu mobilnya dari gang-gang sempit ke bawah bayang-bayang gedung pencakar langit hingga mencapai pinggiran kota yang dipenuhi padang rumput, mendalami kelamnya malam. Di satu titik Kyungsoo menangkap lengan Jongin yang tidak menggenggam kemudi menggelantung dari tepi jendela, dan ia menemukan keberanian yang cukup untuk mengikuti tindakan Jongin. Angin membawa pergi kegugupan di kulitnya, tiupannya serupa percikan api di antara rambut mereka. Hanya sensasi kecil, tapi cukup besar untuk memacu detak jantungnya sedikit lebih cepat. Kyungsoo mulai menyanyi, terdengar gembira dan mudah dibedakan dari dengung radio, dan ia tahu Jongin tengah memperhatikan aliran tak kasat mata yang berkelok-kelok di belakang jemarinya. Pasang-surut warna-warni melodinya yang mengelana.

Hanya saja, bukannya mengemudi menuju tanah lapang, atau bahkan taman, Jongin mematikan mesin mobilnya di depan gudang usang. Kyungsoo menoleh ke arah Jongin, melongo, “Kupikir kau bilang kita akan melihat kunang–”

“Tunggu,” Jongin memotong, dan Kyungsoo tahu ia tak akan mengerti hingga sesuatu yang ingin dilakukan Jongin terjadi, jadi ia membiarkan Jongin menyeretnya keluar dari mobil dengan jemari bertautan dengannya, menjanjikan sesuatu tentang asap berwarna-warni dan cahaya dan sihir yang hampir tak punya hubungan dengan kunang-kunang sungguhan.

Dan memang itu hampir tak ada hubungannya sama sekali dengan serangga, namun sangat berhubungan dengan sepasang sarung tangan transparan dan ledakan api di atas mereka dan seringai miring di bibir Jongin ketika ia meminta Kyungsoo memperhatikan. Pintu terbanting menutup, cahaya bulan meredup, dan Kyungsoo kehilangan napasnya.

Jongin adalah bayang-bayang sekilas dari otot-otot padat dan keanggunan yang meluncur seperti aliran air, membelah ruang, tapi lebih dari itu, ada garis-garis cahaya–cahaya sungguhan— melesat dari telapak tangannya. Serupa kilat hijau dan kuning dan biru yang menyala-nyala, berebut keluar dari tangannya dan mengambang di udara seperti asap neon dan air. Ia melukisi jemarinya dengan presisi tepat, menimbulkan kilauan.

Tidak ada musik, hanya melodi-melodi teredam dari paru-paru mereka: tarikan napas Kyungsoo yang tak terhingga, mengeras ketika Kyungsoo ingat ia seharusnya bernapas; hembusan cepat Jongin, kresendo-kresendo tajam ketika tumit halus menggelincir di atas semen basah dan telapak tangan mengeping berkas-berkas fluorescence, memecahnya hingga menyebar dalam gelap malam.

Kemudian Jongin meminta Kyungsoo mendekat dengan suatu gestur, hanya sedikit ayunan jari telunjuk, tapi jantung Kyungsoo telah naik hingga mencapai kerongkongan saat ia terhuyung-huyung berdiri dan hampir meloncat keluar ketika Jongin tiba-tiba menjalarkan tangannya di depan kemeja Kyungsoo,  garis yang menyapu dari leher hingga dadanya dengan telapak tangan. Meski warna-warna itu sangat ringan dan segera melebur dengan udara, sentuhan Jongin tertinggal, panas dan tak terlupakan.

“Kunang-kunang sungguhan,” Jongin menampakkan cengiran, “Menerangi seseorang dari dalam ke luar.”

“Apa maksud perkataanmu?” Kyungsoo tertawa, semakin keras ketika ia menangkap Jongin merona dari leher ke atas.

Jongin menjawab, tergeragap, namun segera hilang ditelan batuk-batuk kasar hingga bahunya terguncang-guncang. Butir-butir keringat muncul di dahinya.

Entah kenapa, ada sesuatu yang tidak beres.

Mansion Jongin dan bar tempat Kyungsoo bekerja terpisah jarak seratus dua puluh dua kilometer, dan di tengah-tengah jarak itu Kyungsoo meraih tangan Jongin dari roda kemudi dan menariknya mendekat, “Apa kau baik-baik saja?”

“Apa maksudmu?”

“Pil-pil itu–Tessalon Perles, Phenergan, Codeine, dan… bagaimana cara mengucapkan yang satu ini? Dan batuk-batuk yang kau alami, dan apa–?” Kyungsoo mengambil wadah plastik berbentuk bulan sabit dari kompartemen sarung tangan Jongin. “Kau–apa ini–penampung muntahan?”

Jongin memucat, “Bukan.”

“Kau sakit, kan?”

Dengung keheningan itu adalah hal terbising yang pernah Kyungsoo dengar. Akhirnya Jongin bergeser menjauh, menatap ke kejauhan. Kyungsoo memperhatikan bagaimana jakun pria itu naik, bimbang sejenak, lalu turun, dan tiba-tiba ia menyesal telah bertanya. Segalanya patah, retak di tepi-tepinya ketika ia bergumam, “Penyakit apa? Bukan sesuatu yang mematikan–”

“Paru-paruku.”

Tidak terdengar apa-apa kecuali tarikan napas berat, dan mungkin awal isakan yang tertahan di tenggorokan Kyungsoo.

“Berapa, berapa bulan–hari–?” ia bertanya, takut-takut, lebih hancur daripada luruhan abu dari ujung rokok Jongin. Menyala dan meredup menjadi abu-abu. Menyala dan meredup. Meredup.

“Dua tahun, dokter berkata,” dan Jongin berusaha tersenyum, dengan sudut di antara ujung-ujung bibirnya, menggantung seperti ejekan dan kesedihan. “Waktu yang cukup lama, mengingat aku baru hidup selama dua puluh–”

“Tidak. Berhenti merokok.”

Berkedip perlahan, Jongin terkekeh mencela. Rasa gelisah ini sangat nyata. “Kau akan melakukan apa, memangnya? Aku sudah sekarat. Dua tahun, dua setengah tahun, apa beda di antara keduanya? Semua itu hanya masalah waktu, dan ini tak ada hubungannya denganmu, kau toh tak bisa mengingat apa yang sudah kita lakukan–”

Rahangnya tumpul dan keras, terasa ketika beradu dengan kepalan tangan Kyungsoo, dan Kyungsoo hampir tak percaya bahwa ia baru saja memukul Jongin hingga kepala laki-laki itu membentur headrest kursinya, hingga batang rokoknya lepas dari tangan dan terjatuh ke kursi.

“Ini,” gemetaran, gigi bergemeletuk, Kyungsoo memungut puntung rokok itu, mengamati asap yang meliuk keluar dari ujungnya, “Ini adalah apa yang akan kulakukan,” dan ia memasukkannya ke dalam mulut. Rokok itu masih menyala dan rasa sakit yang ditimbulkannya bukan jenis yang menyebar, tapi yang menusuk seperti tombak. Jenis yang seperti mencabik-cabik tubuh Kyungsoo, jenis rasa sakit yang mengiris setiap saraf dan itu sakit, sangat sakit.

Jongin tetap menatap Kyungsoo saat laki-laki itu mengunyah dan menelan rokoknya, serpihan tembakau dan kertas dan filter sekasar pisau mengiris luka bakarnya. Asap terhisap lewat tenggorokannya dan ia tersedak, air mata mengumpul di balik matanya. Tembakau itu terasa seperti tanah dan obat dan rasanya makin tak karuan bila Jongin menatapnya tanpa ekspresi seperti itu.

“Lain kali aku melihatmu merokok,” Kyungsoo menelan sekali lagi, lidahnya seperti menjerit-jerit ketika ia menekankannya ke palatum mulutnya, “Aku akan melakukannya lagi. Karena, oke, baiklah, waktu tak ada sangkut-pautnya denganku. Tak ada bedanya bila aku mati hari ini atau besok, benar, kan? Bila menurutmu kau punya hak untuk memutuskan segala hubungan denganku, apa aku tidak boleh memiliki hak yang sama?”

“Kau… benar-benar, amat-sangat bodoh, hyung.”

Kyungsoo terlalu kesakitan untuk menjawab, tapi ia setuju.

“Aneh, penulis itu tidak merokok lagi,” Minseok berkomentar pada malam pertama Kyungsoo muncul di bar setelah sekian minggu absen. Minseok menenggak seteguk air dan melirik ke arah para musisi sebelum kembali menatap Kyungsoo, “Biasanya ia merokok hingga berbatang-batang, aku bersumpah. Dan coba lihat setelan mahalnya. Membuatnya kelihatan seperti orang yang sama sekali lain.”

Memakai lidahnya untuk mengusap bekas luka bakar yang ia dapatkan beberapa waktu yang lalu, Kyungsoo mengikuti tatapan Minseok hingga menemukan pria yang tengah duduk di seberang ruangan sambil menahan cengiran yang, Kyungsoo yakin, menghipnotis. Sudah setengah jam melewati pukul dua belas malam, dan bar itu penuh oleh manusia dan celotehan, tapi pada detik kedua pasang mata mereka bertemu apa yang bisa Kyungsoo lihat hanya pria itu dan bentuk bibirnya, kilap gelap di balik bulu matanya. Isi ruangan ini seolah dikosongkan dalam sekejap hingga yang tertinggal hanya Kyungsoo dan pria dalam balutan jaket kulit itu. Sunyi, tak berwarna, sureal.

Musik mengalun dan Minseok menggumamkan suatu nada. Kyungsoo menggerakkan rahangnya naik-turun mengikuti insting, karena ia tahu itulah tanda baginya untuk bergabung dengan Minseok. Mikrofon di tangannya terasa berat dan ia menunggu suaranya muncul, namun tak ada yang keluar. Kuakan kasar dan kerjapan mata dan rasa panik mulai menguasainya, makin menjadi ketika Minseok mengetuk-ngetuk lantai di bawah mereka dengan sepatu, tak sabar.

Pria di seberang ruangan mengangkat alis, mengatakan sesuatu tanpa suara dan Kyungsoo tak begitu paham, lalu dengan ragu-ragu mengangkat tangannya. Terbius, Kyungsoo menyaksikan jemari itu berdansa di udara, dan entah bagaimana suara piano tiba-tiba menyisip masuk, keras dan jelas dan bergabung menjadi satu. Melodi itu menjalar di tubuh si pria, menunjukkan sudut dan kurva dan Kyungsoo pikir pria itu adalah manusia paling sempurna, seniman paling sempurna di dunia. Melodi-melodi mengalir dari ujung jari pria itu menuju jantungnya, seperti itulah tujuan utama eksistensi nada-nada itu.

Di suatu malam di bulan September, atau mungkin Oktober, Kyungsoo mendedikasikan penampilan terbaiknya pada seorang penari dalam jaket kulit. Dan selanjutnya, saat Kyungsoo menunggu Minseok membagi tip yang mereka dapat, si penari berjalan melewati meja-meja menghampirinya dengan senyum canggung, “Aku tidak membawa payung.”

Kyungsoo mengerjapkan mata, baru menyadari tetes-tetes hujan yang menghujam jendela. Minseok menyenggolnya, “Dia bilang dia tidak membawa payung.”

Kyungsoo tetap mengerjapkan mata hingga si penari menghela napas dan melingkarkan lengannya di leher Kyungsoo asal-asalan, jelas-jelas suatu gestur yang pernah ia lakukan lebih dari sekali sebelumnya, dan mulai menyeretnya keluar. “Ayo, ayo. Antarkan aku pulang, hyung.”

Ketika pria itu menyebut kata ‘hyung‘, Kyungsoo langsung teringat pada halaman terakhir scrapbook-nya, halaman tanpa foto, tentang seorang pria yang sesungguhnya hanyalah seorang bocah lelaki, seorang penulis yang sesungguhnya adalah penari, tetangga yang lebih dari itu. Kim Jongin. Ada catatan khusus yang dibubuhkan di halaman itu, bicara tentang pura-pura tak pernah membacanya karena Kim Jongin tidak ingin diingat.

Maka Kyungsoo pura-pura tak tahu di mana Jongin tinggal, “Di mana rumahmu?”

“Aku tahu kau tahu.”

“Aku bersumpah aku tidak tahu.”

“Di apartemenmu.”

“Tidak, sungguh.”

“Ya, sungguh.”

Kyungsoo menggerutu, Jongin menyeringai, dan Kyungsoo tahu tak ada alternatif lain selain membawanya ke sana.

Seoul pukul satu malam beraroma seperti tanah basah, jaket kuyup, dan pelembut pakaian Jongin. Kyungsoo menawarkan jasa memegangi payung, mungkin supaya buku-buku jarinya bisa sedikit menyapu bahu Jongin ketika mereka berjalan terlalu dekat di garis yang tidak paralel. Hubungan mereka dapat diringkas menjadi dua siluet tinggi-kurus, bahu hampir-hampir tak bersentuhan, kaki menapaki trotoar basah di antara senja dan fajar. Suatu imaji yang dipenuhi kenaifan tidak dewasa, rona malu kekanakan dan kegugupan dan ucapan tiba-tiba, “Aku menyukaimu,” dan “apa yang baru saja kau katakan,” dan “aku akan menciummu,” dan bibir kasar, sentuhan lembut, mulut yang tersenyum dan saling meraih jemari tangan.

“Bukankah membosankan bila hanya ada satu warna di sini?” Jongin berkomentar ketika Kyungsoo berjalan bolak-balik dari satu sudut kamar ke sudut lainnya, merapikan dan menyusun ulang dan membersihkan seluruh detail karena semua terlihat sangat berantakan ketika ada tamu di rumah.

“Sebaliknya hanya akan membuat pening,” Kyungsoo merespon, melicinkan kerutan terakhir di selimutnya.

“Baiklah, tapi kau tidak akan tahu mana yang penting bila tetap seperti ini. Semuanya hijau. Seperti padang rumput. Ada rumput di dindingmu,” Jongin mentertawakan leluconnya sendiri, canggung, sementara Kyungsoo telah menyerah dalam usahanya membersihkan ruangan dan merosot ke karpet, “Baiklah, tidak ada bercanda hari ini, benar.”

“Jadi, kau… apa…?” Kyungsoo tidak benar-benar menyasar subjeknya, karena ia sudah tahu jawabannya dan sungguh, semua ini hanya formalitas, berpura-pura tidak mengenal Jongin ketika ia merasa ia sesungguhnya mengenalnya dan ketika ia telah menghapalkan seluruh kalimat dalam scrapbook tentangnya.

“Aku seorang penulis.”

“Kukira kau seorang penari?”

“Dulunya,” Jongin bangkit dan berjalan menyeberangi ruangan, menunduk sedikit karena langit-langitnya terlalu rendah, lalu mendudukkan diri di sebelah Kyungsoo. Kaki mereka pas satu sama lain, jari-jari kaki hampir tidak pernah terantuk dan seluruh garis teratur, “Dulu, aku menari balet.”

Kyungsoo meminta pada Jongin untuk menjelaskan seperti apa balet itu, karena ia belum pernah melihatnya sama sekali, dan Jongin memutuskan akan melakukan demonstrasi langsung dengan jari-jarinya, “Jadi, ini kepalanya dan ini kakinya, dan, satu, dua, tiga–” arabesque, ia menyebutnya, “dan lompatan seperti ini,” disebut grand jeté, dan “kemarikan telapak tanganmu,” liukan pergelangan tangan, kuku-kuku bergerak memutar menggelitik telapak tangan Kyungsoo hingga laki-laki itu tertawa, “fouetté en tourant,” dan senyumnya berubah menjadi mengamati dengan seksama saat jemari Jongin bergerak cepat menuju ujung telapak tangannya, terus ke belakang, “ini sissonne, satu, dan dua, dan–” mereka berdua berhenti bernapas sejenak saat jemari Jongin melewati pergelangan tangan Kyungsoo, terus ke lengan bawah, lengan atas, bahu, klavikula, leher, bibir bawah, berhenti.

Jongin menciptakan senyum di mulut Kyungsoo dengan ibu jari, lalu mendekat untuk membalurinya dengan senyumnya sendiri dan sebuah ciuman singkat yang manis menarik Kyungsoo lebih dekat.

Tapi ketika tangan Jongin berpindah melingkari pinggangnya untuk menariknya semakin dekat, Kyungsoo tersentak, terengah, “Tunggu, jangan.”

Sedikit linglung, Jongin menatap mulut Kyungsoo sewaktu laki-laki itu tergesa-gesa beringsut menjauh, bertengger tak nyaman di tepi meja kerjanya, “Aku bahkan… aku tidak mengenalmu. Maksudku–maksudku, aku tidak begitu ingat…” dan omongannya tergantung saat Jongin berdiri, meraih tangannya, menempelkannya di dada pria itu. Ia merasakan detak jantung Jongin, sangat cepat, denyut nadinya yang jarang, dan bisikannya di telinga.

“Dengar,” Jongin berkata, “ini aku, jatuh cinta padamu,” dan ia ganti meletakkannya di dada Kyungsoo, dan barulah Kyungsoo sadar betapa cepat jantungnya berdegup di dadanya dan rasa panas tiba-tiba mengaliri pipinya, “dan ini, terdengar cukup familiar, bukan?”

Ada permainan terselip dalam mata Jongin dan tantangan di partisi di antara bibirnya dan Kyungsoo tak tahu apa yang tengah ia lakukan, namun ketika Jongin menempatkan tangan di lututnya semua hal seperti meledak, berubah menjadi jemari terbenam di belakang leher dan kekacauan yang melibatkan lidah dan kehabisan napas dan lutut beradu dengan pinggul. Menghilangkan pembatas tak kasat mata di antara mereka terasa sangat natural, meraih dan saling menyentuh kenyataan di tubuh masing-masing. Membimbing tangan dengan tangan dan bibir di atas bibir dan mereka sungguh pas satu sama lain, celah mengisi lekukan dan keraguan terganti oleh keinginan mempercepat. Jatuh tanpa akhir hingga mereka mencapai dasar terdalam, hingga Jongin memerangkapnya di antara dinding dan tubuhnya, kaki berbenturan dengan bagian dalam pahanya dan napas panas di tengkuknya.

Kyungsoo forgets to breathe when Jongin shocks the silence, ripping his zipper open and pulling down his jeans and briefs at once. He doesn’t know where to look, really, because he’s never done this before, and Jongin seems more than familiar with the procedures as he fists Kyungsoo, dragging hot fingers until Kyungsoo is so hard it almost hurts. He bucks, on instinct, and Jongin seems to notice the way he’s gripping back and studies Kyungsoo from under his lashes, “It’s okay, we’ll go slow.”

Though the definition of slow might be subjective, Kyungsoo is positive that Jongin is stepping out of bounds when he opens his mouth and closes it around his cock, immediately sliding further down the shaft, lips furious and scalding and intoxicating, tongue flicking across the slit and rubbing impatiently up the underside of his cock. Throwing his head back, Kyungsoo thrusts uncertainly into Jongin’s mouth, though the uncertainty ends the moment Jongin moans and the knot of pleasure unravels into his guts. From there it’s about heat and moans, nail bed scraping against scalps and whimpers prefixes to sharply gasped, “Jongin, Jongin,” and low moans suffixes to muffled shudders behind clenched teeth.

When Kyungsoo is about to come, Jongin pulls away and crushes him against the wall, mouth fervent and hot and whispering fast instructions about, “take my pants,” between, “off, now” jolts of, “hurry,” electricity, “hyung.” As Kyungsoo follows his orders to the syllable, Jongin peels away his shirt, throwing it anywhere before awarding Kyungsoo with a light trail of kisses from his mouth to his jaw and lower, down his neck and off his shoulder, skittering along the length of his arm until he finds the junction between the fingers. Slowly, with his eyes squared in Kyungsoo’s, he sucks off their fingers together. As Kyungsoo reels in the warmth of Jongin’s tongue, Jongin pushes him over the bed.

The first digit that Jongin inserts into Kyungsoo hurts, the second one is blind agony, and Kyungsoo waits for Jongin to nip the pain away, distracting little pecks spiraled along his neck. He relaxes in time for Jongin to thrust in deeper, and that is when his hips jerk up on their own. A strong wave of pleasure punches him numb and inarticulate; his jaw drops but nothing comes out. Jongin remembers the spot and when he replaces his fingers with his cock it’s the same damned spot that he hits, the same spot that makes Kyungsoo let go of everything. A noise between a grunt and a scream comes out from his throat. Jongin squeezes his thigh before thrusting in again and faster, rougher, over, and over until Kyungsoo comes in streaks of white over his stomach, and keeps going until a sudden, sharp, grunt.

Ketika mereka telah berbaring di kasur, Kyungsoo mulai berpikir tentang melipat pakaian-pakaian yang Jongin campakkan ke segala arah, dan Jongin tentang melingkarkan lengannya di pinggang Kyungsoo dengan sempurna. Tepian kemeja Kyungsoo yang dikanji, bau rokok dan transisi musim gugur menjadi musim dingin, kusut di dekat pinggul keduanya. Perlahan Jongin menelusuri kancing-kancing itu dengan tangannya, membukanya satu-persatu dengan santai dan rasa puas di tenggorokan, “Kau tahu, aku tidak pernah memberi tahu tentang namaku. Bagaimana kau bisa mengingatnya?”

Kyungsoo merona, kulit wajah berubah dari merah jambu menjadi merah padam saat ia berusaha membenamkan wajah ke bantal, “Kau tahu, bukan, kalau ada satu halaman tentangmu di bukuku?”

“Tentu saja aku tahu,” Jongin bergumam, dan Kyungsoo bertanya-tanya mengapa kedengarannya ia sedang terengah–napasnya berdecit sepanjang waktu, mungkin sejak awal. “Aku punya kunci apartemenmu, dan tidak pernah memahami privasi maupun ketaatan. Tapi sepertinya kau pun begitu, mengingat kau menulis tentang kita meski aku melarangmu melakukannya.”

“Tapi aku akan tetap menulis,” Kyungsoo berkata. “Aku ingin menyimpan memori tentang kita. Aku benar-benar–aku ingin memiliki–hanya–suatu hubungan. Aku ingin memiliki ikatan yang sesungguhnya denganmu, di mana kita bisa membicarakan tentang apa yang kita lakukan kemarin atau sehari sebelumnya…”

Jongin tak berkata apa-apa, hanya membenamkan hidungnya di tengkuk Kyungsoo, napasnya masih terengah-engah.

“Besok, kumohon, jangan biarkan aku melupakanmu, Jongin. Aku ingin mengingat ini semua–aku ingin mengingat kita.”

“Jangan khawatir, hyung. Aku seorang penulis. Ingatanku kugunakan untuk menyokong hidup.”

Mereka terjaga sepanjang malam. Jongin membuat bercangkir-cangkir teh yang terlalu lama direndam dan mereka meminumnya di balkon Kyungsoo, kaki menggelantung dan bertautan, jari-jari kaki menggelitik kaki yang lain. Kyungsoo berusaha bicara tentang apapun yang terlintas di pikirannya, apapun yang dapat membantunya terjaga karena ketika ia tertidur maka semua ini akan selesai, bintang-bintang indah dan gelembung-gelembung udara hangat dalam tubuhnya dan kulit halus Jongin ketika menyentuhnya, perbedaan yang mencolok. Ia mengoceh tentang bagaimana Jongin terlihat tampan ketika ia menari di bar, tentang suara dan gerakan mereka melengkapi satu sama lain, tentang langit cerah dan tentang ramalan cuaca yang berkata esok akan hujan.

Namun, pada akhirnya, mata Kyungsoo mulai berat dan ia bersandar pada Jongin, setengah tak sadar akan angin dingin yang menggelitik kulit dan garis-garis yang digambar Jongin dengan jemari tangan di lehernya. Jongin menempatkan kepala Kyungsoo di pangkuannya dan mengusap rambut Kyungsoo, melanjutkan perkataan Kyungsoo seolah ia tak pernah berhenti, karena mungkin semua hal tak harus berakhir dengan cepat. Karena ia, pun, ikut berharap.

Kyungsoo tetap terbawa pergi oleh tidur, pada akhirnya.

Di saat-saat terakhir musim panas, jam selalu terasa terlalu pendek dan detik-detik terlalu lama. Hari memendek dan meski Kyungsoo tak bisa berkata bahwa ia memiliki bukti, rasa ragu-ragu bercampur takut seolah menggerogoti tubuhnya setiap kali satu hari berakhir dan ia bisa merasakan perasaan itu tertinggal di dalam dirinya. Mengisi kerutan-kerutan di kulit, menyelubungi batang tubuhnya, jatuh hingga ke ujung jari kaki. Kerinduan. Ketakutan. Suhu dingin musim dingin, hujan tanpa awal yang jelas, jam-jam yang sama yang ia tahu telah ia lewatkan sebelumnya. Kemudian malam menyelinap dan melukis segala hal dengan tinta kelam.

.

Part Three

footnote (regarding the drugs):
Tessalon Perles: Benzonatate. untuk mengobati batuk. mereduksi refleks batuk dari paru-paru.
Phenergan: Promethazine. mengurangi pusing, mual, muntah-muntah.
Codeine
: mengobati batuk dan rasa sakit. termasuk narkotik yang bisa menyebabkan kecanduan, diambil dari bunga popi.
klavikula (clavicle): tulang selangka. tulang bahu. collar bone. anything. ada di bahu, ‘sepaket’ dengan belikat, kiri-kanan.
palatum (di mulut): ‘atap’ mulut. molle and durum, soft and hard, flesh and bone.
the explanations of the medicines are taken from PubMed. body parts, tortora, simplified.

Advertisements

10 thoughts on “[Indonesian-Translated] Anterograde Tomorrow (Part Two: Invisible Walls)”

  1. Haha, makin lama aku makin suka sama versi translate-nya AT. Ini cantik banget, sama cantiknya sama yang asli. Rasanya rada beda sih sama yang asli mungkin karena ada beberapa kata yang memang bakal mengurangi rasa ceritanya kan? Tapi beneran, cinta banget sama AT translate version ini.
    Waktu aku baca di bagian pantai itu, aku jadi inget pertama kali aku nangis gegara baca fanfic. Dan aku mulai nangisnya di bagian itu, hahaha. Gimana yah, rasanya itu kaya salah satu bagian yang paling dapet gitu rasanya. Mungkin kalo buat orang lain, itu bagian fluffy-nya kali, tapi kalo untuk aku justru itu bagian yang membuka gerbang air mata.
    Setuju juga sama kakak tentang bagian ‘begitu-begituan’ enggak usah di-translate. Emang musti di skip itu bagian, dan keputusan untuk enggak motong bagian ‘itu’ bagus menurutku.
    Oh, tuhan, AT bikin pengen mewek aja gitu bawaannya.

    1. padahal kemarin aku udah mikir-mikir mau berhenti translate ini, lho, hahaha. (dan ini nggak cantik. absurd, iya. but it’s far from any synonyms of beautiful.)
      YA AMPUN IYA BAGIAN PANTAI. udah mbrambangi dulu waktu baca pertama. sial, baru kali itu baca fanfic yang benar-benar nggerus(?) jiwa raga :”””
      (itu karena translator gak ngerti lagi harus ngetik apaan…)
      /pukpuk /kasih tisu/ makasih udah baca (dan rela nyakit waktu baca) :’D

  2. wah…padahal nih FF udh lama di post, tapi aku baru search nya sekarang, sebenernya aku udh nemu sih yg sampe chap 3, tapi bahasanya susah dipahamin -_- tapi trans ver. kakak(kupanggil kakak aja ya) lbh gampang dimengerti..ayo lanjut XD cuman di sini doang aku bisa mencopy nya ke microsoft(lumayan kalo lagi bosen, baca ff) di web lain ga bisa dicopy T_T
    ayo ka!! lanjutin…ga sabar nih nunggu chap terakhirnya, aku udh siapin tisu nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s