[Ficlet] Snowflake

Snowflake
Kim Minseok (EXO), OC; slice of life; G; 1116 words
note: loosely based on Rise of the Guardians

He can’t be seen by anyone but her, who believes just enough.

Minseok menggeram saat seorang bocah laki-laki menabraknya–menembus tubuhnya. Lagi, lagi, dan lagi. Kekesalannya makin memuncak saat serombongan remaja melewatinya begitu saja, bahkan tanpa menyadari turunnya temperatur udara di sekitar Minseok, tempat keping salju terkonsentrasi paling pekat. Bocah laki-laki tadi saja masih sempat menggigil dan merapatkan scarf bermotif Pororo di lehernya beberapa meter sebelum mencapai tempat Minseok berdiri. Antara anak kecil lebih mudah kedinginan atau gerombolan itu praktis tak peduli–Minseok mengerutkan kening. Selapis tipis es muncul di depan gerombolan pemuda tadi, membuat dua dari mereka terpeleset hingga jatuh di trotoar.

Ia tak keberatan tertabrak seseorang, sungguh, bila itu membuktikan ada yang mempercayainya. Meski hanya satu orang saja.

Angin dingin berhembus, membawa Minseok pergi seolah sadar laki-laki itu akan segera menimbulkan kekacauan bila dibiarkan begitu saja. Minseok menghela napas, memaksa supaya ia hanya melayang sedikit lebih tinggi dari permukaan tanah. Toh tidak akan ada yang melukainya–lagipula ia, kan, tak akan mati. Dalam waktu dekat, setidaknya. Atau bila takdirnya masih berkata demikian.

Disentuhkannya ujung tongkat dalam genggamannya pada apapun yang berada dalam jangkauan–tiang lampu. Kap mobil. Topi rajut seorang wanita yang tengah berjalan di sebelah kekasihnya. Tepian jalan. Dinding bangunan. Kaca jendela toko. Lapisan beku menyaluti permukaan, perasaannya sedikit tenang. Pekik terkejut orang-orang ketika es menyentuh kulit mereka tidak Minseok hiraukan, terlalu sibuk dengan benaknya sendiri hingga tak memperhatikan jalan yang ia lalui, belokan arah angin meniupnya, lalu-lalang manusia di sekelilingnya. Tak apa. Tak ada yang bisa menyentuhnya, ingat?

Gagasan soal tak ada yang percaya akan keberadaannya membuat emosi Minseok kembali, bahkan dua kali lipat lebih parah dari sebelumnya. Ia mengepalkan tangan–salju turun makin deras. Seorang ibu menuntun anaknya agar berjalan lebih cepat supaya mereka bisa segera masuk ke gedung apartemen di seberang jalan. Sekumpulan pekerja bergegas masuk ke bar terdekat. Semua orang melakukan hal yang sama, selalu menghindari dingin. Apa mereka benar-benar sebegitu bencinya dengan dingin? Tidak menyukai salju lembut yang turun dari langit? Batang-batang air yang beku ketika mengalir dari tepian atap? Elemen utama Minseok?

Derajat di termometer makin menurun–mantel dirapatkan, scarf dikencangkan, langkah dipercepat, pemanas ruangan dinyalakan. Kaki telanjang Minseok mulai menapak tanah, menimbulkan lapisan es licin lain, membuat orang-orang mengumpat karena tiba-tiba terpeleset akibat es yang mendadak muncul. Kekesalan Minseok terus bertambah. Kenapa harus begini? Kenapa ia harus menjadi seseorang–sesuatu–yang tidak disukai banyak orang? Memangnya–

“Kau tidak kedinginan?”

Minseok menoleh, mencari sumber suara. Gadis dalam balutan mantel tebal dan sarung tangan rajutan berdiri di depannya, tatapan heran terarah pada kaki Minseok yang langsung bersentuhan dengan tanah–es–apapun. Ia menatap ke sekeliling, kalau-kalau gadis itu tidak baru saja bicara padanya, dan sekarang tengah kebingungan karena semenit yang lalu tidak ada es di trotoar ini. Tapi tidak ada orang yang balik menatap gadis itu, atau yang memperhatikan mereka; semua melintas begitu saja, tak peduli pada pemandangan ganjil seorang gadis yang berhenti di tengah jalan sambil memandangi air beku licin di bawah kakinya. Oh, penduduk kota ini, kan, sibuk dengan dunia masing-masing.

“Hei, aku bertanya, kau tidak kedinginan? Kau bahkan tidak memakai sepatu–”

“Aku–” Minseok menyadari tatapan aneh orang-orang di sekitar mereka–ya Tuhan, gadis ini pasti terlihat seperti orang gila karena bicara pada udara kosong–, lalu segera meraih pergelangan tangan gadis itu dan membawanya ke tepian jalan, berharap tak akan membuat mereka menjadi pusat perhatian.

Minseok bisa menyentuhnya. Dia… percaya? Percaya akan keberadaannya? Saat bahkan tidak ada anak kecil yang peduli pada seorang lelaki pencipta salju? Gadis yang usianya lebih mendekati orang dewasa daripada anak kecil? Yang benar saja.

Gadis itu masih menatapnya. “Aku tahu kau yang melakukan semua ini. Salju deras, angin dingin yang sangat kencang–apa ada yang mengganggu pikiranmu?”

Minseok hinggap di salah satu pipa hydrant di sebelah si gadis, “Bagaimana kau bisa melihatku?”

“Entah. Apa tidak ada yang bisa melihatmu?” kemudian rona wajah gadis itu berubah, seolah-olah ia ingat bahwa orang-orang di jalan sama sekali tak menggubris Minseok.  “Aneh sekali. Apa mereka tidak pernah mendengar tentang Jack Frost?”

“Darimana kau tahu–”

“Satu, kau tidak tampak kedinginan, bahkan meski kau tidak memakai alas kaki,” mata gadis itu sejenak terarah pada telapak kaki Minseok sebelum kembali menatap wajahnya, “Dua, aku melihatmu sedikit melayang, tadi. Tiga, jejak es di pakaianmu. Itu yang kubaca di buku tentang ciri-ciri Jack Frost.”

“Kau… kau orang pertama yang bisa melihatku,” Minseok berkata, masih tidak percaya akan apa yang tengah terjadi padanya. Setelah ratusan tahun–sejauh ia bisa mengingat– dan ada yang dapat melihatnya selain Leprechaun atau Peri Gigi yang kadang ia temui. Manusia. Sungguhan. Hidup, bernapas, dan yang terpenting, ada. Ia masih tak mengerti kenapa gadis itu terlihat sangat tenang ketika bicara padanya, seolah mengobrol dengan lelaki-yang-melayang-di-udara bukan hal ganjil.

“Benarkah?” gadis itu mengerutkan kening, “Aku tidak mengerti. Apa ini ada hubungannya dengan teman-temanku yang berkata mereka pernah melihat Kelinci Paskah, dulu, dulu sekali–aku pernah melihatnya, dan yang lainnya juga– tapi tidak pernah bertemu dengan Jack Frost?”

Minseok menghela napas, “Karena mereka tidak percaya.” gumamnya. Ia tidak sepopuler mereka yang sering disebutkan dalam dongeng anak-anak. Ia tahu dirinya digambarkan sebagai sejenis makhluk kejam yang hobinya membekukan segala hal–pantas saja bila tak ada yang percaya akan keberadaannya, atau justru takut akan dirinya. Gadis itu tiba-tiba bergidik dan Minseok berhenti mengeluh dalam hati, baru menyadari bahwa ia lagi-lagi menurunkan suhu udara di sekelilingnya tanpa ia sadari. Kebiasaan, gerutunya.

Gadis itu menggumamkan sesuatu tentang udara dingin, melirik jam tangannya dan berkata, “Sudah sore. Semakin lama udara akan bertambah dingin–sepertinya aku harus segera pulang.”

Bagus sekali, Minseok, baru kali ini ada seseorang yang tahu akan keberadaanmu dan kau justru mengusirnya begitu saja. Bagus.

“Aku pergi dulu,” pamit gadis itu, “Sebenarnya aku berharap bisa menemanimu sebentar–kau kelihatan sangat kesepian. Maaf.”

Minseok hampir mengulurkan tangan, ingin menahan gadis itu di tempat, meski akhirnya ia batal melakukannya. Gadis itu mengenalinya dan itu cukup, tidak perlu memaksa hingga meninggalkan kesan tak menyenangkan tentang dirinya. Jadi ia tersenyum, perlahan kembali melayang lebih tinggi dari tiang-tiang lampu jalan sementara gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Mungkin menuju rumah dan kamar yang hangat.

Ia melesat ke udara, melayang di atas kepala gadis itu hingga keduanya mencapai ruas jalan yang sepi. Dijatuhkannya sejumput salju di kepala si gadis. Gadis itu mendongak ke atas, matanya kembali bertemu dengan Minseok dan ia berkata, “Runa.”

Minseok mengernyit kemudian sadar bahwa gadis itu baru saja menyebutkan namanya. “Oh. Minseok.”

“Tapi kukira namamu Jack Frost?” celetuk Runa. Minseok menggeleng, “Panggil aku Minseok.” katanya sambil melayang turun.

Ia berhenti di depan Runa, telapak tangan terbuka di hadapan gadis itu dan air perlahan memadat di tengahnya, membentuk kabut tipis yang menyelubungi tangannya. Bola mata Runa membesar karena takjub hingga Minseok berhenti dan sebuah ornamen berpola rumit seukuran koin tergeletak di permukaan tangannya, seolah benda itu disihir hingga muncul tiba-tiba–yang tidak sepenuhnya salah, hanya Minseok baru saja membuatnya. Diletakkannya benda itu di atas tangan Runa yang masih ternganga heran,

For you, for believing in my existence.”

end.

Advertisements

6 thoughts on “[Ficlet] Snowflake”

    1. woot, jadi minseok yang bikin amerika (kalo enggak salah) jadi beku? ah, kamulah ada-ada aja. jangan labil dong #apaan
      ih, lucu banget ini minseok-nya. kasian enggak ada yang bisa liat dia. untung ada si runa. another new couple?
      aku malah baru tahu kalo ada jack frost. belum pernah nonton rise of the guardians sih, abisnya enggak ada yang mau diajak nonton.
      pokoknya gitulah kak. manis, lucu, bayangannya minseok cemberut unyu mulu gitu sebelum ketemu runa. semua yang bentuknya pujian panteslah buat fic ini.
      btw, kenapa nulis tentang salju padalah di jogja matahari nemplok di atas atap, hahaha.

      1. iya amerika. sampai lebih dingin dari mars /eh/ memang dianya yang kurang kerjaan (~’_’)~
        nggak tau deh ini mau dijadain OTP apa nggak. kalau di AU ini mungkin nggak sih, kasihan soalnya (?)~
        …kok kasian. aku juga cuma nonton sendiri kok, di kamar, pakai laptop. ngenes ya, jomblo sih /eh…
        …nggak tau? jadi nyadar sekarang sumuk banget waktu aku ngetik ini. sial. tapi kan aku bikin ceritanya semalam, agak-agak dingin semilir angin gitu, tak apalah~
        as always, thanks for reading and leavin’ some footprints~

        1. Tauk ah, si abang ini. Nyari kerjaan ke sini gitu, susah amat.
          PLIS PLIS PLIS OTP AJA NANTI SEMUA AU YANG ADA MINSEOK DI KAPELIN SAMA RUNA PLISPLISPLISSSS
          aku sebenernya juga lebih suka nonton sendiri tapi sejak masuk sma diejekin mulu kalo suka nonton sendiri. dikira jomblongenes #padahaliya
          Demi apa ya, jogja panas banget. apalagi kalo udah siang-siang beuh, bawaannya pengen nempel sama kulkas aja.
          The heat is not general (read: panase ora umum) #jawaorajawa

  1. KIM MINSEOK I BELIEVE YOU. mau dong bisa liat minseok yang melayang-layang ganteng di udara huhuhuhu. (maaf fikanya lagi jatuh cinta banget sama 90linernya exo. aduuuh)
    aku suka caramu gambarin karakternya minseok di sini. penggerutu, sering cemberut, gampang sebel ahahaha. aduuh dan pasti waktu runa nyadar tentang minseok ini, muka anak ini pasti percaya-ga-percaya imut imut gitu aduuuh peliis siapapun kirimin minseok ke rumah dong xD
    so, sooo another couple, then? runa-minseok, sounds lovely ❤

    btw thank you aufa. aku baru aja selesai uas hari ini, begitu buka wordpress aaahhh… hugs you from afar, lots of kisses from surabaya xD
    keep writing aufaaa~

    1. KAAAAK PIKI. KYAAAAA. *eh
      …nggak tau kenapa aku jadi suka. sekali. banget. suara minseok. kayaknya gegara dia sering ngomong di showtime, dan suaranya yang lucu banget itu lho ;A; eh mukanya juga sih, that baby-face (and baby-fat cheeks before he lost some weigh). ya ampun anak itu 90liner apa 2000-liner sih sebenarnya…
      INI KENAPA PADA MINTA OTP SIH. …couple deh, asal jangan di sini. minseok-nya kan immortal, kasihan </3

      ciyeeee selesai uas~ /tebar confetti/ haha sama-sama, dan makasih juga ya kaaak sudah baca 😄 /lempar minseok ke surabaya/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s