[Drabble] Pluviophile

Pluviophile
Kim Minseok (EXO), OC; romance (kind of), slice of life; PG; 978 words
note: because somebody had been pestering me to do this. no, really. (i also kind of want to make this, anyway.)

ice melts,
sun burns.

.

Hei.

Apa?

Kudengar malam ini akan turun hujan. Bertemu di tempat biasa?

Oh. Pukul berapa?

Setelah makan malam?

—–

Kadang Minseok menemaninya di tengah hujan. Di halaman belakang, bila tidak ada badai, kubah bening menyelubungi hingga Runa bisa mengamati tetesan hujan yang beradu dengan es. Tidak dingin karena–karena entah apa yang dilakukan Minseok pada kubah itu, namun Runa pernah mencoba menyentuh esnya dan rasanya sangat sangat sangat dingin, seperti mencelupkan ujung jari ke air danau yang mulai membeku di musim dingin. Ketika ia menarik tangannya kembali, udara hangat menyelubunginya dan Minseok mengatainya bodoh karena menyentuh dinding es tanpa seijinnya.

Meski begitu, Runa masih mengingat jelas bagaimana kening Minseok berkerut hingga alisnya nyaris bertautan, juga rasa khawatir yang ia tangkap dalam omongan Minseok tempo hari. Namun ia menahan senyum, memasang tampang tak bersalah di depan Minseok sambil balas mendebat bahwa ia, toh, tak apa-apa, sedikit rasa dingin tidak akan menyakitinya hingga ia mati atau apa. Kemudian Minseok berkata ia harus membuat lapisan es baru karena Runa telah mencairkannya, namun Runa tahu bukan itu alasan sebenarnya di balik omelan Minseok yang jarang ia dengar.

(Lagipula, bukankah tetes hujan akan membeku dengan sendirinya di luar kubah? Memangnya Minseok pikir Runa sebodoh apa hingga tak paham hal sederhana semacam itu?)

Hari hujan yang lain, Runa mengulurkan tangan lewat lubang berkanopi yang sengaja dibuatkan Minseok di satu sisi kubah karena ia tahu persis Runa sangat menikmati ketika tetes-tetes hujan jatuh di kulitnya, terutama sejak tetesan air tak lagi langsung menguap saat menyentuh tangannya. Hiasan yang ada di dekat lubang itu tidak pernah sama tiap kali Minseok membuat kubah–yang selalu mencair karena terpapar sinar matahari terik setelah hujan, atau karena Chanyeol tidak sengaja melesatkan bola api ke dekat kubah itu– baru; bentuk-bentuk segi banyak, kristal salju, kadang wajah manusia salju, dan yang paling jarang adalah huruf R sederhana di tepi lubang bersama sebentuk matahari. Runa sering mentertawakannya di depan Minseok, tapi jauh dalam hati sesungguhnya ia kerap berharap akan menemukan ukiran itu di dekat lubang saat hari hujan tiba.

Runa bertemu dengan ukiran itu lagi, hari ini. Sedikit berbeda, karena ukiran Minseok tak pernah persis sama. Jemari Runa menelusuri setiap lekuk yang terpahat di atas es, perlahan, seolah tengah berusaha menghapalkan setiap tarikan garis dengan ujung-ujung jarinya. Runa tak mengerti bagaimana Minseok bisa membuat bentuk-bentuk semacam itu–tapi, lagipula, banyak hal lain yang tidak Runa ketahui tentang Minseok, berhubung laki-laki itu masih sama misteriusnya dengan sosok Minseok yang ia temui pertama kali beberapa waktu silam, pria dingin yang tak banyak bicara pada orang yang tidak dekat dengannya.

Air menetes dari langit-langit kubah. Minseok kembali menggerutu tentang es yang mencair. Runa mentertawakannya, sementara jejak huruf R dan gambar matahari terbentuk semakin dalam, membayangi ujung-ujung jarinya seperti kulit kedua.

—–

Dulu, menyentuh Minseok sama dengan menyakiti pria itu. Kulit Minseok memerah dan ia berkeringat, begitu deras hingga seolah-olah Minseok akan meleleh–tidak bisa dibilang salah karena Minseok memang akan meleleh bila kulit Runa terlalu lama menyentuh kulitnya, membuat Runa takut setengah mati kalau-kalau ia akan menyakiti Minseok lebih dari yang laki-laki itu bisa menahan. Namun Minseok selalu bersikeras bahwa ia tak apa-apa–bahwa itu tak semenyakitkan yang Runa bayangkan. Runa pernah tak sengaja terkena minyak goreng panas hingga kulitnya melepuh, dan ia yakin sakit di kulit Minseok jauh lebih parah dari nyeri oleh setetes minyak goreng, jadi ia menolak segala bentuk kontak fisik dengan pria itu di awal kala mereka bertemu.

Minseok yang memulainya.

Menepuk bahunya. Menyenggol lengannya ketika seseorang mengajak Runa bicara namun gadis itu tidak mendengarkan karena fokusnya ada di hal lain. Mengacak rambutnya sekilas ketika ia lewat di dapur saat Runa tengah memasak bersama Kyungsoo.

Lu Han berkata Minseok tak akan pernah melakukan semua hal itu pada orang yang ia benci, lebih-lebih pada Runa yang bisa tanpa sengaja menyakitinya.

Kemudian Lu Han menambahkan bahwa mungkin Minseok menyukainya, namun sup yang mendidih di panci lagi-lagi mengalihkan perhatian Runa dari apa yang Lu Han katakan.

—–

Kali pertama Minseok menggamit tangan Runa, laki-laki itu mengernyit hingga Runa harus menarik paksa tangannya karena Minseok tetap menggenggam buku-buku jarinya erat meski jelas sudah wajahnya pucat kesakitan.

—–

Kali pertama Minseok memeluknya, Runa bersumpah tidak akan membiarkan Minseok melakukannya lagi sampai ia yakin Minseok tak akan mati dan ia tidak sengaja membunuhnya.

—–

Lucu, betapa telah terbiasa dengan sesuatu bisa membuat dirimu kebal seperti diberi obat bius hingga tubuhmu terasa kebas.

—–

“Kenapa kau menyukai hujan?” Minseok bertanya pada suatu hari, saat hujan begitu deras di luar dan ia yakin bahkan Jongin pun tak akan mau repot-repot berteleportasi demi menguping pembicaraannya dengan Runa, dan bisingnya tetesan air mendistorsi suara benaknya di pikiran Lu Han. Sulit, memang, bila kau berteman dengan mereka yang terlalu ingin tahu akan urusan orang lain, terutama mereka yang memiliki bakat yang tepat untuk orang-orang semacam itu.

“Aku sudah menyukai hujan jauh sebelum bertemu denganmu,” gadis itu menjawab. “Ada sesuatu yang menenangkan yang selalu kurasakan tiap kali hujan turun. Bunyi tetesan air? Petrichor? Udara segar selepas hujan? Entahlah, namun aku menyukainya. Aku menyukai mereka. Dan aku menikmati bagaimana hujan selalu bisa menghapus penat dari benakku, tak peduli sekalut apa aku saat itu.” ada senyum dalam suaranya, membuat ujung-ujung bibir Minseok sedikit tertarik ke atas. “Meski begitu, ada hal lain yang membuatku menyukai hujan.”

“Oh? Apa?”

“Salju?” bukannya menjawab pertanyaan, Runa justru menunjuk udara kosong di atas mereka. “Sedikit saja?”

Minseok menaikkan sebelah alis saat ia memenuhi permintaan gadis itu. Keping-keping salju halus muncul, awalnya hanya sebuah, dua buah, empat buah, terus bertambah, sedikit demi sedikit mengotori kepala keduanya. Runa tertawa, tangan terentang untuk menyentuh sekeping salju.

Setetes air meluncur dari tangan Runa, jatuh di antara keduanya. Runa melakukan hal yang sama, lagi, lagi, lagi, dan lagi, menciptakan hujan kecil di dalam kubah, serupa tapi tak sama dengan hujan di luar sana.

“Menyatukanmu, dan aku, akan menjadikan hujan,”

—–

Kali pertama Minseok menciumnya, tidak ada kernyit kesakitan maupun rasa takut akan menyakiti orang lain.

end.

Advertisements

11 thoughts on “[Drabble] Pluviophile”

  1. SUMPAH ITU BERDUA TOLONG DIBAWA YAH KE JOGJA PAKE JNE BUTUH HUJAN INI SAYA ENGGAK MAU NGEPEL TIGA KALI (yes tiga kali) SEHARI GEGARA ABUNYA ITU YATUHAAAAANNNN
    dan apaan tuh somebody had been pestering me to do this. paan? oh, si anon yang ada di askfm itu yah? kece badai yah diaaaa /smirk kece/
    ‘Sulit, memang, bila kau berteman dengan mereka yang terlalu ingin tahu akan urusan orang lain, terutama mereka yang memiliki bakat yang tepat untuk orang-orang semacam itu.’ qoutes bangetlah quotesssss.
    Mungkin harus seeing-serimg ujan abu (atau dan libur

  2. AUFAAA MAAF AKU BARU KE SINI SEKARANG HUHU ;;___;;
    ini padahal dipostnya udah lama banget yaa. hiks hiks maafkeuun ;;__;;
    anyway, baca bagian minseok kesakitan setiap runa nyentuh dia itu… aduuuh, jadi inget lirik lagunya backstreet boys yang shape of my heart: “…touch me now don’t bother. if every minutes it makes me weaker.” terus aku bisa apaaa, kalo minseoknnya nyanyiin iniii /lalu fika berfantasi/
    tapi ini serius deh abis baca cerita ceritanya aufa aku jadi makin cinta sama kakak tertua iniii huhu. sini minseok, cubit dulu xD
    aufaaa keep writing yaaa ❤

    1. NGGAK APA KAAAAK SINI AKU PELUK *eh…*
      ha-habisnya kekuatan(?) mereka berseberangan gitu (padahal awalnya mau bikin runa orang biasa tapi kayaknya kurang ada twist maka jadilah haha) aaa belum pernah dengar lagu itu 😦 *brb googling *kemudian dengerin *kemudian meleleh karena bayangin minseok nyanyi di depan runa*
      gimana bisa nggak cinta sama si abang kalem ini, ah… *ditendang
      sip~ makasih udah baca, kaaaaaak ^^

  3. sejujurnya lagi sensi sama seorang pluviophile sih, tapi kalo kaya minseok gini aku mau dong satu, paketin bisa?

    tunggu, jadi intinya hujan itu menyatukan mereka ya? kekuatan si cewek itu sunburn bukan sik? awwwww, yang ini

    Kali pertama Minseok menciumnya, tidak ada kernyit kesakitan maupun rasa takut akan menyakiti orang lain.

    mana ada sih, dicium cowok ganteng itu sakit? HAHAHAHAHAHA

    1. kak minseok stoknya udah abis nih, preorder dulu mau nggak sist?

      iyaaaa hehe kekuatan dia sunburn gitu~ uhuy ga cocok sama minseok ya harusnya, masalahnya bisa sampai ngelelehin segala. UDAH YANG KALIMAT TERAKHIR AKU IYAIN AJA DEH HEHEHE BYE.

      makasih kaaaak ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s