[Drabble] Glimpses

Glimpses
Kim Junmyeon, OC; character study (kind of, a small portion at least); PG-15 (for disturbing issue, maybe); 621 words

Don’t hold me down
I think my braces are breaking,
and it’s more than I can take

—–

Ia mengetukkan ujung pena di atas kertas, meneliti huruf-huruf kecil dalam sebaran tabel. Ah, ada waktu kosong pukul sepuluh nanti. Mungkin ia bisa menyusuri koridor-koridor untuk bertemu dengannya nanti, dan ia masih sempat mencari sesuatu untuk diberikan padanya. Tangkai-tangkai bunga? Rangkaian kata di atas kertas? Tempo hari dia berkata tulisannya bagus, jadi mungkin pilihan kedua lebih tepat. Lagipula, ia, kan, alergi serbuk sari, bisa-bisa ia bersin-bersin melulu ketika mengumpulkan bunga di taman. Dan… yah, anggap saja kali terakhir alerginya kambuh segalanya berakhir buruk. Sangat buruk. Ia harus tinggal di kamarnya hingga bersinnya mereda dan serbuk sari bunga tidak berterbangan di luar–yang lebih menjengkelkan, ia tak bisa menemuinya.

Ia berjanji tak akan pernah mengulangi kebodohan itu.

Menggoreskan mata pena di lembaran kertas yang ia cabut dari tengah buku, ia tersenyum, membayangkan raut wajahnya ketika membaca tulisannya. Dalam tiap tetes tinta yang tertuang, benaknya merenung, memikirkan tiap kata dan kalimat yang harus ia rangkaikan di atas garis. Tidak boleh ada coretan. Coretan sangat tidak rapi. Coretan membuat tulisanmu terlihat buruk.

Segalanya harus sempurna–ia ingin segalanya sempurna.

Termasuk hiasan yang akan ia bubuhkan di tepian kertas, supaya lembaran itu tak tampak kosong-kosong amat. Ia bisa menggambar kurva-kurva yang saling-silang, garis yang mengisi ruangan, titik-titik kecil dengan gradasi yang makin menghitam di sudut-sudut kertas. Ia menyukainya, tampak bagus, menurutnya, dan ia berharap dia juga menyukainya.

Oh, sepertinya ada sisa bubuk hitam yang bisa digunakan untuk mewarnai bagian yang masih kosong. Dan seingatnya ada perekat di salah satu laci, juga pita yang bisa ditempelkan di sini…

—–

Kepalanya tersembul sedikit dari tepian pintu, berusaha mengintip keluar. Seharusnya tidak ada yang boleh berada di luar ruangan jam segini, namun ia sudah terlalu sering melanggar hingga orang-orang menyerah dan membiarkannya melakukan apapun yang ia inginkan. Meski begitu, ia tetap mengamati koridor sebelum melangkah–kebiasaan, sepertinya.

Suara langkah kaki ribut terdengar dari tikungan di ujung koridor. Ia melirik daftar angka dan huruf dalam buku catatannya, lalu menyamakannya dengan jam di dinding. Benar, kok. Berarti dia tengah menuju ke sini bersama beberapa orang–terdengar dari langkah kaki yang sangat berisik.

Ia lebih suka bila dia sendirian, karena…

“Junmyeon, hati-hati!” teriak seseorang–salah satu temannya yang sama-sama memakai jas putih ketika melihatnya berjalan keluar dari ruangan dan menghampiri kerumunan kecil itu. Dia–Junmyeon, menggeleng, tersenyum kecil pada orang itu–ia tahu Junmyeon memihaknya. Junmyeon selalu ada di pihaknya, sementara orang lain berseberangan dengannya.

Ia membenci orang itu. Dan semua orang, sebenarnya. Semua yang mengusirnya keluar dari lingkaran.

Junmyeon tidak melakukannya. Ia tidak membenci Junmyeon, sebagai balasannya.

Tatapan Junmyeon bertemu dengannya sebelum mata itu beralih ke kertas dalam genggamannya, “Apa itu?” tanyanya kemudian, senyum masih terulas di bibirnya. Ia mengulurkan tangan, perlahan, menyodorkan kertas itu ke depan Junmyeon.

“Untukku?”

Ia mengangguk. Junmyeon mengambil kertas yang setengah terlipat itu dari tangannya, “Terima kasih, boleh kubuka? Apa kau yang menulisnya?”

Ia mengangguk lagi, mengintip lewat sela-sela poni yang terurai hingga tulang pipi.

Menyaksikan senyum Junmyeon berubah menjadi pekik kesakitan.

Kemudian, bunyi halus lempeng besi yang jatuh ke lantai keramik.

Itu pitanya. Junmyeon menjatuhkan pitanya, sepertinya tidak sengaja. Tapi mengapa ia tampak kesakitan? Kenapa ada darah di pergelangan tangannya?

Kenapa teman-teman Junmyeon terburu-buru menghampiri mereka?

“Ada apa–apa yang terjadi?”

“Ya Tuhan–ia menempelkan silet di kertas yang ia berikan ke Junmyeon. Junmyeon, kau tidak apa-apa?”

“Periksa apa lukanya dalam atau tidak. Kalian, urus dia–tenangkan dia lalu bawa kembali ke ruangannya. Terapinya gagal–kita harus mengulangnya dari awal.”

Seseorang mengambil pita yang tergeletak di lantai. Ia hampir saja meraung untuk menghentikannya ketika dua pria berjas putih menghampirinya di tengah hiruk-pikuk teriakan “Amankan Junmyeon!”, “Bawa dia ke ruangannya!”, dan “Lukanya tidak dalam, hanya tergores, jangan sakiti dia, aku hanya terkejut–”

Ia memekik ngeri sebelum lari kembali ke kamarnya.

—–

I think I love you better now.

end.

note: quote taken from Ed Sheeran’s Lego House. the music video pretty much triggered the entire thing, ha.

Advertisements

32 thoughts on “[Drabble] Glimpses”

  1. HAH?! Sek ini aku sampe diem dulu sebelum ngetik komen. Jadi… lets say, si ‘ia’ ini lagi diterapi ya, berarti ini latarnya di rumah sakit, gitu kaan? (CMIIW) terus terus karna satu satunya orang yang istilahnya nggak nganggap dia aneh cuman junmyeon jadi dia nggak benci junmyeon. I see. Aku baca dari atas kukira kan ini dia itu semacam pgn ngasih hadiah penggemar buat junmyeon gitu, dan penggambaran junmyeon yg sopaan sama senyum pas nerima suratnya itu baguuuus bgt. Dan gimana pas dia bikin surat juga aku sukaaa. Aku ketawa deh pas baca alergi serbuk bunga. Temen aku juga ada. Dia alergi tumbuhan deh kayaknya. Abisan tiap duduk deket rumput apa ga batang pohon gitu pasti langsung gatel gatel haha.
    Anw aufaaa. Ini shocking effectnya dapet bgtttt. Aku sampe melongo sendiri pas baca ternyata ada silet coba di kertasnyaaaa huhu. Yg awalnya manis gitu tiba tiba dark di belakang. Thumbs up!
    Sukaaaaaaaak
    Keep writing yaaa ^^

    1. iyaaa si ‘ia’ ini di rumah sakit, ceritanya dia semacam gangguan jiwa gitu hehehe mirip sasaeng *apa* yang pengennya nyari perhatian orang dengan segala cara. kebetulan dia obsesinya sama junmyeon gegara junmyeon yang nggak nganggap dia aneh~
      habisnya kalau lihat orang alergi serbuk bunga di komik-komik gitu kayaknya tersiksa banget nggak bisa ngapa-ngapain, haha x’D
      haha sebenarnya kaaak aku bingung harus gimana nggabungin dua sisi cerita ini terus akhirnya malah ngerasa aneh sendiri hahaha T_T
      makasih ya kak fikaaaaaah~ x’3

  2. aku setuju sama fika, ini manis di depannya endingnya dark T-T
    aku larut sama kata kata yang kamu susun, rapi dan cantik (kayanya tiap aku baca tulisanmu pasti komentarnya sama hahaha) tapi emang cantik sih, kaya elegan dan classy gitu loh, susah ditiru sama yang lain hehe

    dari awal udah curiga si ia ini penggambarannya agak creepy, dan waktu dia ngintip dari pintu nah ini semakin memperjelas kalo dia berada di bawah pengawasan, tapi yg waktu ngasih surat ke junmyeon aku kaget ada siletnya, pas belum baca bagian silet itu aku bingung lah ini junmyeon kenapa kok kesakitan sama pitanya dijatuhin eh taunyaa

    aku suka karakter junmyeon, gentle jelas, tapi juga nggak ngebedain si ia-nya tuh, jadi bikin si ia nggak ngerasa takut, karakternya menenangkan, dan kamu walau nulisnya pendek gini tapi bisa ngegambarinnya jelas, aku suka deh xD

    ini setting-nya di sejenis asylum bukan sih? agak agak horor gimana gitu.. dan di ending, kok kesan yang aku tangkep sebenernya junmyeon itu luka parah ya? tapi dia bilang cuma tergores dikit biar si ia nggak ngerasa takut dan bersalah? eh cmiiw

    overall, this is golden! keep writing ^^

    1. hahahahahahahahahahahahaha /ketawa sampai keselek/ *eh
      dokter (atau psikiater ya ini haha) kan harus gentle lembut menenangkan sanubari pasien dan penuh kasih sayang macam (om) junmyeon hahahaha x’3
      …taunya kena silet junmyeonnya. kalau dalam pikiranku sih beneran cuma kebeset doang (semacam kegores gegara siletnya jatuh gitu), tapi kayaknya kalau dia nggak sengaja genggam siletnya terus darah bercucuran kayaknya asik juga deh /ditampar
      makasih kaaaaak x’D

  3. Ini kenapa banyak banget yang suka bikin charanya mati sih elah.
    Jadi ini ceritanya si ia itu rada sedeng begitu? Atau normal tapi disalah artikan? Tapi bisa nulis gitu ye, harusnya sih, normal.
    Terus dokter Joonmyun omigoddd pasti ganteng selangit. Rela sakit sayaaah relaaa.
    Terus tiba-tiba si Joonmyun kena silet terus si ia ditarik buat terapi lagi. Ya ampun, aku bayanginnya kaya si ia ditarik gitu sambil nangis cantik pengen ikut si dokter tapi enggak bisa. Aduh.
    Cantik lah ye, macam biasaaa
    (btw, ini keberapa kali saya komen dengan tidak ada aksen mengejek begitu. dan ini bisa masuk ke dalam standar decent komen, kan ya?)

    1. lah emangnya ada yang mati mana coba dih.
      kayak gimana ya… iya dia mental health-nya rada keganggu, tipe-tipe terobsesi terus kayak stalker gitu, yang haus perhatian (kayak aku haus kasih sayang kyungsoo). nah sejak masuk ke rumah sakit (jiwa) itu, dia jadi terobsesinya sama junmyun. gitu deh. normal yang geser dikit lah.
      junmyun+stetoskop di leher+jas+senyum-yang-kata-kyungsoo-jelek. yay.
      cantik situ laaaah (~’o’)~
      (…iya sih. ada apa dengan decent comment?)

      1. Ya simpulan kilatnya sih, mati yekan.
        ELAH INI SATU SULIT BANGET DIBILANGIN ELAH JANGAN GANGGUN ABANG GUEEH
        (semacam begimana yah, saya sedang dalam tahap mengembalikan jiwa beta-read saya yang telah lama hilang. TAPI YOWIS SIH NEK PENGEN DIKOMEN KOYO NGENEE)

        1. ih kagak ada yang mati heluuuuu. seenggaknya physically. kalau psychologically ngga ngerti yeh.
          lho kebaca to kyungsoo-nya, kukira nggak mbok baca e.
          (penak koyo ngene sih bro.)

  4. ini bagus banget, kak. semuanya. maksudku, diksi, pemilihan kata, ide, plotting… semuanya. dan aku rasa sulit buat bikin fanfic macam begini tapi kakak bisa itu sesuatu yang membuatku kagum setengah mati. fix! aku suka fanfic kakak hehehehe

    aku suka banget gimana junmyeon ga ngebedain si ia yang lagi dalam terapi itu dengan orang-orang lainnya, terus dia malah nerima hadiahnya si junmyeon yang gataunya malah ada silet di dalamnya. ini… wow banget. dan bagian si junmyeon mau belain si ia ini juga menurutku menjadi poin paling bagus dalam fanfic ini. keep writing kak aufaaa! suka banget! /sksd mode: on/

    1. /terharu /tersipu-sipu /tertampar
      makasih yaaaa hehehe. tulisanmu juga bagus kok (lah ini kenapa). soalnya junmyeon entah kenapa cocoknya jadi mas-mas-baik-hati-lembut-tidak-sombong-suka-menabung dan sebagainya gitu deh. tipe-tipe malaikat banget kan :’))
      dan makasih (lagi) udah bacaaa~ ^^

  5. Pertama baca cuma kedip-kedip doang, baca lagi untuk kedua kalinya cuma bisa bilang “Ha?”, baca lagi untuk ketiga kalinya dengan frekuensi yg lebih lambat… Gotcha!

    paragraf awal aku baca yg terbesit ialah “oh ini dari penggemar untuk idolanya” lanjut ke paragraf dua “oh tidak, mungkin sesama teman kantor” “yayaya ini ini pasti di rumah sakit dan si Jumyun jadi dokter” dan pas Jumyun merintih kesakitan aku cm kepikiran “pita jatuh tp bunyi kelontang pasti ada yg gak beres!”

    dan voila, akhirnya aku ngerti ini tentang apa. bener2 ya si lee sungra ini (aku bener-bener gak tau harus manggil km apa) ngaduk-ngaduk banget deh. IT IS TREASURE!! GOOD JOB LAH POKOKNYA!!

    dan sorry banget, aku baru komen kapan gitu dan itu komen pertamaku di tempatmu di dua ffmu kl gak salah dan.. bang! aku menghilang. kemarin abis uts makanya hiatus baca dan pas pengen baca eh lupa dan baru ketemu sekarang. sorry banget.

    1. ASIK ADA KORBAN LAGI ASIK. hehe maaf ya, ngga sampai jantungan kan tapi waktu ketahuan itu silet? /eh
      gapapa kook santai aja ^^ aku juga biasanya cuma numpang baca dan komen saat lagi mood aja sih haha /ditendang/ panggil apa aja boleh hahahahaha. (eh)
      daaaaan~ makasih sudah bacaaa :’)

  6. sejak zaman purbakala aku sama sekali nggak ngeh apa maksudnya ‘slice of life’, dan ini ditambah istilah ‘character study’… ah can you tell me, please? /digeplak/
    ‘Menggoreskan mata pena di lembaran kertas yang ia cabut dari tengah buku’… biasanya kalau aku sih nyabut kertas itu buat nulis nama, nomer absen, kelas, nomer satu sampai tiga puluh (=ulangan). abaikan yang ini.
    joonma… jalan-jalan di koridor rumah sakit dengan tangan dimasukin ke saku, senyum bersahaja sama pasien sambil membungkuk itu ganteng banget deh. mana nggak ngebeda-bedain pasiennya. sayangnya dia malah disakiti sama satu pasiennya. harusnya temen-temennya joonma nggak ngejauhin ‘dia’ juga. kan kasiyan.
    soal poni panjangnya si ‘dia’, idk menggambarkan banget kalo ‘dia’ itu agak menakutkan. (poni panjang selalu bikin aku inget sama kuntilanak)
    si ‘dia’ mesakke banget ya. tapi serem juga sih. tunggu, si ‘dia’ diterapi… kenapa? aduh ini agak gantung sih aku malah kepo dia sakit apa. dari line terakhir sebenernya ‘dia’… nggak bermaksud nyakitin suho?
    psychological theme is the best! (seneng banget ada yang nulis, bahasa indonesia lagi). keep writing dan nulis yang beginian lagi ya… /ditendang/

    1. slice of life itu ya kayak sepotong kehidupan? sepotong kehidupan apaan pula. mungkin semacam secuplik kehidupan si tokoh utama heuheuheu. character study sih kayak yaaa mengeksplor karakter tokohnya gitu~
      HAHA AKU BANGET ULANGAN BANGET JAMAN DULU BANGET.
      tuh kan ganteng kan. doctor!junmyeon is the best meski aku nggak yakin irl dia bakal kuat lihat darah atau nggak. bau-baunya sih nggak. tapi dia kan psikiater di sini jadi ga urusan sama darah kan ya x’D
      si dia agak-agak psycho, sih… tapi aku ngga kebayang sampai dia serem tbh, dia kelihatan normal cuma ternyata punya obsesi dan super posesif sama junmyeon gitu ceritanya hahahaha. habisnya junmyeon baik… yang lainnya kan nggak… sedih 😦 mesakke kan 😦 sebenarnya aku ga sempat cari-cari tentang psychological disorders, jadi cuma modal tanya teman yang anak psikologi x’)
      makasih udah baca yaaa~ yang beginian? besok lah kalau ada ide (dan mood) /dihajar

      1. Doctor!Junmyeon sesungguhnya ngga ganteng ganteng amat mengingat postingan dia di fanboard menjelang comeback overdose di emka. ‘available 24/7, 365/ call 001-exo-xoxo (post selca pakai kemeja-putih-ugh-so-tempting)’

  7. Diksi yang digunakan begitu menglir.. kalimat satu dgan yg lain saing berhubungan.
    Mknanya mudah ditangkp dan dimengerti.
    its amazing, aku sngatt suka.
    akhir cerita yang tak disangka dan tidak bisa ditebak dgan awalan yg seperti itu… NICEE!!

  8. w. Dari awal cerita aku pikir ‘ia’ ini tinggalnya di asrama, eh taunya koridor yg dimaksud ini koridor Rumah sakit, langsung ngeh ini pasti ada apa-apanya.. Dan waktu karakter abang Joon digambarin yg sopan, baik, pengertian kayak gitu aku senyum2 kayak orang waras
    Ide-nya oke bgt, si ‘ia’ ini emang agak nyeremin ya ditambah poni panjangnya yg mirip sadako gitu di pikran aku.. Dan aku kaget bgt wktu ada silet di kertas itu, campur sedih juga abang Joon baik bgt msh ngebelain ‘ia’
    *thumbs up

    1. memang rencananya (?) si ‘dia’ dibikin semacam psikopat gitu sih hahaha aku juga nggak tau ada gangguan jiwa kayak gini juga apa nggak /?/ tapi waktu nulis sempat kepikiran ini gangguan jiwa setipe sasaeng fans gitu, nyari perhatian berlebihan tapi nggak sadar sampai nyakitin orang hehehehe.
      waaaaah, makasih sudah baca dan ninggalin komentar~ ^^

  9. Hey Aufa 😀
    ini tak pikir pertama manis-manis gimana, ternyata si cewek ternyata menderita gangguan kejiwaan ya. ya ampun padahal kan Joonmyun udah baik banget, tapi kenapa dikasih silet mbaaa. mungkin itu cara dia nunjukin perhatian sekalian minta perhatian kali ya 😀

    1. yes ada yang kena lagi yessss /dihajar/
      hmm, kalau udah cinta terus buta ya mau gimana, menyakiti pun tak sadar (AMPUN APA BANGET INI)
      makasih kaaaak udah baca ^^

  10. Tau nggak sih tau nggak sih awalnya aku kira yang senyum senyum nulis di kertas itu Junmyeon. Terus ngerasa ganjil dan baca ulang. Sampe akhir ‘LOH SILET APAAN SIH’ terus dibaca lagi dari awal. Maafkan aku yang lemot ini ya :’

    Ya ampun junmyeoni my man love of my life (ngetiknya setengah hati sambil ketawa ketiwi remaja keracunan permen coklat) kok baik lembut manis banget kayak permen kapas kan aku jadi gemes gimana 😦 Nggak deng junmyeon jelek masa di airport dia pake hoodie sama masker, skinny jeans, sepatu basket kayak sasuke mau pulang kampung tau nggak sebel (masih sebel aja sama para e-o yang habis dari chengdu) (komennya jadi irrelevan sama isi fic)

    uh ceweknya psycho nih jahat banget nyakitin junmyeon. Semoga kamu kegores aja ya, kalo stok PMI kosong telpon ya, kita kan samaan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s