[One-Shot] Starlight, Star Bright

Starlight, Star Bright
Byun Baekhyun (EXO), OC; friendship, hurt/comfort; G; 3549 words
for said person’s bday. ❤ really but not really. also for ri’s prompt.

Find light in the beautiful sea, I choose to be happy
You and I, we’re like diamonds in the sky


.

Partitur. Baris-baris lirik. Dua pasang tangan menggenggam dua mikrofon. Kata-kata dalam senyuman dilemparkan satu sama lain. Kemudian, ketika kerumunan di depan stage mulai tenang, denting instrumen sayup terdengar.

—–

Dua hari. Empat puluh delapan jam penuh, mungkin lewat beberapa menit. Sudah selama itu Sungra tidak bertemu Baekhyun–melihatnya keluar dari kamar saja tidak pernah. Terakhir kali ia melihatnya, laki-laki itu sedang sibuk merapikan berlembar-lembar kertas yang berserakan di trotoar depan apartemen mereka, entah bagaimana ceritanya hingga belasan helai kertas itu bisa jatuh. Mungkin tersenggol seseorang, hanya itu yang sempat Sungra pikirkan sebelum kembali ke kamar mandi untuk berkumur dan membuang sisa pasta gigi di mulut.

Saat Baekhyun belum muncul sewaktu ia tiba dari kampus, sore hari, pukul lima sore, pikirnya masih tak ada yang aneh. Biasa bagi Baekhyun pulang malam karena urusan kuliah (kerja sosial di perpustakaan kampus sebagai kompensasi kotak-kotak polos di daftar absennya), atau pekerjaan (di toko musik dekat gedung kuliah Sungra), atau band (sebagai vokalis). Jadi ia tetap memasak dua porsi makan malam, mengemas satu seperempat bagian dalam kotak kedap udara, lalu meninggalkannya di meja makan sebelum pergi tidur. Begitu mendapati keduanya raib keesokan harinya, Sungra hanya mengedikkan bahu sambil menempelkan sticky note pink neon di pintu kamar Baekhyun, mengingatkannya supaya mencuci wadah makanan yang ia bawa pergi.

Masalahnya, sore harinya, Baekhyun masih belum tampak batang hidungnya. Masalahnya, petang itu mereka harus pergi ke café di dekat pertigaan di ujung blok. Masalahnya, si manager sekaligus pemilik café sudah ribut menanyakan apa mereka akan tampil malam itu, sementara jawaban terbaik yang bisa diberikan Sungra hanyalah ‘Maaf, aku belum tahu, nanti kukabari lagi.’. Ulangi hingga lima kali dan kau akan menemukan Sungra dengan kesabaran yang sudah habis, memakai jaket dan sneakers seadanya sebelum beranjak dari rumah, segerombol kunci serta ponsel di tangan.

“Tema kalian malam ini…” Sehun, waiter paruh waktu di café itu yang juga berprofesi ganda sebagai murid sekolah menengah dan tukang cuci piring, mengamatinya dari ujung kepala (rambut berantakan) hingga ujung kaki (Converse motif union jack usang), tangan kanan menyangga kepala dan telunjuk beradu dengan tulang dagu. “Homeless guys? Seniman jalanan?”

“Sembarangan,” segumpal tisu bekas menyeka keringat mengenai rambut Sehun yang terbahak hingga kedua matanya menghilang. “Omong-omong soal tema, aku tidak tahu apakah kami bisa tampil atau–”

“Ah! Sungra!”

“–tidak,” Sungra mengatupkan rahang, menyiapkan mental sebelum menghadap si manager café. Kadang Junmyeon bisa bersikap persuasif–begitu persuasif hingga seseorang mungkin akan rela menyerahkan leher untuk ia penggal bila ia meminta demikian.

Maka ia berbalik, memasang senyum tipis untuk melawan senyum lebar Junmyeon, dan menyapa pria itu ringan. “Oh. Hai, tuan manager.”

Kerutan di dahi Junmyeon setidaknya bisa ia gunakan untuk menguatkan diri agar tak jatuh dalam bujukan Junmyeon.

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu,” keluhnya kemudian. Sungra menyeringai hingga gigi atasnya tampak sedangkan Sehun hanya melengos, kembali ke kesibukannya mengeringkan piring-piring saji. Junmyeon mengusap permukaan salah satu piring sebelum menyuruh Sehun mengeringkannya ulang, lalu kembali menatap Sungra, “Mana Baekhyun?” tanyanya kemudian.

“Baekhyun?” Sehun berhenti berkutat dengan lap piring, “Oh, benar juga. Mana Baekhyun?” ulangnya. Suho memutar bola matanya, menyikut bocah itu agar kembali bekerja. Sementara itu, yang ditanya hanya mengedikkan bahu, diam-diam mencomot gateau chocolat mungil dari piring saji. “Entah, tidak bertemu dengannya dua hari ini.”

“Bukannya kalian tinggal bersama?”

“Dan bukannya kau juga teman sekelasnya, tuan manager?” balas Sungra, tak sengaja menaikkan nada. Seolah ia bersalah karena tak tahu Baekhyun ada di mana. Memangnya ia pengasuh pria keparat itu?

Tampang Junmyeon seperti anak anjing yang kehilangan induknya, tapi Sungra tidak akan kalah hari ini, meski bersikap jahat pada Junmyeon terasa seperti melindas seekor anjing kecil dengan mobil. Dua kali, untuk memastikan apa si anjing sudah mati atau belum. Ia justru mengambil kue lain dan memakannya terang-terangan di depan Junmyeon. Ha. Coba lihat siapa yang berkuasa–

“Berhenti mencuri cake-cake itu.” suara Kyungsoo menghentikan tangan Sungra dari fruit pie kecil yang sudah menjadi targetnya.

Baiklah, Kyungsoo yang berkuasa.

Mengusap tangannya dengan selembar tisu basah yang disodorkan Sehun, Sungra menatap Junmyeon yang balas menatapnya dengan tatapan memohon. “Kau ingin aku melakukan apa?”

“Bisakah kau tetap tampil?” Junmyeon bertanya penuh harap. “Live music sudah rutin diadakan sejak café ini dibuka, dan, yah, kau tahu, kan, akan lebih banyak pengunjung yang datang nantinya? Jadi…”

I don’t do solos,” Sungra menampik halus, senyum tak nyaman terulas di bibirnya ketika mendapati si manager café makin meninggikan intensitas puppy eyes-nya. Ugh, tatapan memelas. “Duet or not at all. Sorry. Mungkin Kyungsoo bisa kembali ke posisi awalnya untuk sementara.” ia terkekeh pelan, mengingat penampilan akapela Kyungsoo sebelum ia dan Baekhyun menggantikan pria itu karena ia diangkat sebagai koki utama. Memang tidak ada hierarki pegawai yang jelas di café ini, label pekerjaan yang menempel di seragam hanyalah formalitas karena bahkan manager bisa saja tiba-tiba menjadi pelayan atau chef assistant saat peak hour.

“Duet dengan Kyungsoo?”

“Kau mau aku mati?” desis Sungra, mata melirik Kyungsoo yang tengah mencincang daun bawang untuk sup, “Satu nada salah dan aku akan dibunuhnya dengan pisau itu. Atau mungkin pisau daging yang baru saja dikeringkan Sehun. Ya Tuhan. Setidaknya Baekhyun hanya merajuk lalu minta dibuatkan makan malam porsi ganda bila ia sadar aku salah saat tampil.”

“Jadi, tidak?” Junmyeon bertanya. Astaga, untuk apa ia bertanya kalau sudah tahu jawabannya.

“Tidak.” Sungra menggeleng.

“Oh,” Junmyeon tertawa lirih, “Oke, kalau begitu. Tapi kau tidak dapat makan malam gratis hari ini,” sambungnya, berusaha melucu. Sungra tersenyum saja, demi membantu menenangkan hati Junmyeon.

Mungkin sekaligus untuk menenangkan hatinya.

—–

Masih tidak ada tanda-tanda keberadaan Baekhyun saat Sungra akhirnya kembali menginjakkan kaki di rumah, perut kenyang dan sekotak kecil pastry di tangan. Apa-apaan, pikirnya, begitu nada dering digantikan suara rekaman otomatis yang menyuruhnya meninggalkan pesan suara. Apa-apaan, pikirnya lagi, ketika membuka pintu kamar Baekhyun dan menemukan seonggok kapal pecah tiba-tiba muncul di apartemen mereka. Apa-apaan, tambahnya, saat pintu utama diketuk lalu mengayun terbuka, dan sosok Baekhyun muncul di baliknya. Lebih berantakan dari keadaan kamarnya.

“Dari. Mana. Saja. Kau.” desis Sungra, penekanan di ujung tiap suku kata, mengikuti tiap langkah yang diambil Baekhyun. Laki-laki itu mendongak dari tali sepatu yang tengah berusaha ia urai, rambutnya jatuh menutupi mata. “Studio?”

“Dengan?”

“Chanyeol, Jongin, Jongdae, Yixing?”

“Apa yang kau–”

“Rekaman?”

“Rekaman– tunggu. Rekaman?”

Sungra menatap Baekhyun lekat-lekat. Jelas bahwa ia tidak tidur, atau mungkin sangat kekurangan tidur, selama menghilang dari rumah tanpa bekas. Demi apa. Bagaimana ia bisa menyetir dan masih tetap selamat sampai rumah?

Baekhyun menguap lebar, ganti melepas jaket setelah urusannya dengan sepatu dan kaus kaki selesai, “Mm, rekaman. Apa aku belum cerita?”

“Kau tidak pernah cerita apa-apa,” Sungra membalas. Mungkin hanya perasaannya, tapi sepertinya ada sedikit nada kesal yang sempat ia tangkap dalam kata-katanya barusan. Tunggu. Yang benar saja. Untuk apa dia merasa kesal?

Ia membiarkan Baekhyun meluruskan kaki hingga sofa penuh dengan tungkai dan badannya, menunggu cerita laki-laki itu sambil duduk bersila dan memainkan remote televisi di tangan. Bukannya mulai bercerita, Baekhyun justru meraih kotak yang tergeletak di coffee table. “Pastry Kyungsoo?”

“Mm-hmm. Untukku. Semuanya.” Sungra merebut kotak kecil itu, mendekapnya erat-erat, membuang muka. Ganti merajuk. Memangnya hanya Baekhyun yang boleh sok kesal?

“Iya, iya, aku mengerti. Paling-paling di bagian dalam penutup kotaknya ada note berisi ‘With Love, Kyungsoo‘,” kedua tangan Baekhyun membentuk kutip di udara saat ia menirukan suara Kyungsoo–sia-sia karena Sungra masih membuang muka dan tak melihat gesturnya. Yah, sudahlah.

“Sok tahu.”

“Tidak sok tahu. Apa kau tidak sadar kalau Kyungsoo tipe-tipe tsundere?” kemudian sebelah alis Baekhyun terangkat, cengiran jahil tiba-tiba muncul di bibirnya. Sungra menghela napas, kepalanya mulai pening. Sepertinya efek terlalu lama mendengar ocehan Sehun dan Zitao di café. “Sudahlah, aku tidak paham lagi dengan istilah-istilah anehmu itu. Tidur, sana.”

“Tidak jadi cerita?”

“Lain kali saja. Aku ingin tidur. Pusing.” gadis itu beranjak dari tempatnya di karpet, menuju pantry dan memindahkan cake-cake mungil tadi ke wadah plastik sebelum melanjutkan langkahnya ke kamar.

“Tunggu! Tidak ada kue untukku? Kau serius?!”

Dibalas dengan bunyi pintu ditutup.

 —–

Bukan rahasia–tunggu, apa rahasia umum termasuk rahasia?–kalau Byun Baekhyun dan band iseng-isengnya cukup terkenal, bila sering diundang mengisi acara di universitas dan beberapa tempat lain bisa dijadikan indikator ketenaran sekelompok bocah kurang kerjaan yang bisa jadi sangat berisik bila sudah bertemu bersama (latihan, kata mereka; gosip dengan bumbu latihan, kata Sungra). Sedikit-banyak ikut andil di dalam ke-terkenal-an mereka adalah Chanyeol, pria ganjil yang dapat menciptakan nada untuk kamuflase lirik sendu tulisan Yixing menjadi sedikit lebih bersemangat. Geniuses tend to be weird, Baekhyun pernah berkata, dan Sungra segera mengamini ketika menyaksikan Chanyeol menggebuk segala benda yang ditemuinya dengan stik drum, termasuk kursi kosong dan iPad milik seorang mahasiswa pertukaran pelajar–Lu… Han? Entahlah, Sungra tidak pernah berhasil mengingat nama–yang memelototi Chanyeol tiap kali mereka berpapasan hingga semester itu habis dan si murid pertukaran pelajar kembali ke negaranya. Empat bulan paling menyenangkan bagi Sungra selama ia sekelas dengan dan mengenal seorang Park Chanyeol.

Baiklah, kembali ke topik utama.

Ada dua hal yang diceritakan Baekhyun sambil mengunyah roti bakar dan telur dadar saat sarapan keesokan harinya tanpa menghiraukan tatapan jijik yang dilayangkan Sungra ke arahnya. Pertama,

“Anggota band-ku bertambah, jadi kemarin kami latihan sedikit lebih lama untuk menyesuaikan dengannya. Kau kenal Jongdae?” satu olesan selai strawberry di atas mentega, “Backing vocal dan keyboard, jadi posisiku sekarang hanya vokalis.”

Sungra menggumam tak jelas, tangannya sibuk memotong-motong telur, mengisyaratkan pada Baekhyun untuk melanjutkan ceritanya. Matanya mengamati paduan strawberry dan telur dadar di atas piring laki-laki itu, diam-diam memperkirakan kenormalan kuncup-kuncup pengecap lidah Baekhyun.

“Chanyeol yang menyarankannya masuk. Untuk mempermudah pekerjaanku, katanya. Sekaligus agar ada cadangan bila kau menggunakan pisau-pisaumu untuk memotong jariku.” tambah Baekhyun. Sungra memutar bola matanya, “Ha-ha-ha, sangat lucu, Tuan Byun. Aku tersanjung. Terima kasih banyak.”

Baekhyun memicingkan matanya, “Kau mau mendengar berita kedua atau tidak?”

Gadis itu mendengus saja. Baekhyun mengangkat bahu dan kembali buka mulut–karena itulah Sungra tak mau repot-repot memintanya melanjutkan, “Kebetulan kenalan Chanyeol–aku lupa namanya, Yi-sesuatu, tapi itu, toh, tidak penting– pemilik studio rekaman kecil-kecilan. Ia menawari kami, lewat Chanyeol, untuk merekam satu single, setelah Chanyeol mengajaknya menonton show kami beberapa waktu lalu. Mungkin satu album bila segalanya berjalan lancar. Tergantung feedback yang didapat.”

“Oh. Jadi kalian akan jadi band indie ‘sungguhan’?”

Baekhyun mengangguk riang, senyum senang mulai terbentuk di bibirnya. “Meski awalnya kami membentuk band hanya untuk iseng-iseng–daripada tidak ada kegiatan–, tapi aku memang ingin melakukannya. Rekaman, maksudku. Siapa yang tidak mau?”

Sungra menggumam seolah mengamini, lantas, “Nothing major, then?”

Currently, no.”

“Dan kau akan sibuk untuk beberapa waktu ke depan, kalau begitu.” gadis itu bangkit, membereskan piring-piring di meja lalu membawanya ke bak cuci piring. “Apa aku perlu mengabari Junmyeon kalau kita tidak akan tampil, biar dia bisa mencari performer lain?”

“Daripada repot-repot mencari, kenapa kau tidak ganti berduet dengan Kyungsoo saja?” sebelah alis Baekhyun terangkat bersama senyum miring yang ia lontarkan ke Sungra. “Chef di café Junmyeon, kan, tidak cuma dia. Junmyeon juga sepertinya tak akan keberatan bila Kyungsoo berhenti memotong-memanggang-menumis-merebus untuk sementara. Iya, tidak?”

“Kau bercanda. Aku? Dengan Kyungsoo? Ia akan membunuhku hanya karena aku salah artikulasi, atau salah nada, atau tidak bisa mengimbangi suaranya–begitulah. Malam itu aku berduet dengannya di café lalu, boom! Esoknya kau akan bertemu Sungra cincang yang bisa dijadikan bahan campuran omelet.” gerutu Sungra, melambai-lambaikan spons cuci piring hingga busanya bertebaran di lantai pantry. “Lebih baik duet denganmu daripada dengan Kyungsoo. Setidaknya wajah merajukmu lebih bisa ditoleransi daripada pisau-pisau di dapur café.”

“Mana mungkin Kyungsoo membunuhmu. Membunuhku atau Sehun atau Junmyeon atau Zitao, itu baru mungkin terjadi. Kau? Tidak akan.”

Sungra mengedikkan bahu, “Who knows? Emosinya kadang tidak mengenal manner, kok.” katanya, kembali sibuk dengan piring dan sendok-sendok. Baekhyun harus segera diingatkan tentang giliran mencuci piring, sepertinya. Sungra yang capek, bukan Baekhyun, jadi seharusnya ia yang mengerang, bukan Baekhyun.

“Ya Tuhan!” erang Baekhyun kesal. “Both of you are so dense, I’m out of this shit. Aku tidak paham lagi dengan kalian.”

Macam apa, pikir Sungra dalam hati. “Memangnya apa yang salah?”

“Kau. Dan Kyungsoo. Kalian berdua. Sudahlah.”

——

Mengutip pernyataan Baekhyun tentang aku-tidak-akan-sampai-sesibuk-itu, Sungra jadi mempertanyakan apa definisi sibuk yang sesungguhnya. Maksudnya–seberapa sibuk seseorang hingga bisa dikategorikan sibuk. Atau kurang sibuk. Atau sangat sibuk. Atau di kategori mana ia harus memasukkan keadaan Baekhyun sekarang. Bila ‘tidak sibuk’ berarti seseorang tak bisa dihubungi dalam kurun waktu dua puluh empat jam kali empat hari, tanpa kecuali, tanpa kabar, separah apakah keadaan orang sibuk?

Setidaknya Chanyeol masih sempat membalas pesan singkatnya, meski hanya pendek-pendek dan tak semuanya lantas dibalas dengan cepat. Seperti ketika Sungra menanyakan letak studio tempat mereka rekaman (ternyata tidak terlalu jauh dari apartemen dan, secara keseluruhan, daerah yang sering dijelajahi Sungra), apa yang sedang mereka lakukan (Baekhyun tengah take vokal untuk kesekian kalinya, yang lain beristirahat), di mana mereka menginap (flat Chanyeol), dan sebagainya. Sungra kerap harus menunggu beberapa jam untuk jawaban dari pertanyaan sesederhana ‘Apa kalian sudah makan malam?’, dan ia selalu batal membawakan makanan karena Chanyeol baru membalas pesan itu pukul dua dini hari dan Sungra baru membuka pesan itu esok harinya, atau di jam-jam tak lazim untuk makan malam lainnya.

Bila semacam ini disebut tidak sibuk, Sungra tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan bila Baekhyun akhirnya benar-benar sibuk.

Di hari keenam Baekhyun tidak pulang ke rumah, Sungra muncul di pintu studio dengan berkotak-kotak takeaway restoran China di dekat kampusnya, tepat saat waktu makan siang dan ketika lima laki-laki berpenampilan lusuh melangkah keluar dari lift studio. Yixing yang pertama kali melihatnya dan langsung melambaikan tangan, matanya makin berbinar saat mengenali aksara hanzi yang dicetak di permukaan kotak. “Sungra! Kau bawa makanan? Untuk kami?”

Mendengar nama Sungra, Baekhyun langsung menghentikan obrolannya dengan… Sungra belum pernah melihat orang itu sebelumnya, mungkin dia anggota baru yang kemarin dibicarakan Baekhyun dengannya. Entahlah, yang pasti sekarang Baekhyun tengah memicingkan mata ke arahnya lalu menyunggingkan cengiran lebar, menyusul Yixing yang sudah mengambil alih makanan dari tangan Sungra.

“Kenapa kau tidak bilang kalau akan ke sini?” katanya setelah Sungra ada dalam jangkauan, rambut gadis itu berhasil ia acak-acak sebelum Sungra sempat menendang belakang lututnya. “Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau aku memberitahumu? Menjawab pesan saja tidak sempat.” Sungra membalas, menjauhkan satu kotak dari jangkauan Baekhyun sementara sisanya ia serahkan ke Yixing. Setidaknya Baekhyun masih bisa merasa bersalah, terlihat dari ekspresi wajahnya.

“Maaf, kemarin aku benar-benar tidak sempat melakukan apa-apa selain tidur. Dan makan. Dan recording. Aku bahkan belum mandi sejak… dua hari yang lalu?”

Hidung Sungra berkerut dan ia langsung mundur selangkah. Baekhyun tergelak, “Astaga, apa aku sebau itu?”

“Kau bilang kau tidak akan sibuk,” Sungra bersumpah ia tak pernah merajuk dan baru kali ini merajuk. Di depan Baekhyun, pula. Karena alasan sesederhana Baekhyun kelewat sibuk hingga tak sempat mengabari apa-apa, pula. Harusnya ia merasa malu–nyatanya tidak. Justru kesal.

“Aku, sangat, menyesal, Sungra, sayang,” Baekhyun mengulang kata-katanya, kali ini sambil berusaha meraih kotak makanan yang dijauhkan Sungra darinya. “Aku sudah minta maaf, jadi apa aku boleh makan sekarang?”

“Tidak. Kelaparan saja sampai mati.” ketus Sungra.

“Tega.”

“Memang.”

“Kau terlalu banyak bergaul dengan Kyungsoo sampai terpapar yandere begini. Ah! Apa Kyungsoo mengajakmu pergi ketika aku tidak di rumah? Kencan, mungkin?” Baekhyun mengalihkan topik, dan langsung merebut kotak makanan dari genggaman Sungra saat gadis itu menatapnya tak paham.

“Apa maksudmu–hei! Siapa bilang kau boleh makan?!” pekik Sungra, kembali berusaha mengambil kotak makanan keparat itu. Setidaknya biarkan ia menyiksa Baekhyun hingga puas, baru Baekhyun boleh makan. Ck. “Dan kenapa kau selalu membawa-bawa Kyungsoo? Seolah aku menyukai Kyungsoo saja. Atau seolah-olah Kyungsoo menyukaiku. Apa kau tidak tahu bahwa itu sangat, tidak, mungkin, terjadi, di, kehidupan, ini?”

Tak peduli seberapa jelas penekanan yang ia berikan dalam tiap suku kata dan seberapa keras ia berusaha menjauhkan kotak makanan dari Baekhyun, laki-laki itu tetap bergeming. Ia meninggalkan Sungra, yang masih merajuk, dan bergabung dengan empat orang lainnya di sofa dekat jendela. Semacam ruang tunggu, sepertinya. Sungra baru beranjak menghampiri mereka saat Jongin menyuruhnya mendekat, menghindari Baekhyun yang tersenyum jahil ke arahnya.

Harusnya ia tidak usah datang.

—–

Antusias, hanya itu yang bisa Sungra gunakan untuk mendeskripsikan keadaan Baekhyun, saat laki-laki itu pulang ke rumah dengan ekspresi bangga di wajah dan selembar kertas di tangan, sebulan setelah single band-nya diluncurkan.

“Album!” teriaknya, bahkan belum melepas sepatu dan kaus kaki. “Rekaman akan dimulai bulan depan, meski mungkin kami juga harus mulai menulis beberapa lagu untuk dimasukkan dalam album. Ini kesempatan yang sangat bagus, bukan?”

Sungra tersenyum, mengiyakan ucapan Baekhyun, namun benaknya mulai menghitung seberapa sering Baekhyun berada di rumah, terhitung dari beberapa hari ke depan.

—–

Akhir-akhir ini Sungra cenderung lebih sering menghabiskan waktu di café Junmyeon daripada di rumah, meski bukan untuk mengisi panggung akustik setiap minggunya. Entah itu ikut membantu (Junmyeon tak pernah keberatan bila ada tenaga tambahan, lagipula Sungra juga tak mematok harga untuk apa yang ia lakukan), sekadar duduk-duduk, mengobrol dengan Sehun atau Zitao, atau mengganggu Kyungsoo di dapur. Sekali waktu ia menyenggol sepanci sup hingga tumpah seluruhnya dan Kyungsoo melarangnya masuk ke dapur selama seminggu, membuat Sungra lebih banyak berkutat di kasir atau kantor Junmyeon. Aneh, karena mestinya ia tak hanya melarangnya masuk tapi jugamenodongnya dengan sendok sup atau spatula atau pisau atau apapun yang sedang ia genggam, seperti yang pernah Sungra lihat ketika Kyungsoo menangkap basah Junmyeon membuang adonan pancake sisa ke tempat sampah.

“Kau tidak pulang?” Junmyeon bertanya pada suatu hari, larut malam setelah café tutup. Sungra menoleh ke arahnya sambil menaikkan kursi ke atas meja. “Setelah aku selesai menaikkan kursi, mungkin? Dan menyapu ruangan ini?”

Junmyeon mengerutkan kening, “Kau bekerja lebih banyak dari Sehun, padahal kau bahkan bukan pegawai di sini. Kenapa tidak bersantai saja di rumah, atau pergi jalan-jalan dan menonton film, atau mengerjakan tugas kuliah, mengingat ini akhir pekan dan besok libur?”

“Orang macam apa yang mengerjakan tugas kuliah di akhir pekan? Selain itu, sendirian di rumah itu mengerikan, kau tahu,” Sungra tertawa. “Karena itu aku lebih suka menghindarinya dan hanya pulang bila memang benar-benar harus pulang. Toh tidak ada yang menungguku di rumah.”

“Baekhyun?”

“Sudah dua minggu ia tidak pulang, meski masih sempat mengabari, setidaknya.” Sungra mengedikkan bahu, menyingkirkan anak-anak rambut yang jatuh menutupi wajahnya. “Aku terakhir bertemu dengannya tiga hari yang lalu, mampir sebentar di studio untuk membawakan makanan dan mengambil baju-bajunya yang kotor. Rasanya seperti aku ini pengasuhnya, sialan.”

Junmyeon tergelak, merebut gagang sapu dari tangan Sungra yang sudah bersiap membersihkan ruangan. “Biar Sehun yang menyapu. Kau pulang saja, sudah malam begini. Ah, Kyungsoo?”

Kyungsoo berhenti berjalan. “Ya?”

“Bisa antarkan Sungra pulang?” Junmyeon berkata. Kening Kyungsoo berkerut saat matanya bertemu dengan Sungra. “Kau belum pulang? Sampai selarut ini? Ck.”

“Aku malas pulang,” balas Sungra ringan, melemaskan otot-otot bahunya yang pegal setelah mengangkat kursi sambil berjalan ke belakang kasir untuk mengambil tas dan jaketnya. “Omong-omong, Junmyeon, aku bisa pulang sendiri bila Kyungsoo tidak bisa mengantarku pulang. Tidak apa-apa.”

“Kalau terjadi sesuatu padamu saat kau pulang dari café ini, orang pertama yang akan dihabisi Baekhyun adalah aku,” si manager café meringis. “Kyungsoo juga tidak keberatan. Ya, kan, Soo?”

“Tidak, tapi aku tidak membawa kendaraan sendiri hari ini. Bagaimana?”

“Aku, sih, tidak apa-apa. Kau yang harus dua kali naik bus, kalau begitu, jadi terserah kau saja.”

Junmyeon menepuk bahu Kyungsoo dengan sikap layaknya seorang ayah dengan anak laki-lakinya. “Hati-hati di jalan,”

—–

“Kau memang sering pulang larut, tapi setidaknya biasanya ada Baekhyun yang menemanimu di jalan. Jangan terlalu sering pulang kelewat malam bila tidak ada yang menemanimu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu?” Kyungsoo berkata di tengah perjalanan dari perhentian bus menuju apartemen Sungra dan Baekhyun. “Sebenarnya apa yang kau hindari dari rumah?”

Sungra tak menjawab meski benaknya sudah berulang kali menjawab pertanyaan itu. Sendirian. Kesepian. Tidak ada orang lain. Kesal karena Baekhyun seolah melupakannya. Khawatir karena tidak bisa mengawasi laki-laki itu setiap saat, setidaknya memastikan ia dan teman-temannya cukup makan. Ia menyayangi Baekhyun seperti kakaknya sendiri dan sendirian karena laki-laki itu kelewat sibuk dengan kegiatan barunya bisa membuatnya gila. Terkesan egois, memang, dan biasanya tak ada masalah bila Baekhyun sibuk, hanya saja kali ini, entah kenapa, ia tak bisa menoleransi Baekhyun sama sekali. Memangnya Kyungsoo bisa mengerti?

—–

Baekhyun akhirnya muncul di depan pintu rumah setelah tiga minggu tidak tampak batang hidungnya. Lusuh, tampak tak terurus, kelihatan lelah luar biasa. Sungra tak tahu apa yang harus ia lakukan, jadi ia membiarkan Baekhyun duduk di sofa sementara ia mengambilkan air dingin untuknya.

“Bagaimana–”

“Aku lelah. Selalu ada yang kurang. Mereka tidak pernah puas, bahkan meski aku sudah mengulang rekaman hingga berkali-kali. Meski Chanyeol sudah memetik gitarnya hingga jari-jarinya kapalan, dan Yixing muak dengan segala chord dan nada. Seingatku dulu tidak seberat ini, atau memang dunia ini didesain untuk membunuh yang lemah agar tak bisa bersaing?”

Menatap Baekhyun yang terus mengoceh sambil memejamkan mata, kaki diselonjorkan di sofa, Sungra menghela napas dan menyingkirkan jaket Baekhyun dari bahunya, perlahan menekan otot-otot di daerah itu untuk melemaskannya. “Lalu? Rekaman kalian sudah selesai?”

“Belum, sayangnya.”

Sungra mengerutkan kening, “Apa lagi yang kurang? Apa aku masih harus menemuimu di studio untuk dua minggu ke depan?”

“Entah. Aku tidak paham lagi. Ah, bisa ulangi di dekat leherku? Pegal sekali.”

Sungra tertawa, mendorong kepala Baekhyun dan menggelitik lehernya hingga Baekhyun memohon ampun padanya, terengah karena kehabisan napas akibat tertawa. Setidaknya Baekhyun masih bisa tertawa, meski penampilannya jauh lebih buruk dari biasanya.

Do your best, B.”

For you, I will.” Baekhyun mengedipkan sebelah matanya dan kembali tergelak. “Shit, Kyungsoo’s going to kill me.”

—–

“Bisakah kau tidak terlalu sibuk? Atau setidaknya sibuk tapi tidak sampai membuatmu hampir sekarat?”

“Mungkin bisa. Kenapa? Kau kesepian, ya?”

“Ck. Junmyeon membutuhkan orang untuk mengisi panggung akustiknya, asal kau tahu.”

—–

You’re too bright that you block the real stars,
but maybe I can get used to that.

end.

note: the last time i wrote one-shot was like half and a year ago. so. maybe. this is the most boring thing i have ever written. also it took an ass-long time to complete. and oh so april was clear of posts, no. sorry.
and there’s no real pairing here~ since our two main chars are only bestfriends (sort of) and actually i want to make kyungsoo and sungra to like each other but they don’t even realize their own feelings? sort of? idk this is so weird hehe. pls forgive me and this shit.

Advertisements

15 thoughts on “[One-Shot] Starlight, Star Bright”

  1. hai hai hai 😄
    baru nih disini baru kesasar. sebenarnya udah jadi siders sejak lama
    mau nyapa takut dimakan 😄 kekekeek
    salam kenal dulu deh, Alplu. 92 line
    dan yang diatas ini mas-mas sipit yang suka makan eyeliner adalah bias sayah *gananya*
    Oke,FYI aja yak im one of your million fans by the way hahaha
    tulisannya selalu ngena soalnya. dari segi diksi yang ajib luar biasa jleb-jleb dan yang satunya ini
    ceritanya agak ngambang. di akhir itu aku gak nemu conclusionnya *apasih ini orang banyak ngemeng* tapi tetep gak mengurangi birahi (?) ku buat baca sampai akhir. baekhyun. sungra. klop. sukak. sukak. sukak. ayo nulis lagiiiiii yang buanyaaaaaakkkk 😄
    *ilang

    1. hai~ eh apaan aku nggak makan orang kok haha. maybe except yifan. tapi makan naga itu enak ga sih (abaikan)
      uhhh should i call you kak? kak alp? kak lu? kak lulu? (seenaknya banget) LHO KOK SAMA BIASNYA hehe meski saya kadang terbuai rayuan pulau kelapa seorang do kyungsoo tapi-tapi-tapi……….
      million fans :’)) no way in hell i have that much of fans. memangnya saya ekso. :’))
      iya sih ini sebenarnya gaada konklusinya /kena hajar/ soalnya aku udah bingung dan beneran udah ga mood waktu nulis endingnya, udah kayak yaelah-ini-kapan-selesai-jir-lama-banget-gue-bosen gitu akhirnya seadanya terus publish deh /ditampar/
      makasih sudah baca~ ^^

      1. hyaaaaa aku baru liat ini hahahaha
        makasih udah di balesss 😄 eniwe kalau menurut penerawanganku sih makan naga gak enak. bayangin aja dagingnya betapa alotnya itu dan banyak duri pula *abaikan juga

        enaknya gimana dah manggilnya senyamannya aja hahahahahahah aku mah pasrah kaoakaoak

        SAMAAAAAAA kalau kataku sih ya mata Do Kyng soo itu punya sihir khusus yang kalau diliat langsung bisa bikin orang jatuh cinta. gerak geriknya, senyum dan tatapannya terlalu sayang kalau dianggurin begitu aja ahahahahha

        tapi iyah kok. aku fans berat tulisan kamuuuuu 😄 aku suka semua. satu-satunya blog yang beneran gak bikin bosen buat dibaca tulisannya dari yang paling jadul sampe yang terbaru, dari yang pendek sampe yang panjang, itu cuma disini aja. apalagi aku ini pecinta tulisan yang sekali abis. dan kamu suguhin itu banyak banget disini hehehe.

        aku lagi gak dalam fase jilat menjilat kok =.= tapi emang iyah. disini mah favorit. jadi kalau udah buka linknya, itu aku bacanya kontinu gitu. sampe ketiduran, makan juga sambil baca, ya intinya setiap kali aku putusin untuk baca sesuatu disini, aku pasti keterusan. dan bakal berhenti kalau aku udah ngerasa capek megangin hape =.=

        gak masalah ini gak ada konklusinya. aku tetep sukaaaaakkkk
        ahahahah iyah sama-sama. nulis lagi ya kapan-kapan 😄

  2. you said this is shit………. oh my god. /crying on my draft/

    gatau ya aku sih menikmati baca ini, kak. meskipun emang buat ukuranku rada kepanjangan, tapi aku suka sih. semacam juga baca kehidupan sehari-harinya sungra yang merindukan baekhyun tapi juga sama si kyungsoo. kalo ditanya pairing entah kenapa aku lebih sreg sungra-kyungsoo ya soalnya baekhyun-sungra di sini kayak kakak adek dan aku seneng banget ngeliat mereka. pengen deh punya sahabat yang udah kayak baekhyun.

    so, ini kakak comeback atau apa? i kinda miss you loh hahahahaa. keep writing kak aufaa! semangat!

    1. literal shit though hehe. /slapped/

      huhu i’m glad then ;;w;; soalnya aku beneran udah lama. sekali. banget. nggak nulis melebihi 1000-an kata (except kumpulan drabble tapi itu kan beda kasus) jadi ini fluktuatif banget mood-nya waktu ngerjain. kadang bagus. kadang nggak. kelihatan ya? hehehe /dihajar
      uhuyyy sungra merindukan baekhyun nanti kepalanya baekhyun ga cukup masuk helm gimana guise. soalnya sesekali pengen bikin bff!baekra gitu sih HEHE (alasan supaya bisa masukin kyungsoo/sungra) (abaikan)

      aaahhhh nggak sih nggak comeback juga. since. meski selo pun nggak nulis (tapi alasan nggak selo tetap valid dong ye). SUMPI KANGEN ADUH TERHARU JADI MALU AH TIDAK KYAHHHHH /sembunyi di belakang kyungsoo/

      makasih semangatnyaaaa~ dan makasih udah komentar ehehehehehe x’3

  3. dan aku tahu jika sungra itu anda 😄
    pertama-tama aku suka kesan ttg kehidupannya seperti jamnya, dua hari, ato dkk itu. dan penggambarannya…..

    Dan sehun di situ, hm, bisa membayangkan 😄 oh anak Sma yg malang dan cute 😄

    Kyungsoo! yeah, kyungsoo juga sensitif dgn dapur-_-

    Aku retweet komen di atas “aku suka pairing sungsoo/kyungra
    berteriak dalam hati, /aaaaa~ tetap baeksoo! o_o eh kok crackpair/

    Dan sekian, makin lama kelihatannya gak penting-.-

    1. bukan saya juga sih wkwkwk. haha, sehun emang bully-able tapi dia kesayangannya sungra di sini x’)
      BAEKSOOO YEHAAAAAAAAA BAEKSOOOOOOOOOOOOOOOOOOO anw udah baca sooenaemoured di livejournal belum? isinya baeksoo semua ;;;;;
      wakakakak, makasih sudah baca~~

      1. halah/-3-

        hm, kak sebenernya bias ultimate anda itu sapa sih?
        baekhyun? /tebak-tebakan ceritanya 😄

        yeah, kadang aku suka BAEKSOO kdng juga suka KAISOO /XD
        kadang suka HUNHAN kdng juga suka KAIHUN /XD 😄

        livejournal? baeksoo? okelah, tp aku ini tipe pembaca menurut genre 😄

        Iya kak sama-samaa~

  4. halah *smirk*

    jgn begitu, itu juga kesayangan ku dan milik luhan.
    kdng ngeship BAEKSOO! kdng juga KAISOO!
    kdng ngeship KAIHUN! kdng juga HANHUN!

    😄 /lol

    kak, udh tahu klo ada desas desus luhan jadi leader dan kris fix keluar?

    aaaaa! jgn luhan yg jadi leader pliss!
    sejauh ini, aku membenci SM

  5. Hi, new reader nih , salam kenal ya.. Baru nemu blog ini subuh2 setelah sahur dan bikin mata ngga bisa merem lagi (big thanks for that. Aku ngga perlu mikir berat badan naik karena makan lngsung tidur)

    Jujur, agak sedikit sensi sama B setelah -yah tau sendirilah scandal bbrapa minggu yg lalu, dan berusaha engga baca apapun yg berkaitan sama dia. but, sure, tulisan ini gagal bikin aku menghindar.

    Cuma sayang doang, kenapa sehun jd tukang cuci piring, sih? Kenapa ngga jadi my handsome boyfie aja? #abaikan

    Untuk writer yg lumayan lama productive, ini luar biasa… nice!!!

    1. /merasa berdosa karena beberapa hari terakhir ketiduran habis subuhan/

      hahaha aku juga jadi sensi kok beberapa waktu lalu, sial. sehun jadi tukang cuci piring gegara kyungsoo nggak yakin dia bisa pegang pisau tanpa otong jari, atau lengan, atau rambut, atau bagian tubuh orang lain soalnyaaaaa /dihajar/

      makasih sudah baca ^^

  6. AUFAAA IH UDAH BERAPA ABAD AKU GA KESINIIII? (peluk, peluk, peluk.) hahahaha. pertama kali liat poster terus pas baca ada nama sungra-nya, aku langsung inget cafe latte. itu, cafe latte itu, gara-gara fanfic itu aku jadi keranjingan byunbaek. HAHAHAHA. tanggung jawab kamu xD

    anw, aku suka ih sama penghuni-penghuni kafenya. junmyeon yang selalu kalah sama kyungsoo, haha. dan aku tuh bayangin pas kyungsoo ngelarang sungra ngambilin kue, muka dia tuh yang gelap, serem, horor gitu ih yaampun xD
    dan dimana-mana kalo ada baekhyun sama sungra, itu pasti dialognya full of sindir-sindiran satu sama lain, yaa. padahal sebenernya mereka peduli satu sama lain, tapi tetep aja kan xD ah, i see. masalah sungra sama kyungsoo itu haha. aku mau jungkir balik rasanya pas nemuin kalimat yang kyungsoo tipe tsundere (atau yandere tadi? lupa. maafkeun hehe.) soalnya temen aku di kampus ada penggemar anime banget terus kata-kata ini sering kesebut gitu haha. (dan sampe sekarang aku gatau artinya apa. hm.)

    mungkin aku bacanya terlalu enjoy ya aufa, soalnya pas baca sampe akhir aku yang, ‘lah ini udah selesai, seriusan…’ ahahaha. tapi emang ceritanya khas aufa banget lah. ih sukaaaaaa. nostalgia sungra-baekhyun hihi. keep writing aufaaa. semangaaat 😉

    1. RATUSAAAAAAAAAAAN /bukan/ /balas peluk/
      aih cafe latte sumpah itu udah… bentar… UDAH DUA TAHUN HUAHAHAHAHAHAHA (iya kan ya, ya sekitar segitu deh) minta tanggung jawabnya sama si bekhyun dong jangan sama saya ❤

      ah entah kenapa junmyeon selalu jadi manusia tertindas. ya habisnya. habisnya dia sih image-nya bully-able hyung gitu.
      kalau kyungsoo ini di-manga-in /?/ separo atas mukanya udah dikasih tone hitam, rambut menutupi mata, background di belakangnya juga hitam atau garis-garis gitu (ya ampun ini kyungsoo apa setan gitu)
      tsundere sama yandere ada dua-duanya. cek urbandict deh kak hahaha intinya sih kalau tsundere itu suka jual mahal tapi diam-diam suka (APAAN), kalau yandere tuh tipe-tipe kalem tapi dalamnya ternyata sadis. kyungsoo semua sih………… /eh/

      ini kalau dipanjangin lagi nggak tau deh kak bakal se-amburadul apa. habis aku sendiri waktu ngetik endingnya juga udah malas-malas gimana gitu, makanya kesannya agak abrupt tuh si ending tetiba muncul begitu aja. ahihihihihihi makasih kaaaaaaak. kak fika juga semangat yuuuuu 😀

  7. Attachment-nya kayak sayur ew Byun Sayur.

    Akhirnya bisa komen disini juga after centuries males login. Ya maafin ya emang suka males gimana dong (sebenernya mungkin ngga pengaruh ke kamu ya) tapi tapi tapi ngerti ngga sih ini postingan satu brought us to somewhere only we know E E E EITS KOK BAWA FILM SYUTINGAN PRAHA SIH biarin ya masih nyakit aja padahal kasus Mei. Jadi sebenernya ini ngga selesai disini kan aku tunggu yang nitip salam ke mas-mas laundry oke aku cinta kamu lah :* (anaknya suka spoiler)(dikit doang kok dikit)

    btw, sebenernya aku punya temen yang ‘dek mbok kenalin aku ke kak aufa kok dia orangnya hore gitu ugh pasti seru tapi aku nanti mati gaya gimana kalo tiba tiba ngechat kan nggak lucu’. Terus aku bilang ‘dia galak entar first meet kamu digetok pake gulungan kertas gimana’ e e ngga ding bercandaan kok ah mari meet up dan main ke noraebang berbanyak bersama kak lalatief dan teman ybs itu plus anak kipop yang lain juga tjaeum kan

    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s