[Ficlet] Void

Void
Kim Jongdae (EXO), OC; slice of life, friendship? some kind of angst?; G; 2250 words

and no, you’ll never caught me,
whispering sweet nothings to her ear anymore

—–

Akan selalu ada titik di mana kau, mudahnya, berhenti. Berhenti menganggap boneka figurin kesukaanmu menarik lalu menggantinya dengan permainan lain. Bosan dengan buku favorit yang biasanya bisa dibaca tiga kali sehari. Tidak lagi menanggapi lelucon teman-temanmu, yang disadur dari buku kumpulan tebakan, dengan tawa, karena kau sudah tahu semua jawabannya dan sadar seberapa tak lucunya semua itu.

Mungkin termasuk berhenti mencintai orang lain? Penulis di novel picisan berkata, lewat dialog dan pikiran tokoh mereka, bahwa ia yang berhenti mencintai mulai kehilangan sesuatu yang membuatnya mencintai. Membingungkan? Cinta sendiri sudah membingungkan.

Bagaimana bila aku berhenti menyukaimu?

—–

“Kau butuh bantuan?”

Senyum serupa kucing menyapanya ketika ia melangkah keluar gedung perpustakaan, dua textbook di tangan. Si senyum kucing lantas mengambil dua buku tebal itu dari dekapannya tanpa menunggu respon apa-apa, membawanya semudah membawa dua binder tipis di satu tangan. Gadis di sebelahnya menatapnya aneh, namun diam saja, tangan tersilang di depan dada. Setidaknya ia mengenal si senyum kucing karena laki-laki itu sekelompok tutorial dengannya. Tak terlalu dekat, memang, hanya sebatas nama dan beberapa informasi umum saja.

“Sudah belajar?” tanya si senyum kucing kemudian, mulai melangkah meninggalkan bangunan perpustakaan. Langkah-langkahnya sedikit lebih lebar dari gadis itu, jadi ia memelankan ritme jalannya. Melirik gadis itu dari samping, seulas senyum tipis muncul di bibir si senyum kucing, meski gadis itu bahkan belum menjawab pertanyaannya.

“Untuk?”

“Tutorial?”

“Oh.” gadis itu mengerutkan kening. “Belum. Kau?”

“Belum juga. Aku tidak tahu apa yang harus dipelajari. Terlalu banyak learning objective yang harus dicari, kan? Waktu yang diberikan kelewat sebentar, pula, karena dosen kita, kan, minta jadwalnya dimajukan. Mana bisa seseorang mencari jawaban semua pertanyaan gila itu dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Memangnya kita ini Wikipedia, apa?”

Si gadis menggumam, mengiyakan pernyataan panjang si senyum kucing. Kadang ia merasa laki-laki itu terlalu banyak bicara–tapi sudahlah. Memang ada, kok, orang yang ditakdirkan menjadi manusia cerewet. Mungkin dia salah satunya, bersama dengan tutor mereka yang galak luar biasa. Ah, lupakan, tutor mereka tidak cerewet, hanya kelewat teliti.

“…kupikir aku akan gila setelah blok ini berakhir. Ya Tuhan, bayangkan berapa banyak laporan lab yang harus kita tulis tiap minggunya. Mungkin tanganku akan luka berat, infeksi, lalu harus diamputasi. Bayangkan raut wajah dokter yang menganamnesisku nanti. Luka berat karena terlalu banyak menulis laporan. Huh. Menggelikan.”

Gadis itu menguap sambil memutar handle ruang diskusi, “Yah, good luck, then.”

Si senyum kucing tersenyum lebar sekali hingga matanya hampir menghilang.

—–

Tidak tepat menyebut Jongdae sebagai seseorang yang sulit dibaca, terutama bila Chanyeol yang otaknya sulit ditembus hapalan nama-nama bagian tulang bisa menerjemahkan emosi di mata Jongdae. Maka saat Baekhyun dan Chanyeol memojokkannya di ruang kuliah lengang pada suatu pagi, Jongdae hanya bisa menghela napas sambil menghalau wajah-wajah menahan tawa mereka dengan buku fisiologi–menyebalkan. Jongdae sering bertanya-tanya mengapa ia mau berteman dengan dua makhluk keparat itu, dan saat ini adalah salah satu contoh waktu ia merasa heran pada dirinya sendiri karena tidak bisa menyadari sinyal bahaya di balik wajah-wajah polos Baekhyun dan Chanyeol saat mereka berkenalan pertama kali.

(Baekhyun langsung menggelitik telapak tangannya waktu itu–sesuatu yang harusnya sudah mengaktifkan alarm awas-orang-ini-gila-jauhi-dia di benak Jongdae. Kenyataannya Jongdae hanya mengernyit dan menarik tangannya dari genggaman Baekhyun, namun tetap tidak menjauh dari kedua bocah itu. Entahlah, mungkin saat itu dia memang sedang benar-benar membutuhkan teman, di tengah ratusan wajah yang ia tidak kenali dan sebagainya.)

“Fey, hm?” Baekhyun memulai, lengkap dengan cengiran lebar yang sudah menjadi trademark-nya. Siapa bilang hanya Jongdae yang bisa tenar dengan cengiran a la Cheshire Cat miliknya?

Jongdae menghindari tatapan Baekhyun, pura-pura sibuk dengan textbook tebal yang tergeletak begitu saja di depannya. Tentu saja bahasan hemostasis lebih menarik daripada wajah Baekhyun, dan sayangnya menghapal nama-nama blast sel-sel darah lebih mudah daripada menghindari seorang Byun Baekhyun yang sekarang sudah duduk di sebelahnya, masih dengan cengiran seperti pria paruh baya yang maniak gadis-gadis remaja. Macam apa. Bagaimana Jongdae tidak merinding bila harus berhadapan dengan Baekhyun saat ini.

“Apa maumu?” ketus Jongdae setelah sekian menit usahanya mengacuhkan Baekhyun dan Chanyeol gagal. Tanpa bersuara, Chanyeol menutup textbook Jongdae dan melemparnya ke meja di depan mereka, tidak menghiraukan protes lelaki itu tentang betapa mahalnya harga buku teks di pasaran. Pria tinggi itu menopang dagunya di atas tangan, siku menempel di meja, mata bulat besarnya menatap Jongdae lekat. “Kau tidak pernah cerita pada kami,” tuduhnya kemudian.

Alis Jongdae terangkat sebelah. “Cerita?”

“Yah,” Baekhyun menghela napas dramatis, “Tentang Fey, tentu saja.”

“Memangnya kenapa dengan Fey? Kalian tahu dia yang mana. Kalian mengenalnya, sering bicara dengannya, pula. Apa yang harus kuceritakan?”

Baekhyun memutar bola matanya, lagi-lagi dramatis. Sayang sekali di fakultas mereka tidak ada klub teater. “Kalau begitu, tentang kau dan Fey.”

“Memangnya–”

“Satu ‘memangnya’ lagi dan Chanyeol akan membekapmu. Di ketiak,” ancam Baekhyun, “dan omong-omong, dia belum mandi.”

“Oh. Wow.”

“Sialan. Kenapa kau harus menjadikanku ancaman bagi orang lain?”

“Karena kau menjijikkan,” Baekhyun dan Jongdae berkata, tersinkronisasi, seirama, dengan nada yang sama. Kemudian Baekhyun ganti mengalihkan tatapan ke arah Jongdae, “Ayolah, Jongdae, kita sudah lama berteman—”

“Dan kita bukan anak-anak perempuan menjelang pubertas yang sibuk bergosip—”

“Berhenti memotong kalimatku,” Baekhyun menekankan sesuatu ke leher Jongdae. Oh, lolipop. “Lama-lama aku bisa membunuhmu dengan ini. Sekarang, ayo, mulai ceritamu atau Chanyeol benar-benar akan membekapmu.”

“Hei!”

Jongdae terkekeh, menggelengkan kepala karena tak habis pikir akan kelakuan dua laki-laki di depannya, “Untuk apa kuceritakan sesuatu pada kalian kalau kalian sudah mengetahuinya?”

Baekhyun berhenti menekankan ujung runcing lolipop ke nadi di leher Jongdae.

Well, he have a point there,” cetus Chanyeol semenit kemudian.

—–

Bila Jongdae tidak kebetulan sekelompok dengan Fey, besar kemungkinan ia masih akan tetap mengenal gadis itu–atau setidaknya pernah mendengar namanya. Bukannya Fey sebegitu terkenalnya sampai seantero kampus tahu anak itu–bukan, hanya saja Fey sedikit berbeda. Tidak perlu mengabaikan betapa cheesy-nya kalimat barusan karena Jongdae memang berkata demikian.

Tapi tidak juga. Di awal Jongdae mengenal Fey, ia merasa gadis itu biasa saja–tidak banyak bicara tapi juga tidak pendiam, sering terlihat mengantuk, kadang sibuk dengan kedua ponselnya. Tapi kemudian ia tahu tentang minat gadis itu terhadap budaya dan kesenian. Lalu, ia memahami genre bacaan favorit gadis itu hanya karena Fey pernah menceritakan novel yang tengah ia baca (tidak pada Jongdae, ia hanya tak sengaja mendengar) dan kebetulan itu judul yang sama dengan novel yang paling Jongdae sukai. Makanan kesukaan gadis itu saat Fey membawa dua kotak mochi,oleh-oleh ibunya yang datang berkunjung, untuk mereka bersepuluh. Semakin banyak hal yang bisa ia masukkan dalam list yang, bila ditulis, mungkin bisa memenuhi beberapa lembar sticky notes yang sering Jongdae bawa hanya untuk digunakan sebagai alat mengerjai teman-temannya di kelas.

Seklise apapun kalimat ini terdengar, Jongdae tidak tahu kapan ia mulai jatuh… dalam kubangan perasaannya? Entahlah. Terserah Jongdae, asalkan dia sendiri tidak mual saat membaca narasi ini.

—–

“Hei,”

Jongdae berhenti membalik-balik halaman buku hematologi di depannya. Tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang bicara, sebenarnya, namun Jongdae tetap menoleh. Rasanya tak sopan kalau kau tidak menatap orang yang baru saja menyapamu, jadi ia menyunggingkan senyum pada gadis yang sekarang sudah duduk di bangku di seberangnya.

“Apa harus ada dua praktikum sekaligus hari ini,” Fey mengerang, kepalanya jatuh hingga dahinya menyentuh permukaan keras meja semen. Jongdae terbahak, kembali sibuk dengan modul dan highlighter oranye cerah.

“Apa aku boleh membunuh siapapun yang menyusun jadwal kita.”

“Lakukan saja,” kilah Jongdae, sedikit tak fokus dengan kening berkerut. Dasar retikulosit sialan. Apa para penemu ini sebegitu tidak ada kerjaan-nya sampai semua sel di stage perkembangan yang berbeda harus diberi nama yang sama sekali lain?

“Apa ilmu dari buku tidak bisa langsung berdifusi masuk ke otak? Serius. Konsentrasi mereka di textbook lebih pekat daripada di dalam kepalaku.”

“Yah, bagaimana kalau ada yang menciptakan roti penghapal Doraemon di kehidupan nyata.”

“Atau pensil komputer untuk ujian.”

“Tidak ada gunanya. Ujian kita tidak tertulis, ingat?”

“Kalau begitu, mouse otomatis untuk ujian.” Fey tertawa, meski wajahnya masih menempel di atas permukaan meja, dan itu tak sepenuhnya lucu, sebenarnya. Namun Jongdae ikut tertawa karena–karena dia Fey, dan Jongdae tak punya alasan untuk tidak ikut tertawa bila gadis itu tertawa.

Jongdae menutup bukunya, merasa sia-sia belajar karena hanya tersisa lima belas menit lagi sebelum pre-test dimulai dan ia tak pernah mendapat apa-apa bila belajar di saat-saat seperti ini. Jadi ia menopangkan dagu di atas hardcover bukunya, mengamati puncak kepala Fey–wajah gadis itu masih menghadap meja, ingat? “Kau bilang begitu, tapi sebenarnya kau sudah hapal isi modul seluruhnya, kan?”

Fey mendengus, “Kalau aku sudah hapal seluruhnya, aku tidak akan meratapi nasib seperti ini, tuan Kim. Aku akan mentertawakan rakyat jelata sepertimu yang baru belajar di detik-detik terakhir, namun sayangnya aku juga seorang rakyat jelata yang nyaris lupa hari ini ada dua praktikum.”

“Bohong.”

“Sama sekali tidak. Yah, setidaknya aku tidak lupa sama sekali hingga tidak datang seperti Baekhyun tempo hari.” gadis itu terkekeh, mungkin teringat saat Baekhyun datang satu jam setelah praktikum dimulai dengan alasan salah melihat jadwal. Yang benar saja. Jongdae mendengus, “Chanyeol lebih parah, dia pernah melewatkan satu praktikum karena ketiduran, asal kau tahu.”

“Serius?!”

—–

Salah satu pertanda sindrom kau-sedang-menyukai-seseorang adalah sering tersenyum, bahkan saking seringnya hingga terlihat seolah tanpa alasan. Pun dengan Jongdae–meski ada alasan di balik tiap cengirannya.

Hari ini Fey meminjamkan laporan praktikumnya. Sebenarnya tidak hanya hari ini, karena praktis hampir tiap saat menjelang deadline pengumpulan laporan Jongdae meminjam pekerjaan gadis itu bersama Baekhyun untuk disalin karena keduanya belum mengerjakan. Bahkan kadang Fey langsung menyerahkannya ke salah satu dari mereka berdua pagi-pagi sekali sebelum kuliah dimulai tanpa diminta terlebih dahulu. Jongdae memang malas menerjemahkan kalimat-kalimat Bahasa Inggris yang rumit di textbook, sedangkan Baekhyun… entahlah. Dia memang pemalas, kok.

Tapi bukan itu yang membuat cengiran lebar terulas di bibir Jongdae hari ini, bahkan ketika tangannya sudah pegal akibat menyalin tiga lembar folio bolak-balik. Lebih karena satu chat di aplikasi messenger di ponselnya, semalam ketika Fey bicara padanya lewat teks dan stiker.

Biasa saja, sungguh. “Halo.” pesan pertama Fey berbunyi, disusul “Laporanmu sudah selesai?” beberapa detik kemudian. Jongdae menjawab belum, bersiap menyumpahi dirinya sendiri karena (kemungkinan) akan menyia-nyiakan kesempatan mengobrol dengan gadis itu di luar kegiatan perkuliahan–yah, Fey juga manusia, bisa jadi, kan, ia memang belum mengerjakan tugasnya dan benar-benar berniat menanyakan sesuatu ke Jongdae? Yang sayangnya tak akan bisa Jongdae jawab karena jangankan membuka textbook, esok hari ada laporan yang jatuh tempo saja dia tidak ingat.

Oh.” semenit kemudian, muncul di layar ponselnya. “Kau dan Baekhyun mau menyalin laporanku seperti biasa? Tapi belum selesai. Kukirimkan sebagian dulu bagaimana?

Jangan salahkan Jongdae bila ia akhirnya berspekulasi macam-macam karena ucapan Fey. Satu, mereka jarang mengobrol (sering, bila waktu-waktu di mana Jongdae gagal menginisiasi percakapan panjang dengan Fey dihitung). Dua, tiba-tiba Fey memulai percakapan dengannya. Tiga, Fey menawarkan laporannya tanpa diminta.

Baiklah, yang terakhir memang sering terjadi, tapi tidak pernah sampai gadis itu khusus bertanya padanya terlebih dahulu seperti saat ini.

Maka, bolehkah Jongdae berharap bahwa gadis itu juga memperhatikannya?

Boleh ataupun tidak, Jongdae tetap terlihat seperti orang gila selama kuliah pagi hari itu.

—–

Oh. Baiklah. Kemungkinan besar Jongdae terlalu banyak berharap tempo hari.

Sikap Fey sama saja. Tidak ada yang berbeda–Jongdae sendiri tidak paham apa yang harus ia lakukan karena semuanya melenceng dari skenario yang sudah ia susun di otaknya.

Pertama, mendekati Fey. Anggaplah sudah dijalankan.

Kedua, Fey memulai kontak dengannya terlebih dahulu. Selesai.

Ketiga, mereka semakin dekat. Nihil.

Bagian mana dari skenarionya yang bermasalah, Jongdae tak tahu sama sekali. Tunggu, jangan salahkan Jongdae. Setelah insiden laporan-praktikum-sehari-sebelumnya tempo hari, Jongdae tak lantas diam saja dan menunggu Fey kembali memulai percakapan dengannya. Kalian salah besar. Menyapa? Cek. Tersenyum lebih dulu? Cek. Mengajak bicara? Cek. Menanyakan hal-hal penting-tapi-tidak-penting semacam ‘praktikum besok tidak diundur, kan?’? Cek.

Lalu, apa?

Fey tetap memperlakukannya seperti bagaimana ia memperlakukan Baekhyun dan Chanyeol–sesekali bercanda. Sesekali menanggapi. Lebih banyak diam, atau bicara dengan teman yang lain. Apa Jongdae salah membacanya, lagi?

Kadang Jongdae ingin mencakar wajahnya hingga bola matanya tercungkil keluar dari cekungan dan kulit-kulit mukanya mengelupas. Sialan. Mendekati Fey tak semudah menghapalkan A-B-C–ya Tuhan, tentu saja–, maupun membaca raut wajah dan tindakannya yang lebih rumit daripada mengenali arah mata angin saat kau baru saja pindah rumah. Mungkin dalam waktu seminggu kau sudah tahu kalau rumahmu menghadap ke tenggara dan harusnya mobilmu diparkirkan di garasi yang ada di selatan rumah agar tidak menutup jalan. Memecahkan apapun namanya yang Fey kirimkan padanya–kode, sinyal, atau sebutan klise lainnya– tak akan pernah semudah itu.

—–

Fey jarang tersenyum–sering, kalau kau menghitung senyum palsu. Jangan remehkan Jongdae, ia bisa membedakan keduanya dari raut wajah Fey, termasuk wajah ya-Tuhan-kenapa-aku-ada-di-sini yang kerap ia tampakkan ketika orang-orang di sekitarnya ribut berdebat.

Bagaimana dengan senyum yang ia lontarkan ke Jongdae?

Salah satu hal yang cukup menghibur bagi laki-laki itu adalah, Fey lebih sering tersenyum padanya daripada ke teman-teman mereka yang lain–meski jumlahnya bisa dihitung dengan jari di sebelah tangan, tawanya sesaat sebelum praktikum tempo hari termasuk. Yah, baiklah, anggaplah ini batu loncatan lagi.

Dan Jongdae kembali berangan.

—–

Seratus dua puluh hari mengemban tugas, eritrosit akan mati. Bentuknya tidak sempurna dan fungsinya mengikat oksigen sama tidak sempurnanya. Ia akan dihancurkan di hati atau limpa, lalu zat-zat yang masih berguna disimpan kembali untuk dijadikan sel-sel baru. Sisanya dibuang bersama kotoran, daripada menjadi racun di tubuh.

Eritrosit tidak bosan bertugas, ia hanya kelelahan. Lalu ber-apoptosis agar bisa digantikan oleh sel baru, yang lebih sehat dan lebih mampu bekerja. Persis seperti Jongdae, beberapa waktu setelah angannya kembali terhempas. Mudahnya, Jongdae sudah lelah. Mungkin sedikit muak. Mungkin juga bosan, tapi ia tak yakin akan pilihan terakhir. Yang ia tahu pasti hanyalah ia sudah tidak bisa melanjutkan semua ini, tidak bila tak ada tanggapan apapun. Tidak bila Fey tetap menganggapnya angin lalu–tidak lebih dari teman sekelompok tutorial.

Lebih baik ia membiarkan angannya mati daripada dirinya yang mati kelelahan.

end.

*apoptosis: peristiwa kematian sel secara fisiologis. maaf analoginya amburadul dan nggak nyambung.
*secara keseluruhan memang nggak nyambung, jadi wajar kalau bingung. saya juga bingung.
*foreword (kind of) di atas itu hasil terjemahan bebas Sewindu.
*maaf (lagi) kalau nggak jelas. biasalah. lama nggak nulis juga (alasan) (alasan aja terus).
*liburan ini akan berusaha produktif. semoga bukan janji kampanye semata.

bye.

bd864399gw1egiqi2hbx6g206y09ikhv bd864399gw1egiqhrrqp5g206y05yb0k bd864399gw1egiqhhl2i7g206y05ynno bd864399gw1egiqh7quz0g206y09i4os

Advertisements

14 thoughts on “[Ficlet] Void”

  1. waaaeee kenapa sih kebanyakan one sided love, aku merasa tertampar. aku pikir awalnya si cewek lagi yg sebelah tangan, jadi jatuhnya ga terlalu menye menye kalo jongdae mah. abis wajahnya lawak sih, duh jahat banget komenku hahaha.

    btw kalimatmu kok banyak yg belibet sih ya, lagi wb yah? banyakin nulis gitu biar aku dapet hiburan /maunya/ hahaha

    1. KENAPA TERTAMPAR. EMANGNYA SAMA KAK DOK—- /ditampar/
      kalau yang ceweknya yang sebelah tangan udah mainstream sih (?) (eh nggak juga ya) (yaudahlah)

      hueeeeeeeeeeeeeeeeee maaf kak belibet banget hauahahaha aku baca ulang juga pusing. udah lama banget ga nulis jadi ;;;;;; (((berlagak tidak membaca pesan sponsor)))

      makasih kak~ :3

    1. …pada akhirnya saya memang hanya mengumbar janji kampanye ehehehe laptopnya rusak sih, niatnya tunggu laptop udah betul baru blogwalking kembali tapi laptopnya ga keburu bener (ya orang nggak diservis-servis juga gimana mau betul-_-)

      Unrequited love-nya dari sisi Jongdae WAAAAIII TERNYATA BISA JUGA DIA MABOK CINTA BEGINI WAKAKAKA (ya bisa) (lu aja bisa kenapa dia ngga /eh). Suka sama bagian awal sama ending-nya. Aku suka analoginya sih, jujur nih :3 terutama baris ini ya: ‘Lebih baik ia membiarkan angannya mati daripada dirinya yang mati kelelahan.’ favorit banget itu ❤

      Jongdae si senyum kucing. A la Cheshire Cat gitu. YA AKU JUGA PERNAH KEPIKIRAN GITU. MEMANG SAMA. 99.9% COCOK.

      Duo chanbaek di sini menghibur banget. Begonya juara deh, gaada lawan. Dan apa coba si Baekhyun ngancam-ngancam mau bunuh pake lollipop lol. Apalagi di bagian ini ya:

      '“Satu ‘memangnya’ lagi dan Chanyeol akan membekapmu. Di ketiak,” ancam Baekhyun, “dan omong-omong, dia belum mandi.”' eww g r o s s asem banget ew ew eww. Aku diancam begini nyerah aja deh langsung jujur aja deh

      Eh terus ada deh si Fey bilang gini "Apa ilmu dari buku tidak bisa langsung berdifusi masuk ke otak?" and I was like, CAN'T. AGREE. MORE. Angan-anganku ini mah uhuhuhu

      Memang lah ya kalau lagi mabuk kayak si Jongdae begini dikirimin pesan singkat aja udah nge-fly sampe ke galaksi. Padahal isinya mah biasa aja. Dasar Jongdae, berdelusi mulu. Lagian Fey juga ga peka. Eh tapi aku ga bisa nyalahin siapa-siapa di sini, sama aja lah berdua. Netral saja lah saya ._.

      Aaaaand btw ini kak Aufa udah berhasil memerangi webe. Berarti tinggal aku dong. Ahahahaha masa blog udah setahun dibikin isinya cuma lima… sungguh tak produktif saya ini. Malu banget ;;;

      Udah deh, kayanya aku udah selesai tulis apa yang kepengen aku bilang… jadi, err. Sekian…? Aaaaghh buat kata penutup itu rasanya awkward banget, tak jago lah saya buat yang begituan. Udah deh ya cukup sekian terima kasih bye nanti ini isinya makin rancu yang ada aku hanya mempermalukan diri sendiri saja ;____; semangat terus nulisnya ya!

  2. dan yeaaaaaah another unrequited love sampe capek gitu kan si jongdae nungguin ya. salah siapa ga peka dan salah siapa yang berharap cukup tinggi. salah siapaaaa. aku selalu mikir yang namanya unrequited love itu ga cuma salah satu pihak tapi salah dua-duanya. (lah aku malah nungguin fase jadi jongdae yang udah capek) ah, abaikan. komenku yang ini kok kayak orang ngelindur gitu sih 😦

    sama kayak kak put, awalnya aku juga sempet mikir kalo ini cerita dari sisi si cewek. oh ternyata jongdae. oh ternyata jongdae bisa unrequited love juga. ya ampun, sini deh kalo ceweknya gamau sama jongdae, boleh kok sama aku ❤ /dirajam/

    penafsiran sewindu sama analogi apoptosisnya itu aku suka sekaliiiiiiii lho! dan line terakhir superbbbbbb. semangat ya kak aufa h3h3h3h3

    1. huahahahahaha. entah satu pihak php (terus nggak sadar. eh mungkin sadar juga sih. tergantung sikon, lah) terus satunya ngarep ketinggian atau gimana gitu sih ya. kalau dari sisi cewek sudah mainstream… (kenapa argumen ini lagi) (dasar nggak kreatif). jongdae juga manusia, bisa unrequited love juga. ya siapa tau gebetannya ilfil gegara kelakuan jongdae terus nggak bisa ditoleransi sama wajahnya yang sebenarnya juga biasa-biasa aja (DUSTA) (maafkan aku jongdae)

      /brb ber-apoptosis /bukan gitu/ ehehehehe makasih ya 3pi1i1in ❤

  3. Halo, aku Areta 😀 pertama mampir blog kamu nih. dari Link tempat Evin 🙂 aku bisa panggil apa?
    dan lahi-lagi cinta sepihak yang menyakitkan tapi kalai jongdae yang ngalamin aku kenapa mau ngakak ya, hahahhaa dan bener kata kak put, soalnya muka Jongdae lawak sih. tapi itu sih namanya cinta datangnya kadang-kadang ga tepat, bisa jadi nanti kalau Jongdae udah berpaling Fey malah baru mulai jatuh cinta sama dia, bisa jadi dan siapa tahu? hahhaa *ini kenapa aku nulis plot sendiri ini -____-*

    1. hai kaaaak~ eh bener kan? soalnya aku barusan baca what sin have i done in my past-nya evin terus ada yang ngomongin skripsi-skripsi gitu deh kayaknya /dihajar/ panggilnya… terserah sih /eh/, aufa juga boleh \o/
      huahahahahaha aduh susah ya jadi jongdae, sedih pun ditertawakan. dan itu dia sulitnya kalau ternyata jongdae udah move on terus… terus… fey jadi suka sama dia… terus… yaudah sih terserah mereka aja mau gimana wakakakakaka kalau jongdae sih paling batal move on gitu deh. /ditendang/
      anyway, makasih kaaaak~ ^^

      1. Halo Aufa, nice to know you. hahaha panggil kakak juga boleh 😀 sama-sama Auafa, hahaha ternyata kalo soal Fey hati Jongdae lemah yaaaaa

  4. wuhuuu one-sided love ternyata jongdaenya hahahaha. (bentar sebelum lanjut aku mau bilang suka banget sama panggilan jongdae di awal-awal haha. si senyum kucing. kyaaaa.)

    pertamanya ngga nyangka sih ini ternyata yang bertepuk sebelah tangan dari pihak jongdae toh hihi. ngga biasa aja gitu, tapi gapapa sekali-sekali yang cowok lah yang digantung xD HAHAHA. bagian mau dibekep sama chanyeol itu apa banget dah, terus yang baekhyun nodongin lolipop ke jongdae -_- sekalian aja byun kamu todong itu jongdae pake sabun batangan. (iya ga nyambung.) (yaudahlah ya.) HAHAHA.

    bagia chatting-chatting itu bisa bayangin jongdae bahagianya kaya apa. namanya juga jatuh cinta kalik ya, pesan biasa doang sebenernya tapi rasanya udah kaya dapet undian berhadiah. wekeke.
    soal istilah-istilah biologi di atas, oke kamu bikin aku flashback dulu ke jaman sma haha, proses regenerasi sel darah merah, nama-nama tulang kinda missed those things, karena sekarang aku dapetnya malah tabel panjang macem-macem ukuran pipa xD
    keep writing aufaa semangaaaaats hihi ❤

    1. itu yang bikin aku ‘mengenali’ jongdae, bagian mulutnya kalau senyum jadi kayak kucing. pokoknya kalau pada nyari personifikasi emot :3 dalam kehidupan nyata bisa merujuk pada wajah jongdae /eh/

      SENENG AMAT SIH SI JONGDAE DIGANTUNGIN. mukanya happy-go-lucky gitu sih, kayaknya asik kalau dibikin galau… meski akhirnya efeknya juga nggak kena karena wajahnya kelewat konyol. yoweslah.
      kenapa nggak sabun batangan? karena di kampus nggak jual sabun batangan~ (APAAN SIH)

      ah ya biasalah itu sindrom klasik kan /heaaaaa/ pesan asli ‘lagi di mana? ditungguin nih katanya mau makan bareng anak-anak sekelompok’, kalau jongdae yang baca pasti bagian ‘anak-anak sekelompok’-nya nggak bakal terbaca. dijamin. /eh/
      hah tabel ukuran pipa buat apaan? 😮 pasca ujian blok kemarin semua hapalanku tentang regenerasi sel darah merah musnah bersama angan dapat nilai A, huahahahaha D’X

      makasih kaaaaaaaaaak! ❤

  5. retikulosit panjang umur baru juga dibatin eh dia muncul *OOT
    btw kamu membuatku berangan2, cobak temen sekelas tutorialku ada yg seganteng mas chen T.T ya tapi sakit juga kalau chen ngeliatin mbak fey terus sementara aku ngeliatin dia terus
    kalo kamu capek nyukain mbak fey nyukain aku aja mas gapapa *ngarep banget
    penggambaran sakitnya secret admirer itu ngena banget huaaa. aku banget T.T tapi jaman SMA doang sih, sekarang udh ga pernah lagi haha
    keep writing!
    PS gifnya lucu banget betewe

    1. ya Allah mikirin retikulosit…
      WKWKWKWK NYUKAIN AKU AJA GAPAPA KU JUGA MAU??????? *eh*
      wah aku kapan ya /mengingat kembali/ /kemudian curcol/ /ga sih wq/
      uwuwuwuw yes mz chen is love mz chen is lyf :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s