[Ficlet] Crescents

Crescent
Byun Baekhyun, side!Do Kyungsoo (EXO), OC; angst, hurt/comfort, fluff, romance; PG-13; 1779 words

might as well say i’m a masochist who doesn’t know when and how to stop.

.

Pulang ke rumah adalah hal yang kontradiktif. Setidaknya bagi Sungra yang baru melepas sebelah sepatunya ketika mendengar suara celoteh dan tawa dari ruang tengah. Mengenali suara masing-masing orang yang membuat flat-nya berisik bukan pekerjaan sulit karena ia telah lama mengenal ketiga orang itu, satu di antaranya lebih lama dari dua yang lain. Seseorang yang membuatnya malas sekaligus tidak sabar kembali ke rumah, karena menemuinya selalu membangkitkan dua kutub yang berseberangan dalam benak Sungra.

Satu dari tiga orang itu mendongak ketika suara langkah kaki Sungra mencapai ruang tengah. “Kau sudah pulang?” sapanya, yang dibalas Sungra dengan anggukan singkat sebelum mengarahkan langkah ke kamar, dalihnya ingin berganti baju dan istirahat sebentar. Laki-laki yang baru saja menyapanya bangkit berdiri seraya merangkul bahunya erat, membuatnya terpaksa berhenti berjalan. “Bagaimana harimu? Melelahkan? Apa kau sudah bertemu si Profesor Menyebalkan?”

“Ada banyak profesor menyebalkan di kampus, Baekhyun,” balas Sungra, suaranya datar. “Tapi kalau yang kau maksud si wanita tua yang memberi tugas membaca To Kill a Mockingbird pada segerombolan mahasiswa yang mengambil kelas bahasa hanya untuk memenuhi kebutuhan mata kuliah dasar, sepertinya aku sudah bertemu dengannya hari ini.”

Tawa Baekhyun menyahut ucapan Sungra, “Aku sudah lama curiga Prof Ryder punya ketertarikan berlebih terhadap novel itu, dan pernyataanmu barusan memperkuat hipotesisku. Berani taruhan, hingga ia pensiun, tugas yang ia berikan akan tetap sama.”

Sungra menggumamkan Mm, terserah, berusaha menyingkirkan lengan Baekhyun dari bahunya secara halus. “Um, B? Aku ingin tidur. Sudah mengantuk sejak kelas ketiga tadi,” dustanya, berharap Baekhyun tidak hapal jadwal hariannya karena kelas ketiganya hari ini, Biopsikologi Lanjutan, bukan sesuatu yang bisa membuat Sungra mengantuk. Tidak bila kelangsungan hidupnya ditentukan oleh kelengkapan catatan dari omongan si dosen yang tidak berkiblat pada buku apapun selain dirinya sendiri.

“Oh?” sebelah alis Baekhyun terangkat seolah ia tak percaya. Salah, memang, berbohong pada sesama mahasiswa psikologi, tapi sudahlah. Sudah terlanjur, nasi sudah menjadi bubur.

Sungra meringis, berharap bisa menutupi apapun celah yang gagal ia isi dalam kebohongannya barusan. “Yah, kau tahu, banyak tugas akhir-akhir ini, sering tidur larut malam karena harus menyelesaikannya, derita anak tahun kedua…”

Yeah. Those painful things.” Baekhyun melanjutkan sementara rangkulannya di bahu Sungra mengendur sedikit. “Well, I was thinking of going out with you or something, tapi mungkin kau lebih butuh tidur siang daripada jalan-jalan, haha. Tidak apa-apa, kok. Tidak baik juga kalau otak kelelahan, kan?”

Ya Tuhan, ia jahat, jahat sekali.

Sungra mengangguk, senyum kecil terulas di bibirnya, “Maaf. Besok, mungkin? Kelasku selesai pukul satu,” katanya, yang ditanggapi kekehan pelan Baekhyun dan tangan yang tiba-tiba mengacak rambutnya.

Sleep tight, princess,” laki-laki itu berkata sebelum kembali ke sofa, duduk di sebelah Kyungsoo yang sejenak menatapnya, menawarkan senyum sebagai sapaan. Sungra membalasnya sekilas dan segera berbalik, berharap tidak ada yang menyadari rona yang baru saja muncul di wajahnya.

Atau mungkin agar ia tak perlu berlama-lama melihat Baekhee bersandar di bahu Kyungsoo sementara ia menonton drama komedi romantis di televisi.

—–

Di tengah suara berisik dari penggorengan dan air di bak cuci piring, Sungra kadang berharap pagi hari bisa berjalan sedikit lebih lama. Pagi hari, di mana ia memasak sesuatu untuk sarapan sementara Kyungsoo mencuci piring bekas makan malam atau menyiapkan meja makan dan dua cangkir kopi atau teh.

Bukan kali pertama Sungra melamunkan Kyungsoo tiba-tiba memeluknya dari belakang, bertanya apa yang sedang ia siapkan dan rencananya hari ini. Sarapan bersama, berangkat ke kampus bersama dengan bus yang sama, lalu membicarakan apa yang akan mereka lakukan sore nanti, setelah semua kewajiban sebagai orang-orang yang menuntut ilmu selesai untuk hari itu. Mungkin mencoba makanan di restoran Thailand yang baru buka, atau menonton film?

Tapi pintu depan akhirnya menutup. Kyungsoo berangkat lebih dulu dengan tas tersampir di sebelah bahu, karena nyatanya kelas pagi mereka dimulai di jam berbeda dan tidak ada alasan yang bisa Sungra gunakan untuk berangkat bersama Kyungsoo di waktu yang tak lazim baginya menginjakkan kaki di pelataran kampus.

Dari segala hal yang Sungra angankan, hanya bagian makan bersama yang terjadi di kehidupan nyata.

—–

Baekhyun menyeretnya menjauh dari area kampus siang itu, berkata ia sedang sangat ingin minum thai tea dan makan sup tom yum hari ini. Dengan telapak tangan mencengkeram pergelangan tangan dan senyum lebar di wajah Baekhyun, mereka menunggu bus yang tak kunjung datang.

“Kita bisa kehabisan waktu gara-gara menunggu angkutan sialan,” gerutu Sungra setelah bus kesekian yang melewati keduanya tidak sejalur dengan rute yang akan mereka telusuri. Baekhyun menggumamkan persetujuannya, terlalu sibuk memainkan jemari Sungra. Menautkan kedua tangan mereka, melepaskannya lagi, fleksi, ekstensi, berputar-putar. Lima menit kemudian baru ia mendongak lalu menatap ke ujung jalan sejauh yang bisa ia lihat, “Bagaimana kalau kita naik taksi?”

No. Tight budget.” tolak Sungra, tapi Baekhyun sudah terlanjur menghentikan sebuah taksi dengan lambaian tangannya. Sial. “Byun Baekhyun–”

Ssh. I’ll pay. Sesekali tidak apa-apa, kan? Aku lapar sekali, sementara makanan di kafeteria tidak menarik lagi. Semuanya sudah kucoba hingga muak.” senyum jenaka Baekhyun menghangat ketika ia membukakan pintu belakang taksi untuk Sungra. Gadis itu menghela napas sambil beranjak masuk, perlahan memendam keinginannya untuk makan siang dengan menu sapo tahu di meja yang sama dengan Kyungsoo, membicarakan serial terbaru yang mulai mereka tonton akhir-akhir ini. Membiarkannya tertinggal di halte begitu Baekhyun menutup pintu taksi dan menyebutkan alamat tujuan mereka pada sopir bertampang mengantuk di belakang kemudi.

—–

“Sebentar lagi tanggal enam,”

Sungra mengangguk, masih sibuk menguliti dada ayam di depannya dengan tangan, setengah tak memperhatikan Kyungsoo yang mengajaknya bicara sambil melakukan hal yang sama.

“Mungkin ulang tahun Baekhee tidak akan dirayakan bersama Baekhyun, kau tidak keberatan, kan?”

Ini baru sesuatu yang membuat Sungra menghentikan pekerjaannya dan memfokuskan perhatiannya pada Kyungsoo, “Memang kenapa? Kau sudah punya rencana sendiri atau apa?”

Senyum Kyungsoo tampak malu-malu sekaligus bersemangat luar biasa, “Begitulah. Lagipula kupikir kau mungkin ingin merayakannya berdua dengan Baekhyun saja, jadi… yah, bagaimana menurutmu?”

Sungra menatap kulit ayam yang ia tepikan di sudut piring. “Uh, bukan ide yang buruk,”

—–

Memilihkan kemeja dan dasi yang serasi untuk Kyungsoo termasuk dalam satu dari sekian hal dalam daftar Hal-Hal yang Ingin Kulakukan dengan Do Kyungsoo milik Sungra, tapi bukan dalam situasi di mana Kyungsoo akan pergi makan malam. Berdua. Untuk merayakan ulang tahun. Seseorang yang bukan dirinya.

Rasanya ia ingin mati saja.

—–

Sementara Kyungsoo merayakan ulang tahun Baekhee dengan candlelight dinner romantis, Sungra merayakan ulang tahun Baekhyun dengan me-review catatan Pengantar Gangguan Mental miliknya. Di ruang tengah flat-nya (dan Kyungsoo), bersama sebuah cake kecil dengan lilin padam di atas meja, dan Baekhyun dengan topi kepala kelinci dari Sungra, satu dari sekian benda yang ia hadiahkan sebagai ucapan selamat ulang tahun. Benda-benda yang Baekhyun sukai dan inginkan, kecuali satu yang belum Sungra berikan padanya.

“Kau mau cake-nya?” Baekhyun bertanya begitu ia kembali dari dapur dengan dua garpu kecil di tangan. Sungra menggeleng, wajahnya kusut. “Sedang tidak ingin, maaf, tapi terima kasih.”

Laki-laki itu tak memaksa lebih jauh. Ia memotong-motong kue di pinggan kecil itu menjadi beberapa bagian dan menusuknya dengan garpu, menggigit sepotong. Cappuccino cake kesukaannya memang tidak pernah mengecewakan.

“Enak sekali, lho, kau yakin tidak mau?” laki-laki itu kembali berkata, kali ini dengan sepotong cake tepat di depan mulut Sungra yang terkatup. Gadis itu menghela napas, melirik Baekhyun lewat sudut matanya sebelum membuka mulut demi menerima suapan Baekhyun tanpa semangat.

Baekhyun memainkan garpu di tangannya sambil bertopang dagu, mengamati Sungra yang kembali mengguratkan highlighter di atas catatannya, “So, when will you tell him?”

“Memberi tahu siapa tentang apa?”

“Kyungsoo. Bahwa kau menyukainya.”

Beruntung Sungra sudah menelan potongan cappuccino cake-nya sejak setengah menit yang lalu. “H-hah? Apa-apaan?”

Dengan nada yang sama santainya, Baekhyun kembali bicara, “Tidak perlu bersikap seperti itu, ya ampun. Jadi, kapan?”

Saat gadis itu akhirnya berhasil mengumpulkan tenaga untuk menatap Baekhyun, laki-laki itu balas menatapnya. Dengan tatapannya yang biasa, sikapnya yang biasa, seolah ia tidak baru saja menyuruh kekasihnya menyatakan perasaan ke orang lain. “Uh,” katanya, tak bisa menghasilkan suara yang lebih komunikatif daripada erangan singkat.

“Cobalah,” Baekhyun menawarkan seulas senyum, membuat Sungra memalingkan wajah–ke manapun asal tidak perlu melihat raut wajah Baekhyun di depannya. Bagaimana Baekhyun bisa tetap tersenyum seperti itu?

“Kau gila? Bagaimana kalau ia jadi membenciku, atau menganggapku aneh, atau yang lebih parah lagi–mengusirku dari sini?”

“Kau tidak melakukan semua itu dulu,” celetuk Baekhyun tiba-tiba. “Kau tidak membenciku, juga tidak menjauh. Tidak marah padaku karena menyukaimu padahal kau menyukai orang lain. Bagaimana kau bisa yakin kalau Kyungsoo akan melakukan hal seburuk itu padamu?”

Banyak hal yang bisa Sungra ucapkan untuk membantah ucapan Baekhyun barusan. Bahwa Kyungsoo berbeda dengannya, dan ia tahu pasti bahwa Kyungsoo sangat, sangat, sangat menyayangi Baekhee, dan tak akan adil bagi Sungra bila Kyungsoo menerimanya hanya karena laki-laki itu merasa tidak enak–

Oh. Sial.

“Baekhyun,” suaranya tercekat oleh sesuatu yang ia curigai sebagai tangisan. Sial. Sial. Hanya telapak tangannya yang bisa ia gunakan sebagai lapisan pertahanan terakhir. “Aku–aku tidak bermaksud–”

I know,” tangan Baekhyun tiba-tiba sudah meraih tangannya, menariknya menjauhi wajah Sungra dan menggenggam keduanya erat. “I know that I have always been a rebound. That you didn’t–don’t–see me as someone more than a friend, a close one perhaps?” laki-laki di hadapannya kembali tersenyum dan, ya ampun, betapa Sungra ingin menangis saat itu juga. “But that’s okay. Kau tidak menjauh bahkan bila aku berada di dekatmu seperti saat ini, and that’s more than enough for me, because it’s like you have given me a chance to try and steal your heart from him. Meski belum bisa kulakukan sampai sekarang, sih,”

Sungra tidak pernah menangis sejak sekolah dasar. Ia tidak menangis saat kucing kesayangannya mati tertabrak mobil. Juga tidak menangis ketika gagal menyelesaikan tugas akhir yang harusnya bisa ia kerjakan dengan sempurna. Pun ketika ia berkenalan dengan Baekhee–teman Kyungsoo, saat itu, tapi Sungra sudah mengetahui bahwa teman tidak akan cukup untuk mendeskripsikan sesuatu di antara kedua orang itu.

Namun kali ini Sungra menangis, isakan pelan dan air mata yang mengalir deras, menangisi Baekhyun yang terlalu baik pada semua orang. Terutama padanya.

—–

Sungra tak ingat apa yang tengah ia pikirkan dulu, saat Baekhyun menyatakan perasaannya. Ia hanya ingat kapan dan di mana kejadian itu terjadi—tengah hari, lima menit menjelang waktu tutorial habis, perpustakaan. Di tengah detik-detik terakhir review materi, Baekhyun menyelipkan pertanyaannya, dan Sungra mengiyakan saat itu juga.

Mungkin pikirannya kosong. Mungkin ia sudah terlalu putus asa. Mungkin ia sudah tak tahu harus berbuat apa lagi hingga tak memikirkan soal Baekhyun dan segala hal yang laki-laki itu berikan padanya–yang tidak pernah ia balas dengan semestinya. Hingga hari ini.

—–

“Kau tahu,” jemari gadis itu menggurat pola tak kasat mata di atas garis-garis buku tulisnya, “kau tahu kalau aku tidak menyukaimu, maksudmu, seperti kau padaku? Tapi…”

“Tapi?”

“Kenapa… kenapa kau tidak berhenti? Bukannya yang seperti ini hanya membuatmu sakit hati?”

Baekhyun tertawa, matanya menghilang di balik lipatan kulit yang membentuk bulan sabit, “The same reason as you, because sometimes love makes a fool out of someone.”

end.

note: yesss. baekhee is baekhyun’s imaginary twin sister. they won’t be identical though, only sharing the same small stature and dainty fingers. and maybe the straight jet-black hair, too.

i wrote this because i really, really wanted to use baek’s last sentence somewhere and well it kinda rushed the entire thing so ;;; forgive me? ;;;

Advertisements

14 thoughts on “[Ficlet] Crescents”

  1. ((aku masih nunggu dibuatin jongin sama ra pokoknya)) walau ini agak mirip sih. curiga situ sering one-sided love ya? perih tau.

    1. yeah, haloooo kak aufa! akhirnya aku bisa bayar utang (yang udah dispot dari delapan dekade lalu, hiks).

      ini mah rasanya udah kayak kena paper cut terus disiram campuran cuka sama jeruk purut……….pedih. yea.

      kasian sungranya, tapi baekhyun juga kasian. terus jadi serba salah gitu harus mihak yang mana ;w; dan mana kayaknya yang paling bahagia hubungan si kyungsoo sama baekhee gitu. untung baekheenya suka juga sama kyungsoo, kalo enggak……. sudahlah, sini kalian jiwa-jiwa yang kena one sided love, yuk kita mojok bersama.

      scene dari baekhyun bilang, “i know,” sampe selanjutnya itu rasanya kayak pengen peluk baekhyun atau kasih pukpuk gratis gitu. lah itu dia kok masih bisa tahan senyum gitu loh, malah kayak nenangin pacarnya yang suka sama orang lain. padahal itu ultahnya. yha miris amat hidupmu, mas #gerakan #beri #bbh #keadilan

      ah, sakit kak, baca ini. tapi sakit yang menyenangkan. dan aku…. suka. keep writing ya kak aufaaa!\m/

      1. INI HUTANG BALAS KOMEN BERAPA DEKADE YA HUAHAHAHAHA.

        sini tak kasih betadine sama tensoplas. aku ga jahat kok. kadang jahat sih. jahatnya sama sungra aja. 😀 yuk mojok yuk w ikut boleh la he he kita bisa bikin perserikatan korban one-sided love nih he he hehehe.

        heh peluk-peluk baekhyun ntar mbak leader ngamuk lho ehehehehe /minta dihajar/ /masih belum move on dari baekyeol/ /tidak akan move on/

        saaaakitnya tuh di siniiiii di dalam hatikuuuu~ /nunjuk kiri atas/ /terus ambruk/ /taunya angina pectoris STEMI/ E E E EITZ SUDAH LUPAKAN KULIAH SEJENAAAAAKKKKKKKKK

  2. Halo Kak. Salam kenal. Kayaknya pernah liat username kakak somewhere di ifk mungkin? Aku sukak ceritanya, apalagi cinta bertepuk sebelah tangan hahaha sakiit :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s